
"Tuan..."
Asisten pribadi Pram menatap tuannya yang sedang menonton langit dari jendela kaca raksasa.
Tapi sayangnya, karena di kota, dengan cahaya terang dari gedung-gedung pencakar langit, bintang-bintang kalah terang dan beberapa menghilang begitu saja.
Mata Axel dingin dan seluruh wajahnya tertulis kata 'kamu tidak diizinkan mendekatiku.'
Tapi untungnya Pram telah terbiasa dengan semua ini. Dia hanya dengan tenang memperhatikan tuannya yang menulis beberapa dokumen di keras dan menandatanganinya.
Ketika dia sibuk, sebuah panggilan telepon terhubung.
'Istriku'
Nama kontak cukup mencolok, tapi Axel tidak menunjukkan ekspresi apapun, wajahnya masih datar dan dingin. Tidak ada lagi jejek kehangatan di matanya seperti di siang hari.
Ketika panggilan tersambung, suara jernih Fannya terdengar.
"Halo, Axel, apakah kamu akan makan malam di rumah? Ibu Gisel menyuruhku untuk menelpon mu."
Setalah memetik apel tadi sore, pada jam 5 sore Axel mempunyai pekerjaan, cukup penting hingga dia memutuskan untuk pergi kantor utama.
"Sepertinya aku tidak akan bisa pulang malam ini. Kamu pergilah dan makan, aku akan menginap di kantor."
Fannya malang tidak mengetahui kebenarannya, karena Axel sangat baik dan ramah padanya selama ini dia langsung percaya dan setuju.
Bahkan di setiap kata-katanya manis, Axel tidak mengubah raut wajahnya, mereka dingin dan minim ekspresi. Ketika telpon ditutup, dia tetap tidak mengubah wajahnya.
"Pram, apakah kamu telah mendapatkan salinan datanya?"
Pram mengangkat pandangan matanya, menatap tuannya dan menyerahkan sebuah berkas yang dari tadi dia simpan.
"Orang itu diketahui membuat beberapa koneksi dengan petinggi di luar negara dan menghadiri beberapa pertemuan sosial dibeberapa tempat dalam waktu berdekatan."
Pram dengan teratur mengirimkan informasi yang dia tahu, sementara Axel dengan cepat membolak-balik kerta di tangannya.
"Apakah dia akan menghadiri perjamuan kapal pesiar?"
Axel menatap jadwal pertemuan yang tertera. Terdapat tulisan perjamuan sosial di sebuah kapal pesiar yang akan diadakan Minggu depan.
Dengan cepat Axel mencocokkan jadwal itu dengan jadwal miliknya, rapi ternyata miliknya kosong, hanya ada beberapa kegiatan pengaturan dan kunjungan dijadwal miliknya.
"Pram apakah aku memiliki undangannya? Aku akan pergi."
Pram diam sesaat, seolah berpikir dan akhirnya mengingat sesuatu.
"Sepertinya ada, surat undangan itu ada pada tuan, saya tidak tau di mana tuan meletakkannya."
Senyum Axel membeku, dia dengan cepat memikirkan sebuah surat di otaknya, sebelum akhirnya mengangguk.
"Baik, aku ingat. Waktunya kita memainkan kartu as kita."
Axel menyeringai, dia membuka laptopnya dan melihat sebuah data pencarian panas baru-baru ini.
'saham keluarga Clovis mulai menurun dan Tuan Axel Max tutup suara akan pernikahannya serta kembalinya anak tegah keluarga Clovis, Nona Fannya , apa yang sebenarnya terjadi?'
Berita yang dia tunggu selama ini, jari-jari Axel degan ringan menekan tepi layar.
"Yah, semua dosa itu, keluarga itu juga harus menanggungnya."
Amarah yang dia tahan selama ini berubah menjadi dendam. Bahkan jika dia ingin melupakannya, dia tidak bisa, hati Axel sakit mengingat semua yang telah dilakukan oleh keluarga Clovis padanya.
__ADS_1
Beberapa tahun lalu, keluarganya mengalami krisis serius di perusahaan, bahkan beberapa aset telah disita pihak bank karena tekanan dari keluarga Clovis.
Kekuasaan yang mereka sangat banggakan, lihatlah dia akan menghancurkannya, bukankah kalian sangat bangga dengan anak pertama kalian yang akan mewarisi perusahaan.
Lihatlah, dia akan membuat anak ke dua keluarga Clovis yang terlantar menjadi ratunya dan menggulingkan kekuasaan mereka.
Apa yang akan mereka rasakan ketika anak yang mereka buang bangkit dan langsung menjatuhkan mereka.
"Aku sangat penasaran."
Mata Axel menyipit karena senyumannya, tapi dasar matanya sangat tenang dan damai tampa perasaan apapun.
"Mulai sekarang kita harus mendidik gadis itu untuk menjadi kartu terkuat. Karena aku ingin membunuh dua burung dengan satu batu. bukan hanya ingin menghancurkan perusahaan Clovis, aku juga ingin menghancurkan dia dan mengembalikan semua rasa sakit ini."
Dia menjeda kalimatnya, melanjutkan kata demi kata dengan suara dingin yang membekukan.
"Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi, dan ras sakit ini juga harus dibayar dengan rasa sakit."
Mata Axel sangat dingin, seperti badai es yang tenang namun berbahaya.
Pram tidak berdaya dan menundukkan kepalanya.
"Tuan..."
Dia ingin mengatakan sesuatu tapi pada akhirnya dia tidak bisa. Bahkan tanpa perkataan Pram, Axel tau apa yang ingin dia katakan.
"Aku akan menghadiahkan Clovis grup untuknya, sebagai kompensasi, tidak masalah bukan?"
Tapi bukan itu, Pram pada akhirnya hanya bisa tutup mulut dan membisu. Axel juga tidak mengatakan apapun lagi, dia bangun dan mengambil jasnya, memeriksa jam tangannya sebelum melangkah pergi.
"Mari pergi ke rumah sakit, aku ingin mengunjungi dia, sudah sangat lama, aku merindukan dia."
"Aku akan menginap di rumah sakit malam ini."
_
Fannya menatap omelet pertama yang dia buatnya dengan susah payah.
Dia berkata ingin membuat makanan untuk keluarga ini, jadi dia bertanya apa yang mereka suka makan, tapi tidak mengira bahwa makanan orang-orang itu terlalu mewah dan berkelas
Dia bukan koki bintang lima yang bisa membuat skirt steak setegah matang untuk Nathan, ataupun lobster tomat manis serta oyster asin untuk Tuan Reon.
Sementara itu nyonya Gisel suka pasta pedas asin, tapi sialnya Fannya gadis kelas bawah itu hanya tau mie rebus pedas.
Kemudian setalah menggertakkan giginya dia hanya bisa mencoba, tapi semuanya gagal. Pada akhirnya dia hanya bisa membuat omelet ringan permintaan Nyonya Gisel.
Melihat mata kecewa Fannya Nyonya Gisel tertawa kecil.
"Tidak apa-apa, ayo tersenyumlah tidak semua orang bisa memasak."
Dia dengan lembut mengelus pucuk kepala Fannya dengan rasa kasih sayang.
"Sekarang istirahatlah dan biarkan koki memasak untuk makan malam."
Dia menatap omelet jadi-jadi di depannya dengan pasrah, kemudian dengan sabar membuat Fannya ke luar untuk duduk di ruang makan sambil menunggu koki selesai memasak.
Untuk menghargai usaha dan kerja keras Fannya, Nyonya Gisel dengan senyuman memakan omelet simpel buatan Fannya, kemudian tersedak.
Asin!
Tapi dengan pengendalian diri dia akhirnya bisa menahan ekspresinya agar tidak berubah. Sebelum mengambil secangkir air dan meminumnya sampai habis.
__ADS_1
"Sangat baik."
Nyonya Gisel terkekeh sambil meletakkan gelas, dia tidak mengatakan yang sebenarnya agar gadis itu tidak kecewa.
Fannya yang dipuji juga ingin memakan omelet itu, tapi Nyonya Gisel dengan cepat menarik perhatiannya.
"Taukah kamu? Axel sebenarnya orang yang menyayang dan lembut, tapi karena suatu kejadian dia terkadang bisa kejam"
"benarkah?"
Ketika Nyonya Gisel berbicara, perhatian Fannya teralihkan dengan otomatis. Melihat gadis itu mendengarkan dengan perhatian, dia memberikan isyarat bisu kepada pelayanannya untuk menyingkirkan omelet itu.
Segera, pelayan terpercaya dengan hati-hati mendekat dan menyingkirkan omelet secepat mungkin.
"Yah, terkadang dia akan sangat pendiam dan menyendiri, dan terkadang akan sangat agresif. Ketika dia sudah mulai agresif, silahkan pukul dia agar dia sadar kembali."
Nyonya Gisel mengatakannya dengan nada bercanda. Jadi Fannya juga hanya berpikir ibu mertuanya bercanda, tidak mempersalahkannya.
Tapi apa yang Nyonya Gisel sebenarnya adalah saran terbaik. Hanya saja, dia tidak bisa langsung mengatakan itu.
Walaupun dia menyukai dan menyayangi Fannya, dia lebih menyayangi putranya.
Perasaan putranya lebih lebih penting.
Dengan berlanjutnya percakapan makan malam dengan cepat disiapkan. Ketika Fannya menoleh, omelet miliknya sudah hilang.
Dia berpikir mungkin para pelayan menyimpannya ketika menghidangkan makanan tadi, dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan itu ketika adik ipar dan ayah mertuanya datang disaat bersamaan.
"Oh, kakak tidak makan malam bersama?"
Jonathan yang pertama bertanya, dia secara sembarang duduk di samping Fannya.
"Dia sepertinya sibuk."
"Apakah untuk mengunjungi adik?"
Nyonya Gisel dan anak tengahnya saling bertatapan, pada akhirnya Jonathan yang pertama mengangkat bahunya.
"Fannya, aku serius, ketika kamu tidak tahan, pergilah dari kakakku, dia orang brengsek tau?!"
Jonathan mengambil makanan laut di atas meja sambil terus memperingati.
"Jika dia berani macam-macam tampar saja."
Fannya membeku di bawah kata-kata kejam Jonathan. Dia bisa melihat laki-laki itu tidak bercanda ketika dia menatapnya dengan tenang. Pada akhirnya Fannya hanya bisa setuju dengan ringan dan terus makan.
Ketika makan malam berakhir, Fannya pamit untuk kembali ke kamarnya. Tapi dia tidak sengaja berpapasan dengan Tuan Reon.
Tuan Reon menatap Fannya yang terlihat gugup di depannya, dia tidak mengatakan apapun dan pergi begitu saja. Tapi ketika dia sampai di persimpangan, dia mengatakan sesuatu.
"Apa yang dikatakan Jonathan adalah kebenaran, jika dia terlalu agresif kamu bisa pergi meninggalkannya."
Fannya berkedip, terdiam di tempat dengan bingung.
Ada apa hari ini?
Mengapa orang orang sepertinya sangat serius hari ini?
Tapi apapun yang mereka katakan adalah untuk kebaikan dirinya sendiri. Karena dia tau jika dia tidak mengenal Axel dengan baik, dan saran dari keluarganya adalah yang terbaik.
Tapi dia hanya berpikir, apakah Axel seagresif itu?
__ADS_1