Kontrak Cinta Tuan Ceo

Kontrak Cinta Tuan Ceo
pengakuan


__ADS_3

"Fannya, masuklah, ada hal penting yang harus kamu ketahui."


Tubuh Fannya membeku, dia masih melakukan kontak mata dengan axel ketika axel memintanya untuk masuk.


Diam-diam Fannya menggigit bibirnya, menahan diri agar tidak terlalu gugup, sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam.


"Kamu seharusnya sudah tahu bukan?" Axel berkata tampa daya, dia berbalik dan melihat adiknya yang masih tertidur lelap.


"Maaf."


Fannya menundukkan kepalanya, seandainya dia tidak kembali dengan cepat, dia mungkin tidak akan pernah mengetahui kebenaran ini, ah, melihat dari sikap Axel, dia yakin cepat atau lambat dia akan memberitahukan tentang hal ini.


"Seperti tebakanmu, aku mencintai adikku, sedikit sesat memang, jika kamu merasa jijik atau marah, silahkan, aku tau aku memang memang menjijikan untuk mencintai adikku."


Axel menjelaskan dengan kabur, kemudian dia menambahkan hal lainnya, "Tapi, satu hal yang harus kamu ketahui, aku dan adikku hanyalah kakak dan adik angkat."


Fannya kaget bukan karena kenyataan ini, tapi fakta jika Axel dan adiknya adakah adik dan kakak angkat. Dia membulatkan matanya, mundur selangkah.


Jika mereka adik dan kakak kandung, maka mereka tidak akan memiliki harapan untuk hubungan mereka, tapi jika mereka tidak, ada kemungkinan mereka bisa bersama. Yang artinya Fannya tidak memiliki harapan apapun untuk Axel lagi.


Jika memang seperti itu, semua kelambutan dan perhatian Axel untuknya apa artinya? Permainan?


Ah, Fannya melupakan hal ini, dia lupa dia hanyalah mainan untuk laki-laki itu, karena Axel sangat lembut padanya meskipun ada jarak, dia hanya berpikir laki-laki itu masih belum sepenuhnya menerimanya, ternyata salah.


"Begitu." Pada akhirnya Fannya berhasil menenangkan dirinya sendiri, tersenyum sakit "Kalau begitu, aku do'akan adikmu cepat pulih dan kalian bisa bersama."


Kenapa memberikannya harapan sejak awal? Kenapa tidak mengatakan kebenarannya sehingga tidak tidak perlu berharap?


Fannya sedikit sakit, bagaimana tidak, ternyata suaminya mencintai adik angkatnya sendiri, diam-diam tampa mengatakan padanya bahkan ketika mereka menikah.


Dia ingin berbalik dan pergi, tidak ingin lebih sakit hati, tapi dia tidak bisa, dia hanya bisa menahannya.


Axel tau apa yang dia katakan mungkin membuat hati gadis di depannya sakit, melihat dia terdiam dengan kepala tertunduk, dia merasa itu tidak cocok dengan gadis mungil yang dulu masih bisa mengangkat kepalanya meskipun ada banyak kritikan dan tekanan padanya.


Jadi dia bangkit, berdiri dan berjalan menuju Fannya, tiba-tiba saja memeluk gadis itu.

__ADS_1


Fannya membeku tak percaya, dia membuka matanya lebar-lebar dan menatap Axel dengan bingung.


"Apakah kamu tau, kontrak yang aku buat memiliki dua cabang."


Axel membuka mulutnya, memeluk Fannya lebih erat lagi, "Pertama, kamu harus membantuku untuk membalaskan dendam, kedua..." Dia menarik nafas panjang, melanjutkan, "Bantu aku untuk jatuh cinta ulang."


'Jika tidak, maafkan aku untuk kejam'


Kalimat terakhir hanya bisa di katakan di dalam hatinya.


Jika dalam 2 tahun dia tidak bisa menemukan donor jantung yang cocok, dia hanya bisa merelakan salah satu dari mereka. Tapi lebih baik jika dia bisa bisa sesegera mungkin untuk mendapatkan donor yang tepat.


Hah, ternyata dia orang yang egois, mengapa dia baru sadar.


Axel tertawa kecil. Dia orang yang egois dan menjijikan, sangat menjijikan.


Tapi dia benar-benar tidak dapat memikirkan apapun lagi, dia membenci Raffan, dia mencintai adiknya dan dia masih belum memiliki keberanian untuk membuat hatinya dingin untuk Fannya.


-


Otak Fannya mengalami kekosongan, tidak tahu harus berkata apa, dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi bibirnya malah di cium keras oleh Axel, yang membuat otaknya kosong semakin kosong.


Bibirnya kesemutan karena dicium terlalu keras, dia juga hampir tidak bisa bernafas, untungnya Axel membebaskan dia sebelum dia kehabisan nafas.


Huf!


Fannya terengah-engah, membuka matanya lebar-lebar dengan pandangan tak percaya.


Axel terkekeh, mengulurkan tangannya dan mengelus rambut halus fannya.


"Biarkan aku jatuh cinta padamu okeh? Biarkan aku memulai hidup baruku dan melupakan masa lalu ini, semuanya, bimbing aku menjadi lebih baik lagi."


Dia tersenyum, merangkul Fannya dan membawanya keluar sambil terus membicarakan banhanyk gak manis untuk masa depan mereka.


Setiap kata itu manis, tapi matanya sangat tenang, jelas dia belum sepenuhnya membuka dirinya untuk Fannya.

__ADS_1


Ketika kedua orang itu keluar tidak ada yang memperhatikan jika ujung jadi Harmoni bergerak sedikit, bahkan bulu matanya sedikit bergetar, seolah akan terbangun, tapi gagal, akhirnya hanya ada ketenangan lainnya di dalam ruangan. Sampai para dokter masuk dan mencek kondisinya, tidak ada kelainan.


Sementara itu, Fannya dan Axel sudah masuk kedalam mobil, berniat untuk pulang.


Di jalan, Fannya tidak berani untuk melihat Axel, dia duduk tegak dan melihat ke arah luar jandela dengan tangan diletakan di atas kedua pahanya, jelas gugup, tapi dia tidak mau mengakuinya.


Axel juga tidak menggertak gadis itu, dia hanya diam-diam menyandarkan kepalannya ke bahu Fannya dan berbisik, "Biarkan aku tidur, aku lelah."


Dia lelah secara fisik dan mental, untuk mengakui semua ini, dia membutuhkan banyak persiapan dan keberanian, bukan hal yang mudah, tapi setalah semuanya dikatakan, akhirnya dia bisa sedikit tenang.


"Jadi ketika suatu saat nanti ada seseorang yang mencoba merenggangkan hubungan kita karena hal ini, aku harap kamu tidak usah memperdulikannya lagi."


Selain itu, Axel juga ingin berjaga-jaga, siapa tau jika nanti Raffan akan datang kepada gadis itu dan mengatakan tentang hal ini, kemudian mencoba memecah mereka sebelum dia berhasil menjalankan rencananya.


Tapi dia tidak tahu bahwa orang itu lebih cepat daripada perkiraannya, Fannya sendiri hanya bisa kaku di tempat, untungnya dia tidak gegabah dan langsung melabrak Axel.


Tapi setidaknya ini lebih baik, ada penjelasan untuk kata-kata Raffan, yang sempat membuatnya cemas dan curiga.


Ternyata Axel memang mencintai adiknya, bukan adik kandung, tapi adik angkat.


Hanya saja itu tetap membuatnya tidak nyaman, bahkan ketika Axel berkata ingin memulai hidup baru, dia masih merasa berat di hati. Karena melupakan cinta pertama bukanlah hal yang mudah.


Tapi setidaknya Axel telah memiliki tujuan, daripada hidup tampa tujuan apapun dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri semuanya ini lebih baik.


Jadi dia menutup matanya dan mencoba untuk melupakan semuanya daripada masa lalu, masa depan lebih penting dan lebih dinantikan.


Meskipun Axel menutup matanya, dia tidak tidur, pikirannya berpencar ke berbagai hal, merencanakan banyak hal untuk kedepannya.


Sekarang, dia berhasil untuk mendapatkan kepercayaan gadis itu, tapi karena rencana berikutnya terhalang, dia hanya bisa mengalihkan rencananya ke yang lain.


Yaitu, menjatuhkan keluarga Clovis dari kalangan atas sesegera mungkin.


Dia tidak menyimpan banyak dendam untuk keluarga itu, tapi tetap saja dia marah, karena tekanan keluarga itu, keluarganya mengalami krisis dana saham, membuat dia tidak bisa menempatkan adiknya ke tempat yang lebih yang membuat kondisi adiknya semakin buruk.


Selain itu, keluarga itu juga mengabaikan Fannya yang membuatnya entah bagaimana menjadi jengkel.

__ADS_1


Axel tidak tau mengapa, tapi dia merasa semuanya akan berjalan keluar dari rencananya dan masalah ini mungkin akan membesar.


Lupakan, semua ini hanya akan membuat kepalanya semakin sakit, lebih baik dia tertidur saja, karena bermimpi lebih menyenangkan daripada menghadapi kenyataan.


__ADS_2