Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin

Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin
Hanya Diriku


__ADS_3

Part 21


Sidang perdana Ying Hyen atas tuduhan pembunuhan pada Putri Kiera akhirnya dimulai.


Para menteri pendukung ibu suri tampak rapi berbaris di aula istana, pun dengan Yosida yang tampak menghadiri acara sidang hari itu.


"Yang mulia, Kaisar Yosida. Mohon pertimbangkan lagi tuduhan atas ibu suri," tutur Zheng, salah satu menteri kepercayaan Ying Hyen.


"Berdasarkan apa kau meminta kami mempertimbangkan tuduhan itu terhadap ibu suri? Bukankah bukti sudah nyata, bahwa beliau sendiri tertangkap mengakui telah meracuni Putri Kiera saat para prajurit menyergapnya secara diam-diam," sahut menteri pendukung Putri Kirana.


Mereka terdiam, para menteri pendukung Ying Hyen sepertinya telah kehabisan akal untuk membela.


"Tapi, Yang mulia ... Putri Kirana lah yang mengantar jamuan itu. Mohon agar mempertimbangkannya lagi," pintanya.


"Putri Kirana hanya mendapat imbas, tak ada bukti nyata yang menyatakan bahwa dia pelakunya!" tutur Yosida.


"Tapi, Yang mulia ... mohon pertimbangkan lagi, mohon pertimbangkan lagi." sahut mereka hampir serempak.


"Keputusan sudah bulat di tanganku! tuturnya. "Sekali terbukti kriminal, maka akan tetap menjadi tersangka utama!" tegas Yosida." Dia akan dihukum sesuai dengan perbuatannya!" Ia lantas berlalu, meninggalkan para menteri yang masih terus memohon dengan berlutut dan mengucap 'mohon pertimbangkan'


Senja mulai menyapa, matahari kembali menutup langit yang cerah dengan mengubahnya menjadi malam.


Hujan turun dengan lebatnya, kilatan petir menerangi para menteri yang masih kokoh berlutut di luar aula istana. Memohon agar Yosida tak meneruskan keputusan yang sudah dibuatnya.


Kirana menatap keluar jendela, memandang jauh para menteri yang terlihat tegar terkena derasnya guyuran hujan. Cemas ia memikirkan keputusan Yosida yang kabarnya belum sampai di telinga.


Sriiing!


Terdengar suara pedang yang dihunus di seputar kamar Kirana.


Deg!


Jantung Kirana berdegub kencang, napasnya terhenti sejenak dengan perasaannya mulai berkecamuk.


Satu persatu lampu kamar padam. Kirana mulai ketakutan. Tampak bayangan hitam berlarian dari sudut ke sudut seakan sedang mengincar Kirana, diiringi dengan suara langkah kaki yang juga berlarian.

__ADS_1


Kirana memutar lehernya berkali-kali. Berusaha menangkap bayangan yang terus lewat.


"Siapa di sana?" pekik Kirana berusaha melawan rasa takutnya.


Sriiing!


Kembali terdengar suara pedang bergesekan, bersamaan dengan suara lelaki yang mengancamnya.


"Jangan berteriak, atau kau akan mati!" tukasnya.


Petir kembali menyambar langit, cahaya kilatnya hampir memperlihatkan dengan sempurna sosok lelaki yang mengancamnya itu.


Melangkah mundur hingga memepet kedinding. Langkahnya terhenti saat kakinya tak lagi dapat mengayun menjauh.


"Apa yang kau inginkan!" ucap Kirana mulai bergetar.


"Kau harus ikut kami sekarang juga!" perintahnya.


"Tidak! Aku tidak mau!" pekik Kirana.


Kembali kilatan memperlihatkan mereka yang menggunakan topeng hitam, menyisakan kedua bola mata.


"Aaaa!" jerit Kirana.


Hanya sekejap Kirana dapat menjerit. Segera mereka membekap mulut Kirana dengan sepotong kain hingga tak sadarkan diri.


Mereka mulai memopongnya menuju tandu yang sudah mereka persiapkan. Tak ada yang menyadari Kirana tengah diculik. Para bandit itu terlebih dulu membunuh beberapa prajurit yang tengah berjaga, sebelum akhirnya menculik Kirana.


*****


Mentari kembali bersinar di ufuk timur, silaunya menembus tirai tandu yang membawa Kirana. Matanya mengerjap, terlihat samar langit-langit tandu yang berwarna kecoklatan.


Sesaat Kirana masih belum tersadar dengan keberadaannya saat itu. Hanya alas yang terus bergoyang membuat tubuhnya tak seimbang. Suara hentakan kaki kuda dan tawa para lelaki mulai terdengar jelas. Seketika Kirana menyadari bahwa dirinya telah diculik. Ia lantas bangun dan mulai sedikit menyingkap untuk mengintip dari balik tirai.


Terlihat kawanan pria bandit itu asik mengobrol dan tertawa, sebagian menenggak minuman dari botol kayu.

__ADS_1


Glek!


Kirana menelan saliva. Tenggorokannya terasa kering, sudah sejak malam ia tertidur, tak ada makan dan minum akibat biusan yang diterimanya dari para bandit. Ia memegangi perut yang mulai terasa mual. Meski tubuhnya lemah. Namun Kirana tak mau lengah, ia terus menunggu mereka berhenti untuk sekadar istirahat atau mengambil air yang biasa tersedia di sumur umum.


Sekitar tiga jam Kirana menunggu. Mereka akhirnya berhenti untuk beristirahat. Kembali Kirana mengintip. Salah seorang dari mereka terlihat mendekat, sepertinya ingin mengecek kondisi Kirana. Secepat mungkin Kirana membaringkan tubuhnya, berpura-pura belum tersadar.


"Cih! Wanita ini benar-benar lemah. Bahkan sudah siang begini dia masih juga belum tersadar!" ucapnya lantang agar terdengar oleh kawanannya. Ia kemudian kembali pada kumpulannya, melanjutkan obrolan mereka.


Kirana bangkit, dan mulai memantau keadaan. Tampak beberapa bandit itu lengah, sebagian berbaring di bawah pohon besar, sebagian lagi asik bermain kartu. Tak ada yang curiga jika Kirana telah tersadar.


Kirana beringsut turun dari tandu. Berjalan setengah berjinjit agar tak menimbulkan suara. Ia terus melangkahkan kaki menjauh sambil sesekali menengok ke belakang. Semakin jauh Kirana semakin mempercepat langkahnya, hingga tak sengaja ia menginjak salah satu dahan ranting tanpa alas kaki. Tentu saja hal itu membuatnya sedikit menjerit.


Spontan para bandit tadi menoleh, mereka terperanjat menyaksikan Kirana yang sudah cukup jauh. Namun masih cukup terpantau oleh mata. Seketika mereka berlari mengejar Kirana.


Kirana yang melihat mereka mengejar langsung berlari menerobos hutan tanpa mengingat kakinya yang luka akibat menginjak dahan ranting.


Ia terus berlari menerjang semak belukar dan akar pohon, sempat beberapa kali ia terjatuh saat kakinya menyenggol, tersandung oleh sebagian akar yang melengkung ke permukaan, tetapi semangat untuk tetap hidup membuatnya kembali bangkit dan terus berlari demi menghindari kawanan bandit yang terlihat mulai geram.


Hingga kakinya menginjak tanah bagian ujung jurang dan membuatnya tergelincir.


Kirana jatuh tergulung ke bawah jurang yang cukup curam.


Para bandit itu berhenti tepat di atas jurang, di mana Kirana jatuh tergelincir. Satu persatu menatap kebawah.


"Bagaimana ini! Apa kita susul saja mayatnya ke bawah!"


"Ah, tak usah! Biarkan saja! Biarkan dia menjadi santapan binatang buas!"


"Tapi ... bagaimana jika ia belum mati!" kilah salah seorang dari mereka.


"Mana mungkin dia masih hidup jika terjatuh dari jurang setinggi ini! Dasar bodoh!" hina pemimpin bandit itu seraya menepuk kelapa bawahannya.


"Ayo, kita tinggalkan saja dia!" ajaknya pada seluruh bawahannya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2