Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin

Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin
Perangkap Membawa Cinta


__ADS_3

Peringatan! cerita ini mengandung sedikit unsur dewasa.


Gemercik suara air sungai ketika kedua pasang kaki Kirana dan Yosida melintasi sungai.


Kirana terlihat kesusahan berjalan saat melintasi beberapa anak batu yang berada di tengah sungai. Berapa kali Yosida harus menghentikan langkahnya karena menunggu sang gadis untuk segera menyusul.


Byuuur!


Kirana tergelincir dan jatuh di tengah sungai, kakinya menginjak batu besar yang cukup licin.


"Sshhh Aahhh." Ia meringis kesakitan.


"Kau baik-baik saja?" tanya Yosida segera setelah menghampirinya.


"Aduuuh! Sepertinya aku tidak bisa menggerakkan kakiku," ucap Kirana, dari ekspresi wajahnya pun terlihat cukup serius.


Kirana benar-benar mengalami cidera kaki.


Sedetik kemudian pria itu mendekat lalu mengangkat tubuh Kirana, menggendongnya di dada dengan kedua tangan. Spontan membuat sang gadis terkejut.


"A-apa yang kau lakukan? turunkan aku!" bentak Kirana sedikit meronta.


"Sudahlah! Jangan banyak bergerak. Aku hanya berniat menolongmu, kau bilang kakimu sakit dan tak bisa berjalan, 'kan!" tukas Yosida, kemudian berlalu membawa Kirana melintasi sungai hingga sampai ke tepi.


Pria itu menurunkan Kirana di atas sebuah batu berukuran sedang. Lalu berjongkok menyentuh kaki Kirana.


"Tunggu! apa yang ingin kau lakukan?"


"Kakimu terkilir! Jangan terlalu berburuk sangka, aku hanya ingin membantu menyembuhkanmu! Tapi kalau kau tak mau, yah sudah!" Segera Yosida berdiri, melepaskan niatnya untuk membantu menyembuhkan kaki Kirana.


"Eitsss tunggu! Ee-Maaf! ... tolong bantu sembuhkan kakiku!" sungutnya.


Pria yang sudah sempat beranjak beberapa meter darinya itu kemudian berhenti, menoleh menatapnya lekat.


Tampak jelas ekspresinya yang dingin, wajah yang selalu ditekuk hingga terlihat datar.


Sesaat ia berdiam. Namun beberapa detik kemudian kembali mendekat ke arah Kirana. Berjongkok lalu menyentuh bagian kaki sang gadis yang terkilir.


"Tahan sedikit, ini akan terasa sakit," ungkapnya.


"Aaahhh!" Kirana menjerit kesakitan. Yosida tak menggubris. Ia masih terus mengurut dan memutar pergelangan kaki Kirana yang terkilir, meski beberapa kali terdengar sang gadis merintih.


Setelah beberapa saat ....

__ADS_1


"Coba sekarang kau gerakkan kakimu!" perintah Yosida.


Kirana memutar-mutar pergelangan kakinya.


"Ya, sudah lebih baik!" tutur dengan senyum mengembang. "Bagaimana kau bisa melakukannya?" tanya Kirana. Tampak Yosida mengunggingkan senyumnya.


"Aku sudah terbiasa, hidup seperti ini sudah menjadi makananku sehari-hari!"


Kembali sang pria memasang alas yang sebelumnya digunakan di pergelangan kaki Kirana.


Meski memiliki sifat darah dingin. Namun ternyata, Yosida masih memiliki sifat khas lembut seorang pria.


Kirana terus menatapnya. pria itu terlihat sexy di mata Kirana kala melakukan semua itu.


Netra Kirana tak henti-hentinya menatap pria bertubuh kekar yang kini berada di hadapannya.


"Jangan menatapku seperti itu, kau bisa jatuh cinta padaku," ucap Yosida yang masih sibuk mengikat alas tali di kaki Kirana.


Segera sang gadis memalingkan wajah. Grogi! Karena lagi-lagi ekspresinya tertangkap oleh Yosida.


Namun, pria itu tampak tersenyum melihat tingkah Kirana yang malu-malu.


"Selesai!" ungkapnya yang kemudian berdiri, menepuk-nepuk kedua tangan agar debu yang menempel terjatuh dari jemarinya. Kemudian beranjak, berjalan mendahului Kirana.


"Hei, tunggu!" pekik Kirana.


"Hei! hei!" teriak Kirana.


*****


Mereka kembali berada di atas jalan, menyusuri tanah setapak. Sesekali Kirana mengajak Yosida berbicara. Namun, hanya sepatah-duapatah kata yang keluar dari mulut Yosida. Benar-benar kaku.


"Sttt!" Sedetik kemudian Yosida meletakkan telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar sang gadis berhenti bersuara.


Diedarkannya pandangan ke sekitar, indranya merasakan suatu bahaya sedang mengincar.


Pria itu lantas berjalan mundur dengan perlahan. Namun tak disangka, kakinya menginjak sebuah perangkap.


Tubuh Yosida terangkat ke atas pohon, Ia terkena terperangkap jaring yang sengaja dipasang oleh penghuni rimba untuk menangkap hewan buruan.


Kirana terkejut. Namun, sedetik kemudian ia tertawa geli. Lucu melihat Yosida yang kini terkurung dalam perangkap di atas pohon.


"Hei cepat turunkan aku!" pinta Yosida.

__ADS_1


"Baik! baik!" ucap Kirana.


"Hei, bagaimana caraku menurunkanmu?"


"Tarik saja pelatuk yang ada di sebelahmu itu!"


Netra sang gadis mengedar. Mencari keberadaan pelatuk yang katanya jika dicabut bisa menurunkan Yosida. "Ah! Mungkin yang ini!" gumamnya saat menemukan sebuah benda berupa kayu sepanjang setengah meter. Kayu itu menancap ke tanah, dengan tali besar yang terikat menuju jaring perangkap.


Kirana mencoba menarik sekuat tenaga, tapi nihil, tenaganya cukup kuat.


"Aku tak bisa!" keluhnya.


"Ckk, dasar tak guna!" Yosida berdecak kesal. Ia lantas mengeluarkan sebuah pisau yang di selip di sela sepatu. Pria itu kemudian memotong tali penahan jaring agar dapat keluar dari perangkap itu.


Butuh waktu yang sedikit lama, hingga tali jaring terputus.


Buuuggg!


Yosida terjatuh di tanah bersamaan dengan putusnya jaring. Segera Ia berdiri keluar dari perangkap jaring, dan mulai menepuk beberapa daun yang menempel di bagian tubuh akibat hentakkan keras saat terjatuh.


Kreeek!


Dahan ranting yang sempat menjadi penahan perangkap di atas pohon patah, dan jatuh tepat di atas kepala Kirana.


"Awaaas!"


Dengan cepat Yosida memeluk tubuh Kirana yang hampir saja tertimpa. Beruntung gadis itu tak mengalami cidera apapun. Namun, tidak dengan Yosida, dahan ranting yang jatuh menimpanya menancap di pergelangannya. Membuat lengan kirinya terluka yang cukup parah.


"Aaahhh" Yosida mengerang. Tangan kanannya segera melepas tubuh Kirana, lalu memegang erat lemgan kiri yang mulai mengeluarkan darah.


Kirana panik. Tanpa pikir lagi, segera ia merobek sebagian dari pakaian yang ia kenakan untuk menutupi luka di tangan Yosida, tentu saja hal itu membuat sebagian tubuh Kirana terpampang jelas. Tak dipedulikannya, ia hanya berusaha menghambat darah yang terus keluar.


Upayanya berhasil. Kini darah itu sudah berhenti keluar.


Namun, tanpa ia sadari, jarak antara tubuhnya dengan Yosida ternyata hanya beberapa senti. Membuat nerta mereka beradu cukup lama. Kini, tampak raut Kirana yang mulai gugup.


Jantung sang gadis berdegub kencang, napasnya bahkan terdengar jelas di atas wajah Yosida.


Bola mata Kirana tak berkedip ketika jarak pandang mereka hanya tinggal lima senti.


Yosida perlahan mendekatkan wajahnya, semakin dekat hingga bibirnya menyentuh bibir Kirana. Membuat debaran kencang di dalam dada semakin membuncah.


Kirana tak berusaha menghindar, entah apa yang ia pikirkan saat itu. Namun, sedetikpun Ia tak ingin menolak kenikmatan dari tubuh kekar sang pria tampan.

__ADS_1


Tangan Yosida memeluk tubuh Kirana dan mulai merebahkannya.


Bersambung ....


__ADS_2