
"dia bermain dengan wanita dibelakang ku, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku nggak mau menikah dengannya aku benci dia, aku benci dia" Tiwi memukul dada Rangga dengan keras
Rangga hanya mengeratkan giginya geram, apa diceritakan oleh adiknya apa yang sebenarnya terjadi, "berani-beraninya dia melakukan hal bodoh itu" Rangga membatin
...***...
terasa sakit dan kepala yang berdenyutan mencoba membuka matanya untuk melihat apa yang sedang terjadi, "Dimana aku?" gumam Dion
Prokk, prokk, prokk
tepuk tangan menggema diruangan, terdengar oleh Dion sehingga membuatnya mencari siapa yang sedang bersamanya sekarang.
"hebat sekali bos, kurang dari seminggu menuju halal anda melakukan kesalahan besar!" ujar Akbar bertepuk tanga, yang masih menunggu bosnya hingga sore
"maksud Lo apa? gue beneran gak ngerti" ucap dion yang sedang memegangi pelipisnya yang masih terasa berdenyutan.
"ini liat sendiri!" Akbar menyodorkan sebuah ponsel yang sudah ada foto disana
Dion membelalakkan matanya tidak percaya, apa yang ia lihat tidak ada di ingatannya, Dion membukakan selimut panik seketika
"ini bukan gue, apa yang sebenarnya terjadi Akbar?" Dion bertanya
"foto itu sudah jelas bos, kok tanya sih" berdecak mendengar pertanyaan yang seharusnya tidak dipertanyakan.
"gue nggak bercanda, ini bukan gue mana mungkin aku melakukan hal seperti ini! ini pasti jebakan, Lo harus percaya sama gue bar!" ujar Akbar
"gue percaya kok, makanya gue masih disini kalau nggak udah gue bunuh Lo dari tadi, tapi kayaknya calon istri Lo kayaknya nggak deh" ucapan Akbar membuat Dion semakin takut
"dia udah liat ini?" Dion menunjukan foto yang berada di ponsel yang ia pegang
"Tiwi nggak ngeliat itu, tapi dia melihat Lo sama cewek itu diatas ranjang berduaan, pelukan sama persis difoto itu"
"gue harus ketemu dia sekarang juga, gue harus jelasin" Dion bergegas menuju pintu untuk menjelaskan ia hanya berharap semua akan baik-baik saja
Akbar yang melihat bosnya ingin pergi menahannya "Lo gila ya? mau keluar kagak pakem baju, apa kata orang pakek nih" Akbar melemparkan kemeja dan jas milik Dion
...***...
berbeda disisi lain yang tertawa puas apa yang mereka rencanakan berhasil, sisil yang dari tertawa terhenti ketika semua suruhannya menghampirinya
__ADS_1
"kerja kalian bagus!" mengacungkan kedua jempolnya terus tertawa, seperti nenek sihir atau?
"ini untuk kalian semua, karena kalian udah bantu gue menyelesaikan rencananya dengan sangat mulus" semua sudah dalam settingan sisil dari rekan kerjanya Dion dan perempuan yang tidur bersama Dion, mengirimkan pesan dari ponselnya Dion pun sisil-lah pelakunya, benar-benar sangat licik
"terima kasih bos, senang bekerja sama dengan anda" ucap mereka setelah menerima amplop yang berwarna coklat tersebut
"pergilah kalian dari sini, jangan sampai karena kehadiran kalian merusak segalanya" ucap sisil menyeringai
"baik bos, kalau begitu kami permisi"
setelah semuanya pergi hanya tinggallah sisil dengan Jessy "setelah ini apa yang akan Lo lakuin sil?" tanya Jessy
"gue akan menggantikan posisi Tiwi di kehidupan Dion, tidak akan kubiarkan dia merebutnya kembali dari ku"
...***...
telah sampainya dihalaman kediaman tiwi, ia bergegas keluar untuk menemui kekasihnya yang masih salah paham kepadanya
Rangga yang ingin keluar menemui dion, ia berlari dengan amarahnya ketika melihat seorang laki-laki yang hendak melangkahkan kakinya
pukulan demi pukulan terlempar diwajahnya Dion dan diseluruh badannya, Dion hanya menahan sakitnya. memang patut ia mendapatkan itu semua pikirnya
"MAU APA LO KESINI, HAH? TIDAK ADA LAGI TEMPAT UNTUK MU DISINI, DASAR BERENGSEK" Rangga yang terus memukuli Dion tanpa henti
"maaf kak, tapi itu salah paham" mencoba membuka suara dengan sudut bibir yang sudah berdarah
"TIDAK ADA MAAF UNTUK MU" dua pukulan mengenai perut dion, terhenti ketika seorang wanita paruh baya, menghentikan mereka
saat ini hanya Diana yang bisa memisahkan kedua insan saat ini yang sedang berkelahi, bahkan Akbar saja tidak ingin ikut campur dalam urusan bosnya, ia hanya sebatas asisten yang tidak ingin melebihi batasnya.
"sudah cukup Rangga, hentikan" melerai keduanya jadi penengah untuk Rangga dan Dion saat ini
"dia itu BERENGSEK ma, memang patut untuk dipukul, keluarga kita saja tidak pernah membuat Tiwi menangis dan dengan entengnya dia membuatnya lebih dari itu" ujar rangga, kesal? jawabannya adalah lebih dari iya, keluarganya saja tidak pernah membuat adiknya menangis dan sekarang orang luar yang mencoba untuk menjadi pendamping adiknya berbuat seperti itu
"mama tau kamu menyayangi adikmu, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, kita hanya mengetahui dari sebelah pihak. apakah pantas untuk kita memutuskan keinginan Tanpa mengetahui yang sebenarnya?" ujar Diana memang sudah mengetahui sedikit cerita dari Rangga.
"Dion kesini ingin ketemu Tiwi kan?" tanya Diana memastikan ketika Rangga terdiam karena ucapannya
__ADS_1
"iya ma, apakah boleh?" tanya dion
"ayo ikut mama"
mereka masuk kedalam rumah menuju lantai atas tepatnya dikamar Rangga yang saat ini ditempati oleh adiknya karena kamarnya masih dirapikan
Dion sedikit ragu untuk menemui kekasihnya, tetapi ia harus mencobanya. Rangga yang masuk duluan untuk mencoba memberi tahu adiknya
"by?" panggil Rangga membuat Tiwi membukakan matanya yang hampir terlelap
"ada yang ingin ketemu kamu" ucapan Rangga membuat Tiwi takut mencoba untuk bangun dan duduk untuk melihat siapa yang ingin menemuinya
nafasnya mulai sesak ketika melihat seorang laki-laki yang datang menghampirinya. mencoba menjauh, hatinya sakit ketika mengingat apa yang dia lihat beberapa jam yang lalu
"berhenti. pergi dari sini aku tidak ingin melihat mu PERGI!!" teriak tiwi yang terus mencengkeram erat selimut yang ada didekatnya
"aku mau jelasin" ujar dion
"nggak! nggak, pergi kamu, pergi!" lempar semua bantal kearah Dion dengan tangisannya
Dion yang melihat Tiwi seperti itu ia hanya merasa bersalah, jangankan ingin mendengarkan penjelasan darinya hanya untuk menatapnya Tiwi tidak ingin. mungkin bisa dipastikan ia disini sebagai setan yang menyeramkan membuat orang yang ia cintai tidak ingin melihatnya.
"bos sebaiknya kita pergi" saran Akbar yang baru berani untuk bicara yang melihat Tiwi ketakutan melihat bosnya
Dion hanya menatap Tiwi yang terus menangis tidak ingin menatapnya dan terus berteriak mengatakan pergi, lalu pergi dari hadapan Tiwi mungkin akan baik ketika ia pergi dari sana
Tiwi yang melihat dion telah pergi ia memeluk Rangga dengan eratnya, disusul oleh diana, sebagai seorang ibu tidak ingin melihat anaknya seperti ini
"aku nggak mau lihat dia bang, aku nggak mau ma" itulah ucapan yang ia katakan dalam pelukan hangat dari seorang ibu dan Abang
"sabar ya, sayang" ucapan Diana mungkin sederhana tapi bisa membuat Tiwi tenang
...jangan lupa ...
...like...
...komen...
...dan VOTE-YA...
__ADS_1
...lovyu❤️...