Kontrak Cinta Tuan Ceo

Kontrak Cinta Tuan Ceo
bukan ayahmu


__ADS_3

"Mengapa kakak pergi, mengapa kakak berbohong, hiks."


Ini benar-benar di luar dugaan, Fannya tidak pernah menyangka jika jika pertemuan yang tegang ini akan ada air mata yang mengalir.


Dia tidak kuat dan berjongkok, membujuk adiknya dengan manis.


"Anak baik, menangis lagi dan kamu akan menjadi gadis paling jelek."


"Bohong."


Tiannya berkata dengan sedih, tapi dia masih berusaha menahan tangisnya.


Dia mengisap ingusnya dan tersedak, menegakkan tubuhnya kembali dan memalingkan wajahnya.


"Bukankah kakak sudah pergi, mengapa kakak kembali?"


Gadis manis itu berpura-pura kuat dan sombong, tapi Fannya masih bisa merasakan dengan jelas bahwa anak kecil itu kecewa padanya.


Fannya menggosok kepala hadis itu, menghiburnya.


"ini salah kakak, kakak seharusnya tidak meninggalkan mu."


Gadis kecil itu terus cemberut, tapi di bawah belaian tangan Fannya, dia masih menetaskan air matanya.


"Kemudian, apakah kakak akan kembali?"


Dia bertanya dengan suara pelan, tersentak, "Atau kakak akan pergi lagi?"


Fannya terdiam, bukannya dia tidak tau jawaban apa yang harus dia berikan, tapi dia hanya tidak ingin adiknya menjadi sedih, karena dia jelas tau dia tidak akan kembali lagi ke rumah besar ini sebagai keluarga, paling tidak dia hanya bisa kembali sebagai tamu.


"Hey, jangan sedih meskipun kakak Fannya tidak bisa bersama kita lagi kakak Natia akan selalu bisa bersama denganmu."


Natia memahami pemikiran Fannya yang tidak ingin membuat adiknya sedih, dia sendiri juga tidak berdaya, dia hanya bisa mengalihkan perhatiannya Tianna dan membujuk gadis itu.


Tapi hadis itu cerdas, matanya merah dan dia berkata dengan rasa sakit, "Artinya kakak tidak akan pernah kembali lagi bukan? Tapi mengapa?"


Kali ini Natia terdiam, dia menoleh, menatap Fannya, dan gadis itu hanya tersenyum kecil.


"Karena kita bukan lagi keluarga, maaf."


Tidak ada gunanya menyembunyikan lebih lama lagi, suatu hari, gadis kecil itu akan tau, daripada menyimpan dendam, lebih baik menyelesaikannya sekarang, meskipun menyakitkan.


Dan benar saja, gadis itu langsung terengah-engah.


"Mengapa kita bukan keluarga lagi?"


Dia memarahi dengan sedih, "Jelas kakak yang berkata jika kita akan menjadi keluarga selamanya."


Setelah mengatakan hal itu, dia berbalik dan pergi dengan suara tangis.


"Tiannya!"


Natia sedikit tersentak, dia ingin mengejar adiknya, tapi dia sendiri masih memikirkan adik pertamanya yang menatapnya dengan tenang.


"Ayah ada di ruang baca."


Dia tersedak ketika mengatakan hal itu, matanya sedikit memerah.


Bahkan ketika dia melihat Fannya berusaha tenang, dia masih bisa melihat jari tangan Fannya sedikit bergetar, dan matanya juga sedikit bersinar basah.


Natia tertawa dalam hati, sedih tak terlukiskan.


Dari dulu, keluarga mereka memang rusak, bahkan ketika orang luar menggap mareka keluarga yang sempurna, saling melengkapi dan mendukung, hanya ada kepalsuan.


Hari ini, semua kepalsuan itu akan terbongkar, dan sekarang semuanya hancur.


Hati Natia terasa pahit.


"Pergilah, dia pasti menunggumu. Ada hal penting yang harus dibicarakan."


Kemudian dia terdiam dan berbalik, pergi ke arah adik bungsunya berlari.

__ADS_1


Fannya yang ditinggalkan sendirian terdiam sesaat, dia dengan perlahan melanjutkan perjalanan.


Meskipun banyak hal berubah, dia masih bisa mengingat peta rumah ini dengan samar-samar, butuh sedikit waktu agar bisa sampai di ruang baca milik ayahnya.


Dia terdiam sesaat, mengulurkan tangannya, mengetuk pintu dan diam lagi.


Kemudian sebuah suara terdengar.


"Masuklah."


Baru kemudian Fannya membuka pintu di depannya.


Ruang ini merupakan salah satu ruang yang paling penting di dalam rumah, dari kecil, hanya sedikit orang yang diperbolehkan masuk ke dalam ruangan ini.


Ruang yang selalu tertutup ini, dia berkesempatan lagi untuk masuk dan melihatnya.


"Tuan."


Fannya benar-benar ragu, apakah dia akan memanggil orang itu ayah atau Tuan, tapi pada akhirnya dia hanya memilih yang terakhir karena terasa formal dan lebih baik untuk keadaan sekarang.


Ketika dia memanggil, Adras mengangkat kepalanya dan menatapnya dengan senyuman.


"Sudah lama, aku harap kamu baik-baik saja dengan kehidupan barumu."


Dia kemudian memberikan isyarat kepada Fannya untuk duduk.


Fannya duduk dengan kaku, dia menghelan nafas dan berkata dengan cepat, langsung ke topik utama, dia tidak ingin berlama lama.


"Mengapa tuan memanggil saya?"


Adras tersenyum, bukannya menjawab dia malah berkata dengan bodoh.


"Kamu seperti ibumu."


Ketika Fannya mendengar kata itu, dia membeku, terdiam dan mengepalkan tangannya.


"Apa maksud anda?"


Adras terkekah, seolah sedang mengingat sesuatu.


"Ibumu wanita yang ramah dan baik hati, dia juga sangat penyabar, ini salahku untuk membuatnya menjadi jahat."


Ada senyuman pahit diujung kalimat.


Tubuh Fannya membeku, dia sedikit bernafas berat dan menatap mata Adras dengan linglung, seolah memikirkan sesuatu.


Adras tidak lagi tersenyum, dia mengeluarkan sesuatu dari laci meja dan menyerahkannya kepada Fannya.


"Lihat, kamu mirip dengan ibumu bukan?"


Fannya mengambil foto yang ayahnya berikan, ternyata itu adalah foto ibunya yang masih muda.


Jantung Fannya hampir terhenti, apa yang dikatakan ayahnya benar, dia sangat mirip dengan ibunya ketika masih muda.


Hanya saja ada bagian yang tidak mirip sama sekali, baik ibunya atau ayahnya.


Pada saat itu, dia mendengar suara suram Adras.


"Tapi matamu benar-benar sangat mirip dengan orang itu."


Hah?


Untuk sementara waktu Fannya menjadi bodoh di tempat.


"Ap-"


"Yah, benar kamu bukan anakku."


Seolah mengatakan hal sepele, Adras bahkan hampir tidak mengedipkan matanya ketika kebenaran itu diungkapkan.


Sedangkan Fannya?

__ADS_1


Dia membeku seolah tubuhnya telah tersebar petir, dan kemudian dia menggigil seolah seseorang telah menuangkan air es padanya.


Adras tidak peduli jiga Fannya masih syok dengan kebenaran itu, dia malah menyeringai.


"Itu sebabnya aku tidak pernah memperlakukan kamu sebagai anakku, karena kamu memang bukan anakku."


Dia kemudian menyipitkan matanya, menatap Fannya dengan bahaya, "Kamu hanya anak hasil dari perselingkuhan, aku bodoh untuk mempercayai ibumu waktu itu."


Jangan katakan lagi.


Fannya mengerang di dalam hatinya.


Dia gemetaran seolah tidak bisa menerima kenyataan ini.


"Kamu beruntung karena wajahmu mirip ibumu, jika tidak aku akan menyingkirkan kamu dari lama."


Ada tawa kecil di akhir kalimat.


"Bukankah kamu menerima paket itu? Foto yang rusak itu harusnya menjadi keluarga milikmu yang berbahagia dan pisau itu."


Adres tersenyum ketika dia merendahkan nada suaranya.


"Pisau itu seharusnya memiliki dua darah, tapi kamu beruntung kabur waktu itu dan memilih bunuh diri di tebing, setidaknya sekarang kamu selamat dan masih bisa bernafas."


Aliran darah Fannya seolah membeku, dia menatap seseorang yang dia anggap sebagai ayah dengan ngeri.


"Orang gila!"


Dia tidak bisa menahan kata-kata kotor dari bibirnya.


Adras terkekeh, "Yah begilah."


Dia kemudian menunjuk pintu dengan acuh tak acuh, "Sekarang pergilah, semua yang aku ingin katakan telah kamu dengar."


Tapi Fannya yang terlalu syok tidak bisa merespon untuk sementara waktu, Adres yang melihatnya mengangkat alisnya.


"Oh, aku lupa mengatakannya, apakah kamu tahu alasan mengapa Axel mau menikahimu?"


Bahkan sebelum Fannya tenang berita lain datang.


"Dia ingin membalaskan dendamnya bukan? Kamu hanyalah permainan untuknya, kamu tidak pantas untuknya, untuk apa kamu bertahan? Dan untuk apa dia mempertahankan dirimu?"


Adras mengatakannya dengan wajah bosan, menggelengkan kepalanya.


"Aku yakin karena kamu masih berguna untuknya itu sebabnya dia masih mempertahankan mu, dia bahkan bisa menekan keluarga Clovis sebaik ini, sebagai pengingat baik, ada baiknya untu berhati-hati."


Fannya menggerakkan giginya, jelas dia marah, dia dengan kasar bangun dan menatap orang yang dia anggap ayahnya dengan mata merah.


"Orang gila."


Dia kemudian berbalik dan pergi, sebelum pintu tertutup sepenuhnya, suara Andres terdengar.


"Aku mengatakan yang sebenarnya. Setalah semuanya, hubungan yang mengikat ini, simpul terakhir telah dilepaskan, aku, kamu, kita sekarang bebas."


Fannya menutup pintu dengan bantingan kuat, dia terdiam dan terengah-engah, otaknya sendiri masih kosong dan kacau untuk mengelola semua informasi yang ada.


Apa maksudnya? Dia bukan anak dari ayahnya?


Fannya mundur dengan gemetaran


Masih tidak mempercayai apa yang terjadi.


Hatinya sakit, dan dia ingin melampiaskannya.


Dia bukan anak dari ayahnya...


Dia adalah anak haram....


Fannya bisa merasakan dadanya sakit karena perasaan kacau di hatinya.


Kemudian ketika dia berbalik, dia menatap ke arah koridor yang sunyi di bawah bayangan.

__ADS_1


Fannya tidak tau apakah ini ilusi, dia melihat kakaknya berdiri diam di koridor gelap dengan sorot mata yang aneh.


__ADS_2