KISAH UNTUK DION

KISAH UNTUK DION
penjelasan kedua keluarga


__ADS_3

saat acara sudah benar-benar selesai mereka memutuskan untuk pulang dikediaman keluarga shan karna rumahnya kebetulan tidak terlalu jauh dari gedung acara yang mereka datangi, mereka memutuskan pulan dan disana sudah terdapat keluarga alexander.


membicarakan pertunangan tiwi dan dion, mereka juga ingin membicarakan pernikahan anak-anak mereka, begitu banyak pertanyaan dalam pikiran tiwi maupun diom, karna mereka masih terkejut dengan pertunangan mereka sendiri.


duduk bersampingan dengan dion. saling bertatapan seolah bertanya, hannya mengangkat bahu kerna tidak tau. langsung menatap kedepan melihat kedua ayah mereka sedang bertatapan tersenyum menahan tawa, membuat mereka semakin bingung.


"papa sama om andrean, kenapa??" tanya tiwi heran membuka pembicaraan, sesekali menatap dion mencuri pandang.


"bagaimana ini bisa terjadi?" tanya dion dan segera dipahami oleh semua orang berada didekatnya.


andrean dan shan mendapatkan pertanyaan tersebut hanya tertawa terbahak-bahak katna rencana mereka berhasil, sedangkan diana, nana dan adel hanya tersenyum, karna sesungguhnya itu memang keinginan mereka.


"ma pa. om tante, bisakah kalian jelaskan? kami tidak mengerti, bukannya dion sudah dijodohkan?" ucap tiwi bertanya kepada orang tuanya dan dion.


"ya memang dion sudah dijodohkan, dijodohkan dengan kamu tiwi" ucap andrean berhenti tertawa dan tersenyum.


"kok bisa??" tanya dion dan tiwi bersama, membuat mereka saling berpandangan karena perkataan mereka sama.


"jadi ceritanya begini....." jelaskan andrean dan shan secara rinci, tidak ada pun yang mereka sembunyikan, dari membeli cincin, menyiapkan gaun ditoko butik yang dihampiri diana dan tiwi pun mereka yang merencanakannya, mereka menceritakan sedetail mungkin karena bagi mereka ini sangan penting untuk diceritakan.


Mendapat penjelasan dari andrean dan shan membuat yang berada didekat mereka hanya senyum-senyum, kecuali dengan rangga, tiwi, dan dion, mereka tidak menyangka akan kelakuan orang tua mereka


Tidak habis pikir dengan orang tua mereka, bisa-bisanya kami tidak tahu, pikir tiwi dan diom, sedangkan rangga hanya menatap dion dengan tatapan tajam karena kebetulan mereka duduk berhadapan (tiwi dan dion) duduk bersampingan adel, sedangkan diana dan shan berada didepan sebelah kanannya rangga, nana dan andrean berada didepan sebelah kirinya.


"Kami tahu kalian memiliki perasaan walaupun tidak ada yang mau mengaku, makanya kami ingin kalian bersama" ucap shan hanya diangguki oleh andrean tersenyum.


"Terus mama sama tante nana sudah tahu??" tanya tiwi kepada mereka


"Mama tahu itu sebelum kita membeli gaun mu sayang" ucap diana.


"Tante juga begitu" timbal nana.


"Kalau adel si sama kayak ibu" ucap adel sambil memainkan benda pipih ditangannya.


"Bang rangga kenapa?" tanya tiwi melihat wajahnya rangga menatap dion tajam, tidak ada jawaban darinya.


"Sayang kamu jangan panggil tante lagi ya, panggil ibu aja sama kayak dion" ucap nana pada tiwi


"Aku juga jangan panggil om, tapi ayah" ucap andrean tak mau kalah.


"Dan kamu dion, panggil orang tuanya tiwi mama sama papa" ucap nana


"Sebelumnya juga begitu" ucap dion dingin dan membuat keluarga alexander berkata "oohh"


"by ikut abang sekarang!!" ucap rangga pergi menjauh meninggalkan semuanya ke halaman belakang dan disusul oleh tiwi


"kenapa??" tanya tiwi sesampainya

__ADS_1


"kenapa kamu gak nolak,by?" tanya rangga


"emangnya kenapa?, apa abang gak setuju dengan semua ini?" ucap tiwi


"bukannya begitu, kalian baru kenal loh by" ucap rangga khawatir.


"ya kan kami baru tunangan abang, kalau ada sesuatu terjadi pada hubungan kami, aku gak bakal nerusin, lagian kami kenal udah kenal dari lama kok" ucap tiwi sepontan


"ya terserah kamu aja deh by" ucap rangga pergi meninggalkan adiknya, pergi kekamarnya


tiwi tidak mengerti apa yang terjadi pada rangga ia tidak memahami apa yang diinginkan rangga, apa yang diucapkan rangga.


sedangkan rangga ia sangat khawatir dengan adiknya, ia sangat takut bahwa dion akan menyakitinya dan membuatnya menangis, ia tidak akan tinggal dion terhadap dion jika itu memang terjadi.


keadaan semakin membingungkan, kembali ke ruang keluarga mendengarkan pembicaraan orang tuanya dengan pikiran yang masih kemana semua itu ulahnya rangga.


"baiklah kalau begitu sebaiknya kami pulang, ini sudah hampir tangah malam" ucap andrean melihat jam di pergelangan tanganya.


"iya benar, kami sebaiknya pulang" ucap nana berdiri mengikuti suaminya


"ooh, baiklah. kalian hati-hatilah dijalan" ucap diana


"ayo dion, adel kita pulang" ucap nana dan pergi kearah pintu dan berhenti sejenak pergi kehadapan tiwi.


"nak, ibu pulang dulu. kamu istirahatlah ya kamu pasti capek" ucap nana mengelus rambut milik tiwi.


" baiklah bu" jawab tiwi dan mencium tanggan nana.


dengan satu mobil dengan keadaan hening dan jalan pun sekarang tidak ada kendaraan yang lain karna memang jam segitu tidak banyak lagi kendaraan yang lewat.


andrean mengendarai mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang, hingga sesampainya mereka ke kediamannya.


memasuki rumah mereka dan dion tidak banyak bicara ia memutuskan untuk pergi kamarnya


"bu aku kekamar dulu" ucap dion pada nana pergi kekamarnya, menyusuri tangga sesekali ia memandang cincin yang ia kenakan.


"aku juga kekamar dulu ya bu, adel ngantuk" ucap adel menguap


"iya sayang kamu istirahatlah"


dengan masih menunggu suaminya hingga mereka juga memutuskan untuk kemar mereka juga, karna mereka sudah lelah.


"apakah yang kita lakukan ini benar?" ucap nana duduk dikasur tempat tidur mereka


"kita tidak tahu yang kita lakukan kita ini benar atau tidak, yang kita ketahui kita sudah memberikan yang terbaik untuk mereka. aku tahu tiwi itu anak yang baik dan dapat merubah dion" ucap andrean melepas jam tanggannya meletakkannya diatas meja dan melepaskan jas yang ia kenakan


"bagaimana jika memang dion tidak menginginkan semua ini dan ia semakin tertekan?" ucap nana khawatir jika anaknya tidak menyukai perjodohan mereka,

__ADS_1


"itu terserah kepada dion saja, kita lihat saja nanti" ucap andrean mendekat


"hmm.. baiklah"


"sebaiknya kita tidur, aku sudah lelah"


semuanya tidur untuk menghilangkan penat yang mereka rasakan, dengan perasaan senang dan khawatir terjadi kepada dikedua keluarga tersebut apa kah mereka akan bertahan?


semuanya terjadi begitu saja, dulunya tiwi merasakan sakit hati yang begitu dalam mengingat dion dijodohkan dengan orang tuanya dan siapa sangka bahwa itu memang dirinya sendiri.


tidak tahu akan apa ia sangat bingung dengan semua ini, tuhan selalu membolak balikan perasaannya pikirnya.


"apakah semua ini akan baik-baik saja?" ucap tiwi dalam hati memandang langit-langit kamarnya dan segera tidur pergi kealam mimpi


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


lanjut part berikutnya


...jangan lupa...


...like...


...komen...


...vote ...

__ADS_1


...menyemangati author tidak salah bukan....


...Salam Manis๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‰...


__ADS_2