KISAH UNTUK DION

KISAH UNTUK DION
trauma 2


__ADS_3

"aku nggak mau lihat dia bang, aku nggak mau ma" itulah ucapan yang ia katakan dalam pelukan hangat dari seorang ibu dan Abang


"sabar ya, sayang" ucapan Diana mungkin sederhana tapi bisa membuat Tiwi tenang


Tiwi bingung dengan dirinya sendiri kenapa hari ini ia sangat cengeng biasanya ia akan mencoba sekuat mungkin untuk tidak menangis didepan semua orang, tetapi apalah daya yang hanya manusia biasa.


Tiwi hanya menangis dalam pelukan hangat dari keduanya, beruntungnya dia masih mempunyai keluarga yang utuh tidak kekurangan apapun.


tibanya seorang asisten rumah tangga Tiwi datang mengetuk pintu, dan ingin menyampaikan sesuatu


"nyonya, kamar non Tiwi sudah rapi dan bersih" ujar bibi


"baik bi, siapkan makan malam ya bi" ucap Diana pada bibi


"baik nyonya" ucap bibi lalu pergi dari tempat tersebut menuju dapur.


"sekarang kamu kekamar ya sayang, ini sudah mau malam, atau kamu mau disini? kalau gitu biar Rangga yang tidur dikamar kamu sayang" ujar Diana


"kalau kamu mau disini Abang akan tidur dikamar kamu by, Abang nggak apa kok" ucap Rangga mengelus rambut adiknya


"nggak usah, mau kekamar aku aja bang" ucap tiwi


Tiwi beranjak dari tempat tidur Rangga bertujuan untuk ke kamarnya sendiri mencoba berdiri, namun ia terjatuh kelantai ketika merasakan pusing yang sangat sakit.


Diana ketika melihat anaknya terjatuh ia tidak menunggu lama, segera menghampiri dan mencoba membantu anaknya untuk berdiri lalu menuntun Tiwi ke kamarnya


Diana hanya mengantarkan Tiwi berada didepan pintu kamar, ia hanya ingin ke dapur mengambilkan makanan untuk anaknya.


"sayang kamu kedalam ya, mama mau ngambil makanan kamu dulu didapur" ucap Diana


Tiwi hanya mengangguk kepalanya mencoba berusaha sendiri tanpa bantuan mamanya, ia membuka pintu


pandangannya menunduk entah apa yang ia pikirkan, rasa kecewa itu sudah pasti sekarang jiwanya menolak untuk melihat dan mendengar apa yang ingin seseorang tadi ingin jelaskan.


disaat berada diujung kasur tempat tidur yang sudah berubah sebelumnya selimut dan bantal berwarna pink sekarang sudah berubah semuanya menjadi warna putih


itu yang ia benci sekarang, Tiwi tidak bisa melihat benda yang berada didepannya sekarang ini, itu semua kembali kepada ingatannya saat Dion tidur diatas kasur yang serba warna putih seperti di hotel pada umumnya

__ADS_1


Tiwi terus mundur hingga sampainya ia disudut kamar, ia takut dengan itu akankah ia bisa menerima semua ini?


Diana yang telah kembali memapah nampan yang berisi dengan makanan dan air putih, untuk Tiwi yang mungkin belum makan dari sebelum kejadian itu.


"sayang, ayo makan dulu. nak?" ujar Diana melihat sekeliling kamar tiwi


Diana meletakkan nampan ke meja yang berada didekatnya ketika melihat anaknya berada disudut kamar disamping lemari bajunya.


"sayang kamu kenapa? hah?" tanya Diana khawatir dengan Tiwi yang masih menekuk wajahnya kelutut miliknya.


"Dede nggak mau itu ma, nggak mau yang itu" menunjukan selimut serta bantalnya dengan nada yang ketakutan


"apa sayang? selimut? kenapa?" tanya Diana terus karena ia tidak paham apa yang dimaksud anaknya


"ganti seperti semula ma, aku nggak mau warna putih" ucap Tiwi


"ya iya, nanti diganti ya sayang" ucap Diana


"bik! bibi!" teriak Diana


"iya? kenapa nyonya?" tanya bibi saat ia sampainya didepan pintu


"baik nyonya"


sesuai apa yang diperintahkan majikannya bibi langsung mengganti selimut, bantal dan sprei nya menjadi berwarna pink seperti biasanya.


tidak ingin mengetahui apa yang terjadi, ia hanya ingin berkerja tidak ingin mengkutik keluarga majikannya,


"sudah selesai nyonya" ucap bibi


"terimakasih bi, kalau begitu kembali lah ke dapur" ujar Diana dan dibalas dengan anggukan lalu pergi


"ayo sayang kita ke kasur saja, sudah diganti ke warna favorit kamu" ucap Diana dan menuntun anaknya.


Diana mengambil makanan beserta minumnya dari atas meja, dan langsung menyuapi Tiwi makan karena kalau tidak seperti itu, ia tidak akan makan.


ia terus bertanya apakah yang terjadi saat itu kepada Dion yang membuatnya seperti ini, Tiwi tidak menyembunyikan apapun ia menceritakan semuanya.

__ADS_1


Diana semakin kebingungan apa yang akan terjadi pada pernikahan anaknya yang tinggal selangkah lagi menuju halal.


beruntungnya mereka belum menyebarkan undangan kepada tamu-tamu yang akan datang nanti, karena kalau tidak terjadi hal tersebut mungkin sekarang mereka telah mencetak undangannya dan menyebarkan kepada teman dan kerabat mereka


...***...


Dion yang semakin kebingungan apa yang akan dilakukannya, tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi tapi ia tidak bisa menunda takdir


tetapi ia tidak akan semudah itu untuk menyerah dan pasrah dengan keadaan dan kenyataan.


sekarang mereka kembali ke apartemen Akbar yang tidak jauh dari kantor mereka, Dion takut jika kembali kerumahnya. apa yang akan dikatakan ketika keluarganya bertanya


Dion harus menyelesaikan ini secepat mungkin meskipun pernikahannya sudah tentu akan ditunda.


kedua manusia ini terus berpikir bagaimana caranya agar keadaan kembali seperti semula.


ahk kesal!


"bagaimana pernikahan kalian bos? bukankah kalian berdua membuat janji untuk membahas soal undangan pernikahan kalian?" tanya Akbar dengan posisi duduknya


"gue enggak tahu, gue perlu membicarakan ini kepada kedua keluargaku, masalahnya bagaimana cara menjelaskan, yang jelas ini akan ditunda sementara waktu" ucap dion


"Lo seharusnya bicara dulu sama calon bini lu, mungkin kalau dia nggak marah lagi, mungkin bisa seperti biasanya" ujar Akbar


"makanya punya mata tu fungsinya untuk melihat, punya telinga itu untuk mendengar, lu kagak inget waktu kita di rumahnya Tiwi" kesal dion


"Bener sih, terus gimana?" Akbar sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal


"ya kagak tau"


Dion dan Akbar terus mencari ide apa yang akan mereka lakukan, entah itu akan berhasil atau sia-sia mereka tidak tau yang penting usaha terlebih dahulu, kalau kata orang 'usaha tidak akan mengkhianati hasil'


"akankah kita tidak mencari orang itu? biarkan dia yang menjelaskan semuanya dan dengan sekejap akan menjadi seperti biasa" ucap Akbar pada dion meletakkan handphone yang sudah terpampang foto perempuan.


"kenapa baru ngomong?! kalau dari tadi kan gue bisa pulang, yaudah lu urusin ya. mau cabut" ucap dion lalu pergi dari apartemen Akbar kembali ke rumah nya


"lah? kenapa jadi saya ya? pemirsa?" tanya Akbar pada dirinya sendiri karena melihat dion yang telah berlalu semakin membuatnya bingung.

__ADS_1


"lah gimana ini? kok jadi gue kan seharusnya sama-sama ini juga kan bukan masalah gue, untung bos, kalau nggak udah gue celupin ke adonan bakwan, terus goreng gue makan dia" gerutu Akbar


__ADS_2