
Fannya tau Axel orang kaya, tapi tetap saja dia tidak menyangka jika rumah sakit yang ditempati oleh adik Axel adalah milik pribadi.
Baru saja Fannya menginjakkan kakinya ke pekarangan rumah sakit, dia sudah di sambut oleh pemandangan asri nan indah, para perawat juga menyambut mereka dengan senyuman proporsional.
Ketika Fannya memasuki rumah sakit, seluruh tempat sangat hidup, ada banyak perawat dan pasien saling berinteraksi, dia dengan penuh penasaran melihat lihat sekeliling, mengikuti secara perlahan di belakang Axel.
Axel maju selangkah demi selangkah, melihat gadis itu masih tertinggal di belakang padahal dia sudah berjalan dengan cukup lambat,dia tidak berdaya, berbalik dan menggenggam tangan Fannya, menyeretnya maju ke depan.
Baru saat itu Fannya mengikuti Axel dengan patuh sampai ke sebuah ruangan VVIP.
Ketika pintu terbuka, dia melihat seorang gadis manis berbaring di ranjang rumah sakit. Gadis itu menutup matanya, rambutnya tergerai cukup panjang. Tapi dia cukup menyedihkan dengan begitu banyak alat bantu kehidupan di tubuhnya.
Fannya terdiam, dia dengan ragu-ragu mendekati ranjang rumah sakit, memperhatikan lebih dekat.
Ada banyak alat menempel di lengan, tangan dan di atas dada gadis itu, dia juga menggunakan masker oksigen, bernafas dengan lemah, dan simbol naik turun di monitor kehidupan memastikan bawah gadis itu masih hidup dan berjuang dengan ulet.
"Dia... Apa yang terjadi?". Fannya bertanya dengan tidak nyaman, menatap gadis itu dengan rasa kasihan.
Axel tidak berbicara, dia hanya menarik dua kursi pengunjung dan duduk di salah satu kursi.
"Dia hampir mati membeku, kamu tau itu bukan?"
Atas pernyataan Axel, Fannya mengangguk kaku, dia tau hal ini sebelum dia menghilang, jadi dia hanya bisa terdiam.
Axel juga diam, sepertinya butuh waktu untuk merangkai kata-katanya, dia memijit pangkal hidungnya sebelum berkata, "Ketika dia sembuh, dia langsung menemukan laki-laki brengsek itu, setelah hubungan keduanya berakhir, kondisinya semakin parah."
Axel tersenyum pahit, "Menyedihkan, sebenarnya, dari kecil dia juga mengidap penyakit jantung, karena kejadian itu dia koma sampai sekarang."
Dia kemudian membuka mulutnya, dengan bibir bergetar mengulangi kaya kata dokter beberapa Minggu lalu, "Jika dalam 2 tahun lagi kami tidak berhasil mendapatkan donor jantung yang tepat, dia mungkin tidak akan bertahan."
Kali ini Fannya bahkan lebih terdiam, itulah sebabnya Axel sangat membenci Raffan, selain itu, menemukan donor jantung bukanlah hal yang mudah, bukan karena kurang uang, tapi memang sangat jarang ada orang yang ingin mendonorkan jantung mereka sendiri.
__ADS_1
Fannya ragu, akhirnya dia memberikan ruang kepada Axel, "Kalau begitu aku akan keluar dulu untuk membeli makanan, lagi pula kita belum makan siang." Kemudian dia berbalik dan pergi, menyisakan Axel sendiri di ruang itu.
Axel ditinggal sendiri di dalam ruangan tidak berbicara, dia hanya menatap wajah adiknya dengan kosong.
Apa yang dia rasakan? Dia tidak tau, hatinya seolah mati rasa. Tapi masih ada rasa sakit tumpul di dasar hatinya.
Sejak hari dimana adiknya jatuh koma, dia tidak pernah melihat lagi senyuman gadis itu, dia tidak pernah lagi menatap mata indah yang selalu bisa menahan rasa sakit sendirian dan berpura pura kuat.
Sejak lahir, adiknya memiliki penyakit jantung bawaan, dia terlahir lemah dan rentan, mereka mencoba mencari donor jantung yang cocok, tapi golongan darah adiknya relatif langka, jadi semakin sulit untuk menemukan jantung yang cocok.
_
Harmoni, nama yang manis dan lembut, seperti simpul nada yang saling terkait, terlahir lemah dan menyedihkan. Dia tidak dapat melakukan hal-hal seperti yang orang normal bisa lakukan.
Ketika orang-orang berlari mengejar kupu-kupu, dia hanya bisa menonton, ketika orang lain bermain dengan bersemangat, dia hanya bisa duduk di pojok dan menggambar.
Untuk menutupi perasaan sebenarnya, adiknya mencoba untuk melupakan segalanya. Dia akan tersenyum, tertawa dan bercanda seperti anak-anak lainnya, tapi dia menahan kesedihannya di balik senyumannya.
Dari kecil, kemudian dia terbiasa untuk tidak menampakkan rasa sakit sebenarnya, dia tumbuh menjadi anak manja dan keras kepala.
Ada donor jantung yang cocok untuk gadis mungil itu. Oprasi di lakukan dengan baik, dan semuanya lancar. Tapi sepertinya jantungannya tidak terlalu cocok, dokter berkata untuk tidak banyak melakukan banyak hal berat dengan jantung lemahnya.
Itu sebabnya adiknya diperlakukan dengan halus, tidak diizinkan untuk kelelahan karena takut membebani jantung lemahnya, tapi ketika gadis itu terjebak di dalam ruangan dingin, jantungnya tidak dapat bertahan dan jahitan antar jantung yang halus bocor dan terbuka.
Setalah melakukan beberapa operasi, dokter akhirnya membuat keputusan, gadis itu harus kembali menemukan donor jantung yang cocok, jika tidak, adik tidak akan bertahan.
Axel putus asa, kebenciannya menjadi sangat kuat, dia ingin, ingin sekali membunuh bajingan itu, tapi tidak bisa.
Sangat disayangkan ayah bajingan itu merupakan salah satu raksasa bisnis, terutama dia juga memiliki beberapa saham besar di dunia bawah, jika dia melangkah terlalu jauh, bukan hanya perusahaannya yang akan terancam, tapi adiknya dan keluarganya.
Jadi dia membuat permainan ini, bahkan hanya di tahap awal, dia menyadari satu hal, dia bukan orang yang benar-benar kejam, melihat ada gadis lemah lainnya, karenanya, berbaring lemah di tempat tidur seputih salju dengan alat bantu kehidupan, dia tidak nyaman.
__ADS_1
Dia lebih suka kejam dan langsung membunuhnya daripada melihat gadis itu tersiksa.
Pada akhirnya dia menyadari jika dia gagal untuk memainkan permainan ini, dia tidak bisa sekejam Raffan, dimana menyiksa seseorang menurutnya adalah hal yang menyenangkan, dia sadar, dia tidak seperti laki-laki gila itu.
Tapi dia juga sangat membenci laki-laki itu, dia ingin laki-laki itu merasakan yang dia rasakan. Tidak tau mengapa, tekat awalnya yang sudah sangat kuat, tapi setalah bergaul dengan gadis mungil yang sekarang menjadi istrinya, dia merasa ragu untuk membunuh gadis itu.
Sebenarnya, ada satu hal lagi yang hanya dia ketahui, jantung Fannya dan jantung Harmoni memiliki tingkat kecocokan sebesar 79%.
Jika kondisi adiknya memburuk, dia tidak bisa menamukan jantung untuk adiknya ketika waktu yang ditetapkan, dia berniat ingin mendonorkan jantung Fannya untuk adiknya.
Menghilangkan nyawa yang lain untuk membangunkan nyawa lain, itu bukan hal buruk.
Mata Axel menjadi gelap, dia menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah adiknya dan mencium kedua mata adiknya.
Itu rencana awalnya, tapi kemudian dia ragu, dia merasa bersama Fannya untuk kehidupan ini bukan hal yang buruk, gadis itu patuh dan manis, tidak pernah memikirkan apapun yang akan merugikan dia.
Tapi hatinya masih berada pada adiknya, jika dalam 2 tahun Fannya tidak bisa membuat dia berpaling, dia hanya bisa menjadi kejam.
"Bangunlah, sayang, aku merindukanmu." Axel menggosok tangan adiknya, mengirimkan kehangatannya sendiri ke tangan adiknya yang dingin.
Fannya berdiri di luar pintu dengan tubuh kaku, hatinya terasa terlilit sesuatu dan dia hampir tidak bisa bernafas. Apa yang Raffan katakan benar, Axel mencintai adiknya sendiri.
Laki-laki itu tidak pernah memandang dia sendiri dengan pandangan sedalam itu, meskipun kata-katanya lembut, sikapnya manis dan membuat orang merasa sulit untuk menolaknya, dia masih menyisakan jarak padanya, dia tidak pernah menyentuhnya sama sekali.
Tapi kali ini, axel dengan lembut menggosok tangan adiknya, mencium kedua matanya bahkan memperhatikan adiknya dengan perasaan nyata.
Kakak mana yang sangat menyayangi adiknya hingga mencium kedua kelopak mata adiknya?
Hanya orang bodoh yang akan masih percaya mereka hanyalah adik kakak, paling tidak, seorang kakak hanya akan mencium kening adiknya!
Hati fannya campur aduk, dia tidak tau harus mengatakan apa atau melakukan apa lagi, dia terlalu gugup hingga tangannya yang menempel ringan di pintu tanpa sadar meningkatkan kekuatannya, mendorong pintu itu sedikit dan menghasilkan suara ringan.
__ADS_1
Fannya terkejut dan mengangkat matanya, menatap ke arah kaca tembus pandang di pintu, sangat bertepatan untuk melakukan kontak mata langsung dengan Axel.
Mata laki-laki itu gelap, dan hati Fannya terasa sedikit dingin karenanya. Dia takut, dia takut akan kebenaran yang akan segera dia ketahui.