Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin

Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin
Terungkap


__ADS_3

Kirana menatap permadani yang menggantung di tiang kamar kediamannya. Terpampang gambar peta penghubung dinasti Thai Pan dan dinasti Gaozu. Juga beberapa nama desa dan bukit-bukit yang tertera di peta permadani.


'Yosida ... dinasti Gaozu, bukit Choi Be, apa hubungannya semua itu dengan masa laluku? Mengapa bayangan itu seakan ada dipikiranku?' Kirana bergumam dalam hati.


Kembali mengamati perdamani itu setelah terlebih dahulu melangkah mendekat. Sebuah lubang kecil di tengah peta mengalihkan pandangan Kirana. Ia mendekati lubang itu, mengintip. Terlihat sebuah rak yang berdiri tegak dan beberapa laci yang tertutup rapat, seperti sebuah penyimpanan barang rahasia.


"Yuki!" panggilnya.


"Ya, Yang mulia."


"Bantu aku menyibak permadani ini."


"Untuk apa, Yang mulia?"


"Sudahlah, jangan banyak tanya. Cepat! Bantu saja!"


"Baik!" Mereka meraih benda tebal sedikit berdebu itu, menyingkirkan bersama.


Sebuah rak buku setinggi pria jangkung tepat berada dihadapan mereka. "Mengapa mereka menyembunyikan rak buku ini di balik permadani?" Selidik Kirana penasaran. "Yuki! Bantu aku menggeledah rak ini!" pintanya.


Yuki hanya mengangguk menanggapinya.


Tangan mereka mulai sibuk mengacak-acak rak. Terdapat beberapa buku penting milik dinasti Thai Pan. Kirana mengabaikan. Kemudian kembali mengacak.


Matanya tertuju pada beberapa laci yang terletak di bawah rak. Segera ia menarik salah satu laci yang tertutup rapat. Kirana tercengang mendapati puluhan kristal tersimpan dalam sebuah kotak berukir pahatan. Ia kembali meletakkannya. Lalu membuka beberapa laci lainnya dan menemukan serbuk racun yang sudah diracik sempurna juga beberapa tael perak dan emas tapi kembali meletakkannya.


Kini hanya satu laci yang tersisa, kembali Kirana membuka lalu menemukan sebuah baju lusuh penuh robekan.


"Yuki, lihatlah!" unjuknya. Yuki menatap sekilas tapi segera menutup mulutnya dengan satu tangan. "Ahhh!" pekiknya.


"Ada apa?"


"I-itukan?"


"Itu apa? tanya Kirana. Ia tak menjawab. "Apa kau tahu tentang baju ini, Yuki? Kira-kira, mengapa mereka menyimpannya di sini?" Yuki diam, wajahnya tak berekspresi. "Yuki?"


"Ahh-iya." Tampak Yuki tersentak dari lamunannya.


"Mengapa kau diam saja?"


"Sebenarnya ...."


Yuki menghentikannya ucapannya saat melihat Kirana meraih sebuah gelang permata berwarna hijau di antara sela-sela baju lusuh itu. Tampak raut Kirana menangkap sesuatu, entah apa? Mungkin sebuah kejadian di masa lalu. Yuki hanya membiarkannya memandangi gelang itu.


Sekejap Kirana memejam seraya berusaha mengingat beberapa kejadian di masa lalunya. Terlintas bayangan wajah seorang pria kekar dan tampan tersenyum padanya,


Kirana masih memejam sembari terus berusaha mengingat. Beberapa percakapan masa lalu mulai mengiang dipikirannya, sebuah peristiwa di malam hari, saat seorang lelaki memasangkan gelang permata hijau di pergelangan tangannya.


"Ahhh!"


Kirana tersentak, dadanya terasa sesak. Bayangan masa lalu bersama Yosida mulai muncul dipikirannya. Ia mulai mengingat wajah pria yang mampu membuatnya merasa hangat itu. "Yosida!" Tiba-tiba Kirana mengucap namanya. Segera Yuki mendekatinya.

__ADS_1


"Ada apa, Yang mulia Kirana?"


"Kirana?" Kirana menggidik. Alisnya mengerut menatap Yuki.


"Ah, maaf. Maksud saya, putri Kiera," tuturnya lirih.


"Tidak, Yuki. Tunggu dulu ! Tadi kau memanggilku apa? Kirana?"


"Ah-iya-anu," sahutnya terbata. "Maafkan aku yang salah ucap, Yang mulia."


"Apa kau ... mengetahui masa laluku? Apa mungkin ... namaku Kirana? Dan, apa kau tahu hubunganku dengan Yosida? Yuki?"


Yuki terdiam sesaat, tampak raut gelisah menyelimutinya, matanya melirik ke sana kemari.


"Yuki, katakan yang sebenarnya!" desaknya. Memaksa Yuki untuk bicara yang sebenarnya. Hening. Hanya ada mereka berdua di kamar itu.


Yuki menatapnya nanar lalu sedikit berdesis. "Baiklah, Yang mulia. Aku akan mengatakan yang sebenarnya perihal siapa dirimu. Tapi dengan beberapa syarat."


"Syarat? Apa syaratnya?"


Glek! Yuki menengok ke sekitar, memastikan keadaan aman tanpa mata-mata mengintai lalu mendekat ke arah Kirana. Merapatkan kelima jarinya di pinggir bibir, berucap setengah berbisik. "Berjanjilah untuk tidak memberitahukan hal ini pada siapapun!"


"Hmm." Tampak Kirana mengangguk mantap.


Yuki mulai menceritakan perihal masa lalu Kirana yang menjabat sebagai istri Kaisar Yosida, sebelum akhirnya difitnah membunuh putri Kiera oleh mertuanya sendiri. Dan terakhir menghilang dimalam hari bersamaan dengan hancurnya kediamannya saat ia menghilang.


"Benarkah?"


"Lalu? Setelah itu? Bagaimana kau bisa sampai ke sini? Dan siapa sebenarnya kau ini?"


Kembali Yuki berbisik di dekat telinga Kirana, ia mengatakan bahwa sebelum kejadian penculikan itu, dirinya memanglah seorang pelayan putri Kirana di kediaman dinasti Gaozu. Ia juga menceritakan bahwa dinasti Gaozu telah mengalami kehancuran saat perang melawan pasukan dinasti Thai Pan.


Kirana semakin melongo mendengar penuturan Yuki. "Kapan hal itu terjadi?"


"Beberapa hari setelah kedatangan kami ke sini sebagai tawanan sandera," tutur Yuki dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Apa itu artinya? ...." Kirana teringat pada kejadian saat Thai Pan mengatakan padanya untuk pergi melakukan tugas beberapa hari. Dan setelah kembali, ia datang dengan ratusan prajurit dan wanita sandera.


"Ahhh!" desis Kirana yang mulai jatuh lemas mengingat semua kejadian yang menimpanya. Sesuatu yang membuat dadanya sesak. Seakan menyayat hatinya.


"Tuanku, kau tak apa-apa?" Yuki sedikit khawatir melihat Kirana yang tampak lemas.


"Hmm," sahutnya berusaha bangkit untuk duduk bersandar di dinding.


"Tuanku, ada satu hal yang kau harus tahu." Mata Kirana menyipit. "Ying Hyen sebenarnya bukanlah wanita yang baik. Dia adalah ibu suri, ibu mertua yang telah memfitnahmu dan membuatmu berakhir di sini."


"Apa?" Kirana semakin lemas dan mulai menangis.


"Tuanku, kau harus tegar. Kita harus bisa terbebas dengan ikatan dinasti Thai Pan ini."


Kirana masih tak mampu menahan tangisnya, tangannya menyentuh pundak Yuki. Kali ini pikirannya mulai tertuju pada suaminya Yosida. "Yuki, katakan! Di mana Yosidaku?" tuturnya dengan linangan air mata.

__ADS_1


Tampak sorot mata Yuki menatapnya sedih. "Maafkan aku, Yang mulia. Maaf karena aku tak berani mengatakan yang sejujurnya sejak awal." Ia merangkul erat Kirana. "Tuanku, ada satu lagi yang harus kau tahu."


"Kirana hanya menatap masih dengan tangisnya.


"Besok adalah hari pembebasan tuan Yosida dan beberapa prajurit petarungnya."


"Prajurit petarung? Maksudmu?" ucapnya lirih. Kini ingatan Kirana kembali melayang. Teringat sebuah pertunjukkan gladiator yang ditontonnya pasca beberapa hari lalu. "Jadi, Yosida yang menantang maut kemarin itu? ...." Matanya membelalak.


"Yaa, Tuanku! Dia adalah Kaisar Yosida. Suami anda!"


"Benarkah? Dia harus tahu keberadaanku!"


"Tapi, Yang mulia. Bagaimana caranya, jangan membahayakan dirimu. Jika satu saja penghuni istana tahu, hal itu akan berakibat fatal pada keselamatanmu!"


"Kau benar, Yuki. Lalu aku harus bagaimana?" Kirana semakin tak terkendali, selain sedih ia kini mulai gelisah memikirkan bagaimana caranya.


"Kurasa, aku punya cara untuk menyiasatinya," ucap Yuki


"Kau yakin?"


"Hmm."


"Bagaimana caranya?"


Yuki mulai membisikkan sesuatu di telinga Kirana. Tampak Kirana mengangguk paham.


*****


Yosida dan kelima kawanan mantan prajuritnya tengah bersiap. Tampak rona berseri di wajah mereka. Jelas saja, hari itu adalah hari di mana mereka akan menghirup segarnya udara bebas setelah bertarung dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Tampak puluhan dari kalangan bangwasan menjadi saksi jaminan atas kebebasan mereka.


Ying Hyen mengintipnya dari kejauhan. Ingin sekali ia mendekap putranya itu. Namun apalah daya, Thai Pan sedang bersama Yosida saat itu. Manalah mungkin ia mau menampakkan diri di hadapan Thai Pan.


"Selamat atas kebebasanmu!" tutur Thai Pan dengan tetap menegakkan wajah. Yosida membalasnya setengah menyeringai.


"Jangan senang dulu!" ledek Thai Pan.


"Cih. Tak perlu kau katakan maksud perkataanmu. Aku tahu, kau pasti sudah menyiapkan beberapa banditmu untuk menghadangku, bukan? Banditmu bukanlah lawan bagiku!" ungkap Yosida lirih.


Tampak raut Thai Pan kembali geram setelah beberapa saat tersenyum licik. "Semoga kau berhasil," ucapnya seraya berlalu dari hadapan Yosida.


"Terima kasih," sahut Yosida dari belakang Thai Pan.


*****


Kereta kuda milik dinasti Thai Pan telah siap di pintu gerbang belakang istana. Sengaja Yuki pergi dengan menggunakan jubah serba tertutup untuk menutupi identitasnya. Ia memacu kuda seorang diri dengan membawa dua buah peti yang diletakkan didalam tandu. Dan sebuah gulungan kecil berupa pesan yang diselip di kantung jubahnya.


Kyaaa!


Ketukan empat kaki kuda menjadi saksi perjalanan Yuki pergi menyusul Yosida. Demi pengabdiannya pada putri Kirana, ia nekat melakukan semua demi Kirana meski harus membahayakan keselamatannya. 'Semoga saja aku berhasil bertemu denganmu, Tuan Yosida.' gumamnya dalam hati.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2