
#Cinta_Pria_Berdarah_Dingin
Part 22
Suasana di istana dinasti Gaozu pagi itu cukup mencekam. Sebabnya, seisi istana dikejutkan dengan temuan beberapa mayat dari pasukan prajurit penjaga istana.
Tampak anak panah menembus punggung mereka, membuat mereka tergeletak di tempat.
Gusar para pelayan wanita yang melihat secara langsung jasad di hadapan mereka. Sebagian menutup wajah dengan telapak tangan, sebagian lainnya tampak mual hingga muntah.
Yosida terlihat hadir memantau keadaan. Tampak wajahnya datar tetapi sorot matanya menyiratkan sesuatu.
"Yang mulia, Tuan Yosida!" pekik seorang prajurit yang menghampirinya setengah berlari.
Yosida menoleh ke arahnya. "Ada apa?" tanya Yosida.
"Tuan, mohon untuk memeriksa kediaman putri Kirana saat ini juga!"
Deg!
Yosida membelalak. Tanpa pikir panjang, segera ia berlari menuju kediaman putri Kirana diikuti oleh beberapa prajurit yang selalu bersamannya. Diayunnya langkah kaki dengan hati gusar. Tinggal beberapa meter ia akan sampai di kediaman Kirana. Dikejauhan terlihat sekitar kamar Kirana yang cukup berantakan. Yosida mempercepat langkah kakinya.
Sesampainya, Yosida langsung masuk melihat pintu kamar dan jendela yang terbuka lebar dengan kondisi sangat berantakan. Beberapa kayu penyanggah patah, sebagain hancur. Tampaknya ada beberapa orang memaksa masuk dengan menerobos.
Kembali keluar dengan wajah murka. "Brengsek!" pekiknya kesal. "Cepat! Kirim pasukan sebanyak mungkin untuk mencari Kirana! Cari dan temukan! Mereka pasti belum jauh dari kota ini!" perintahnya pada beberapa prajuritnya.
"Baik!" angguk mereka hampir serempak.
*****
"Bagaimana? Apa kau berhasil?" bisik Ying Hyen pada menteri Zheng yang tengah mengunjunginya di sel bawah.
"Ya!" sahutnya. "Aku berhasil mengirim pasukan pembunuh dan menculik Kirana!"
"Bagus!"
"Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Sepertinya, Kirana sudah mati!"
"Apa? Kau gila! Aku sudah mengatakan padamu untuk menculiknya saja! Bukan membunuhnya!"
"Dengarkan dulu, Ibu suri! Mereka tidak membunuhnya!"
Ying Hyen mengernyit. "Lalu?"
"Kirana sempat kabur di tengah perjalanan. Mereka mengejarnya ke hutan. Namun dia terjatuh ke jurang!" tuturnya.
__ADS_1
"Percayalah, Ibu suri. Mereka tidak membunuhnya dengan sengaja!"
"Dasar bodoh! Mengurus begitu saja kau tidak becus!" ketus Ying Hyen.
"Hei! Jangan terus menyalahkanku! Kau tak tahu perjuangan aku dan para menteri demi membebaskanmu."
"Memangnya apa yang kalian lakukan!"
"Putramu itu benar-benar kurang ajar! Dia membiarkan kami terus memohon pembebasanmu, hingga malam dan kami kehujanan!"
"Cih!" Ying Hyen tertawa kecil.
"Kau pikir itu lucu, Ibu suri."
"Baiklah, baiklah! Jika kalian berhasil menyelamatkanku, aku berjanji, akan memberi imbalan yang setimpal."
"Kau yakin bisa menepati janjimu?"
"Ya, tentu saja!" tuturnya. "Lalu bagaimana caraku mengatakan pada Yosida, jika dia menanyakan Kirana nanti!" tanya Ying Hyen.
"Katakan saja jika Kirana masih hidup."
"Apa mereka sudah menemukan mayatnya?"
"Mereka tidak mencarinya, mereka yakin binatang buas akan lebih dulu menemuinya dari pada manusia."
"Cih!" Menteri Zhen tertawa kecil. "Baiklah! Aku dan para menteri akan terus mencari cara untuk menyelamatkanmu. Tapi ingat! Kau harus menepati janjimu!"
"Iya, iya! Sudahlah, kau harus kembali sekarang, cepat! Sebelum para penjaga itu curiga!"
"Hmm," ucapnya kemudian berlalu.
*****
Para pelayan setia putri Kiera masih berbelasungkawa, dengan setia mereka mengkremasi jasad Kiera, memasukkannya ke dalam peti untuk kemudian di kirim pulang ke istana dinasti Thai Pan. Dibantu oleh para pelayan dinasti Gaozu dan beberapa pasukan prajurit yang kemudian memberi hormat terakhir kepadanya.
Dengan memacu empat ekor kuda membawa tandu milik dinasti Thai Pan, juga beberapa pasukan prajurit yang menunggangi kuda masing-masing satu kuda satu kepala, mereka melakukan perjalan yang terbilang cukup singkat. Waktu yang seharusnya di tempuh selama tiga hari, berhasil mereka lewati hanya dengan kurun sehari dua malam.
Tak mengetahui penyebab kepulangan putri Kiera yang terkesan mendadak, para penghuni istana dinasti Thai Pan menyambut kedatangan pasukan kiriman dinasti Gaozu dengan ramah. Namun, setelah mengetahui bahwa kedatangan mereka dengan membawa jasad putri Kiera, sikap ramah mereka berubah menjadi kemurkaan. Bagaimana tidak. Kiera putri dari Kaisar Thai Pan itu baru menikah dan menetap selama satu minggu di istana dinasti Gaozu dengan keadaan sehat, lalu kembali pulang dalam keadaan tak bernyawa.
Mereka akhirnya menahan prajurit pasukan dinasti Gaozu di sel dinasti Thai Pan. Dan mengirim pesan khusus untuk Kaisar Yosida bersama ribuan pasukan yang yang siap menyerang.
Sementara itu, Kaisar Thai Pan sendiri belum mengetahui tentang kematian dan kepulangan jasad purtinya. Sebab, saat itu ia tengah berburu bersama beberapa pasukannya, kala pasukan prajurit dinasti Gaozu datang membawa kabar kematian sekaligus jasad putri Kiera.
Kini, ribuan pasukan dari dinasti Thai Pan sudah berada diperjalanan bersama para panglimanya, siap menyerbu istana dinasti Kaisar Gaozu yang dipimpin oleh Yosida itu, dengan pesan singkat yang akan mereka berikan menggunakan sebilah anak panah.
*****
*PoV Kaisar Thai pan
__ADS_1
Mengendap di balik semak bersama para pasukannya, terus mengintai rusa yang akan menjadi perburuan mereka hari itu.
Shhuut!
Sebilah anak panah berhasil menembus punggung rusa. Tampak rusa itu meronta, dan terjatuh di antara semak belukar.
"Hiyah!" seru Kaisar Thai Pan ketika anak panahnya berhasil mengenai sasaran seraya mengepal tangan kanannya. "Cepat, periksa!" perintahnya pada beberapa prajurit yang bersamanya.
Segera mematuhi, mereka berlari mendatangi tempat di mana rusa itu terjatuh. Naas, mereka tak menemukan rusa itu.
"Maaf, Yang mulia. Sepertinya, rusa itu berhasil kabur!"
"Ah, sial! Kejar!" perintahnya.
"Baik!" Mereka mulai lari dengan berpencar, mencari jejak rusa yang pergi menuju tebing jurang. Sebagian menemukan jejak darah yang tercecer dan mulai mengikutinya.
"Hai!" panggil salah seorang pasukan pada kawanannya. "Sepertinya rusa itu lari ke arah sini!" Dengan cepat mereka lari bersamaan mengikuti jejak darah yang tercecer dari punggung rusa di bawah tebing jurang.
"Tunggu!" pekik salah seorang dari mereka, membuat mereka mengkentikan langkah kaki.
"Ada apa?" tanya yang lainnya.
Segera Kaisar Thai Pan menyusul mereka dari belakang. "Apa kalian menemukannya?" tanya Kaisar Thai Pan.
"Tidak, Yang mulai. Tapi ..."
"Lalu, mengapa kalian berhenti!" serunya.
"Lihatlah!" tunjuk salah seorang pasukan yang menghentikan mereka pada sepotong kain yang menggantung di tebing jurang.
Thai Pan meraih potongan kain itu, matanya memejam lalu mulai mendengkusnya. Menerawang dengan penciumannya.
"Sepertinya sesuatu baru saja terjadi!" tuturnya. "Cepat cari tahu apa yang terjadi!" perintahnya.
"Tuan, sebelah sini!" pekik salah seorang prajuritnya dan spontan mengejutkan mereka semua. Prajurit itu menemukan tubuh seorang wanita di bawah jurang.
Segera Thai Pan dan prajuritnya berlari mendekat.
"Sepertinya, wanita ini terjatuh dari atas jurang!" ucap salah seorang dari mereka.
Thai Pan mengernyit. Berjongkok, tangannya meraih kepala wanita muda itu. "Sungguh wanita yang malang!"
Tampak sebagian tubuhnya merah lebam akibat benturan, dan beberapa luka goresan di lengan dan kakinya.
Thai Pan memperhatikan dengan seksama wajah wanita asing itu. Beberapa polesan rias masih melekat di wajahnya.
"Wanita ini bukan dari kalangan rakyat biasa! serunya. "Bawa dia ke tandu. Kita kembali ke istana sekarang!" perintah Kaisar Thaipan pada pasukan prajuritnya.
Bersambung ....
__ADS_1