
pagi yang terlihat mendung kini cahaya yang hampir tak terlihat tertutup oleh awan hitam menambah terus ingin menikmati tidurnya.
Tetapi kenikmatan terhenti ketika ketukan pintu terdengar oleh tiwi.
"By..beby bangun kamu kan mau sekolah, nanti abang antar kesekolah" ucap rangga dibalik pintu kamar tiwi
"iih abang, gimana mau sekolah, gak liat apa mau ujan" timbal tiwi dengan mata terpejam,
Rangga yang mendapat bantahan dari adiknya yang tidak ingin sekolah karna alasan mendung langsung membuka pintu dan membangunkan adiknya.
"Hey.. Bangun by ini gak ujan cuman mendung aja nanti abang antar pakek mobil nggak pakek motor, hey bangun" ucap rangga dan menarik kaki adiknya supaya segera bangun
"Iya iya, bawel deh, tunggu"ucap tiwi kesal dan segera masuk kekamar mandi
"Gak pakek lama!!" ucap rangga
"Iyaa.."
Begitulah suasana pagi yang penuh dengan keributan kedua adik kaka, yang terkadang mereka selalu ribut dalam hal apapun dan ada yang terlihat akur satu sama lain.
**
Lain hal dengan keluarga dion yang setiap paginya tidak ada keharmonisan dalam keluarganya, dia merasa ini bukanlah keluarganya,
Terlihat dion menuruni tangga dari lantai atas yang siap untuk pergi ke sekolahan dengan keadaan cuaca yang tidak baik,
Menuruni anak tangga ia segera menuju meja makan untuk sarapan disana sudah terlihat kedua orang tuanya dan adiknya
Melihat dion duduk dimeja makan, membuat emosi Andrean memuncak dengan kejadian kemarin,
"Dion!! Dari mana saja kau kemarin hah" ucap Andrean sedikit emosi
"Dari mall yah, kenapa?" tanya dion
"Kamu ini jangan bohong sama ayah, jangan-jangan kamu bermain wanita diluar sana hah" tuduh Andrean
Ibu dan adiknya tidak ikut berbincang karna mereka pikir tidak akan ada celah untuk membela dion kepada ayahnya yang sudah terbiasa disetiap saat mereka saling adu mulut,
Dion yang merasa dituduh oleh ayahnya sendiri merasa emosi yang sudah diujung tanduk, berdiri dari tempat duduk mengebrak meja dengan tangannya.
"Kanapa ayah nuduh aku seperti itu, apa segitu bencinya ayah terhadapku hah, Kenapa yah?? aku pikir sepertinya aku bukan anak ayah, kalau memang bukan anak ayah siapa orang tua ku, dan kalau memang ayah tidak ingin aku tinggal disini lagi baiklah aku akan tinggalkan rumah ini!!" ucap rangga dan pergi dari hadapan ayahnya
Melihat dion yang mengatakan hal seperti itu mereka hanya bisa mencerna ucapannya, ibu dan adiknya membelalakkan mata mereka saat mendengan ucapan itu
Tidak ingin melihat dion pergi dari rumah adiknya segera menyusuli dion dan segera memeluknya dari belakang,
"Kaka jangan pergi, adel sayang sama kaka, aku mohon ka jangan pergi demi adel, apa kaka gak sayang sama adel" ucap adiknya meneteskan air mata memeluk dion dari belakang
Melihat adik memeluknya dion segera membalikkan badannya agar berhadapan dengan adiknya dan menatapnya dengan dalam
"Del, kaka sayang sama adel, kaka tidak akan pergi dari rumah ini jika ayah memang tidak mengusirku, disini masih ada kebahagiaan kaka walaupun ayah membenci kaka, masih ada ibu sama adel yang menyayangi kaka kan? Kamu jangan nangis lagi, kaka hanya ingin berangkat kesekolah" ucap dion menenangkan adiknya
Adelia Alexander merupakan adik dion, anak kedua dari Andrean dan nana, dia seorang anak yang menyayangi keluarganya terutama terhadap dion sebagai kakanya sendiri, dia sering kasihan terhadap kakanya yang sering bertengkar pada ayahnya
"Iya dek, kaka kamu akan tetap disini dan selalu bersama kita" ucap nana sebagai ibu mereka nana hanya bisa meneteskan air mata nya melihat keluarganya seperti itu, dan segera memeluk kedua anaknya,
"Dion berangkat dulu bu" pamit dion dan mencium tangan nana, dan pergi dengan keadaan cuaca mendung menggunakan mobil menuju ke sekolah nya,
__ADS_1
***
Di sekolahan tiwi sudah sesampainya di depan gerbang diantarkan oleh rangga, dan segera turun dari mobilnya dan berdiri disamping mobil menunggu abangnya pergi.
Rangga yang melihat adiknya sudah diluar mobil dia melajukan mobilnya ke kantor nya karna hari pertama masuk ke perusahaan setelah keluar kota,
Dengan cuaca mendung kini sudah tampak ingin turun hujan di pagi hari gemercikan sudah terlihat, tiwi yang masih berada diluar gerbang hendak masuk ke halaman sekolahnya dan ingin meneduhkan dirinya tetapi tiba-tiba ada yang menabraknya dengan mobil yang sedang melaju dengan kesecepatan sedang hendak parkir
melihat dirinya terpental agak jauh karna mobil yang melaju, tiwi dengan keadaan tidak sadarkan diri karna kepalanya terbentur batu yang mengenai dahinya dan ada beberapa luka di tangannya,
dion yang baru memasuki gerbang, dia terkejut saat sadar dirinya telah menabrak seseorang dan segera keluar dari mobilnya, tidak ada siswa yang ribut karna bel sekolah sudah berbunyi dan sudah berada dikelas, hanya beberapa siswa yang berada diluar
menuruni mobil melihat orang yang ia tabrak sangat terkejut ketika melihat tiwi yang sudah pingsan terkena batu, dion langsung memanggil orang sekitar dan tidak lain mereka adalah sahabatnya tiwi sendiri
"tiwi..."teriak sarti dan sella bersamaan dan berlari menuju dion dan tiwi
"kenapa dia?" tanya sarti
"aku tidak sengaja menabraknya tadi" ucap dion
"ayo segera bawa dia kerumah sakit" ucap sella panik
"iya, tolong kalian izin kan kami keguru piket dan wali kelas kami berempat" ucap dion ke siswa lain yang melihat mereka dan dibalas dengan anggukan
memasukkan tiwi kemobil dion dibantu oleh kedua sahabatnya dan satpam disana, sarti dan sella duduk dibelakang menjaga tiwi sedangkan dion menyetir mobil, mereka berempat segera menuju rumah sakit.
sesampainya dirumah sakit langsung dapat penanganan dari dokter, dion sella dan sarti terlihat panik
...apa yang ingin dikatakan ke orang tuanya, batin mereka ...
***
📞 "pa tiwi masuk rumah sakit tadi mama dikabari oleh pihak sekolahan dan mereka berada dirumah sakit xxx" ucap diana menangis
📞 "baiklah papa pergi kesana sekarang dan kabari rangga" timbalnya dari telpon
sesampai dirumah sakit orang tuanya tiwi segera menuju ruang penanganan tiwi berada mendapatkan kedua sahabatnya dan seorang laki-laki.
"dimana anak saya?" tanya diana kepada tiwi dan sella
"tenang ma" ucap shan menenangkan istrinya
"tiwi sedang ditangani oleh dokter tante, tenanglah" ucap sarti menenangkan diana
mendengar penjelasan bahwa adiknya berada dirumah sakit rangga segera melajukan mobilnya karna khawatirannya terhadap adiknya
mendapati kedua orang tuanya disana dan berlari menuju mereka bertanya keadaan adiknya.
"ma pa gimana keadaan beby"ucap rangga
"kak tiwi sedang didalam, dokter sedang mengeceknya" ucap sella
"siapa penyebab semua ini hah?, kalian kan sahabatnya pasti kalian tahu apa yang terjadi di sekolah kalian, ini masih pagi dan masih jam pelajaran" tanya rangga
"ini semua salah saya maafkan saya, saya tidak sengaja menabrak tiwi yang sedang berjalan menuju ke sekolahan didekat parkir" ucap dion menundukan kepalanya.
mendengar penjelasannya semua terkejut, terutama rangga karna adik kesayangan nya tertabrak oleh laki-laki di hadapannya.
__ADS_1
"kamu..."ucap rangga pada dion
BRUKK
BUGH
rangga memukul dion dengan keras karna kemarahannya terhadap dion, orang disana berusaha memisahkan mereka hingga akhirnya dokter keluar dari ruangan tersebut.
"gimana keadaan adik saya dok"tanya rangga pada dokter
"dia tidak apa, hanya benturan di kepala nya yang menyebabkan dia pingsan, tidak ada masalah yang serius" perjelas dokter
"apakah boleh masuk dok??"tanya diana
"silahkan"
mereka semua segera masuk ke ruangan dimana tiwi dirawat, dan mendapati tiwi dengan keadaan sudah sadar,
"sayang gimana keadaan kamu hah" tanya diana
"dimana yang sakit sayang" tanya shan
"aku tidak apa ma pa" ucapnya dengan keadaan lemas kepada mama dan papanya
"beby kamu kenapa, ada yang sakit? dimana? kamu gak papakan" tanya rangga khawatir
"aku gak apa"
melihat sahabatnya dan dion berada disana tiwi merasa heran kepada mereka terutama dion yang terlihat takut.
"kalian kenapa disini, bukannya sekarang masih jam sekolah ya? dion?" ucapnya
"maaf kan aku, aku tidak sengaja menabrak mu tiwi, aku akan tanggung jawab atas semuanya dan merawat mu hingga sembuh, tante om ijinkan dion merawatnya?" ucap dion kepada orang tua tiwi, dan hanya dibalas anggukan
seketika dion yang terlihat dingin dan cuek sekarang hilang karna kesalahannya, dia hanya bisa berbuat semampunya dan salah satunya merawat tiwi
"tidak apa dion aku terluka sedikit" timbalnya
"gak beby dia harus tanggung jawab atas semuanya"ucap rangga
.
.
.
.
.
.
.
.
lanjut part berikutnya
__ADS_1