
#Cinta_Pria_Berdarah_Dingin
Oleh : Maria Ramzz
Part 18
Kirana mengerjap beberapa kali. Terdengar samar beberapa pelayan berteriak memanggil tabib. Samar ia melihat para pelayan mengitarinya, juga seorang pria yang tak asing berada di sampingnya dan seorang wanita asing yang belum pernah ditemuinya.
"Kau baik-baik saja, Kirana?" tanya Yosida.
Kirana setengah sadar, ia masih belum menjawab pertanyaan Yosida hingga beberapa saat.
"Di mana aku?" tanyanya.
"Kau berada di kamar perawatan khusus!" sahutnya.
"Ahhh." Kirana meringis kala memaksakan diri untuk bangkit. Raganya terasa remuk.
"Kirana, jangan paksakan! Tetaplah berbaring. Kau baru saja tersadar dari koma," tuturnya.
Kirana mengernyit. "Maksudnya?"
"Kau tertidur selama lima hari," sahut Yosida.
"Ini, minumlah!" tawar seorang wanita asing yang sedari tadi berada di samping Yosida.
"Apa ini?"
"Ini minuman untuk menyegarkan tubuhmu," tuturnya lembut.
Kirana meraihnya dan mengengguk habis.
"Ah iya, Kirana. Ini Kiera, sekarang dia adalah teman barumu." ucap Yosida sedikit kaku.
"Teman?" tanya Kirana.
Wanita itu kemudian ikut bicara. "Ya, sekarang kita adalah teman. Mulai saat ini kita berbagi suami. Aku harap kau sudi menerimaku!" tuturnya tak luput dari senyuman.
Seketika air mata Kirana jatuh membasahi pipi. Tampak Yosida terlihat cemas. Entah apa yang ia cemaskan .
"Apa kau tau, siapa yang melakukan ini padamu, Kirana?" tanya Yosida.
Sorot mata Kirana semakin sayu menatapnya. Batinnya bertanya Mengapa Yosida tak peka? Padahal hati Kirana sangat terluka, hingga melakukan hal itu.
Yuki menyangkalnya. "Maaf, Tuan. Tidak ada yang mencelakai putri Kirana. Tapi ...?"
"Tapi apa?" tanya Yosida.
"Ta-tapi ... putri Kirana sendiri yang melakukannya!" sahutnya terbata.
"Apa? Tapi kenapa?" bentaknya pada Yuki.
"Kirana, kenapa kau melakukan hal itu? Apa kau sudah bosan denganku? Apa kau tak ingin bersamaku lagi!"
Kirana tak menjawab, ia menekuk wajah sebelum memalingkannya.
"Tuan! Putri Kirana masih shok. Beliau baru tersadar dari koma. Tak sepatutnya tuan bertanya hal seperti itu padanya, biarkan ia istirahat terlebih dulu!" tutur tabib.
Yosida tampak lesu, wajahnya sayu memandang Kirana. Diambilnya tangan kecil itu lalu kemudian mengecup pelan. "Cepat sembuh, istriku!" ucapnya berusaha menyemangati Kirana.
Kirana masih memalingkan wajah, ia memilih diam. Hanya buliran air mata yang terus berjatuhan.
*****
__ADS_1
Satu bulan kemudian ....
Kiera duduk disalah satu pendopo di taman istana. Tampak dirinya mengelus-elus perut. Terlihat rona bahagia di wajahnya. Beberapa pelayan setianya yang dikirim dari dinasti Thai Pan menemaninya sembari mengobrol asik dengannya.
"Selamat ya, Putri Kiera. Sepertinya keberuntungan meliputi anda," tuturnya dengan tawa lembut.
"Ya, aku memang wanita paling beruntung." Ia membalas dengan tawa sedikit keras.
Ying Hyen memperhatikannya dari kejauhan. Raut wajahnya berbeda, tampak jelas ia tak bahagia mengetahui Kiera sedang mengandung. Entah apa, padahal dia sendirilah yang menginginkan Kiera menjadi selir putrannya, Kaisar Yosida.
Ada sesuatu yang janggal di benaknya. Kakinya lantas melangkah dari tampat ia berdiri untuk kemudian menemui Kiera agar dapat berbincang secara langsung.
Mereka yang melihat kedatangan Ying Hyen segera menghentikan obrolan.
"Hai, bolehkah aku bergabung!" tanya Ying Hyen.
"Oh, ya, Ibu suri!" sahut Kiera sedikit kaku.
Ying Hyen kemudian memilih duduk di sebelah Kiera. Tersenyum padanya lalu kemudian menatap lekat perut Kiera. Tampak perutnya lebih besar dari usia kehamilannya. Kiera menarik kimononya, menutupi perutnya sembari tersenyum kecut.
"Apa yang membuat ibu suri kemari?" tanyanya gemulai.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh ikut mengobrol bersamamu!"
"Oh, tidak, bukan begitu! Maksudnya ...."
Ying Hyen memberikan senyuman terbaiknya. "Tak perlu menyembunyikan sesuatu dariku, aku kan juga ibumu!"
"Ahh, iya!" Kiera tampak grogi.
"Apa mungkin ... kau sudah hamil?" tanyanya.
Kiera tersenyum kecut. Ia tak menjawab, hanya menggigit sedikit bibir bawahnya.
"Tak apa, katakan saja! Aku justru senang jika benar kau hamil." ucap Ying Hyen.
"Baiklah, aku akan mengirimkan tabib untuk memeriksakan kondisi dan kesehatanmu."
"Ah, tidak perlu, Ibu suri. Aku baik-baik saja." ucapnya gugup.
"Tak apa, ini hanya pemeriksaan biasa. Sudah sepatutnya menjadi kewajibanku untuk merawat dan menjagamu selama kau berada di istana ini."
Kiera menelan saliva. Ia diam kehabisan kata-kata untuk menolak.
"Baiklah, nanti saat kau kembali ke kamarmu, aku akan panggilkan tabib untuk memeriksakanmu." tuturnya seraya bangkit. Tersenyum lalu beranjak meninggalkan Kiera dan para pelayan setianya. Mereka kemudian saling tatap. Tampak Kiera yang mulai pucat.
Kiera berbaring di peraduannya. Wajahnya masih pucat. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Tabib memeriksakan kondisinya, mulai dari kepala hingga pergelangan kakinya. Semua normal, sehat. Hanya saja di bagian perutnya terasa lebih keras. Seperti sebuah janin yang sudah terbentuk.
Ia memeriksa beberapa kali, setelah yakin ia menyimpulkan bahwa benar Kiera tengah hamil. Namun, bukan kehamilan awal. Melainkan kehamilan yang diperkirakan sudah berkisar lima bulan.
Tabib itu terdiam untuk sesaat lalu kemudian berkata. "Kondisi anda sehat dan sangat baik." ucapnya. "Tolong jaga terus kesehatan anda, karena sekarang anda sedang hamil besar." tuturnya lagi. "Ada kemungkinan waktu persalinan anda hanya tinggal empat bulan."
Kiera kembali menelan saliva.
"Baiklah, aku akan kembali lagi nanti untuk terus memantau kondisimu. Oh, ya, satu hal lagi. Tolong kau rahasiakan hal ini dari ibu suri, jangan sampai terdengar olehnya." tuturnya seraya beranjak dari tempat duduknya.
Hamura yang sejak tadi menguping dari luar kamar segera pergi setelah merasa cukup menyimpulkan berita yang ia curi.
Ia berlari menghampiri Ying Hyen di kediamnannya. Lalu masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu dan memberitahukan kedatangannya.
Napasnya tak beraturan. Ia berusaha memompanya naik turun, membuatnya agar kembali stabil. Kedua tangannya masih berpegangan pada kedua lututnya.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa hasilnya?" tanya Ying Hyen menggebu-gebu.
"Kacau, Yang mulia!"
"Maksudmu, kacau bagaimana?"
"Dugaan tuan benar, ternyata hamilnya sudah menginjak usia lima bulan." tuturnya setelah berhasilĀ mengatur napas.
"Sial!" Ying Hyen menghentakkan tangannya pada meja di hadapannya. Ia berdiri dan mondar mandir. "Arrrgggh!" pekiknya.
"Tenang, Tuan. Tenang!"
"Bagaimana aku bisa tenang, wanita itu mengandung janin yang bukan cucuku!" bentaknya masih dengan raut gelisah. "Berani-beraninya dia membohongi kita."
"Bagaimana kalau kita racuni saja dia!" seru Hamura.
"Kau gila! Kita akan di penjara jika melakukan hal itu!"
"Ah, iya! Maaf, tak terpikirkan hal itu olehku!" ucap Hamura.
"Dasar bodoh!"
"Bagaimana kalau obat penggugur kandungan?"
Ying Hyen menatapnya. "Aku juga memikirkan hal itu!" sahutnya masih sedikit tegang.
Tok tok tok!
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Ying Hyen.
"Sssttt," perintah Ying Hyen pada pelayannya untuk menghentikan percakapan mereka.
"Siapa?" tanyanya.
"Yang mulia, Ibu suri. Putri Kirana ingin menghadap." pekik seorang penjaga istana dari luar kamar.
Ying Hyen menelan saliva. "Ya, persilahkan dia masuk!" sahutnya.
Terdengar decit pintu kamar bergeser. Kirana berjalan masuk memegangi gaun agar tak menyeret. Para pelayannya kembali menutup pintu setelah mereka sampai di dalam. Ying Hyen menyambutnya dengan senyum manis.
"Ada apa, Putriku? tanyanya. "Apa kau sudah baikan?"
"Ya, Bu!" sahut Kirana setelah duduk terlebih dahulu. "Apa ibu sudah tahu kabar tentang kehamilan Putri Kiera."
"Oh, ya? Putri Kiera hamil?" tanyanya. "Ah, syukurlah. Aku sudah menduganya."
"Benarkah?"
"Ya, tadi aku sempat mengobrol dengannya sebelum bertemu denganmu!"
Kirana tersenyum. "Selamat ya, Bu! Aku ingin memberi ucapan selamat langsung padanya, apa ibu mau ikut bersamaku?"
Tiba-tiba terbesit dalam pikiran Ying Hyen untuk memberikan obat penggugur kandungan pada Kiera melalui Kirana.
"A-aku sedang sibuk mengurus sesuatu," ucapnya. "Aku ingin memberinya jamuan sebagai ucapan selamatku. Tapi ....?"
"Tapi apa ibu?"
"Jika berkenan, maukah kau yang mengantarkannya."
"Aku?"
"Ya!"
__ADS_1
Ying Hyen tersenyum. "
Bersambung ....