
#Cinta_Pria_Berdarah_Dingin
#CPBD
Oleh : Maria Ramzz
Part 26
Gumpalan api memenuhi istana dinasti Gaozu. Menutup sempurna, mengubahnya menjadi istana api.
Pasukan prajurit istana dinasti Gaozu lari berhamburan, sebagian tertangkap oleh pasukan musuh, sebagian lain berhasil kabur melarikan diri.
Tak luput pasukan prajurit Thai Pan meringkus para tahanan di sel bawah yang terkurung tak dapat melarikan diri. Salah satunya ialah Ying Hyen, yang akhirnya ikut diseret bersama tahanan lainnya.
Meski bernasib malang, Ying Hyen masih beruntung dapat keluar dari sel tahanan bawah dinasti Gaozu yang tengah dilahap api, ia berhasil selamat dari maut, walau akhirnya ia kembali menjadi tahanan pasukan dinasti Thai Pan.
Diseret bersama ratusan pelayan wanita lainnya yang menjadi sandera.
*****
"Ck ck ck, sungguh menyedihkan melihatmu tersungkur di sini, Tuan Yosida!" decak Thai Pan seraya mengejeknya. Ditemani oleh puluhan prajuritnya yang mengitari Yosida.
Yosida menatapnya dengan wajah geram. Thai Pan menodongkan pedang ke hadapannya.
"Alihkan pandanganmu itu! Atau aku akan menghabisi nyawamu malam ini juga. Seperti kau yang telah menghabisi nyawa putriku!" gertaknya.
"Aku tak pernah membunuh putrimu!"
"Bohong! Dasar kau pria brengsek!" hardiknya seraya melayangkan sebuah tamparan di wajah Yosida.
Yosida terdiam sejenak, kemudian kembali menatapnya. "Bunuhlah aku, jika itu akan memuaskan hasratmu!"
"Ha ha ha." Tertawa kecil seraya berjongkok lebih dekat. "Kematianmu tak boleh semudah itu! Kau harus merasakan perihnya hidup di istanaku!" bisiknya pelan.
Yosida menggertakkan gigi, mengepal tangan dengan sorot mata yang terus menatap Thai Pan tanpa berkedip.
Buuug!
Yosida membenturkan kepalanya pada jidat Thai Pan. Membuat Thai Pan jatuh telentang dan langsung memegang pelipisnya yang mulai mengeluarkan darah.
"Kurang ajaaar! Beri dia pelajaran!" perintah Thai Pan pada puluhan pasukannya yang saat itu menyaksikan dirinya terluka, segera mereka menghantam Yosida beramai-ramai. Hingga tak tampak sedikitpun tubuhnya, tertutup oleh banyaknya pria yang menghajarnya.
"Cukup! Cukup!" perintah Thai Pan pada mereka yang langsung menyingkap mundur. Tampak Yosida tak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka akibat hantaman yang mendarat bertubi-tubi.
"Biarkan dia hidup, aku tak ingin melihatnya mati, sebelum dia benar-benar menderita!"
*****
Netra Yosida mengerjap beberapa saat. Tampak samar pasukan musuh sedang duduk mengitari tumpukan kayu yang sengaja dibakar, menikmati hidangan daging yang mereka panggang sebagai makan siang mereka.
Riuh tawa terdengar jelas di lubang telinga Yosida. Beringsut, berusaha bangkit dari tempat ia terbaring. Dua rantai besi mengikat erat di pergelangannya, berupaya melepas dengan sisa tenaga yang ia miliki, namun gagal.
Terik matahari tepat berada di atas kepala mengenai langsung ubun Yosida. Membuat Yosida semakin lemah tak berdaya.
"Haus, air!" rengek Yosida agar dapat menengguk sedikit air untuk sekadar melepas dahaga. Sontak mereka menoleh menatap kearahnya.
"Yang mulia, Dia sudah sadar!" seru salah seorang dari mereka.
Tampak sepasang kaki dengan sepatu kulit berlapis baja, datang berjalan menghampirinya, berjongkok di hadapannya. Yosida mendongak, menatap wajah pria yang mendekatinya itu.
Senyum menyeringai menghiasi bibirnya. "Cih!" tawanya meledek Yosida sembari melempar pandangan, lalu kembali menatap seraya meremas rambut Yosida, memaksa Yosida untuk menatap wajahnya yang mengangkat kedua alis. "Kukira kau lebih tangguh dari dugaanku, ternyata ...." Kembali ia meledek.
"Cuih!" Yosida meludah. Pria itu memejam, menyapu pelan ludah yang mengenai wajahnya.
__ADS_1
"Beraninya kau!" hardiknya. Tangannya membenturkan kepala Yosida di atas batu, membuat darah mengalir di atas pelipis.
"Aggghhh!" Yosida mengerang.
"Dasar! Kaisar yang tak berguna!" hinanya pada Yosida sembari menghempaskan genggaman pada rambut Yosida, membuat tubuh Yosida tersungkur ke tanah.
"Aaaa!" Beberapa pelayan yang menjadi sanderaan, menjerit histeris menyaksikan penganiayaan itu secara langsung.
Berat Yosida menatap ke arah mereka, sebuah pemandangan yang memilukan, tampak rona cemas dan ketakutan menghiasi wajah para wanita itu. Tali yang diikat dipergelangan, tersambung antara yang satu dengan yang lainnya.
Isak tangis yang memekikkan telingan pun tak terelakkan. Salah satu prajurit musuh tampak berdiri dengan sebilah cambuk yang digenggam pada telapak tangannya. Tak segan melayangkan pada siapa saja yang berani berontak.
"Waktu istirahat sudah usai! Ayo, kembali lanjutkan perjalanan kalian!" perintah salah seorang panglima diantara pasukan prajurit pejalan kaki.
Mereka mulai berdiri, berkemas untuk kembali ke negeri mereka di Hanashobu.
Kembali terdengar jeritan para wanita sandera yang dipaksa berdiri untuk melanjutkan perjalanan.
"Ayo bangun, dasar pemalas!" desak pria tadi seraya menendang tubuh Yosida.
Ia menarik rantai yang tersambung di pergelangan Yosida, dan mulai menyeretnya dari atas kuda. Dengan sempoyongan, Yosida berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang lemah akibat dehidrasi. Beberapa kali ia jatuh dan terseret di tanah. Salah seorang prajurit yang memegang cambuk, segera melayangkan cambuknya pada punggung Yosida agar segera bangkit dan kembali berjalan.
"Ayo bangun! hardiknya. Yosida berusaha bangun dengan tubuh sempoyongan.
Melirik ke samping, tampak seorang wanita dengan rambut terurai sedikit beruban ikut diseret bersama ratusan wanita lainnya.
Yosida tertawa tipis "Cih! Kau puas, Ying Hyen!" batinnya sembari menatap wanita itu.
******
"Ini sajian untukmu pagi ini, Yang mulia!"
"Aku tak ingin memakannya, kau saja yang makan!" ucap Kirana.
"Kenapa? Kau tak mau? Kalau begitu, buang saja!"
Pelayan itu bersungut kesal. Ia sedikit menggerutu, membuat bola mata Kirana menatap tajam ke arahnya.
Glek!
"Apa yang kau ucap barusan?" tukas Kirana.
"Yang mulia, aku sudah bersusah payah menyiapkan ini semua untukmu! Tidak bisakah kau menghargainya, mencicipinya walau hanya sedikit!"
"Kau ingin aku mencicipinya?" Ketus Kirana. "Ini, cicipilah!" Menyodorkan makanan ke mulut pelayan, memaksa masuk. "Kau pikir aku sudi memakan sajianmu yang mungkin ada racunnya itu?" gerutu Kirana.
Pelayan itu menyipitkan mata. Tampak wajah Kirana yang mulai bingung dengan ucapannya sendiri.
Kirana menatap sajian yang diletakkan di hadapannya. "Ahhh" Sontak memegang pelipis.
"Ada apa, Yang mulia?"
"Entahlah? Melihat sajian itu, tiba-tiba ... aku merasa pusing," tuturnya.
"Sebaiknya, Yang mulia istirahat saja dulu, jangan banyak berpikir, nanti tambah sakit!" bujuknya.
"Hmm," ucap Kirana. "Maafkan aku," tutur Kirana yang mengagetkannya.
"Maaf untuk apa, Yang mulia?"
"Maaf karena aku sudah membentakmu. Akhir-akhir ini, aku merasa menjadi seseorang yang bukan diriku."
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Entahlah! Aku merasa ... ada sesuatu yang menekan dalam diriku!"
"Mungkin karena benturan itu."
"Kalau boleh tahu, di mana terakhir aku jatuh dan terbentur itu?"
Pelayan itu tampak bingung. Lalu ia seperti mendapat ide. "Kau terjatuh saat menuruni anak tangga di halaman istana!" ucapnya berusaha berbohong. "Sudahlah, Yang mulia. Tak usah pikirkan hal itu."
"Oh, begitu ya!"
"Hmm."
"Kau, benar-benar baik. Apa kau tak membenciku walau aku sudah membentakmu?"
"Emm." Ia menggeleng. "Sama sekali tidak!" sahutnya.
"Hatimu benar-benar tulus. Bersamamu, aku merasa seperti pernah merasakan kehangatan dari seseorang, tapi aku tak dapat mengingatnya. Maukah kau membantuku untuk memulihkan ingatanku!"
"Emm, akan aku lakukan semampuku!" ucapnya dengan nada terpaksa.
Kirana tampak tersenyum bahagia.
*****
Satu potong ubi bakar untuk satu kepala, tak terkecuali Ying Hyen yang juga mendapat bagian dari sepotong ubi.
"Masing-masing satu saja! Itu untuk mengganjal perut kalian!" seru seorang prajurit yang turut membagikan potongan ubi bakar pada ratusan wanita sandera.
Lahap mereka memakan potongan ubi yang ada di tangan mereka.
"Tuan, apa aku harus memberikan potongan ubi juga pada pria di sana?" tunjuk seorang prajurit pada Yosida.
Thai Pan menoleh, tampak Yosida yang terlihat lemah karena kelelahan dan mulai kehabisan tenaga. Tersenyum menyeringai. "Sini! Berikan potongan ubi itu padaku!" pintanya kemudian beranjak mendekat ke arah Yosida.
Melemparkan sebotol minuman berisi air putih, dan sepotong ubi di hadapan Yosida. "Minum dan makanlah, jika kau tak ingin mati," tukasnya.
"Aku tak sudi!" tolak Yosida yang menyingkirkan botol di hadapannya seraya memalingkan wajah.
"Cih!" tawa Thai Pan. "Haru! "serunya pada seorang prajurit kepercayaannya.
"Ya, Tuanku!" Ia menghampiri setengah berlari.
"Bantu dia untuk minum! Sepertinya, pria brengsek ini perlu bantuan!" ledeknya.
Haru meraih botol yang jatuh tersingkir di hadapan Yosida, membuka penutupnya lalu mulai menuang paksa di mulut Yosida.
Bruuush!
Yosida memuntahkan air yang terlanjur masuk ke mulutnya.
Kembali hantaman keras mendarat di wajah Yosida. Plaak! Darah segar keluar dari mulut. Membuat salah seorang wanita sandera yang tangannya terikat merengek seraya memohon pada Thai Pan. "Kumohon, hentikan!" Mata Yosida membulat.
"Wah wah! Ying Hyen, begini rupanya nasibmu setelah menolakku." Thai Pan mendekat ke arah Ying Hyen. Berjongkok, tangannya memegang dagu bawah Ying Hyen. Memaksa Ying Hyen untuk menatapnya.
"Dulu aku menawarkan hidup yang penuh kenikmatan padamu, tapi kau lebih memilih Gaozu!" Ia tertawa tipis. "Lihatlah dirimu sekarang ini, memelas padaku, agar aku berhenti menyiksa putramu! Cih."
Mata Yosida memerah, teramat geram dengan perlakuan Thai Pan. Sontak ia memutuskan merampas botol yang dipegang oleh Haru, lantas meminumnya hingga tak tersisa.
Thai Pan bertepuk tangan. "Kerja bagus! Anak dan ibu benar-benar serasi, dua makhluk hina!" ledeknya. "Ayo, kembali lanjutkan perjalanan kita! Waktu istirahat usai!" perintahnya pada seluruh pasukannya.
Kembali pasukan Thai Pan memaksa bangkit seluruh sanderaan. Mata Yosida dan Ying Hyen saling pandang dari jarak sepuluh meter.
'Aku berjanji! Akan membalas perbuatanmu, Thai Pan!' batin Yosida.
__ADS_1
Bersambung ....