Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin

Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin
Kecemasan Kirana


__ADS_3

Kirana meremas erat kedua tangan pada gaun yang dikenakannya. Tubuhnya panas dingin, seorang ibu yang masih nampak muda, berparas cantik tengah menginterogasinya, ditemani oleh putri bungsunya.


"Bukankah sudah kukatakan padamu untuk menjauhi putraku!" bentaknya.


"Maafkan aku, Ibu suri. Aku sudah berusaha .... "


"Bohong! Kau pikir aku tak tahu. Katakan! Apa yang sudah kau perbuat pada putraku, kau pasti mengguna-gunainya."


"Tidak ibu suri! Sungguh aku tidak melakukan hal seperti itu." tangis Kirana pecah kala mendengar penuturan ibu suri.


"Cih. Wanita sepertimu memang paling suka berdalih!" hinanya sedikit menyeringai. "Cepat atau lambat, kau juga akan menyingkir dari istana ini! Silahkan kau nikmati sekarang kesenanganmu yang sesaat ini. Jika tiba waktunya nanti, bersiaplah kau untuk menguras lebih banyak air matamu!" makinya, sembari mengibaskan gaun berlalu meninggalkan Kirana yang masih menangis terisak.


*****


Para pelayan istana sibuk mendekor ruang aula untuk perayaan pesta pernikahan Kaisar Yosida dan Kirana. Sebagian sibuk menghias taman dan laman istana. Aroma sedap masakan tercium hingga melewati batas tembok. Para warga sibuk berbelanja di pasar tradisional. Memilih berbagai gaun untuk mereka kenakan pada hari dan moment penting yang bersejarah di dinasti kekaisaran pemimpin terbaru, Kaisar Yosida.


"Tuanku, apa sebelumnya Tuan pernah melamar calon permaisuri kita, putri Kirana?" tanya kasim yang sudah sangat akrab dengan Yosida, hingga seperti teman biasa.


"Ahh kasim, kau membuatku malu saja!" ketusnya.


"Ayo, katakan! Seperti apa reaksinya?" tanyanya dengan senyuman khas sedikit meledek. tangannya terus memijit pergelangan kaki Yosida.


Seketika Yosida teringat saat di mana ia memberi sebuah gelang permata hijau pada Kirana malam hari di salah satu penginapan di desa. Ia tersenyum sendiri mengingat hal itu, wajahnya nampak merah merona.


"Yang mulia Tuan Yosida! Ibu suri menunggumu di depan." ucap seorang penjaga membuyarkan lamunan Yosida.


Yosida yang saat itu tengah duduk santai pada sebuah kursi empuk, terkejut lantas berdiri menyambut ibu suri.


"Tolong tinggalkan kami berdua," pinta ibu suri pada seluruh pelayan dan kasim yang saat itu tengah sibuk mendekor.

__ADS_1


"Baik yang mulia, Ibu suri." ucap mereka serentak seraya menundukkan kepala sekejap. Kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Ada apa?!" tanya Yosida. Tangannya mengepal di balik punggung, sementara matanya menatap tirai yang terus mengibas tertiup angin.


"Yosida! Apa yang kau pikirkan! Mengapa begitu cepat kau mengambil keputusan untuk menikah? Harusnya kau kompromikan dulu pada ibumu!" bentaknya pada Yosida.


"Bagaimana dengan ramalan kecocokan tanggal kelahiran kalian! Bahkan peramal belum memberikan hasilnya. Bagaimana jika hasilnya kalian tidak berjodoh!"


"Cih. Aku tidak mempercayai peramal!" Yosida tertawa lirih.


"Tapi, di istana ini ada aturan! Kau hanya bisa mempersuntingnya jika hasil ramalan mengatakan kau berjodoh dengannya!"


"Itu peraturan lama!" tutur Yosida memutus pembicaraan Ying Hyen. "Di sini, akulah Kaisarnya! Sekarang juga aku akan membuat peraturan baru!" tukasnya.


"Benar-benar keterlaluan kau, Yosida! Kenapa kau tak pernah mendengarkanku sekalipun?!" tuturnya dengan bibir sedikit bergetar karena emosi. Nampak matanya mulai berkaca-kaca.


"Baiklah kalau itu keputusanmu! Aku tak akan menghadiri acara penobatanmu untuk wanita murahanmu itu," ucapnya kemudian berlalu. Ia pergi dengan tangan berusaha menghapus bulir-bulir yang jatuh di kedua pipinya.


****


Hari yang ditunggu kini tiba. Hari di mana Kirana berhias bagai seorang ratu. Kirana tak pernah menyangka akan menikah dengan seorang kaisar. Ia mengira jodohya adalah seorang pembunuh yang menjadi buronan.


Matanya sayu menatap cermin yang memantulkan wajah cantik di hadapannya. Meski semua yang ia kenakan cukup mewah dan membuat hati wanita manapun iri. Namun hal itu, tak lantas membuatnya merasa bahagia. Ia justru merasa berada dalam situasi terburuk dalam hidupnya.


Bagai burung cantik yang terkurung dalam sangkar emas. Meski sangkarnya berharga, tak lantas membuat sang burung merasa bahagia, justru tersiksa dan tak mendapat kebebasan. Seperti itulah hati Kirana saat itu.


Beberapa pelayan pilihan terbaik istana terus melumuri wajah Kirana dengan berbagai polesan make up yang sederhana tetapi membuatnya kian mempesona.


Kirana masih diam mematung, wajahnya datar tanpa eskpresi.

__ADS_1


"Apakah anda bahagia?" tanya salah seorang pelayan yang masih sibuk mengotak atik rambut Kirana.


"Hmm," sahut Kirana pelan.


"Jujur saja, aku sangat iri pada anda," ucapnya yang membuat kedua bola mata kirana memutar ke arahnya.


"Benarkah?"


"Ya!" ucapnya. "Kalau boleh tau, apa yang membuat Tuan muda memilih anda?" tanyanya. Kirana tersenyum menanggapinya.


Ia mulai bercerita awal pertemuan mereka, hingga mereka saling jatuh cinta. Kirana bercerita panjang mengenai perjalan yang dilaluinya bersama Yosida. Mereka kini mulai terlibat percakapan yang cukup dalam. Pertanyaan demi pertanyaan terus terlontar dari mulut pelayan.


Awalnya Kirana merasa pertanyaan pelayan itu cukup biasa dilontarkan bagi seorang yang mungkin ingin memiliki nasib baik seperti dirinya. Namun lama-lama Kirana mulai menyadari, ada sesuatu yang tak beres. Ia curiga jika wanita yang mendandaninya adalah tangan kanan ibu suri.


Kirana mulai diam dan hanya membalas ucapannya dengan senyuman.


"Tuan putri Kirana, sudah waktunya anda keluar dan menerima penobatan di aula istana!" tutur seorang penjaga dari luar kamar Kirana.


"Ya, baik! Aku akan segera kesana!"ucap Kirana.


"Mari, putri Kirana! Saya akan mengantar anda!" tawar seorang pelayan wanita. Diiringi oleh beberapa pelayan lainnya.


Kirana mengangguk pelan.


Mereka mulai berjalan menyusuri lorong yang di himpit oleh dua taman. Terlihat beberapa barisan prajurit yang berjaga di dalam dan luar istana.


Jantung Kirana berdegub kencang, entah ia harus merasa bahagia atau bersedih. Ia tak dapat membedakan dua perasaan yang menggelutinya saat itu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2