KISAH UNTUK DION

KISAH UNTUK DION
hari kehancuran


__ADS_3

"Dion?"


seperti petir disiang bolong, dengan pandangan yang memanaskan, hatinya tercabik-cabik dan seperti tertusuk pedang.


Terlihat tangannya yang gemetaran, wajahnya panik, dengan mata yang sudah memerah, nafas mulai sesak, tidak bisa menggenggam dengan erat membuat tas yang ia pegang terjatuh.


ketika melihat seorang yang ia sayangi dan cintai berada di atas kasur dengan badan tidak terdapat benang sedikitpun, bawahan yang tertutup selimut


hatinya hancur seketika ketika ada seorang gadis atau penggoda berada samping tempat tidurnya dengan berpakaian seksi satu selimut dengan kekasihnya.


ia membalikkan badan berlari dengan sekencang mungkin tidak dapat berkata apa-apa, hanya air mata yang membasahi pipi dengan derasnya.


Akbar yang tidak ingin mengucapkan tanpa bukti ia mengambil handphone yang ia simpan dalam saku jasnya dan memotret bosnya yang sedang diatas kasur. lalu pergi


"cibos, tunggu" laki-laki itu berteriak sambil berlari mengejar gadis yang sedang menangis.


Tiwi berhenti ketika mendengar ucapan itu berbalik melihat lelaki yang kini hampir sampai dekatnya.


"JANGAN PERNAH LAGI UCAPAN PANGGILAN ITU!! semua itu telah hilang telah hancur" sambil menangis berteriak tidak ingin mendengar panggilan itu.


"maaf, saya harus berbuat apa?" tertunduk bingung dengan keadaan, Akbar tidak tahu harus berbuat apa sekarang


Tiwi mengambil tas dari tangan kiri dan mengambil kunci mobil yang dipengang oleh Akbar disebelah kanan.


"URUSIN SAJA BAJINGAN ITU" ucapnya dengan lantang yang masih banjir dengan air mata.


Akbar yang melihat kunci diambil ia menarik tangan Tiwi langsung "tidak baik jika menyetir mobil dengan keadaan kamu seperti ini"


"URUSIN SAJA BAJINGAN ITU!" teriak tiwi dengan kerasnya, terlihat wajah yang semakin memerah, lalu berlari meninggalkan lelaki yang sedang melihatnya.


membiarkan gadis itu pergi entah kemana Akbar kembali ke kamar yang membuat keadaan menjadi berubah dengan waktu satu detik


kamar yang tinggal hanya satu orang, Akbar mengelilingi tempat itu tapi tidak terlihat wanita yang berada didekat Dion beberapa menit lalu.


"dimana wanita itu? untung saja aku sudah memotret dia" Akbar duduk di sofa tidak jauh dari tempat tidur yang ditiduri Dion.


...***...


"kenapa? kenapa kau tega mempermainkan ku, apa salahku pada mu, hah" teriak tiwi memukul setirnya air mata yang tidak berhenti


"aaaaaaaa..." teriaknya


bersyukurnya tidak ada hal yang terjadi saat perjalanan, tempat yang ia tuju saat ini adalah rumahnya.


Tiwi membuka mobilnya ketika telah sampai dihalaman depan rumahnya tanpa menutup pintu mobilnya ia berlari sambil menangis.

__ADS_1


satpam yang melihat itu bingung apa yang terjadi ia hanya menutup pintu mobilnya dan kembali bekerja


tampak didalam rumah tidak ada seseorang pun, tapi bukan itu yang ia inginkan Tiwi menaiki tangga menuju kekamar dengan tangisan


terlihat mata yang semakin membengkak karena tangisan yang tak kunjung henti, menuju meja yang tertata rapi dengan hiasan pas bening dengan bunga mawar yang berwarna pink, seketika semua itu pecah, buku-buku yang sudah terlempar kesembarang arah


matanya tertuju tempat tidur dan bayangan itu muncul dengan jelas membuatnya, semakin memanas.


"kamu jahat Dion, JAHAT!!" teriaknya sambil mengambil bantal lalu merobeknya dengan tangannya sendiri.


Diana yang telah sampai dimana tempat anaknya mengamuk ia segera memeluknya dari belakang mencoba menghentikan aksi anaknya.


"sayang tenang, kamu kenapa?" ucap Diana dengan paniknya


"Dion jahat ma, aku tidak ingin menikah dengannya! Dion jahat ma, dia berani mempermainkan ku." teriak tiwi dalam pelukan sang ibu sambil merobek bantal.


"sabar sayang tenang tidak perlu seperti ini, tenanglah ceritakan sama mama sayang" ucap Diana


Tiwi menatap Diana dengan mata yang sudah membengkak dan memerah "apa salahku kepadanya ma, Dion jahat ma, Dion jahat"


ucapan terakhir sehingga membuat hilangnya kesadaran Tiwi dalam pelukan sang ibunda, Diana tidak tahu apa masalah yang baru terjadi


"bi, tolong bantu saya bawa Tiwi kekamar Rangga sebelah, dan nanti bibi bereskan kamar ini" ucap Diana


"baik nyonya" sebagai asisten rumah tangga ia langsung mematuhi apa yang diucapkan majikannya.


menidurkannya dan meyelimuti anaknya, bingung harus berbuat apa ia langsung menghubungi anaknya


"Rangga, sebaiknya kamu pulang dulu nak" ujar Diana pada sambungan telpon mereka


"emang ada apa ma? ini masih jam kerja ma, ada apa?" tanya Rangga


"mama tidak tahu apa yang terjadi pada adikmu, sebaiknya kamu pulang dulu" ucap Diana


"baik ma"


"ada apa dengannya?" selalu bertanya dalam pikirannya tidak ingin membuang-buang waktu ia bergegas menuju rumah.


dengan kecepatan tinggi Rangga melajukan mobilnya kerumahnya hanya berapa menit, khawatir dengan adik yang sangat ia sayangi.


"Tiwi kenapa ma?" mendapati Diana sedang menunggunya Rangga cepat menghampirinya.


"dia pingsan ketika mama mencoba menenangkan dia, mama sudah memanggil dokter dan sekarang sedang diperiksa"


"kenapa? memang apa yang terjadi ma?" tanya rangga

__ADS_1


"mama juga nggak tahu, adik kamu pulang-pulang sudah seperti itu, semua kamarnya berantakan seperti kapal pecah, mama melihat dia merobek-robek bantalnya dan bicara Dion jahat" jelaskan Diana


"terus dia dimana sekarang?" tanya Rangga


"dikamar kamu"


Rangga tanpa menunggu lama ia langsung menuju kelantai atas masuk kedalam kamarnya yang sudah ada seorang gadis yang sedang terbaring ditempat tidurnya


"bagaimana adik saya dok?" tanya Rangga ketika melihat dokter selesai memeriksa adiknya


"adiknya tidak apa-apa, dia hanya shock dan butuh istirahat saja. kalau begitu saya permisi" pamit dokter tersebut


"terimakasih dok"


Tiwi yang masih belum sadar, ia mendekati adiknya mengelus rambut halus yang terus memejamkan mata yang terlihat memerah.


"apa yang dia lakukan kepadamu by, jangan membuat Abang khawatir sama kamu by, bangunlah ceritakan pada abang akan ku habisi dia, Abang sudah berjanji akan membuatnya menderita jika ia membuatmu kecewa"


Rangga berdiri menjauh dari tiwi, mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, dan siapa lagi kalau bukan Dion.


"sial, kemana tu anak kenapa nomornya tidak aktif" sudah beberapa kali ia menghubungi Dion tapi tidak ada jawaban sama sekali ia hanya mendapat kabar bahwa handphone Dion tidak aktif.


"pergi kamu dari hidupku jangan ganggu aku lagi, kamu jahat dion, kamu jahat" teriak tiwi mata masih terpejam kejadian membawanya kealam mimpi


Rangga yang masih berusaha menghubungi dion terhenti ketika mendengar adiknya dan langsung menghampirinya untuk membangunkan nya


"by, kamu kenapa. bangun dek"


seketika Tiwi membuka matanya, memeluk Rangga dengan erat saat ini laki-laki pendukungnya adalah Rangga dan papanya


"Abang rangga dia jahat aku, dia jahat" terhisak menangis dalam pelukan rangga


"apa yang dilakukan by?"


"dia bermain dengan wanita dibelakang ku, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku nggak mau menikah dengannya aku benci dia, aku benci dia" Tiwi memukul dada Rangga dengan keras


...hallo man temanku...


...apa kabar kalian?....


...semoga sehat selalu ya...


...author cuman minta doanya ya, karena author mau ikut ujian kenaikan kelas...


...do'a in ya supaya lancar dan mendapatkan hasil yang memuaskan...

__ADS_1


...terimakasih...


...lovyu❤️...


__ADS_2