Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin

Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin
Musim Dingin


__ADS_3

Part 7


Musim salju telah tiba, membuat suasana saat itu cukup dingin dengan suhu berkisar dua delapan belas derajat.


Meski sudah menggunakan jubah dari kulit hewan, Yosida masih merasakan dingin menembus tulang sumsum. Ia terus berjalan di bawah pepohonan yang tertutup salju.


Beberapa kali salju jatuh mengenai bagian kepala. Pun tebalnya yang mencapai seperempat kaki pria dewasa menghambat laju langkah Yosida.


Terlihat cahaya lampu kekuningan dari jarak seratus meter. Sebuah bar, penginapan, dan sauna. Satu langkah tepat bagi Yosida untuk menghangatkan diri disaat dingin menyerang.


Yosida memasuki bar. Ternyata dia bukanlah satu-satunya pria yang terjebak di musim dingin saat itu. Ada puluhan pria dengan beragam penampilan sedang asik berpesta. Menegguk arak, berjudi. Mereka ditemani puluhan wanita penghibur. Suasana di dalam bar cukup berisik, membuat Yosida harus mengeraskan suara saat berbicara pada bartender.


"Beri aku segelas!" pinta Yosida pada salah satu pelayan bartender.


Yosida memilih meja yang berada di pojok, cukup jauh dari keramaian. Namun, cukup pas untuk memantau situasi.


"Hai tampan, boleh aku menemanimu?" rayu salah seorang wanita berkulit coklat dengan pakaian sedikit terbuka, membuat tampilannya cukup menggoda. Tangannya gemulai menyentuh pundak Yosida.


"Tidak!" sahut Yosida.


"Kau yakin!" tuturnya sedikit mendesah.


"Ya!"


"Baiklah, kalau perlu aku, panggil saja. Aku siap menemanimu sampai pagi," bisik wanita itu setengah tersenyum, kemudian pergi berlalu.


Mata Yosida Menatap ke sekitar. Sekilas tak ada yang aneh. Namun ternyata, di kejauhan terlihat beberapa pria menatapnya lekat. Yosida memalingkan pandangan, bola matanya melirik pada sebuah gelas basah yang berada di atas meja. Terpantul buram wajah pria-pria tadi masih menatapnya.


Sadar ia sedang diincar, Yosida berjalan perlahan meninggalkan bar melalui lorong menuju pintu belakang. Terdengar langkah beberapa pria mengikutinya. Ia pun memperlaju langkahnya dan kemudian berdiam di balik tembok.


Buuug!


Kyaaa!" seru Yosida seraya melayangkan pedang dan langsung mengenai leher salah satu dari tiga bandit yang mengikutinya. Seketika pria itu jatuh tergeletak


Dua bandit yang lain terkejut, seketika mereka menyerang Yosida secara bersamaan.


Sriiing!


"Kyaaa!"


Mereka mengayun pedang dan nyaris mengenai perut Yosida, dengan sigap Yosida menghindar. Salah seorang bandit melayangkannya ke arah leher Yosida, tetapi sang pria tangguh menunduk, tangannya mengayunkan pedang menusuk dan langsung menusuk ke perut hingga tembus ke punggung, lalu menarik kembali pedang itu.

__ADS_1


Bruuush!


Darah menyiprat keluar. Mengotori sebagian dari wajah Yosida.


Napas sang pria tangguh itu mulai tak beraturan. Ia berdiri tegap menatap lekat satu musuh yang masih terdiam dihadapannya dengan mata menyalak dan mulut menganga.


Sontak pria itu berlari menghindar. Namun, dengan sigap Yosida mengejar, tangannya menarik bahu si pria, mengangkatnya lalu membanting kedinding hingga jatuh terpental ke lantai.


Darah segar berhasil mewarnai mulut dan hidungnya


Ia merangkak, berusaha kabur dengan sedikit sisa tenaga. Segera Yosida mendekatinya, lalu mengayunkan pedang.


"Kyaaa!"


"Tunggu! Jangan bunuh aku, kumohon!" rengek pria tergeletak itu setelah melihat dua kawannya sudah tewas.


"Siapa bandit yang mengirimmu?" tanya Yosida.


"Kida! Kelompok pembunuh itu yang mengirimku," ucapnya terbata.


"Kyaaa," Kembali Yosida mengangkat pedangnya.


"Kumohon, tolong jangan bunuh aku," pintanya memelas. Yosida kembali menahan pedangnya.


"Katakan! Kenapa aku harus membiarkanmu hidup?" tanya Yosida.


"Aku punya satu berita penting untukmu," ucapnya. "Gadismu, Di-dia di sandera oleh kelompok Kida!"


"Apaaa!"


Glek!


Mata Yosida membelalak, seketika darahnya berdesir, tangannya mengepal erat. Ia amat murka mengetahui Kida menculik Kirana.


"Arrrhhh!" pekik Yosida. Ia teramat geram, geram dengan perlakuan para pembunuh yang sudah mengancam keselamatan Kirana.


Ia lantas mencabut pisau di sela sepatunya dan menusuk kedua bola mata bandit yang tengah terbaring lemah di hadapannya.


"Aaaa ...!" jerit bandit itu.


"Katakan pada atasanmu, jangan pernah mencoba bermain denganku!" ancam Yosida, kemudian berlalu, tangannya kotor berlumur darah, meninggalkan tiga bandit yang tergeletak di lantai. Ia sengaja menyisakan salah satunya agar tetap hidup.

__ADS_1


Langkah kaki Yosida terus berjalan menyusuri salju yang makin menebal. Hanya mengandalkan sinar bulan sebagai penerangan, beberapa kali ia terpeleset kala mendaki anak gunung, tapi tak lantas membuatnya menyerah menuju pemukiman untuk menemui salah seorang kawan lama yang tinggal dan menetap di sana.


Walau sesekali ia memilih untuk beristirahat pada sebatang pohon tumbang yang berada disekitarnya.


Dari atas gunung terlihat lampu-lampu menyala pada tiap bangunan. Jarak Yosida dengan pemukiman kini hanya tinggal lima ratus kilo meter. Yosida semakin bersemangat mencapai tujuannya.


Sepi dan sunyi kala Yosida telah memasuki kawasan pemukiman warga. Hanya terlihat beberapa burung wren bertengger secara berkelompok pada sebuah pohon yang sudah tak berdaun. Sepertinya warga sangat lelap tidur di musim dingin malam itu.


Yosida tiba di salah satu pemukiman milik kawannya. Ia berdiri tepat di depan pintu lalu mengetuk. Selang beberapa saat terdengar langkah seseorang mendekat ke arah pintu.


Daun pintu berderit terbuka setelah sebelumnya terdengar tombol pengunci besi ditarik.


"Tuan muda?" Pemilik rumah itu terkejut. "Apa yang membawamu kemari? Ayo, segera masuk!" ajaknya pada Yosida.


Tanpa ragu Yosida masuk, kepalanya sedikit meruduk saat melewati gawang pintu. Ia duduk pada sebuah kursi kayu. Terdapat beberapa lampu pelita di setiap sudut ruang. Salah satunya diletakkan di atas meja.


Seorang pria berjalan dari dalam membawa sebuah cawan kosong, sebotol minuman berisi penuh, dan sepotong daging panggang yang diletakkan di piring menggunakan nampan di tangannya, lalu meletakkannya di atas meja.


"Tuan muda, makanlah! Kau pasti sudah lapar," tawarnya pada Yosida.


"Hmm," sahut Yosida, seraya menuang minuman kedalam cawan kosong.


"Tuan muda, sudah sangat lama aku tak melihatmu!" ucap pria paruh baya itu memulai percakapan. "Di mana kau tinggal selama ini?"


"Aku tak punya tempat tinggal. Selama ini aku hanya berkelana. Tidak ada satu desa pun yang aman untuk aku tinggali," tutur Yosida.


Pria itu mengehela nafas. Diketahui pria itu adalah seorang kasim di istana kekaisaran Gaozu. Ia bekerja sebagai pelayan pengabdi Kaisar Gaozu.


"Bagaimana kabar ibuku?" tanya Yosida.


"Terakhir kali aku bekerja sebagai pelayan Kaisar Gaozu. kudengar kabarnya Ibu selir di asingkan ke sebuah kuil, di bawah kepemimpinan Kaisar Zhou" tuturnya pada Yosida.


Yosida meremas erat tangan kanannya, ia amat geram dengan pamannya.


"Tapi baru-baru ini aku dengar, kabarnya, ibu selir telah kembali ke istana, beliau sepakat dan membuat beberapa perjanjian dengan Kaisar Zhou."


"Perjanjian seperti apa?" tanya Yosida.


Mantan kasim itu berbisik pada Yosida. Yosida mengangguk-angguk, sepertinya ia paham akan penjelasan kasim.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2