Kontrak Cinta Tuan Ceo

Kontrak Cinta Tuan Ceo
yang dia sukai


__ADS_3

Setelah bertemu terakhir kali di kapal pesiar, Fannya tidak melihat Raffan lagi, selain berita bahwa dia juga ikut menyelamatkan dia ketika terjebak di ruang pendingin kapal, dia tidak pernah mendengar kabar lainnya.


Dan karena kesibukannya, dia juga melupakan laki-laki itu, tidak menyangka jika dia akan bertemu lagi.


"Ah, yah. Tuan Raffan, lama tidak bertemu." Dia tersenyum, "Aku memang datang ke sini untuk membeli hadiah, apa yang Tuan Raffan lakukan di sini?"


Dia mencoba untuk berbicara setenang mungkin, jangan gugup, dia takut jika dia gugup dia akan membuat kesalahan.


Dengan perlahan dia juga ingin membuat sedikit jarak dengan Raffan, tapi Raffan memahami niatnya, dia mengulurkan sebelah tangannya, memenjarakan Fannya di depannya.


"Mengapa buru-buru."


Dia menggoda Fannya, mengulurkan tangan bebas lainnya yang memegang kotak musik, mengangkat dagu Fannya perlahan dengan ujung kotak musik, menatap mata gadis itu secara langsung.


"Di kapal pesiar, aku sudah sangat ingin berbicara denganmu, tapi suamimu sangat pemarah dan tidak memperbolehkan aku mendekatimu, sekarang ada waktu, mengapa kita tidak berbicara perlahan-lahan."


Dia tersenyum menyeringai, "Jika bisa, dari hati ke hati."


Fannya merasa tidak nyaman, mereka terlalu dekat, bahkan Fannya masih bisa merasakan Raffan semakin membuatnya tersudut. Dia memasang wajah datar, mengancam dengan nada dingin.


"Jika anda berani macam-macam, aku akan berteriak."


Fannya memasang wajah sangat serius, yang terlihat sengat menarik dia mata Raffan. Seperti seekor kucing kecil yang memamerkan cakar dan taringnya, hatinya gatal untuk mengelus kucing itu.


Dia tidak bisa menahannya, menggunakan tangan yang memenjarakan gadis itu, dia langsung menggosok pucuk kepala Fannya.


"Mengapa sangat serius?" Dia terkekeh, "Aku tidak akan macam-macam di tempat umum, lagi pula ada sstv."


Ketika Raffan mundur, Fannya bergegas ke samping, menatap laki-laki itu dengan tajam, "Hanya untuk berjaga-jaga, untungnya Tuan masih memiliki kewarasan."


Raffan menyeringai,"Tentu saja, jika aku tidak waras, mungkin sekarang aku sudah pergi untuk menculik mu." Dia tersenyum semakin dalam, mendekati gadis itu selangkah demi selangkah dengan mata gelap.


"Lagi pula, kamu tahu aku sangat gila karena kamu, bahkan sampai sekarang, aku tidak bisa melupakan kamu. Bagaimana jika aku menculikmu saja kemudian memaksamu, bukankah itu menyenangkan?"


Kata-katanya sangat menakutkan, Fannya tidak bisa menahan diri untuk tidak mundur berjaga-jaga, "Kamu gila!"


Baru saat itu Raffan tertawa terbahak-bahak, "Hanya bercanda lagi, jangan takut." Dia mundur dan menjaga jarak aman untuk membuat gadis itu tenang, tapi Fannya tidak mau lengah.


Raffan menatap Fannya, mendekatkan kotak musik ke Pipinya dan mengusapnya, menyipitkan matanya berbisik seolah dia adalah iblis dari jurang kegelapan.

__ADS_1


"Apakah kamu yakin?"


Fannya tidak memahami pertanyaan itu, dia cemberut dan merasakan firasat buruk, bertanya dengan nada tidak bersahabat, "Apa maksudmu?"


Raffan tersenyum menyipit, "Apakah kamu yakin kamu bisa membuat Axel jatuh cinta kepadamu? Apa kelebihan yang kamu miliki untuk membuat dia bertekuk lutut padamu?"


Dia tertawa kejam, "Axel adalah Tuan muda yang tidak kekurangan apapun, dia bergelimang harta, ada banyak wanita yang lebih cantik dan cerdas daripada kamu siap berbaris untuk Axel, menjadi mainannya dia bahkan rela melakukan apapun."


"Bukan hanya wanita malam, bahkan wanita dengan karir bagus pun akan tertarik untuk bersama Axel mu, karena mereka akan bisa memperluas jangkauan bisnis dan Axel juga bisa melakukan hal yang sama, mereka akan saling menguntungkan.


Raffan mengatakannya dengan sangat tulus namun kejam, "Menikah denganmu apa keuntungan yang akan Axel dapatkan, membalaskan dendamnya padaku? Bagaimana jika aku sudah tidak tertarik lagi untuk bermain, apakah dia akan membuang mu?"


Semua kata-kata di bisikan dengan sangat lembut, tapi Fannya bisa merasakan ketajaman dari kata-kata itu. Apa yang dikatakan Raffan adalah kebenaran.


"Fannya, sayang, apakah kamu sebuah kebenaran yang menyakitkan?"


Raffan mendesah dengan suara tak berdaya, bermain-main.


"Apakah kamu tau mengapa dia begitu memiliki dendam denganku? Apakah kamu lupa?"


Masa lalu yang buram tidak bisa diingat sepenuhnya, tapi Fannya ingat mengapa Axel menaruh dendam kepada Raffan, karena laki-laki itu hampir membunuh adiknya.


Raffan merentangkan tangannya berkata dengan nada penuh rasa sakit palsu, "Dia memiliki cinta yang bengkok, dia mencintai adiknya sendiri, itulah sebabnya dia bisa memainkan permainan sebesar ini."


Dia menyipit, "kamu tidak tahu ini bukan? Dia pasti merahasiakan ini darimu, bahkan dia merahasiakan keberadaan mu hanya untuk permainan gila ini."


_


Tempat itu sepi, baik Fannya atau Raffan tidak berbicara. Raffan hanya berdiam diri memperhatikan fannya dengan tenang, memasukan sebelah tangannya kedalam saku celananya.


Fannya tidak mengatakan apapun tapi matanya yang bergetar menjelaskan semua keterkejutannya, dia mundur selangkah dan menggeleng, "Tidak mungkin."


Axel mencintai adiknya sendiri? Apakah dia gila?


"Tapi itu adalah kebenaran, suatu saat kamu akan mengetahuinya."


Raffan menggantung kalimatnya, dia mengingat-ingat sesuatu dan menambahkan, "Sekarang adiknya koma, itu sebabnya dendamnya semakin kuat."


Dia tidak berdaya, "Jika kamu ingin mengetahui kebenarannya tanyakan langsung saja, jika dia ragu, maka percayalah padaku."

__ADS_1


Fannya tidak mengatakan apapun, berbalik dan langsung pergi kali ini, dia tindak ingin mendengar semua omong kosong ini, meninggalkan Raffan sendirian.


Raffan terdiam di tempat diam-diam dia menggenggam kotak musik kaca dengan kuat, kemudian mengendurkannya.


"Seno, jika rencana ayah gagal, aku akan melakukannya dengan caraku."


Raffan berkata dengan kejam, Seno yang telah diam di sudut berjalan ke luar, dia dengan hormat membungkuk ke depan Raffan.


"Tuan besar berkata kamu bisa melakukan apapun, dengan syarat rencana utamanya gagal."


Kali ini Raffan tidak mengatakan apapun lagi langsung pergi, tapi dia dihentikan di pintu toko, dia lupa dia masih memegang kotak musiknya. Dengan wajah dingin dia membayar kotak musik itu 20 kali lipat.


_


Hingga pulang, kata-kata Raffan terus terngiang-ngiang di telinganya dia tidak mood dan tidak jadi membeli apapun hanya meminta para pengawalnya untuk pulang ke rumah secepatnya.


Ketika pulang, bibi pelayan sedang memasak, karena mood yang buruk Fannya memilih untuk belajar memasak sambil menghilangkan semua pikirannya.


Tapi malam ini Axel tidak pulang, telpon berdering, dengan perasaan tidak dapat dimengerti Fannya mengangkat panggilan itu.


"Apakah kamu sudah sarapan?" Axel bertanya dengan lembut, ketika Fannya mendengar suara itu, dia menguatkan kepercayaannya lagi, menjawab seperti biasanya.


"Tidak! Aku menunggumu."


Jawaban gadis itu begitu bersemangat dan manis, tampa sadar Axel menghentikan tulisan tangannya, "Jadilah patuh dan makan tepat waktu, malam ini aku akan pulang larut malam."


Fannya memasang wajah sedih mendengar perkataan Axel, dia menghembuskan nafas sedikit kesal dan pada akhir mengangguk.


"Baiklah, jangan pulang terlalu malam."


Setalah percakapan Fannya menatap makanan, telpon tertutup dan hanya ada kesunyian di rumah ini, kemudian dia pergi mengangkat makanannya ke ruang tamu untuk makan sambil menonton televisi.


Karena kata-kata Raffan dia gelisah, setalah selesai makan dia bahkan menjadi rajin, membersihkan semua piring kotor dan menyusunnya dengan rapi.


Tapi tetap saja, malamnya dia insomnia.


"Lupakan-lupakan! Dia hanya mengatakan untuk membuat hubunganku dengan Axel memburuk."


Fannya menenggelamkan kepalanya ke kedalam selimut, "Tidak mungkin Axel segila itu untuk mencintai adiknya sendiri, gila gila gila, tidak mungkin." Dia menutup matanya dan mengatur nafasnya, melupakan segalanya.

__ADS_1


__ADS_2