KISAH UNTUK DION

KISAH UNTUK DION
tanggal pernikahan dan cibos


__ADS_3

Diperjalanan pulang, tak terasa dengan pikiran masing-masing membuatnya tak tersadari bahwa mereka telah sampai. Tidak ada percakapan disepanjang jalan. Entah apa yang dipikirkan mereka rasa enggan untuk bicara.


"Kita telah sampai, ayo turun" ujar dion membuyarkan lamunan kekasih nya.


"Hah beneran!, yaudah ayo turun" ucap Tiwi saraya membuka pintu mobil dan menuruninya


Turun dari mobil dan memasuki rumahnya tetapi terhenti ketika Tiwi tak melihat dion tidak disampingnya, menunggunya dari depan pintu yang terlihat dion membawa semua barang Tiwi dipenginapan dirumah sakit.


"Ayo"


Mereka memasuki rumah yang sudah ada orang tuanya, terkejutnya sudah ada keluarga dion yang sedang berbincang bincang. Sedikit heran bagi mereka apakah urusan pekerjaan? Tapi mana mungkin sudah ada Nana bahkan ada adel disana.


"Loh? Ayah sama ibu kenapa kemari? Ada adel juga?" Tanya dion mendekati keluarganya setelah memberikan paper bag kepelayan.


"Emangnya kamu doang yang boleh kesini? Kita juga mau lah datang kesini" ucap Andrean.


"Bukannya gitu, dion heran aja kok kalian kesini semua, apa ada masalah?" Tanya dion.


"Jadi gini nak, kami sepakat akan mempercepat pernikahan kalian, apa kalian tidak keberatan sayang" ucap shan kepada Tiwi dan dion bergantian menatap mereka.


"Kenapa begitu cepat?" Ucap Tiwi dan dion bersama


"Ini demi kebaikan kalian berdua" ucap shan


Tiwi yang terkejut dengan ucapan papanya, "papa nggak salah? Bukannya terlalu cepat ya pa? Apa bang Rangga tau semua ini ma?. Tapi kalo Tiwi sih terserah dion aja" ucap Tiwi


"Sebentar lagi Rangga pulang. Nanti mama bilangin" timbal Diana karna anak pertamanya sampai sekarang masih sibuk dengan pekerjaan nya dikantor


Shan menoleh pada dion "gimana nak dion?" Tanya shan


"Kalau semua ini demi kebaikan kami, dion setuju, tapi apa kah boleh kami tau apa alasan kalian untuk mengajukan pernikahan ini begitu cepat?" Ujar dion


"Tidak ada, kami hanya ingin kalian menikah" ucap Andrean


Sedikit membingungkan bagi mereka, kenapa tidak ada alasan? Semua nya pasti ada alasan tetapi mereka tidak masalah dengan semua itu. Lagipula mereka berdua sudah saling mencintai, bukan?


"Pernikahan kalian akan dilaksanakan dua Minggu lagi" ucap shan


"Oke! mama, sama Bu Nana udah mempersiapkan semuanya dari segi baju pengantin dan semacamnya kalian tinggal menentukan sesuai hati kalian saja....." Ucap Diana dan mereka memilih semuanya dengan kesepakatan kedua belah pihak dari segi terkecil sekali pun baik itu perhiasan, baju pengantin, ataupun pelaminan serta dekorasinya


***

__ADS_1


Kini seorang gadis yang tengah dibuat kesal dan ingin mengeluarkan amarahnya


"Sial!! Bahkan mereka ingin menikah dua Minggu lagi, tidak akan ku biarkan!!" Ucap sisil.


Flashback on


Ponsel adel berdering ditengah kesibukan mereka memilih persiapan yang baru saja mereka sepakati.


"Hallo kak sisil, kenapa?" Tanya adel disambungan telponnya.


"Kalian kemana Del, tadi Kaka kerumah kalian nggak ada orang" ucap sisil


"Kami lagi dirumah ka Tiwi, mempersiapkan pernikahan mereka" ujar adel langsung tanpa menyadari apa selanjutnya akan terjadi.


"Dion mau nikah?" Tanya sisil nada sedikit meninggi dan hanya dibalas dhem-an oleh adel.


Flashback off


"Tunggu saja Tiwi, apa yang akan aku lakukan. kamu akan menyesal telah menyetujui untuk menikah dengan dion" ucap sisil masih dengan emosinya.


...~kud~...


Satu Minggu berlalu sekarang tinggal 7 hari akan melaksanakan pernikahan mereka, senang tentunya, bagi semua orang.


"Weh.. bro fokus amat, mau makan siang kagak?" Ucap Akbar dengan santainya layaknya seorang teman.


"Eh bambang. Lo kagak punya sopan santun ya, sama bos sendiri" kesal dion dan


"Bos. Apakah mau saya pesankan makanan atau mau makan diluar?" Ucap Akbar mengulangi ucapannya dan berbicara selayaknya bawahan, Akbar adalah asisten dion setelah ia bekerja di perusahaan ayahnya


"Kamu hubungi Tiwi, ajak dia makan diluar" ucap dion tanpa menoleh .


"Gue yang ngajak bos?. Bos nggak ikut?" Tanya Akbar yang membuat dion menoleh kearah nya sedikit kesal.


"Eh bambang. Dia calon istri gue, ya kali makan sama Lo doang apa kata orang?" Ujar dion


"Santay dong bos. Iye ye gue hubungin dulu nih, emosian amat" decak Akbar


Dreettt


Ponsel Tiwi berbunyi yang sudah tertera nama Akbar asisten dion yang tengah menelpon, ia langsung meraih ponselnya yang tak jauh dari nya

__ADS_1


"Iya hallo, kenapa bar?" Tanya Tiwi.


"ini. Bos minta makan siang diluar, cibos nggak sibuk kan?" Ucap Akbar


"Nggak kok, kalian kirim lokasinya saja nanti saya datang kesana" ucap Tiwi disambungan telpon


"Baik" ujar Akbar lalu mematikan sambungan telpon mereka lalu menghadap ke dion sambil mengangkat alis sebelah kirinya.


"Cibos apaan?" Tanya dion penasaran dengan perkataan asistennya ini saat sambungan telpon dengan Tiwi


"Mau tau aja, atau mau tau banget ni?!" Ucap Akbar seperti menggoda, iii gelay


"Udah cepetan, apaan?" Desak dion.


"Cibos artinya.. calon istri bos. Gimana baguskan?" Ucap Akbar


Perdebatan mereka tidak akan habisnya jika diteruskan, tidak akan selesai jika tidak ada janji dengan seseorang untung saja saat ini mereka ingin makan siang di restoran sedikit jauh dari tempat mereka.


Mereka sama-sama lagi mengendarai mobil dengan berbeda mobil hingga sesampainya tujuan, Tiwi segera menemui dion dan Akbar yang sampai lebih dulu darinya.


"Hai sayang! Udah lama ya?" Ujar Tiwi lalu duduk disamping dion yang sudah ada Akbar yang berada didepan mereka


"Kami baru aja sampai kok sayang! Kamu mau makan apa?" Tanya dion mengelus rambut milik Tiwi yang terurai


"Gini nih kalau jomblo, hanya bisa memandang pemandangan seperti ini" batin Akbar yang terus menyaksikan ke uwuan sepasang kekasih yang berada di depannya, yang sabar ya Akbar!


Tiwi yang sendari tadi terus mencium bau parfum wanita yang sekitar didekatnya, ia terus mencari-cari siapa pemakai parfum tersebut. Tiwi terus mengirup udara dan ia menemukan siapa pemakai parfum ini


Dion. Laki-laki ini memakai parfum wanita, yang tidak biasanya ia memakai hal ini. Pikiran Tiwi sudah melayang jauh ketika mengetahui hal tersebut, ia berpikir dion berpelukkan dengan wanita tersebut hingga meninggalkan bau parfum wanita itu.


Tidak ingin menjadi masalah ia langsung menepis pikirannya. Tidak baik jika berpikir macam-macam ketika ingin menikah bisa saja itu ujian, pikirnya


Mereka melanjutkan makan yang sudah dari tadi sudah dihantarkan oleh pelayan restoran. Sesekali saling menyuapi dengan keromantisan mereka, Akbar yang sabar ya. Jomblo emang gitu kok!


bersambung....


...hai semuanya....


...dukung author ya.. dengan LIKE KOMEN dan VOTE-YA...


...oh iya!, maaf lahir dan batin ya teman-teman ku...

__ADS_1


...lovyu❤️...


__ADS_2