Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin

Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin
Kembalinya Yosida ke Istana


__ADS_3

Kasim mengirim pesan ke istana dinasti Gaozu tentang pernyataan Yosida yang menyetujui rencana ibu suri untuk melawan Kaisar Zhou.


Dengan semangat dan tekad, ibu suri mulai menjalankan rencana yang sudah ia persiapkan bersama para menteri. Ia menunjukkan bukti-bukti yang kuat tentang kematian mantan Kaisar Gaozu. Bahwa benar Kaisar Gaozu telah mati dibunuh oleh Zhou.


Para hakim negara itu menyimpulkan dari berbagai bukti yang ada mulai dari pedang, kain yang digunakan untuk membekap Kaisar Gaozu, hingga bubuk racun yang ditemukan dalam tempat minum Kaisar Gaozu, terdapat bubuk racun yang sama yang tersimpan dalam gudang milik Kaisar Zhou.


Hasil putusan sidang akhirnya menetapkan Kaisar Zhou sebagai tersangka utama atas kematian Kaisar Gaozu.


Kaisar Zhou kemudian dilengserkan dari jabatannya, menjadi tahanan seumur hidup di sel terbawah istana Kekaisaran dinasti Gaozu.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Zhou meronta ketika para prajurit menyeretnya menuju sel bawah tanah.


Sementara ibu suri tersenyum puas di kejauhan menyaksikan Zhou yang telah tersingkir dari kursi Kekaisaran.


"Aku akan membalasmu suatu hari nanti. Ingat itu, Ying Hyen!" ancam Zhou, bersamaan dengan gema teriakannya, hilanglah sudah bayangan Zhou dari hadapan Ying Hyen.


*****


Kereta kuda milik dinasti Gaozu telah siap menjemput pangeran Yosida dan kekasihnya Kirana.


Dengan rasa bahagia, Yosida mengajak serta Kirana untuk ikut bersamanya.


Sepanjang perjalanan mereka asyik berbincang dan bersenda gurau. Hingga tak terasa mereka tiba di istana, para prajurit dan menteri bersiap menyambut pangeran Yosida, membentuk barisan yang rapi. Tak tertinggal para pelayan dan kasim istana yang juga ikut menyambut kepulangan pangeran sekaligus calon Kaisar baru di dinasti Gaozu. Pun dengan para pangeran saudara seayah Yosida ikut menyambutnya di aula istana.


Semua kepala menunduk kala kedua kaki Yosida melangkah di atas karpet merah menuju pintu istana.


"Hidup Kaisar baru ! Hidup Kaisar Yosida! ...."Teriak para prajurit, menteri dan seisi istana, suara mereka menggema menyemangati pangeran Yosida.


Sang pangeran hanya tersenyum seraya melambai tangan pada mereka.


Dan kini, hari dimana Yosida dilantik menjadi Kaisar baru pun tiba. Disaksikan oleh seluruh rakyat dan penghuni istana.

__ADS_1


tampak jelas wajah-wajah bahagia dari para Rakyat yang menyambut Kaisar baru mereka.


Berharap dengan dilantiknya Yosida menjadi Kaisar, maka akan membawa perubahan pada perekonomian mereka.


Seisi istana menggelar pesta selama satu hari penuh. Namun, tidak dengan ibu suri. Ia menjadi satu-satunya insan yang tak ikut berpartisipasi dalam perayaan pesta pelantikan Kaisar baru. Hanya karena Kirana, wanita yang tak disukai olehnya, wanita yang dibawa oleh Yosida, yang akhirnya dipilih Yosida sebagai calon permaisurinya.


******


Yosida duduk di atas dipan kayu dengan pahatan khusus. Di bawah pendopo yang cukup luas. Satu orang wanita tengah memainkan musik gagaku, diiringi oleh tiga penari wanita lainnya. Pemandangan yang cukup memanjakan mata.


Namun tidak dengan Yosida, ia tak menikmati hiburan itu. Bayangannya hanya mengingat satu wanita yang sudah sejak tiga bulan terakhir mengusik kehidupan hampanya.


"Sarapan pagi anda, yang mulia, Pangeran Muda!" tawar seorang wanita seraya meletakkan sebuah nampan berisi kue beras.


Mendadak tatapan Yosida tertuju pada suara yang terdengar tak asing olehnya itu.


"Cih." Yosida tertawa kecil. "Bagaimana aku tahu kalau makanan ini tak ada racunnya!" goda Yosida padanya.


"Yaa ... mungkin memang kue yang itu tidak ada racunnya! Tapi .. aku masih ragu, bagaimana dengan yang ini! Aku ragu jika yang ini juga tak ada racunnya!" ucap Yosida dengan tawa licik saat mengerjai Kirana. membuat sang gadis memonyongkan bibirnya hingga nyaris merubah wajah manisnya menjadi kecut. Pria itu tertawa puas, sepertinya sang pangeran mulai menikmati perlakuan jahilnya pada Kirana.


"Baiklah! Sudah cukup! Kau tak perlu mencicipinya lagi! ucap Yosida. "Hmm .. tapi .. sepertinya pundakku mulai terasa pegal." Yosida mulai memijit pundaknya yang sebenarnya tak sedang pegal. "Cepat! Pijit sebelah sini," pinta Yosida pada Kirana, setengah tersenyum mengerjainya.


Kirana memasang wajah masam, lalu tanpa membantah, wanita itu mulai memijit pundak Yosida dengan kasar.


"Aw! aw! aw! Pelankan sedikit! Aw!" pekiknya begitu tangan Kirana sudah benar-benar memijat pundaknya.


Wanita itu berniat membalas perbiatan jahil pada sang pangeran sembari tertawa licik.


"Hahahha! Bagaimana, Tuan? Apa pelayanan terapinya nikmat?" godanya.


Namun, mendadak mereka dikejutkan dengan suara lantang yang seketika menghardik Kirana.

__ADS_1


"Jaga sikapmu wanita asing! Jangan lancang!" hardiknya dan berhasil membulatkan netra Yosida dan Kirana.


"Ini istana! Ada beberapa aturan etika yang harus di jalankan selama kau berada di sini! jadi jangan pernah bertindak sesukaku!" Ia melontarkan kata-kata kasar pada Kirana.


Membuat Yosida menghela napas panjang lalu membuang pandangan.


"Maafkan saya, Ibu Suri," ucap Kirana yang langsung berjalan mundur dengan kepala merunduk.


"Sudah! Cepat kembali, dan selesaikan saja apa yang menjadi tugasmu!" perintahnya.


Tanpa membantah, gadis itu langsung kembali, berjalan melintas di samping sang ibu suri, Ying hyen.


"Dasar perempuan ******!" hinanya dengan nada pelan saat langkah kaki kirana tepat bersebelahan dengannya.


Kirana tak membalas apa pun atas ucapan ibu suri. Ia meneruskan perjalanannya dengan kepala yang masih menunduk.


Ying Hyen memperhatikan kepergiannya hingga benar-benar tak tampak bayangan Kirana di matanya. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah putranya. Memasang wajah semanis mungkin di hadapan sang pangeran putranya itu.


"Apa yang membawamu kemari!" tanya Yosida. "Aku tidak sedang ingin mengobrol denganmu."


Ungkapan Yosida berhasil mengerutkan alis Ying Hyen." Mengapa kau selalu bersikap dingin padaku, Yosida? Aku ini ibumu."


Pria itu tak menjawab. Ia lantas berdiri lalu beranjak pergi dari pendopo.


"Yosida!" Ying Hyen menahan lengan anaknya dengan memegang erat. "Dengarkan ibu! Wanita itu tak pantas bersanding denganmu! Kita masih belum tahu siapa dia, seperti apa silsilahnya. Tolong pertimbangkan itu, Yosida!"


Yosida tak membalasnya, ia hanya menatap sinis ibunya kemudian melepas paksa genggaman itu.


"Aku tak peduli!" ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Ying Hyen.


"Yosida! Yosida!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2