KISAH UNTUK DION

KISAH UNTUK DION
dijodohkan??


__ADS_3

di pagi yang cerah matahari menjulang tinggi, cahaya masuk menambah kecerahan di pagi hari cahaya yang masuk dari Sela jendela membuat agar segera bangun tetapi enggan untuk bangun.


ketukan pintu terdengar, ketukan demi ketukan terdengar akan tetapi tidak ada timbal ketukan pintu seseorang yang di dalam kamar


"sayang, bangun!!!" ucap diana didepan pintu dan terus mengetuk pintu, karna tidak ada timbalan dari anaknya ia segera masuk kekamar tiwi, mendekatinya dan duduk dikasur samping anaknya.


"sayang, ayo bangun!!" ucap diana lagi mengelus rambut milik tiwi


"masih ngantuk ma, dede tidur lagi ya, bentar aja kok, 5 menit" ucap tiwi dengan mata yang masih tertutup karna ia masih sangat mengantuk dan enggan untuk bangun.


"apa kamu lupa sayang!!!, kamu hari inikan mau kerumah dion kan, makanya mama bangun kan kamu nanti gak enak loh kalau dion nya udah dateng terus kamunya masih tidur" ucap diana


mendengar ucapan diana membuat tiwi terkejut, rasa kantuk nya seketika hilang karna ia terkejut bahwa ia tidak ingat sama sekali akan kerumah dion


"oh.. iya, aku lupa" ucap tiwi bangun menepuk dahinya karna ia memang melupakannya "apa dion sudah datang ma??" tanya tiwi


"belum sayang" jawab diana


"yaudah aku mandi dulu ma" ucap tiwi mengambil handuk dan berlari kekamar mandi membersihkan tubuhnya.


Diana melihat anaknya hanya menggelengkan kepalanya, merasa menggemaskan melihat kelakuan anaknya,


keluar dari kamar anaknya menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan yang akan dimakan oleh anaknya


tiwi yang sudah bersiap sesudah mengganti pakaiannya yang sudah ia siapkan sebelumnya, menuju ke dapur untuk sarapan, ia hanya melihat diana-mamanya seorang disana, ia tidak melihat rangga dan shan merasa heran, ia segera duduk dan bertanya kepada diana


"ma, dimana papa sama bang rangga??" tanya tiwi pada diana karna sendiri tadi ia tidak melihat kedua insan tersebut.


"mereka sudah berangkat bekerja dari tadi sayang, apa kamu lupa, semalam kan abangmu sudah mengatakannya padamu bukan?" ucap diana


"HEHE, aku lupa! ternyata sudah siang ya ma" ucap tiwi melihat jam dipergelangan tangannya dan menyengirkan giginya yang rapih.


"iya sayang, de kapan kamu ujian sekolah, bukannya sebentar lagi ya??" tanya diana pada tiwi karna ia tahu sudah beberapa minggu ini anaknya tidak kesekolah karna kejadian waktu itu.


"sekitar 2 atau 3 mingguan lagi ma, kenapa?" ucap tiwi sambil memakan sarapannya


"tidak ada, mama mau membelikan persiapan kelulusan kamu sayang, mama mau beli gaun yang sangat cantik untuk dikenakan ke acara perpisahan kamu sayang" ucap dian antusias


"emang mana sudah tahu apa, dede akan lulus atau tidak??" tanya tiwi pada mamanya karna seolah dia sudah tahu bahwa anaknya akan lulus ujian sekolah.


"anak mama kan pintar mana mungkin gak lulus kan" jawab diana


obrolan demi obrolan hingga ketukan pintu terdengar menoleh kearah pintu, menyuruh asisten rumah membuka pintu dan menyuruhnya masuk karna ia sudah terbiasa dengan orang-orang disana, iya dia dion yang baru sudah sampai dan masuk menemui tiwi, ia mendapati diana juga disana.


"hallo tante" salam dion pada diana.


"hallo dion, kamu sudah sarapan??, kalau belum duduklah dan sarapan dulu sayang" tawar diana pada dion.


"iya tante"


"kamu jangan panggil tante terus dong, panggil mama aja" ucap diana merintahkan dion untuk memanggilnya sama dengan tiwi.


"iya tan,, eh mama" ucap dion masih canggung


mereka sarapan dengan ketenangan, tiwi merasa sangat senang karna ia semakin dekat dengan dion, senyumannya membuat dion merasa heran "kenapa dia senyum-senyum sendiri" batin dion


selesainya sarapan bersama tiwi langsung mengajak dion karna ia sudah tidak sabar bertemu adiknya dion.


"dion mobil kamu tinggalkan disini saja, kalian diantar saja sama pak supir, mobilnya sudah disiapkan, jangan ngebantah!!" ucap diana hendak sampai didepan pintu rumah miliknya


"iya ma" ucap dion memanggil diana dengan sebutaan mama karna suruhan diana.


"aku kerumahnya dion dulu ma, sore aku pulang kok" ucap tiwi pamit


"iya sayang, hati-hati ya!!" ucap diana pada tiwi dan dion


"salam buat orang tua mu dion" ucap diana lagi


"iya ma"


memasuki mobil dan berangkat kerumahnya dion, didalam mobil yang hening tidak ada percakapan diantara mereka, merasa bosan tidak berbicara hingga akhirnya tiwi yang ingin membuka pembicaraan antara mereka.


"pak, banyak jangkrik ya disini" ucap tiwi pada pak alan sebagai supirnya tiwi


"iya non sepertinya saya harus membersihkan mobil ini karna disini ada banyak jangkrik" canda pak alan sambil tertawa kecil.


tidak ad timbal lagi setelah itu hingga sampailah dikediaman tempat tinggal dion, keluar dari mobil dan masuk kedalamnya mereka sudah mendapatkan 2 seorang ibu dan anak yang tengah asiknya dengan obrolan mereka.


adel yang melihat kakanya sudah datang ia sangat senang, apalagi saat ia melihat tiwi sudah berada disamping dion, berlari menuju mereka dan memeluk tiwi dengan sangat erat.


"kaka" teriak adel menghampiri tiwi dan memeluknya.


"hai adel, kamu apa kabar?" tanya tiwi pada adel


"aku baik ka, apa kaka tahu aku sangat merindukan kaka" jawab adel pada tiwi


"kaka juga merindukanmu del" ucap tiwi


dion yang melihat dua insan tersebut merasa akan iri,


"apa kamu hanya memeluknya dan merindukannya?" tanya dion pada adiknya karna sendiri tadi ia merasa di acuhkan.


"iri bilang bos" ucap adel mengejek kakanya

__ADS_1


"sudah-sudah kalian ini ribut terus" ucap nana baru datang menghampiri mereka yang masih didekat pintu.


"hallo tante" salam tiwi pada ibunya dion "tante apa kabar?" tanya tiwi pada nana.


"hai sayang, tante baik-baik saja, kamu sendiri apa kabar?" tanya nana balik


"aku baik tante" jawab tiwi


"sudah ayo duduk dulu sayang, kamu pasti kelelahan kan?" ucap nana mengajak tiwi untuk duduk


"bu dion kekamar dulu" ucap dion menuju kekamarnay dan hanya dibalas anggukan dari ibunya


duduk di sofa mengobrol santay saja di sana dan dihidangkan makanan kecil dan minuman disana,


"ibu sangat senang jika kamu jadi menantu ibu" ucap nana sangat berharap agar tiwi menjadi menantunya


mendengar ucapan nana membuat tiwi tersedak karna barusan ia akan minum dan terhenti ketika mendengar ucapan ibunya dion


"iya kak aku sangat senang sekali jika kaka menjadi kaka ipar ku" ucap adel pada tiwi


mendengar ucapan kedua orang yang berada disamping nya ia tidak tahu akan senang atau apa, tetapi ia sangat bahagia akan ucapan mereka, hanya dibalas senyuman olehnya.


hingga adel mengajak tiwi untuk bermain di halaman rumahnya, bermain dengan adel membuat tiwi rasa senang karna ia merasakan bagaimana ia mempunyai adik.


"del kaka ke toilet sebentar ya" ucap tiwi,


"iya kak, didalam dekat dapur kak toiletnya, apa mau adel antar?" tanya adel


"tidak usah, kaka bisa" ucap tiwi pergi


ditempat yang sama Andrean yang baru pulang dari kantornya dan duduk di sofa, melihat suaminya pulang nana segera menghampiri Andrean.


"mas, kamu baru pulang?, apa mau ku buatkan teh?" tanya nana pada Andrean


"tidak usah" jawabnya


"baiklah kalau begitu aku ke belakang dulu lihat adel" ucap nana dan dibalas anggukan Andrean


mengambil ponselnya Andrean menghubungi seseorang diseberang telponnya, tidak sengaja tiwi yang baru ingin pergi ketoilet sehingga ia terhenti ketika mendengar percakapan ayahnya dion dengan seseorang melalui ponselnya


"bagaimana kalau kita jodohkan saja" ucap Andrean pada panggilan telponnya.


"oke baiklah, semoga sukses" ucap Andrean lagi dan mematikan panggilannya dengan seseorang,


tiwi yang mendengar semuanya merasakan campur aduk, dengan perasaan tidak menentu ia segera pergi ke toilet,


dion yang baru turun dari atas menemui adiknya tetapi ia tidak mendapatkan tiwi ada didekat adiknya melainkan ibunya.


"kak tiwi sedang ke toilet, kenapa?" tanya adel balik


"tidak"


keluar dari toilet menuju ketempat tadi dengan perasaan yang tidak menentu, dengan wajah sendu menunduk kebawah membuat semua orang merasa heran, "siapa yang akan dijodohkan? apakah adel atau dion?" itulah yang ada dipikiran tiwi sekarang


"nak kamu kenapa?" tanya nana pada tiwi yang baru datang


"tidak ada tante" jawabnya


"kaka kenapa??" tanya adel khawatir


"kamu tidak apa?" tanya dion


"aku benar tidak apa-apa, tapi sepertinya aku harus pulang" ucap tiwi pada tiga orang yang berada dihadapannya sekarang.


"loh kenapa kaka pulang?, adelkan mau main lagi" ucap adel sedih


"ini sudah sore adel, kapan-kapan kaka main agi kesini, gak papa kan?" tanya tiwi


"iya sayang ini sudah sore biarkan kak tiwi pulang, dion sebaiknya kamu antarkan tiwi sayang" ucap nana pada dion


"mau diantar?" tanya dion pada tiwi


"tidak usah, supirku sudah datang," ucap tiwi yang memang dari tadi ia menyuruh supirnya segera menjemputnya.


"tapi aku harus ikut, aku akan mengambil mobilku yang masih berada di rumah mu"ucap dion


"iya sudah"


pergi keluar dari kediaman dion memasuki mobil dan masih terdiam disana, menghadap keluar jendela dengan pikiran yang masih sama.


dion yang melihat tiwi terdiam seketika merasa heran, sendari tadi iya melihatnya terdiam dan saat itu juga ia mengingat ucapan tiwi dimobil ketika berangkat kerumahnya.


"pak, apa bapak sudah membersihkan mobilnya?, kenapa masih ada jangkrik disini?" ucap dion pada pak alan sebagai supir milik orang yang berada disampingnya.


pak alan yang mendapatkan pertanyaan seperti itu terus merasa heran, "sepertinya saya akan membersihkan mobil ini ketika sampai dirumah" batin pak alan.


sesampainya di depan rumahnya, tiwi keluar dari mobil dan diikuti oleh dion, mendekati tiwi yang masih berdiam.


"itu mobil kamu, sepertinya kamu harus pulang, sudah mau hujan"ucap tiwi


"tante?"


"nanti aku yang bilang kamu harus pulang" ucap tiwi tidak ada jawaban dari dion

__ADS_1


"oh iya, selamat ya atas perjodohanmu" ucap tiwi pada dion dengan tatapan sendu mata mulai meneteskan air mata, karna tidak ingin diketahui dion ia langsung pergi dan masuk kedalam rumahnya berlari


"apa maksudmu?" teriak dion dan tidak ada sautan


dengan perasaan penuh pertanyaan hingga kedua insan tersebut berpisah dihalaman rumah, dion yang mendapati perkataan dari tiwi ia penuh dengan tanda tanya memasuki mobilnya dan kembali ketempat tinggalnya.


tiwi yang memasuki rumah dengan tangisan dihampiri oleh diana, dengan cepat ia menghapus air matanya dengan usapan tangannya.


"sayang dimana dion, apa dia tidak kesini?"tanya diana


"dia sudah pulang ma" ucap tiwi menoleh kearah mamanya. melihat wajah anaknya ia paham sepertinya tidak baik pada anaknya.


"de, kamu kenapa? tanya shan yang baru mendekat kearah anaknya.


"sayang kamu kenapa??" tanya diana pada tiwi yang melihat anak kesayangannya seperti baru menangis.


"dede gak apa apa kok" jawabnya


"jangan bohong sayang mama tahu kamu habis menangis" ucap diana


"aku gak apa apa kok ma/pa , kalau begitu aku kekamar dulu ya" ucap tiwi berlari menaiki tangga dan masuk kekamar nya


diana dan shan merasa ada yang tidak beres terhadap anaknya, dan tidak lama kemudian datang rangga dari balik pintu menghampiri orang tuanya


"ma,pa kalian kenapa"tanya rangga


"rangga sepertinya adikmu sedang ada masalah" ucap shan pada rangga yang tadi menghampiri mereka berdua


"memangnya kenapa pa ma"tanya rangga


"papa tidak tahu, coba nanti kamu ke kamar nya dan tanyakan pada adikmu" ucap shan


"iya pa, rangga ganti pakaian dulu" pamit rangga dan masuk kekamar nya


didalam kamar tampak dalam keadaan bingung, sedih dan kacau. merebahkan tubuhnya menatap langit langit tiwi tidak tahu apa yang nantinya terjadi.


"siapa sebenarnya akan dijodohkan apakah adel? tetapi tidak mungkin dia masih kecil, tapi bagaimana jika dion yang sebenarnya dijodohkan" batin tiwi saat ini penuh dengan tanya.


sebenarnya dia masih belum tahu siapa yang dibicarakan oleh orang tuanya dion, siapakah yang akan dijodohkan itu masih di pikiran nya . memasuki kamar tiwi dan mendekati adiknya yang tengah melamun dan berlabu dilamunannya


"beby,,"panggil rangga


"by" panggil rangga lagi mendekati adiknya


"by kamu kenapa?" tanya rangga menghadap kearah depan adiknya


"aku tidak apa bang" jawab tiwi masih dengan lamunannya


"kamu tidak usah bohong by, abang tahu jika kamu sedang memikirkan dion bukan?" ucap rangga membuat tiwi menoleh kearah tangga. "sebenarnya ada apa by?, apa kamu diapain sama dia, ceritakan padaku beby" tanya rangga


"bagaimana jika orang yang abang cinta ketika dipilih kan orang tuanya untuk dijodohkan dengan orang lain?" tanya tiwi membuat rangga terkejut


"apa dion dijodohkan orang tuanya by?" ucap rangga


"jawab dulu pertanyaan aku tadi abangg" ucap tiwi kesal.


"jika orang yang abang sayang, dijodohkan dengan orang lain, abang tidak akan berbuat apa apa menerima kenyataan, karna suatu saat ada gantinya dengan yang lebih baik lagi by" jelas rangga pada adiknya "jadi apakah dion dijodohkan orang tuanya" tanya rangga balik


"aku tidak tahu bang, tadi aku mendengarkan percakapan orang tuanya dion --" jelaskan tiwi dengan keadaan yang berada ditempat is mendengar andrean.


"kalau begitu kamu jangan dekati lagi rangga de, jangan terlalu berharap, sudah kaka bilang dari awal sama kamu bukan?" ucap rangga


.


.


.


.


.


.


.


.


lanjut part berikutnya


...maaf jika ada salah kata atau penulisan ya soalnya baru pertama kali membuat novel dan masih belajar....


...jangan lupa...


...vote...


...like...


...komen...


...yaaa😋...


...salam hangat dari author🤗...

__ADS_1


__ADS_2