
'Dasar murahan' kata kata itu masih melekat di ingatan tiwi, itu yang membuatnya semakin sakit. Ia sudah bertekat untuk melupakan dion.
***
Pulang dari sekolah dengan keadaan murung membuat diana dan shan bertanya- tanya, saling berpandangan seolah bertanya dengan tatapan mereka, tidak ingin menerka-nerka mereka menghampiri anaknya dan mempertanyakan
"Sayang kamu sudah pulang??" tanya shan yang melihat anaknya pulang dari sekolah dengan keadaan murung dan tidak biasanya dengan kehebohannya.
"kamu kenapa sayang" tanya diana
"Aku tidak apa pa" ucap tiwi berdiri dari sofa
"Aku kekamar dulu ya pa ma" lanjutnya pamit tiwi meninggalkan orang tuanya.
Shan yang melihat anaknya merasa khawatir ingin menghampiri menyusul tiwi ke kamar nya akan tetapi dihalangi oleh istrinya.
"Biar aku saja" ucap diana pergi menyusuli tiwi ke kamar nya.
Masuk kekamar anaknya, membuka pintu perlahan mendapati anaknya menangis sendu dalam selimut, membuat ada sakit dihatinya melihat anaknya menangis.
"Sayang, kamu kenapa??, katakan pada mama apa yang terjadi sayang" ucap diana membukakan selimut yang menutupi wajah tiwi, masih menangis membuatnya sakit
"Ayo sayang cerita pada mama, mama akan selalu menjadi pendengar yang baik sayang" sambung diana
"Dion dijodohkan oleh orang tuanya ma" lirih tiwi duduk dari tidurnya memeluk diana yang berada disampingnya.
"dengan siapa??" tanya diana spontan kaget mendengar ucapan tiwi
"Aku gak tahu ma, tapi aku dengar sendiri saat aku kerumahnya, dan dibenarkan oleh dion saat kami berada disekolahan" jelas tiwi pada diana melepas pelukannya
"apa kamu suka sama dion sayang??" tanya diana
"Aku tidak hanya suka ma, tapi aku cinta dan sayang sama dion ma" ucap tiwi sendu dalam isakan tangisan nya.
"Sayang, dengarkan mama. Jika kalian jodoh itu tidak akan jadi penghalang sayang, seberusaha apapun orang tuanya menjodohkanya dengan orang lain itu tidak akan terjadi jika jodohnya adalah kamu sayang, jodoh itu sudah diatur oleh tuhan, jika memang dion menikah dengan pilihan orang tuanya terjadi biarkan saja karna dia bukan jodohmu" jelaskan diana dengan hati-hati karna ia takut akan salah bicara dan dalah tanggap.
"Jadi apa yang harus aku lakukan ma" tanya tiwi sambil menghapus air matanya dengan tangannya
" sebaiknya kamu berusahalah untuk melupakannya dan kamu pokus dengan ujian sekolahmu. Sedih itu boleh, kecewa itu boleh tetapi jangan sampai berlarut-larut dalam kesedianmu sayang karna kebahagiaan menanti dimasa depan" ucap diana menyemangati anaknya dan mengelus rambut milik tiwi.
" baik ma, mama bolehkah aku sendiri dulu, tiwi capek ma ingin tidur" ucap tiwi pada diana
"baiklah sayang, kamu istirahatlah, mama keluar dulu" ucap diana pamit pada tiwi keluar dari kamar Karana anaknya ingin sendiri terlebih dahulu.
***
Mungkin itu sangat berat baginya karena ia harus melupakan orang yang dia cintai dan sayangi, perjuangannya selama ini sia-sia, ia pikir memang bukan jodohnya karena dion sudah ada calon pasangan, walaupun tidak tahu jodohnya dion tetapi ia akan tetap mundur
Tidak ingin jadi penghalang di hubungan orang lain, menjauhi dion sangat berat ia kehilangan sedikit keceriaannya yang setiap saat ia ceria dan sekarang hanya orang tertentu yang tidak terlihat dingin.
__ADS_1
Hidup penuh dengan lamunan hingga membuat orang terdekatnya kasihan mereka tidak bisa merubahnya seperti semula karena itu ada pada diri tiwi sendiri
Saling memandang tetapi tidak menyapa, itulah yang mereka hadapi sekarang dengan saling berjauhan tidak seperti sebelumnya yang mulai akrab satu sama lain.
Terkadang orang yang ia sayangi berada didepannya sangat dekat tetapi ia merasa jauh dan sangat jauh sehingga ia merasa tidak bisa mengejarnya jangankan mengejarnya rasa melangkahkan kaki untuk mendekat serasa berat dan memilih untuk menjauh ketika kakinya lebih kuat untuk menjauh dari pada mendekat
sekarang hanya rindu yang berada dalam hati mereka berdua masing-masing merindukan, merindukan kedekatan mereka sebelumnya dan berharap semuanya kembali terulang.
*
"Sayang apa kamu sudah siap??" tanya diana pada anaknya
"Sudah ma ayo brangkat" ucap tiwi berjalan lebih dulu menghampiri mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.
"Sayang kamu mau gaun yang seperti apa?" tanya diana dalam mobil
"Aku mau yang simpel aja ma" jawabnya
"Pokoknya kamu harus tampil cantik dihari perpisahan kamu sayang, dan paling cantik" ucap diana lagi, ia sangat bersemangat untuk berbelanja apalagi untuk anaknya ia akan memilihkan gaun yang paling cantik untuk dikenakan
"Apa mama punya uang?"tanya tiwi saat memasuki butik yang paling terkenal dikotanya
"Kamu diam saja sayang, pilihlah gaun yang kamu mau, mama mau cari yang lain" ucap diana meninggalkan anaknya dan memilih-milih maju yang berada dalam butik tersebut
Memilih-milih baju tapi tidak ia temukan yang cocok dan memutuskm untuk bertanya pada karyawan yang berada sana
"Mbak dimana baju terkeluaran terbaru sekarang" tanya diana pada karyawan
"Mbak tolong panggilkan anak saya di sana mbak" pinta diana
"Baik bu" ucapnya dan menghampiri tiwi yang sedang bingung memilih gaunnya.
"Non dipanggil ibu anda disana" ucap karyawan menunjukan keberadaan diana dan mereka pergi menghampiri diana yang tengah sibuk memilih gaun yang cocok untuk dikenakan anaknya
"Sayang sini" panggil diana
"Kenapa ma"
"Sayang kamu mau yang mana?" tanya diana menunjukan gaun yang berada ditangan kanan dan kirinya, tangan kanan memegang gaun yang yang berwarna pink dengan khas terbaru dan tangan kiri memegang baju yang berwarna biru dengan khas yang terbaru,
"Terserah mama saja" ucap tiwi
"Kalau begitu mama pilih yang warna pink saja sayang ya, apa kamu setuju?" tanya diana
"Terserah mama saja"
"Baik lah mbak tolong bungkus semuanya saja" ucap diana memberikan baju yang berwarna pink pada karyawan yang berada didekat mereka
"Loh ma kok semuanya satu aja" ucapnya "emang ada uangnya" bisik tiwi
__ADS_1
"Suuth, nanti juga tahu" ucap diana
--
Ditempat lain adel tengah duduk disofa bersama ibunya yang sedang kebingungan memilih baju yang dibelinya sedari tadi akan dikenakan mereka saat hari pesta perpisahan dion.
"Buk emangnya kak dion dijodohkan dengan siapa?, apa ibuk tahu??" tanya adel sambil memilih baju yang berada didepannya
"Ibu gak tahu adel, biarkan saja nanti juga kita tahu" ucap nana tanpa menoleh
"Tapi aku maunya kak tiwi aja yang jadi kaka ipar aku bu" ucap adel tanpa menoleh
"Ibu juga inginnya begitu" ucap nana menoleh kearah anaknya, memang sehati pikirnya.
Dikantor tampak sebuah pertemuan antara Andrean dengan seorang laki-laki paruh baya yang tengah membincangkan soal perjodohan antara dion dan anaknya.
"Bagaimana pak, apa bapak setuju kita umumkan perjodohan ini ketika mereka di pesta perpisahan sekolah mereka saja" ucap Andrean pada seorang yang berada didepannya sambil meyeruput kopi.
"Baiklah, saya setuju" ucapnya
"Bagus kalau begitu saya sudah siapkan semuanya termasuk cincin pertunangan mereka" ucap Andrean dan dibalas dengan anggukannya merasa bahagia
"Mereka pasti senang" ucap laki-laki yang bersama andrean.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
lanjut part berikutnya
...jangan lupa...
...like...
...komen...
__ADS_1
...vote🤗...
...lovyu😍🤗...