
Kirana terbangun dan mendapati dirinya yang hanya sendirian. Netranya melirik ke sana kemari mencari sosok pria yang sebelumnya bersamanya. Khawatir jika Yosida meninggalkannya.
Dari kejauhan sejarak lima puluh meter, tampak kebulan asap melayang menuju angkasa.
Gadis itu mulai berjalan menyusuri asap yang ia lihat. Sekitar duanpulunh langkah, aroma daging panggang mulai tercium, mengguncang perut sang gadis yang mulai keroncongan.
"Kemari, kau harus mengisi perutmu, perjalanan kita masih panjang." tukas seorang pria yang tengah duduk, sesekali tangannya membalik daging yang terpanggang beberapa senti di atas api.
Tak banyak bicara, sang gadis yang memang sudah sangat lapar itu segera duduk, kemudian melahap daging panggang yang sudah masak sempurna, sesekali netranya menatap Yosida.
"Jangan menatapku, aku tak suka!" tukasnya pada Kirana.
"Aku pikir kau telah meninggalkanku. Kapan kau menangkap hewan buruan ini?" tanya Kirana, memulai obrolan basa-basi.
"Semalam, saat kau tidur!" sahutnya singkat. Jemarinya cekatan menyusun kayu api agar tetap menyala.
"Apa sekarang kau sudah lebih baik?" tanya Kirana.
Yosida tak menghiraukannya. Ekspresinya yang tadi terlihat datar, kini mulai menegang. tatapan sinis memancar dari kedua sorot matanya.
Kirana tak mempedulikan, Ia paham Yosida memang seorang pembunuh bayaran. Wajar saja jika sikap sang pria sangat dingin.
"Cepat selesaikan makanmu, sebelum makhluk rimba itu menemukan kita disini!" tukas Yosida.
Tak banyak bicara, Kirana menghabiskan sisa makannya, kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju desa.
Sesekali sang gadis terjatuh, karena tak menggunakan alas kaki, ia tersandung oleh akar pohon dan beberapa rumput yang menjalar.
Setiap ia terjatuh, Yosida hanya menunggunya bangkit tanpa berniat menolong sekalipun. Namun, karena berulang kali terjatuh, pria itu geram.
Diputuskannya untuk membuatkan sendal dari kulit beruang yang Ia pakai sebagai jubah untuk sang gadis.
Dipotongnya sedikit kain itu lalu menyatukannya dengan beberapa tali agar dapat dibentuk menjadi sebuah alas kaki.
Yosida mulai memasangkannya pada kedua betis Kirana. Jemari mahirnya memutar tali di pergelangan kaki Kirana agar erat dan tak terlepas saat digunakan.
Gadis itu menatapnya. Memperhatikan sosok pria berdarah dingin yang kini berada hadapannya. Meski tak pernah tersenyum, wajah pria itu tetap terlihat tampan dengan tubuh dan tangan yang kekar.
Glek!
Kirana menenggak saliva. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mulai merasakan sesuatu yang lain dalam dirinya. Entah apa itu? Ia tak mengerti.
__ADS_1
Segera sang pria berdiri setelah selesai mengikat tali alas kaki di pergelangan Kirana.
"Coba kau gunakan!." pintanya pada Kirana.
"Hmm."
Kirana berdiri, sesekali menghentak lalu mencoba berjalan.
"Hmm, nyaman dan pas," ungkapnya, diiringi senyum tulus. "Terima kasih, ya!" Pria itu tak menjawab, hanya menatapnya datar.
"Kalau sudah merasa lebih baik, cobalah berjalan lebih cepat, jika kau terus saja lambat, aku akan meninggalkanmu," tukasnya.
Seketika sang gadis memasang wajah masam, dan segera berlalu dari hadapan Yosida.
Ia berjalan di depan dengan wajah ditekuk. Kesal dengan sikap dingin Yosida.
Kini perjalanan mereka mulai menembus jalan setapak, sedikit berbatu, tapi tak lagi terhalang akar belukar dan rumput menjalar.
Tampak sang pria yang terus berjalan bagai angin tak kenal lelah.
Meski sudah berada di jalan setapak. Namun, untuk mencapai desa masih cukup jauh. Perlu waktu dua hari jika menempuh dengan berjalan kaki.
"Hei, bisakah kau berhenti sejenak. Aku lelah!" ungkap Kirana pada sang pria yang terlihat kuat tak kenal lelah itu.
"Kau ini benar-benar menyusahkan! Baiklah! Kita beristirahat disini!" tuturnya.
Sedikit lunglai, Kirana bergerak menuju pohon besar dan rindang.
Segera ia bersandar pada batang besar yang rindang, sementara Yosida masih terlihat sibuk mencari kayu untuk membuat api unggun.
Pria itu tampak cekatan saat menajamkan kayu, memahatnya agar menjadi runcing, sepertinya, malam itu ia berniat berburu lagi untuk mengisi perut mereka.
Tak butuh waktu lama, seekor kelinci berwarna putih berhasil menjadi buruan Yosida. Setelah membersihkan mengulitinya dan membunag isi perutnya, segera ia memanggang dengan menggulungnya diatas api unggun.
Aroma khas daging kelinci mulai tercium. Pria itu menatap sang gadis, tampak sang wanita sedang melamun, sedang netranya tertuju pada langit cerah di malam itu.
"Ayo segera isi perutmu, atau aku akan menghabisnya!" seru Yosida.
Kirana terlihat diam tak menghiraukan, meski ucapan Yosida itu terdengar jelas di telinga.
Namun, sikap diamnya tak membuat Yosida goyah. Ia justru asyik menikmati santapan malam tanpa mempedulikan Kirana.
__ADS_1
Heran karena sang pria tak kunjung memanggil lagi, dilirik Yosida untuk sesaat, lalu kemudian kembali melamun.
Kesal dengan sikap dingin Yosida. Ia kecewa sebab Yosida tak memperdulikan perasaannya.
Namun, sesaat kemudian Kirana tersadar, untuk apa ia menyimpan amarah. Toh, pria itu memang seorang pembunuh bayaran, tak mungkin Ia memiliki perasaan terhadap wanita.
Gadis itu mencoba menepis perasaannya, membuang jauh ke angkasa.
Sedetik kemudian, mendadak tercium aroma khas daging kelinci di dekat Kirana.
Gadis itu pun terkejut mendapati Yosida yang sudah berdiri di sampingnya, menyodorkan sepotong daging kelinci masak.
Karena masih kesal, hatinya berusaha menolak, tapi tidak dengan perut keroncongnya tak dapat berbohong.
Kirana kembali menegguk saliva saat terlihat jelas daging kelinci di hadapannya.
"Ayo ambil! Kau juga harus makan jika ingin sampai ke desa dengan selamat!" ungkap Yosida.
Namun, rasa gengsi berhasil mengalahkan rasa lapar di perut sang gadis. Tak diambilnya daging itu. Sebaliknya, ia justru memalingkan wajahnya.
Yosida kemudian berjongkok di hadapan Kirana, disodorkannya potongan daging kelinci masak ke hadapan sang gadis.
Glek!
Seketika jantung Kirana kembali berdegub kencang ketika Yosida tepat berada dihadapannya.
Kirana benar-benar tak dapat menyembunyikan perasaannya kali ini. Wajahnya terlihat merona, sementara matanya membelalak dengan napas yang terdengar memburu.
Tingkahnya berhasil membuat Yosida tertawa kecil. Pria itu kemudian menunduk kepala sesaat. Ia tahu gadis itu sedang malu, bahkan ekspresi Kirana tertangkap olehnya.
"Sebaiknya kau segera memakan daging ini, kalau tidak, kau mati kelaparan. Tapi aku tak akan memaksa, jika kau memilih mati, silahkan! Kelak akan kujadikan kau santapan hewan buas di hutan ini!" ungkap Yosida kemudian menarik paksa tangan Kirana, meletakkan sepotong daging panggang di tangannya. Sesaat kemudian berlalu dan kembali duduk di dekat api unggun.
Kirana masih terdiam dengan potongan daging kelinci panggang ditangan. Netranya tak berkedip menatap sang pria yang terlihat sibuk dengan api unggun.
"Kurasa kau sudah tau namaku Yosida, namamu sendiri siapa?" tanya Yosida.
"Aku Kirana," sahutnya singkat.
Yosida sedikit mengangguk, membuat sang gadis tersenyum lebar.
Sedetik kemudian, Kirana merasa seakan terbang di angkasa. Hatinya bahagia, bahkan bunga-bunga seakan tumbuh bermekaran dihati. Ia tak menyangka, di balik sifat dingin Yosida, ternyata pria itu masih menyimpan sedikit kehangatan.
__ADS_1
Gadis itu kemudian tertidur setelah beberapa saat tersenyum karena telah diajak bicara oleh Yosida.
Bersambung ....