
"Seno, bagaimana perkembangan anak itu?"
Sano yang menerima telpon berdiri di luar ruangan kantor. Dia memperhatikan sekitar dan menjawab dengan tenang.
"Baik, dia berhasil mengendalikan emosinya, dia juga tidak membuat kekacauan, tapi dia menolak untuk minum obat lagi."
Tuan di belakang telpon mengangguk, tangannya terulur dan menyentuh rambut halus seorang wanita di dalam selimut, tapi langsung ditepis olah pemilik rambut
"Jangan sentuh aku."
Suara orang di dalam selimut sangat serak, jelas pita suaranya terluka setelah berteriak sepanjang malam, Tuan itu tidak berdaya dan hanya sedikit lembut.
"Tidak apa apa, obat hanya akan menakan sifat tiran nya, tapi tidak akan menghilangkan sumber masalah, biarkan saja dulu, lagi pula cepat atau lambat dia harus mengendalikan dirinya tanpa obat, sangat disayangkan, walupun dia tegas dan ganas, mewarisi setidaknya 70% sifat milikku, dia tidak mewarisi pengendalian diriku."
Dia mendesah, menarik selimut orang di atas kasur lebih tinggi dan menutupinya sepenuhnya, matanya masih dingin, tapi tidak terlalu dingin, "Sedangkan potensi milik gadis itu masih belum bangun dan tidak diketahui."
Tuan itu mengehentikan kalimatnya, kemudian menggoda orang yang sedang bermalas malasan di kasurnya, "Sayang, bagaiman jika kita memiliki seorang anak lagi?
Orang di kasur sangat lelah, tapi dia terus terusan digoda, kesabaran setipis tisunya hangus, "Enyah!" Dia kemudian menendang Tuan itu dari kasurnya sendiri.
Tuan tidak marah, malah tertawa sebelum akhirnya pergi ke luar kamar. Tapi ketika dia berada di luar kamar, dia tidak lagi memiliki senyuman hangat, tapi sebaliknya, dia sangat dingin.
"Bagaimana dengan saham keluarga Clovis?"
Seno yang dari tadi mendengarkan dua kekasih itu saling menggoda memiliki wajah sedingin es juga menjawab, "Saham beberapa kali mengalami penurunan, sesuai dengan rencana dan beberapa tertua menarik saham mereka bahkan menjualnya, menurut laporan, Tuan Axel Max telah memiliki setidaknya 34% saham keluarga Clovis."
"Begitu." Tuan tersenyum, sebelum memberikan arahan lainnya, "Ambil setidaknya 35% saham keluarga Clovis, aku menginginkannya."
Seno mengangguk, "Mengerti." Kemudian Tuan menutup telponnya.
Seno berjalan masuk kembali kedalam ruangan, dengan dingin dia di sambut oleh suara tembakan.
Seno terdiam, dia bisa merasakan peluru menyerempet pipinya, terasa sedikit panas.
Tapi dia tenang, "Tuan jika anda tidak bisa menahannya lagi, anda harus meminum obat."
Raffan mengerang, dia membuang pistolnya, memeluk kepalanya sendiri dan menjatuhkannya di meja, terengah-engah.
"Tidak mungkin." Dia tertawa, berkata dengan kejam, "Aku akan mati jika aku terus mengunakan obat-obatan itu. Bah, obat apanya, itu narkoba!"
Kepala Raffan sangat sakit, sejak dia kehilangan Fannya, dia terjerumus ke dalam jurang kegelapan, dia menggunakan narkoba dan menjadi ketergantungan, dia mencoba berhenti tapi rasanya sakit sekali, dengan kemauan kuat, dia menahan perasaan sakit ini, meskipun tidak sepenuhnya berhenti, dia berhasil menekan penggunaan.
__ADS_1
Tapi, karena beberapa hari lalu dia kembali memakan narkoba dalam dosis tinggi, termasuk tadi malam, dia kembali mengalami gejala kecanduan.
Ketika dia bertemu Fannya di toko suvenir, dia ingin sekali memeluk gadis itu, mengatakan semua yang dia rasakan dan memohon agar gadis itu mau memaafkan dia. Tapi dia menahannya atas permintaan ayahnya, pada malamnya dia tidak bisa menahannya, memakan beberapa obat terlarang itu sekaligus.
Raffan bangkit dengan susah payah, menggosok kepalanya gusar, dan menatap Seno dengan tajam.
"Apa yang kamu bicarakan dengan ayah?" Dia menggertakkan giginya, "Dia tidak bisa menyentuh gadis itu!"
Sekretaris Seno menggelengkan kepalanya, "Tuan berkata dia menginginkan saham keluarga Clovis."
"Untuk apa dia menginginkan saham itu?" Dengan tajam Raffan menamukan keanehan.
Seno menjawab, "Tuan berkata dia ingin menekan perkembangan saham Tuan Axel Max."
"Begitukah?" Raffan bertanya dengan curiga, karena dia telah banyak dibodohi ayahnya, dia jadi sangat berhati-hati.
"Tentu saja." Seno mengangguk memastikan, pada akhirnya barulah Raffan tenang.
Dia tidak tau kapan ayahnya mulai memperhatikan gadis itu, yang jelas ini bukan hal yang baik.
Dia harus menemukan cara agar ayahnya mengalihkan perhatian ke tempat lain.
Fannya terbangun dengan kecupan ringan di dahinya, dia membuka matanya dengan gemetaran seperti kupu-kupu indah. Axel terkekeh kecil, mengulurkan tangannya dan menyentuh bulu mata itu.
Fannya terganggu dan menepis tangan Axel, ketika tangan mereka saling tersentuh, barulah Fannya sadar.
"Axel!" Fannya berseru, mengumpulkan kesadarannya dan terbangun. Suaranya sangat serak karena baru bangun dan otaknya kosong, dia menolah ke arah Axel dengan bingung.
"Kapan pulangnya?" Dia bertanya.
"1 pagi, bukan masalah besar, pergi dan mandi, kita akan sarapan, hari ini kamu akan ikut bersamaku ke kantor."
"Sangat tiba-tiba?"
Fannya terkejut, dan Axel hanya mengangguk. "Ya, kita belum tampil ke depan publik setalah pernikahan, hari ini bisa mempublikasikan status kita lebih jauh lagi."
Axel bangkit dari tempat tidur, meregangkan tubuhnya dan membuka tirai kamar.
"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" Dia tiba-tiba bertanya.
Fannya tertegun, dia tidak memahami artinya, kemudian dia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu tidak ingin melakukan sesuatu atau membuka bisnis? Atau kamu ingin kuliah? Jika kamu bosan kamu bisa mencoba bisnis baru."
Axel mengangkat alisnya, kemudian melanjutkan, "Tidak apa-apa jika kamu tidak bekerja, aku bisa membiayai hidup kita berdua dengan baik dan terjamin. Aku hanya takut kamu bosan di rumah karena aku akan sibuk untuk bekerja."
Baru kemudian Fannya memahami pertanyaan Axel. Tapi, jawabannya masih sama, tidak tau, dulu di bekerja di sebuah cafe sebagai pelayan, dia juga bekerja sebagai official girls dan membantu menjual beberapa produk secara online.
Tidak ada kesenangan dalam bekerja, ketika dia menikah dengan Axel, semua kebutuhannya terjamin, dia tidak tau harus melakukan apa lagi.
'Bukan hanya wanita malam, bahkan wanita dengan karir bagus pun akan tertarik untuk bersama Axel mu.'
Fannya tidak tau mengapa kata-kata Raffan terbesit lagi diingatannya, dia mengerucutkan bibirnya dan menatap Axel dengan tegas.
"Aku ingin berbisnis!"
Kemudian dia terdiam! Dia hanyalah anak lulusan SMA biasa, bagaimana cara dia belajar bisnis?
Kemudian dia mendengar Axel tertawa. Pria tampan itu berdiri dan menatapnya, "Jika kamu ingin berbisnis dan tidak tau harus memulai dari mana, aku punya saran."
Dia menyeringai, "Aku berniat untuk meruntuhkan perusahaan Clovis Grup, jika kamu ingin, aku akan menghadiahkan perusahaan ini padamu sebagai janjiku di dalam kontrak."
Sudah lama, baik dia ataupun Axel tidak lagi membahas kontrak untuk sementara waktu, kata-kata ini juga mengingatkan Fannya akan kenyataan.
Dia terdiam dan memikirkannya, bahkan sebelum sempat dia mengatakan jawabannya, Axel telah memutuskan.
"Aku akan memberikan perusahaan itu secepatnya, untuk sementara waktu, kamu akan menjadi sekretaris ku dan belajar cara menangani perusahaan."
Fannya tidak menolak, jika dia bisa lebih berguna untuk Axel, laki-laki itu tidak akan membuang dia bukan? Setidaknya dia hanya ingin mempertahankan pernikahan ini.
Kemudian dia teringat sesuatu dan dengan ragu bertanya, "Sudah lama, aku tidak pernah melihat adikmu, dimana dia?"
Untuk sementara waktu ada keheningan.
Axel membuka mulutnya setelah beberapa saat, suaranya dalam dan dingin, "Dia ada di rumah sakit, keadaannya cukup buruk, dia sedang koma."
Setalah mengatakan hal itu dia menatap Fannya dalam diam. Fannya sendiri juga terdiam, dengan memaksa senyumannya pada akhirnya Fannya berkata.
"Begitu, bagaimana kalau kita mengunjungi adikmu nanti?"
Axel tidak menolak, mengangguk dan berkata, "Jika kamu ada waktu, kita bisa mengunjunginya sore ini."
Dia mengambil nafas dalam-dalam, "Ada sesuatu yang juga ingin aku katakan kepadamu nanti. Yang pertama, bersiaplah."
__ADS_1