Kontrak Cinta Tuan Ceo

Kontrak Cinta Tuan Ceo
hanya tamu di rumah ini


__ADS_3

Dalam sekejap mata, waktu berlalu.


Fannya menatap dirinya yang terpantul di depan cermin, tersenyum dan menenangkan diri sebaik mungkin.


Sesuai dengan janji, dia harus pergi untuk menemui ayahnya, tapi bahkan jika dia telah menghipnotis diri untuk tidak gugup, dia malah menjadi semakin gugup.


"Apakah aku harus mengantarmu? Itu mungkin akan membantumu untuk menghilangkan rasa gugup mu?"


Axel berdiri di depan pintu kamar, memperhatikan Fannya yang berjalan bolak-balik karena gelisah sambil memberikan saran.


Ketika Fannya mendengar suara Axel, dia berhenti berkeliling dan terdiam, menatap lelaki itu dan melambaikan tangannya, "Tidak perlu, bukankah kamu juga harus menemui ibumu hari ini?"


Benar, kata-kata nenek Fannya masih menghantui Axel, lelaki itu tidak bisa tenang selama beberapa hari sebelum memutuskan untuk menemui ibunya, ingin bertanya beberapa hal.


Kebenaran yang sudah lama terkubur, dia harus mengetahui sekarang.


Axel mendesah, merapikan jaketnya untuk terakhir kali dan tersenyum tak berdaya


"Kalau begitu, mari kita pergi, ini sudah hampir jam 1 siang."


Sebenarnya mereka akan pergi ketika jam 11 tadi, tapi Fannya terus-terusan merasa gugup dan menunda waktu, dan ini adalah kesekian kalinya Axel mengajak kucing pemalu itu untuk pergi.


Untungnya kali ini Fannya lebih siap, dia mengambil nafas dalam dan mengangguk.


"Mari pergi."


Axel tersenyum dan mengangguk, "Ya."


Kemudian dia berjalan ke depan lebih dulu, sebelum berbicara.


"Aku akan mengantarmu."


Fannya tercengang sesaat, dia kemudian berkata dengan bingung, "Kemudian bagaimana kamu akan pergi ke rumah ibumu?"


"Aku akan pergi setalah mengantarmu, supir akan mengikuti di belakang."


Fannya tidak lagi berkomentar dan mengangguk dengan patuh, tersenyum malu dan dengan patuh duduk di kursi tegah mobil.


"Jangan gugup, hadapi saja."


Axel menyalakan mobil, melirik Fannya dari kaca depan, berkata dengan nada pertimbangan.


"Atau haruskah aku menemanimu untuk menemui ayahmu?"


Fannya menggeleng, "Tidak apa-apa, aku hanya sedikit terlalu gugup, aku akan baik-baik saja nanti."


Bukan hanya itu, ini urusan keluarga, tapi bagi Fannya, dia sama sekali bukan bagian dari keluarganya, jadi dia tidak ingin menyeret Axel ke dalam masalahnya yang mungkin akan menyulitkan lelaki itu.


Seterusnya, mobil melaju dalam keheningan.


Secara bertahap Fannya merasa sedikit tenang, ketika mobil mulai melambat di tempat tujuan dia meremas tangannya sedikit.


Axel turun dari kursi pengemudi, mengeliling mobil dan membukakan pintu untuk Fannya.


"Terima kasih."


Fannya tersenyum ringan, dia melangkah keluar dan melihat gerbang rumah yang telah lama tidak dia lihat.


"Kemudian aku akan pergi sendiri sekarang."


Dia melangkah maju, berjalan langsung ke arah gerbang.


Axel mengamati dari belakang, memperhatikan dalam diam ketika gadis itu melangkah masuk ke dalam gerbang ketika gerbang terbuka secara otomatis.


Untuk sementara waktu, gadis itu berhenti, berbalik dan melambaikan tangannya.


Tampa sadar Axel sedikit tersenyum, sebelum menggelengkan kepalanya dan menenangkan dirinya.

__ADS_1


Dia tidak langsung pergi, tapi berbalik dan pergi menuju mobil di belakang mobilnya.


"Tuan."


Supir yang berdiam diri di dalam mobil keluar dan menyapa tuannya dengan senyuman, tersenyum ramah dengan formal.


"Tunggu dia sampai dia keluar, jangan kemana-mana."


Axel diam sesaat, memikirkan sesuatu dan menambahkan, "Jika terjadi sesuatu, hibur dia, ketika pulang, laporkan padaku apa yang terjadi."


Kemudian dia berbalik dan pergi ke mobilnya, menyalakan mesin dan melaju pergi menjauh, tidak lagi menoleh ke belakang.


Supir melirik sekilas kepergian Axel, sebelum menatap gerbang rumah besar dan berbalik masuk ke dalam mobil.


-


Fannya melangkahkan kakinya masuk ke dalam halaman rumah yang telah bertahun tahun tidak pernah dia kunjungi lagi, dia bahkan hampir tidak mengingat jalan untuk masuk ke halaman utama karena beberapa hal telah berubah.


Ah, bukan beberapa, tapi banyak hal telah berubah sejak dia pergi.


Ketika langkah kakinya sampai di depan rumah utama yang megah, dia berhenti.


Dia berhenti di samping air mancur, tidak tahu harus melakukan apa.


Saat dia terganggu dengan pikirannya, seorang anak kecil berlari dan berhenti di depannya, berteriak dengan nada bingung.


"Siapa kamu, apakah kamu penyusup?"


Suara itu tenang dan manis, tapi masih anak-anak yang berusaha bersikap dewasa.


Fannya berbalik dan melihat anak itu, kemudian dia terdiam.


Di keluarga Clovis, hanya ada 3 anak perempuan yang diketahui oleh publik.


Itu adalah dia, kakaknya Natia dan bocah di depannya.


Lima tahun lalu, anak itu masih seorang anak manis yang tidak mengerti banyak hal, dia baru berumur 7 tahun waktu itu, menjadikan dia putri bungsu yang paling dimanjakan.


Meskipun terkadang Fannya akan iri dengan kehidupan adik bungsunya, dia juga tetap memanjakan adiknya karena kasih sayangnya.


"Tianna."


Fannya memanggil nama itu dengan lembut, menatap anak yang tingginya hanya sepinggangnya.


"Siapa kamu?"


Melihat gadis mungil itu masih mencurigainya, hati Fannya sedikit sakit, jelas adiknya tidak lagi mengingatnya.


"Tidak apa-apa, aku hanya tamu di rumah ini."


Fannya berkata pelan, dia sudah memutuskan hubungan keluarga, jadi dia hanya bisa mengakui dirinya sebagai tamu, menatap anak di depannya dan berkata dengan lembut.


"Dimana ayahmu? Aku ada janji dengan dia."


Tianna ragu-ragu, dia menatap Fannya dengan seksama sebelum akhirnya mengangguk dan berbalik.


"Ikut aku!"


Dengan nada angkuh dia mulai berjalan dengan dagu terangkat.


Fannya mengikuti di belakang sedikit terkekeh, dari kecil Tianna memang sangat amat manja dan bersinar.


Diantara mereka, Tianna adalah yang paling cerdas, sebenarnya, untuk calon penerus keluarga Clovis yang paling cocok adalah Tianna, hanya saja dia masih terlalu anak-anak.


Ketika Fannya memikirkan itu, dia terdiam.


Jika suatu hari keluarga Clovis benar-benar runtuh, apa yang akan terjadi dengan adik dan kakaknya?

__ADS_1


Terutama ketika Tianna masih sangat kecil dan membutuhkan banyak kasih sayang.


Dia tidak dapat memikirkannya, tidak, dia tidak ingin memikirkannya.


Fannya meremas tangannya.


"Fannya?"


Tapi saat itu, sebuah suara memanggil, Fannya mendongak dan menatap ke samping.


"Kakak."


Natia datang dan berjalan dengan cepat ke arahnya, dia menggunakan gaun biru langit yang cantik, dengan pita yang mengikat rambutnya, sangat manis dan lembut, apa lagi wajah Natia adalah tipe wajah bayi.


"Kamu, kamu benar-benar datang!"


Natia membuat matanya lebar-lebar dan berhenti tepat di depan Fannya, menatap gadis itu dengan sedikit linglung.


"Aku pikir kamu tidak akan datang."


Dia kemudian tersenyum lembut, "Senang kamu masih mau pergi ke rumah ini."


Ketika Natia mendengar kabar bahwa kakaknya ada di depan gerbang rumah, dia bergegas pergi ke arah gerbang, meninggalkan pekerjaannya sendiri hanya untuk memastikan.


Dan ketika dia bertemu, dia sedikit tidak enak.


Fannya menyadari hal itu, dia melambai dan menggelengkan kepalanya.


"Karena aku diundang, tentu saja aku akan datang ."


Dia tersenyum, "Kemudian, dimana ayah?"


Natia termenung, dengan cepat memahami maksudnya, "Ah ah, aku akan mengantarmu sekarang!"


Tianna yang dari tadi diam menatap kakaknya dan orang asing itu, kemudian dia berteriak.


"Kakak Fannya!"


Baik Fannya dan Natia, keduanya kaget, mereka secara serempak melihat ke arah Tianna.


Mereka melihat gadis mungil itu mulai menangis.


"Kakak."


Dia tersedak dan berlari memeluk pinggang Fannya, menggosok wajahnya dan terus menangis.


"Kakak berbohong."


Seluruh tubuh Fannya membeku, dia mengulurkan tangannya dan mengusap rambut Tianna.


"Ya, kakak berbohong."


Ketika Tianna mendengar kata-kata itu, dia menangis lebih keras.


"Bohong, bohong, pembohong."


Waktu itu, ketika dia menyerah untuk hidupnya, Fannya sedang bersama Tianna untuk terakhir kalinya.


Dia menemani gadis manis di kamar ketika badai terjadi.


Dia membujuk gadis itu untuk tetap menjalani kehidupannya dengan baik, dia berkata jika dia akan pergi sebentar, tapi dia pergi begitu lama, dan hari ini, dia kembali.


Awalnya memang sulit, terkadang dia akan menangis ketika mengingat adik dan kakaknya tidak ada didekatnya, tapi semakin lama, dia semakin bisa mengendalikan dirinya untuk tetap tenang dan memulai hidup baru.


Perlahan, dia mulai melupakan segalanya.


Sudah bertahun-tahun, perasaan yang mengikat mulai longgar, ketika dia melihat adiknya tidak mengenalinya, dia berniat untuk memulai hubungan baru, tapi tidak menyangka, pada akhirnya adiknya tetap mengingat dia walaupun sudah lama.

__ADS_1


__ADS_2