
Dion yang sadar ucapannya ia hanya tersenyum, ia menyebutkan bahwa tiwi belum menjadi istrinya dan berarti ia akan mencoba menerima wanita yang berada didepannya sekarang.
“sayang bangun. Makan dulu” ucap dion menggoyangkan bahu milik tiwi
“sayang? Apa dia sudah menerima aku? Semoga ini tidak mimpi” batin tiwi lalu membuka matanya perlahan.
Tiwi mencoba untuk duduk dengan dibantu oleh dion
“aku tadi denger orang manggil sayang, tapi nggak tau itu mimpi atau nyata, kamu tadi manggil aku sayang?” Tanya tiwi memastikan ya walaupun ia memang sudah tau itu dion, lalu siapa lagi kan?
“emangnya salah manggil tunangan sendiri sebutan sayang?” ucap dion membuat tiwi terkejut dengan pengakuannya
Tiwi langsung memeluk dion tanpa permisi, perasaannya sekarang tidak menentu sangat-sangat bahagia ketika dion sudah menerimanya
“terima kasih sudah menerima aku atau mengakui bahwa aku ini adalah pasanganmu” ucap tiwi lalu mengeratkan pelukannya
Dion dengan ragu ia membalas pelukan tiwi “maafkan aku selama ini aku sudah terlalu cuek terhadapmu, tapi sebenarnya enggak kok. Aku ini pria yang baik hati dan tidak sombong, aku juga tidak kasar” ucap dion membanggakan diri.
“tunggu” jeda tiwi lalu melepaskan pelukannya “apa kamu bilang? Baik hati? Tidak sombong dan juga tidak kasar? Kamu nggak inget masa sekolah dulu? Kamu kalau ketemu aku selalu membentak ku” ucap tiwi memalingkan wajahnya.
“itukan dulu” ucap dion lalu menyengirkan giginya yang rapih
TOK TOK
Ketukan pintu terdengar oleh mereka berdua membuatnya menghentikan bicara mereka, terlihat seorang wanita yang berada didepan pintu, lalu mendekati tiwi dan dion.
“ah sepertinya saya menggangu kalian ya” ujar sisil
“tentu tidak sil, saya sangat terharu dan senang ketika kamu menjengukku disini” jeda tiwi lalu memandang dion “benarkan sayang” ucap tiwi penuh penekanan tidak lupa lalu iya membeli wajah milik dion.
Dion yang melihat tiwi yang menyinggung sisil ia berniat membuat sisil tidak betah “iya dong sayang, iya sudah kamu makan ya. Sisil kamu silahkan duduk” ucap dion lalu sisil pergi duduk
Dion menyuapi tiwi dengan makanan dengan romantis dan kelembutan sambil membelai rambut tiwi
“pemandangan macam apa ini?” batin sisil kesal nya, tidak ingin melihat semua itu ia mengeluarkan ponselnya. Lalu memainkannya
Cklek pintu terbuka
Adel yang datang langsung membulatkan matanya ketika melihat tiwi dan dion sedang bermesraan didepan sisil “OMG, kita dimana ini?” ucap adel
Tiwi dan dion menoleh kearah adel “biasalah” ucap dion dan tiwi secara bersamaan mengikuti gaya adel menirukan, yang lagi trand di t*kT*k
__ADS_1
“kaka udah baikan?” Tanya adel pada tiwi sambil meletakan buah yang ia bawa di samping tempat tidur tiwi
“ya, gitu deh, adel ngapain kesini bukannya istirahat” ucap tiwi
“adel nggak betah kak di rumah terus, apalagi ibu nggak ngebolehin adel kemana-mana apalagi sekolah untung tadi ibu bolehin adel kesini” ucap adel
“iya udah sayang, kamu duduk aja kaki kamu kan masih terluka” ujar tiwi
Adel yang tadi nya ingin duduk dekat sisil, matanya tertuju pada benda pipih yang berada ditangannya sisil, ia berpikir keras mengingat dimana ia melihat benda itu,
matanya semakin membulat ketika ia ingat bahwa ponsel yang sisil pegang sama dengan ponsel seseorang yang menculiknya kemarin.
“loh, itu kan handphone yang nyulik aku kemarin, jangan-jangan yang kemarin itu kak sisil ya??” ujar adel semakin mendekati sisil melihat dengan detailnya.
Sisil yang mendengar ucapan adel, ia langsung menyembunyikan ponselnya “mana ada, bukan lah del, kan banyak yang sama kayak handphone kaka” panik sisil.
“tapi aku inget banget itu ponselnya yang nyulik aku kemarin, kaka jangan bohong deh” ucap adel
“tapi bukan kaka yang nyulik kamu adel” ucap sisil dengan muka yang bersedih dan berusaha mengeluarkan air matanya, licik
“adel kamu jangan nuduh orang sembarangan dong sayang, dosa” nasehat tiwi.
“ceritanya emang kayak gimana?” Tanya dion.
“kemarin kan adel disebuah ruangan, ruangan itu gelap tapi adel masih bisa melihat semuanya kak, saat adel memerintahkan wanita itu memesankan makanan iya mengeluarkan ponsel yang mirip punya kak sisil tadi, adel nggak bohong kak” jelas adel
“iya sudah nanti kaka urus ya. Kamu tungguin kak tiwi, kaka mau keluar sebentar” ujar dion dibalas dengan anggukan oleh adel
Dion keluar dari ruangan tiwi dirawat ia menyusuri lorong-lorong, tiba-tiba ia terhenti ketika mendengar seseorang yang lagi bertelepon, sangat mencurigakan pikirnya, hingga ia memutuskan untuk mengamatinya dan mendengarkan ucapan mereka.
“sisil?” ucap dion yang telah melihat wajah wanita tadi.
“kalian urus semuanya aku tidak mau semuanya terbongkar” ucap sisil
“…”
“bagus, awas kalian sampai gagal, atau kalian akan mati” ancam sisil dibalik telponnya
Dion yang takut bahwa akan dilihat sisil, ia pergi dari sana. Keluar dari rumah sakit hendak mencari apa yang dibutuhkan apa yang diperlukan
...****************...
__ADS_1
“adel, kamu nggak boleh ulangi lagi kayak tadi ya, nggak boleh nuduh orang sembarangan.” Ucap tiwi
“tapi kaka del nggak bohong, itu beneran. Kaka kan tau sendiri sisil kayak gimana” ucap adel
“iya adel kaka tahu, tapi kan belum ada bukti. Kita cari bukti dulu baru kita bisa selesaikan masalah itu, adel janji ya nggak boleh kayak tadi lagi” ucap tiwi
“iya kak, adel janji” ucap adel
“kalian ngomongin apa pakek janji sayang” ujar seorang wanita yang beru saja masuk kedalam ruangan tiwi.
“eh mama, nggak ada apa apa kok, mama kesini sama siapa?” ujar tiwi
“mama kesini sama rangga, tadi dia pamit keluar katanya, kamu gimana sayang udah baikan?” Tanya Diana sambil mengelus rambut milik tiwi
“udah ma, dede nggak betah disini ma, mau pulang aja” rengek tiwi
“kamu baru tadi pagi loh disini, masa udah mau pulang” ujar Diana
“tapi mama, dede nggak mau disini” ucap tiwi
“nggak, nggak boleh pulang dulu sebelum kamu benar-benar pulih sayang, nanti kalau terjadi apa-apa gimana, mama nggak mau” ucap Diana. Tiwi hanya menundukan kepalanya. Karna permintaannya tidak dipenuhi.
“adel dimana kaka kamu dion” Tanya Diana yang tadi melihat adel berada di sana
“kak dion tadi keluar ma, nggak tau deh kemana” ujar adel.
Cklek
Pintu terbuka sudah ada rangga yang berada didepan dan terlihat dion yang berada dibelakangnya. Semuanya terkejut ketika melihat wajahnya dion penuh dengan memar
“loh, nak kamu kenapa?” Tanya Diana membolak balikkan melihat-lihat wajah dion yang memerah.
“tadi dion dikeroyok ma, rangga nggak tau mereka siapa. Untung rangga datang tepat waktu”
bersambung.....
lanjut part berikutnya
...maafin ya kalau author typo...
...jangan lupa dukung author dengan cara LIKE KOMEN dan VOTE- YA 😺...
__ADS_1