Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin

Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin
Keputusasaan Kirana


__ADS_3

Part 17


Yosida masih tak bisa menerima kenyataan bahwa istrinya tak hamil. Hatinya tak karuan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Istriku tak mungkin berbohong." Yosida membatin. "Apa kemungkinan ada sesuatu yang salah terjadi di istana ini?" Hatinya terus bertanya-tanya. Entah mengapa Yosida memiliki firasat buruk.


"Kasim, tolong panggilkan tabib tadi, suruh dia kemari menghadapku!"


"Baik, Yang mulia!" Kasim bergerak cepat menuju kediaman tabib yang baru saja memeriksakan kondisi Kirana. Tak berapa lama, ia kembali bersama tabib tadi.


"Ada apa, Yang mulia?" tanya tabib.


"Aku ingin menanyakan perihal istriku, Kirana."


"Ya, silahkan, apa yang ingin anda tanyakan, Tuanku?"


"Tadi kau mengatakan bahwa di dalam rahimnya tak ada janin? Apa maksudmu? Apa mungkin selama ini Putri Kirana tidak hamil."


"Ya, Yang mulia. Hasil pemeriksaan saya menunjukkan bahwa Putri Kirana tak pernah hamil."


"Tidak mungkin! Kirana tak mungkin berbohong!" ungkapnya. "Lalu, bagaimana dengan pendarahan yang terjadi padanya pagi tadi hingga membuatnya jatuh pingsan!"


"Oh itu ... itu sebab ia kurang darah, dan sepertinya saat ini putri Kirana sedang menstruasi!"


"Kau tidak berbohong?" bentak Yosida sembari menarik kerah tabib.


"Ampun, Yang mulia. Saya berani mempertaruhkan nyawa saya jika saya berbohong!" tuturnya seraya memohon di hadapan Yosida.


Yosida masih ragu dengan pernyataan tabib. Namun ia tak ingin membahas lebih panjang.


"Ya sudah! Silahkan kau kembali pada tugasmu!" perintahnya.


"Terima kasih, Yang mulia!"


Dengan segera tabib berjalan mundur, lalu keluar dari kamar Yosida. Sepanjang jalan tangannya bergetar menahan rasa takut. Menyusuri lorong istana. Tiba-tiba seseorang menariknya dari samping. Ia terkejut hingga hampir membuatnya berteriak.


"Ampun, kumohon, ampun! Jangan sakiti aku!" pintanya memelas dengan posisi tangan memohon belas kasih.


"Ssttt! Ini aku." bisik seseorang yang menariknya.


Membuka mata perlahan. "Yang mulia, Ibu suri!"

__ADS_1


"Ssttt! Jangan keras-keras!"


"Hmm." Ia mengangguk.


"Bagaimana? Apa aktingmu lancar?"


"Ya, Ibu suri! Aku berhasil membuat tuan Kaisar Yosida percaya!" ia berucap dengan sedikit bumbu tawa licik.


"Kau yakin? Jangan sampai membuatnya curiga!"


"Ya, aku yakin! Aku telah membuatnya percaya padaku!"


"Bagus!" ucapnya. Tangannya meraih kantong berwarna hitam. "Ini! Ambillah sebagai imbalanmu!"


Tabib itu membuka kantong. Matanya membelalak menemukan beberapa keping emas yang terdapat di dalam kantong.


"Wahhh!" serunya.


"Sudah! Tidak ada waktu untuk memeriksanya sekarang! Cepat pergi, sebelum seseorang melihat kita di sini!"


Tabib palsu itu tersenyum. Kemudian mengangkat jempolnya seraya menyeringai. "Siap, Yang mulia!" tawanya kemudian bergegas pergi setelah sebelumnya memastikan kondisi sekitar aman dari mata-mata.


*****


Tiga bulan berlalu, kini terhitung enam bulan pernikahan Yosida dan Kirana.


Selama tiga bulan terakhir, Kondisi Kirana terus memburuk. Ia terus muntah dan pusing. Meski sudah diperiksa berkali-kali oleh tabib. Namun pernyataan tabib tetap sama bahwa Kirana tak sedang mengandung. Pun pusing dan mualnya hanya sebatas sakit magh biasa, tuturnya.


Yosida terlalu sibuk dengan urusan kepemimpinannya hingga ia lupa bahwa Kirana sedang butuh perhatian extra darinya.


Setelah enam bulan lamanya pernikahan mereka, Kirana dinyatakan tak kunjung hamil oleh tabib palsu. Ying Hyen memutuskan mencari selir baru untuk putranya Kaisar Yosida. Hal itu ia lakukan secara sepihak tanpa pemberitahuan terlebih dulu terhadap Yosida juga Kirana. Ying Hyen telah memutuskan untuk menambahkan putri Kiera anak dari Kaisar Thai Pan sebagai selir baru Yosida.


Tentu saja Yosida tak dapat menolak, sebab ia terlanjur menjalin hubungan kerja sama dengan Kaisar Thai Pan, dengan berat hati Yosida akhirnya menerima Putri Kiera menjadi selir pertamanya.


*****


Kirana masih terbaring lemah di atas peraduan, berat badannya semakin menurun sebab rasa mual membuatnya tak memiliki nafsu makan. Beberapa pelayan menawarkannya obat penambah nafsu makan. Berkat tekad dan semangat Kirana akhirnya kembali pulih. Kini ia mulai bisa beraktifitas, meski tenaganya belum sepenuhnya kembali seperti dulu.


"Putri, Kirana! Ada berita penting untukmu!" seru Yuki setengah berlari dari luar kamar.


Tatapan Kirana membulat, ia sedikit menegang.

__ADS_1


"Berita penting apa, Yuki! Segera katakan?"


"Gawat, Tuan putri. Gawat!"


"Apa yang gawat? Langsung saja!" pekik Kirana.


"Ehh ... anuu ... ituu!"


"Itu apa?"


"Tuan Yosida." tuturnya terbata.


"Ada apa dengan Kaisar Yosida?"


"Dalam waktu dekat, beliau akan menambah seorang selir!"


"Apa?"


Bagai disambar petir, seketika raga Kirana lemas. Ia tersandar pada besi penyanggah ranjang. Bulir bening mulai keluar dari kedua matanya.


"Tuan Putri, maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu bersedih."


Kirana diam tak menyahut sepatah katapun.


"Tuan putri ...." panggil Yuki. Bibirnya setengah bergetar. Ia tak kuasa menahan tangis menyaksikan penderitaan yang dialami Kirana.


"Tolong tinggalkan aku sendiri," pinta Kirana pada seluruh pelayan yang saat itu sedang berada di kamar Kirana.


"Tapi, Tuan!"


"Keluarlah! Ini perintah!" ucapnya masih dengan tangisan.


"Baik, Yang mulia!" Mereka perlahan keluar sambil sesekali menoleh pada Kirana. Terlihat tatapannya yang kosong dengan wajah datar. Sungguh pilu hati mereka menyaksikan Kirana.


Pintu perlahan digeser hingga tertutup sempurna. Kirana masih menangis dengan tatapan kosong. Tiba-tiba terbesit dalam pikirannya untuk mengambil sebilah pisau.


Ia kemudian beringsut turun dari ranjang. Jalan dengan berpegangan pada benda apa pun yang berada di sekitarnya. Membuka laci, mengacak-acak isi lemari tetapi tak menemukan satu pun benda tajam.


Matanya kemudian tertuju pada sebuah guci yang diletakkan di sudut ruang sebagai hiasan. Ia tertatih berusaha meraih benda itu. Kemudian menghempaskannya ke lantai hingga menimbulkan suara yang cukup mengundang para pelayan di luar kamar. Mereka berlarian berhambur, berusaha menerobos kamar Kirana. Namun terlambat, Kirana telah mengiris pergelangannya dan membuat darah berceceran di lantai.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2