
#Cinta_Pria_Berdarah_Dingin
#CPBD
Part 25
Mentari kembali menyambut dunia di ufuk timur. Siap mengawali aktivitas masyarakat di negeri Hanashobu.
"Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah lebih baik?" tanya Thai Pan yang sedang berkunjung ke kediaman Kirana.
"Hmm," sahut Kirana mantap. "Maaf, Tuan, jika aku telah menyusahkanmu," tuturnya.
"Tak apa, kau kan sedang mengalami musibah dengan lupa ingatan!"
Kirana tertunduk malu. "Maaf, maksudku ... karena aku sedang lupa, aku ingin menanyakan perihal siapa namaku," ucap Kirana setengah menunduk malu.
Thai Pan terdiam sejenak, berat ia menelan saliva. "Hmm." Menggigit separuh bibir bawah, memikirkan nama yang akan dia berikan pada Kirana. Lalu seketika ia teringat akan putrinya yang telah mati. "Kiera, namamu, Kiera!"
"Benarkah?"
"Yaa," sahutnya tersenyum lebar.
"Kiera ...hmm sepertinya ... aku sering mendengar nama itu," tutur Kirana berusaha mengingat-ingat sebagian memori yang timbul dibenaknya.
"Ya, tentu saja, Kiera itu namamu, tentu kau tak merasa asing dengan sebutan itu."
"Tuan benar," ucap Kirana tersipu.
"Baiklah, Kiera. Aku akan pergi untuk beberapa waktu, jaga dirimu baik-baik." Beranjak dari tampat duduknya dari atas ranjang Kirana.
"Kau akan pergi kemana, Tuan?"
Thai Pan menoleh ke arahnya. "Ada hal penting yang harus aku kerjakan! Tunggulah aku pulang," tukasnya yang langsung berlalu tanpa memberi kesempatan pada Kirana untuk bicara.
Kirana menatapnya sampai hanya tersisa bayangan.
__ADS_1
*****
Langit biru menjadi saksi perjalanan Kaisar Thai Pan. Diiringi oleh sepuluh ribu pasukan prajurti yang bejalan kaki dan dua ratus pasukan berkuda. Mereka membawa puluhan tandu yang berisi perbekalan makanan dan obat-obatan. Tak tertinggal, Thai Pan, kaisar mereka, yang terjun langsung memimpin pasukan prajuritnya yang siap berperang.
"Kita bersitirahat di sini!" perintah Thai Pan pada panglima kepercayaannya.
"Hmm." Ia mengangguk dengan tegas. Segera memacu kuda, mengitari para pasukan berkuda lainnya untuk memberi peringatan pada pasukan prajurit yang berjalan kaki.
Sudah satu hari perjalanan mereka, mengarungi bukit dan pegunungan, demi mencapai ambisi Thai Pan, Kaisar mereka. Tampak beberapa prajurit lelah, bergantian memijit pergelangan kaki yang terus diayun seharian penuh, beberapa yang lainya sibuk memasang tenda dan membuat api unggun. Hingga malam, mereka beristirahat dalam tenda, hanya tersisa beberapa belas prajurit yang berjaga.
*****
Kemenangan yang diraih Yosida dalam pertempuran kemarin, tak lantas membuat hatinya puas dan merasa tenang. Pasalnya, ia masih belum menemukan Kirana, belahan hatinya. Beberapa pasukan telah dikirim untuk mencarinya dan mereka semua kembali dengan kabar nihil.
Semakin bersedih, dan sering merenung. Semakin lama hati Yosida semakin mengeras. Membuatnya lupa akan sentuhan hangat yang pernah ia dapatkan bersama Kirana.
Sifat dingin kembali menyelimuti raga dan hatinya. Semakin hari ia tak dapat mengontrol emosi. Hanya beberapa kesalahan kecil pun dapat membuatnya menghabisi nyawa seseorang. Yosida kini kembali menjadi pria dingin yang tak punya semangat.
Ia mulai menengguk arak, tuak. menjadikan barang-barang itu sebagai temannya sehari-hari. Ditemani oleh beberapa pelayan wanita yang setiap saat setia untuk memuaskan hasratnya. Ia pun semakin tak terkontrol.
Yosida menatapnya dengan tatapan murka, matanya berwarna kemerahan akibat minuman yang terlalu banyak masuk ke tubuhnya. Ia lantas berdiri dengan sedikit terhuyung. "Kau!" pekiknya dengan mata sendu. "Beraninya kau memerintahku!" bentaknya masih dengan tubuh sempoyongan.
"Tuanku, kumohon, berhentilah melakukan semua ini! Ingatlah posisimu, saat ini kau sangat berperan penting di negara ini, Tuanku!" tuturnya.
"Aaarrgghh! Jangan menasehatiku!" bentaknya lunglai. "Kau tak tahu seperti apa perasaanku!" hardiknya.
"Dia ...." Yosida mulai menangis. "Dia, wanitaku, di mana kamu! Hu hu hu," tangisnya sembari tersungkur di lantai.
Sigap penasehatnya menangkap tubuh kekar Yosida yang terjatuh, dibantu oleh beberapa pelayan wanita yang saat itu tengah berada bersamanya. Mereka mengangkat dan meletakkan Yosida yang mulai tak sadarkan diri ke atas ranjang.
*****
Suara terompet pertanda bahaya dari menara istana dinasti Gaozu, membangunkan Yosida di malam hari. Ia terkejut dan langsung berlari ke arah jendela. Tampak di kejauhan sejarak satu kilo meter, ratusan tenda terpasang dan beberapa api unggun yang sengaja dinyalakan.
Beberapa prajurit berlari menghampiri Yosida.
__ADS_1
"Tuan, sepertinya, musuh telah kembali!" tutur salah seorang dari mereka.
"Siapkan pasukan prajurit kita, kita akan menyerbu mereka saat tengah terlelap! Segera!" perintahnya.
"Baik." Mereka kemudian berlari menuju kamp pasukan prajurit Yosida.
Yosida berjalan setengah berlari menuju ruang penyimpanan baju besi dan peralatan tempur lainnya. Segera ia mengenakannya dan langsung menuju lapangan istana, menunggu prajurit lainnya berkumpul.
Ia memulai mengatur strategi penyerangan pada musuh yang akan mereka hadapi malam itu. Yosida membawa ribuan pasukan bersamanya, menyisakan sebagian untuk tetap berjaga di istana.
Mereka pergi mengendap-endap dengan berbekalkan pedang dan panah api. Setengah berlari, hingga tiba di pemukiman tenda-tenda musuh.
Masih dengan posisi mengendap, bersembunyi di balik semak. Yosida mengerahkan beberapa pasukankannya untuk meluncurkan panah api pada tenda-tenda mereka.
Shuuut! Shuuut! Shuuut!
Puluhan panah api berhasil diluncurkan dan tepat mengenai tenda-tenda pemukiman musuh, mereka pasukan Yosida, berhasil membuat kobaran api.
"Seraaang!" perintah Yosida pada pasukannya yang langsung berlarian untuk menyerang karena seruan dari Kaisar mereka. Riuh terdengar tapak kaki mereka yang berlarian.
"Kyaaa!" Mereka mengangkat pedang, siap bertempur. Menyingkap tenda-tenda yang sebagian sudah terbakar, nihil. Tak ditemukan musuh di dalam sana. Satu persatu langkah lari mereka terhenti. Para pasukan prajurit Yosida kini dibuat kebingungan, tampak mereka saling pandang, cemas, sebab mereka tak menemukan satu pun musuh yang berada di pemukiman itu.
Dari arah belakang, tampak cahaya terang, membuat bayangan tubuh para pasukan Yosida terlihat jelas, seketika mereka semua menoleh, melongo begitu mereka mendapati pemandangan kobaran api besar yang membakar istana dinasti Gaozu. Suara gemuruh peperangan di istana pun tak terelakkan.
"Sial! Kita telah dijebak!" Decak Yosida kesal. "Kembali ke istana!" serunya pada seluruh pasukannya.
Dan ketika langkah kaki mereka mulai diayun kembali ke istana, tiba-tiba mereka mendapat serangan dari musuh. Ribuan anak panah beterbangan mengarah ke pasukan Yosida yang tengah berada diperbukitan itu.
Shuut! Shuut! Shuut!
Mereka pun terkena panah, sebagian menembus tubuh mereka. dan tak ada yang dapat menghindar. Ribuan pasukan Yosida jatuh terkapar, tertusuk oleh panah yang diluncurkan para musuh. Salah satunya berhasil menembus bagian lengan Yosida,
Dan ....
Bersambung ....
__ADS_1