Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin

Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin
Serangan Pasukan Dinasti Thai Pan


__ADS_3

#Cinta_Pria_Berdarah_Dingin


#CPBD


Oleh : Maria Ramzz


Part 24


Benaknya masih berkecamuk, sebab hingga saat itu, belum ada tanda-tanda mengenai kabar Kirana. Terus cemas memikirkan belahan jiwanya. Entah apa yang terjadi padanya, Yosida terus mengkhawatirkan Kirana.


Sudah empat hari berlalu, kabar mengenai Kirana masih saja gantung, sementara kabar baru mengenai pihak keluarga dinasti Thai Pan justru datang lebih awal. Tersirat berita mengenai kabar akan adanya penyerangan dadakan dari pihak dinasti Thai Pan. Mereka amat murka, sebab Yosida dianggap telah lalai dalam menjaga dan melindungi putri Kiera yang telah diamanahkan pada Yosida.


Mondar-mandir Yosida di depan kursi takhtanya. Tangannya terus memegang pelipis, memikirkan cara dan strategi pertahanan dari ancaman serangan.


Salah seorang penjaga benteng pertahanan istana berlari menghampiri Kaisar Yosida. "Salam hormat, Tuanku! Ada berita penting!" tukasnya.


Yosida menghentikan langkah. Mendengar dengan seksama berita yang dibawa oleh penjaga istana itu.


"Para pasukan prajurit Kaisar Thai Pan dan pemimpinnya sudah berada di perbukitan Choi Be," tuturnya. Bukit Choi Be berada sekitar dua kilo meter dari istana.


"Hmm." Yosida manggut. "Berapa kemungkinan pasukan yang mereka kirim?"


"Sekitar dua ribu pasukan, Tuan!"


"Kumpulkan pasukan tentara kita di lapangan istana! Siapkan pasukan terbaik kita untuk menghalau mereka di balik gerbang istana!" tuturnya.


"Biarkan sebagian berjaga di perbukitan, bekali mereka dengan panah api! Siapkan timah dalam belasan tong, letakkan di tiap sisi bangunan menara istana!" perintah Yosida.


"Baik, Tuan!" hormatnya mematuhi. Kemudian berlalu dari pandangan.


Yosida bergegas menuju kamp pasukan prajuritnya. Menuju ruang khusus milik dinasti Gaozu. Melangkah masuk, tampak beberapa pedang dan samurai menghiasi dinding tembok ruangan. Beberapa seragam khusus dari bahan besi tersimpan rapi. Sedikit berdebu, sudah beberapa tahun terakhir sejak kematian Kaisar Gaozu, istana dinasti Gaozu cukup sepi dari peperangan.


Yosida meraih penutup kepala yang terbuat dari besi itu. Setelah sekian tahun, kini saat ia menjabat sebagai Kaisar, untuk pertama kalinya ia kembali menyentuh seragam perang. Mentalnya telah siap dan mantap untuk kembali menyambut peperangan. Dikenakannya baju seragam dan penutup kelapa di tubuhnya. Seketika darahnya berdesir hingga ke ubun, hasratnya kembali menggebu.


Berjalan menuju lapangan istana. Tampak rapi para prajurit berbaris di halaman istana. Yosida berdiri di hadapan mereka, memulai pidato.


"Peperangan telah dimulai. Waktu istirahat kita sudah usai. Kini saatnya kita kembali berjuang, mempertahankan keutuhan dinasti kita, dan ketentraman para rakyat kita."


"Jangan gentar! Lawan segala rasa takut dalam diri. Jangan pernah berhenti, berlari, sampai titik darah penghabisan. Jangan biarkan musuh meraih kursi pertahanan kita! Hidup dinasti Gaozu!" seru Yosida.


'Hidup dinasti Gaozu, hidup dinasti Gaozu!" seru para pasukan serempak.


Yosida kemudian berlalu, beranjak berjalan menuju gedung pertahanan terdepan istana. Diikuti oleh beberapa prajurit yang siap berperang bersamanya. Mereka berdiri tepat di atas pintu gerbang istana. Menunggu pasukan dinasti Thai Pan untuk menyerbu.


Musuh telah tampak di kejauhan sejarak satu kilo meter, suara gemuruh dan tapak kaki dua ribu pasukan dan beberapa panglima yang memacu kuda, berlari menuju istana.


Salah satu penjaga istana dinasti Gaozu yang berada di menara tunggal membunyikan terompet, pertanda peperangan akan segera berlangsung.


Yosida berdiri tegap, menatap dengan posisi siap. Ia sendiri yang memimpin langsung pasukan prajurit di istananya.

__ADS_1


Tinggal lima ratus meter jarak musuh dengan istana, sebilah anak panah melayang menancap pada satu titik tiang di gerbang istana. Segera, salah seorang prajurit mengambil panah yang menancap itu, sepucuk pesan terbungkus rapi dalam gulungan kecil berwarna merah. Ia lantas menyerahkannya pada Kaisar Yosida.


Yosida meraih dan membukanya.


Teruntuk Kaisar Yosida,


Kau telah lalai dalam menjaga dan melindungi putri Kiera yang diamanahkan padamu.


Hanya dalam waktu singkat, kau mengirim jasad putri Kiera yang suci kembali ke kediamannya istana dinasti Thai Pan.


Mulai hari ini, kerjasama yang terjalin antara dinasti Thai Pan dengan dinasti Gaozu telah diputus.


Bersiaplah untuk menerima kemurkaan dinasti Thai Pan!


Tertanda, dinasti Thai Pan.


Yosida lantas menutup pesan yang dikirim oleh pasukan musuh.


Para musuh berhenti di jarak dua ratus meter dengan istana Gaozu.


Shuuut! Shuut! Shuut!


Ratusan anak panah dilayangkan ke gerbang istana, dan berhasil menancap di tembok-tembok gerbang. Sigap para tentara memasang perisai dan merunduk bersama Kaisar Yosida.


"Yosidaaa! Bersiaplah kau menerima kemurkaan dinasti Thai Pan!" teriak salah satu pemimpin terdepan mereka.


Gemuruh suara kaki berlari menuju gerbang istana, bersiap menyerang.


Shuut! Shuut! Shuut!


Ratusan anak panah dari bukit melayang, mengenai pasukan musuh. Sebagian jatuh dan tertindih, sebagian yang hidup masih terus bertahan, mereka berlari menerjang anak panah.


Hingga sampai di depan gerbang. Mereka berusaha menerobos masuk gerbang pertahanan Kaisar Yosida.


"Lepaskan timahnya!" perintah Yosida.


Para prajurit Kaisar Yosida melepas timah dari atas gerbang dan berhasil mengenai tubuh puluhan pasukan musuh, membuat mereka kaget dan lari berhamburan.


Salah seorang penjaga membunyikan terompet. Serbuan panah api pun melayang, mengarah ke depan gerbang istana.


Shuut! Shuut! Shuut!


Api menyambar, membakar para pasukan musuh yang terkena timah yang berlarian menghindar. Namun api lebih cepat dari laju lari mereka. Jeritan para pasukan yang terbakar tak terelakkan. Membuat pasukan musuh yang masih bertahan di jarak dua ratus meter itu, melangkah mundur.


Pemimpin mereka tampak geram, ia lantas mengerahkan sebagain pasukannya untuk menyerbu pasukan dinasti Gaozu yang bersembunyi di perbukitan. Perang pun terjadi di perbukitan.


Yosida mengerahkan sebagian pasukannya mengirim bantuan ke perbukitan. Mereka segera berlari menyerbu musuh yang sedang berperang.


Setelah pasukan musuh hampir tak tersisa, pemimpin mereka lantas mengerahkan pasukannya untuk mundur. Peperangan akhirnya dimenangkan oleh pasukan dinasti Gaozu.

__ADS_1


Malam kembali menyambut langit, mengubah warna menjadian kebiruan, hingga pagi kembali hadir menyambut matahari.


Beberapa pasukan tampak sibuk membersihkan sisa puing-puing bekas perang. Menumpuk jasad-jasad yang telah mati terbakar. Mereka menimbun jasad itu secara bersamaan, membuat kobaran api besar. Hening sejenak, menghormati para arwah yang telah mati berjuang.


*****


"Apa!" bentak Thai Pan pada salah seorang panglima yang menghadapnya, pemimpin mereka yang pulang dalam keadaan kalah.


"Maaf, Tuan! Sepertinya ... mereka telah lebih dulu mengetahui kedatangan kita. Mereka telah siap terlebih dulu menyambut pasukan kita!"


Plaak!


Sebuah tamparan melayang, mendarat di wajah pemimpin yang menghadap Thai Pan itu.


"Siapa yang memerintahkanmu untuk menyerbu mereka tanpa sepengetahuanku!"  hardik Thai Pan dengan wajah geram.


Ia tampak gusar, lantas mulai berjalan mondar-mandir.


"Ampun, Yang mulia!"


"Arrrhhh!" pekiknya. "Sekarang juga, kumpulkan para panglima kita di aula istana! Kita akan membuat strategi, dan menyerang mereka di malam hari!"


"Baik, Yang mulia!" ucapnya lirih kemudian berlalu.


*****


Kirana tampak bersantai di kolam pemandian istana dinasti Thai Pan. Luka goresan di sebagian tubuhnya sudah mulai pulih. Resep obat ramuan para tabib dinasti Thai Pan benar-benar manjur.


Kirana memejam, menikmati aroma wewangian dari beragam bunga yang di tabur di atas air.


Beberapa pelayan berbisik, mereka tak tulus melayani Kirana. Iri dengan nasib beruntung yang menjadi takdir Kirana.


"Beruntung sekali dia, andai saja aku yang ditemukan Kaisar Thai Pan di bawah jurang saat itu." bisik salah seorang dari mereka.


"Iya, entah kenapa, Kaisar Thai Pan tertarik padanya? padahal, wajah dia tak lebih cantik dari kita," kilah salah seorang dari mereka. Mereka sedikit tertawa kecil.


Kirana memicingkan mata. "Apa yang kalian bicarakan?" tanya Kirana sedikit tegas. Mereka menatap Kirana dengan wajah sinis.


"Bukan apa-apa!" sahut salah seorang dari mereka.


"Jangan terlalu angkuh!" pekik Kirana. "Ingatlah! Aku masih selevel lebih tinggi di atas kalian!" tutur Kirana.


"Cih! Mentang-mentang lupa ingatan, berlaga sok jadi selir Kaisar!"


"Memangnya apa yang salah! Bukankah memang aku seorang selir Kaisar!" tutur Kirana. Kirana benar-benar mengira bahwa dirinya seorang selir Kaisar Thai Pan.


Para pelayan memalingkan wajah dengan sedikit mengerutkan bibir mereka.


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2