Kontrak Cinta Tuan Ceo

Kontrak Cinta Tuan Ceo
suatu rahasia


__ADS_3

Sudah sangat lama sejak Fannya bertemu dengan kakaknya, jadi karena sudah siang hari, Fannya memutuskan untuk pergi ke cafe dan memesan makan siang.


Natia tidak menolak, dia hanya menundukkan kepalanya, dengan ragu mengambil minumannya.


"Kakak, ada apa?" Melihat Natia tidak berbicara, Fannya lebih dulu bertanya.


Natia mengalihkan pandangannya, tapi Fannya bisa melihat bahwa mata kakaknya merah seperti akan menangis.


Fannya akan membujuk kakaknya, ketika kakaknya berbalik lebih cepat dan langsung ke inti permasalahannya.


"Fanny, bisakah kamu meminta kepada Axel untuk menyerahkan saham Clovis yang dia pegang?"


Fannya membeku, terdiam selama beberapa saat sebelum dia berhasil untuk bertanya dengan bodoh.


"Untuk apa?"


Natia terdiam, dia menggigit bibirnya, berbicara dengan nada sesak, "Perusahaan ayah terancam bangkrut, ayah mencoba untuk memperbaikinya tapi gagal karena kurangnya suara dalam kekuasaan."


Natia menatap adiknya dengan mata berkaca-kaca, "Ayah mencoba untuk menandatangani kesepakatan kontrak dengan kolega bisnisnya di luar negri, tapi pemegang saham terbanyak tidak membuka suara yang membuat ayah kesulitan."


Fannya diam, dia tidak tau apapun mengenai keluarga Clovis sejak dia meninggalkan keluarga itu, dia hanya terhubung dengan Natia karena suatu keadaan.


Natia tersenyum pahit, meminum jusnya dalam satu tegukan besar.


"Kamu sudah harus tahu jika aku putus dengan pacarku bukan?"


Fannya melirik Natia dan mengangguk ringan.


"Axel memberitahuku." Dia ragu untuk sesaat, bertanya dengan lembut, "Dikatakan dia telah menipumu yang membuat perusahaan Clovis mengalami krisis."


"Memang."


Natia tidak menghindar, ini adalah kebenarannya, tapi masih ada kebenaran lainnya.


"Tapi, sebenarnya ini semua sudah kami rencanakan."


Kali ini benar-benar kejutan, Fannya membuka mulutnya dan mengerutkan keningnya.


Orang bodoh mana yang ingin menghancurkan perusahaan orang tuanya sendiri kemudian menyesal?


"Jangan salah paham."


Seolah memahami pemikiran Fannya, Natia buru-buru menjelaskan.


"Kami melakukan ini untuk mengalihkan perhatian ayah Theo."


Fannya terdiam, Theo adalah pacar kakaknya, dia tidak mengetahui apapun tentang lelaki itu, dia juga tidak bisa berkomentar, jadi dia hanya bisa mendengarkan.


Natia menggertakkan giginya menambahkan, "Dia berkata jika ayahnya adalah orang yang cukup kejam dan memiliki koneksi dunia bawah, jadi untuk mengalihkan perhatian ayahnya, kami ingin berpura-pura putus dan dia berkata jika dia ingin berpura-pura membuat perusahaan ayahku bangkrut."


Mengingat semua rencana mereka, dia mengigit bibirnya, penuh dengan emosi.


"Dia berkata dia ingin berpura-pura menipu perusahaan ayahku dan membuatnya bangkrut, tapi sebenarnya semua dana ayah akan disimpan di suatu tempat dan akan di kembalikan secara bertahap, tapi kami tidak menyangka jika dana itu akan dibekukan oleh ayah Theo!"

__ADS_1


Inilah kebenarannya, semuanya berjalan sesuai rencana, mereka menjaga jarak dan bahkan tidak terhubung, untuk keamanan, mereka juga menggunakan rekening milik Natia untuk menyimpan uangnya, tapi ketika dia akan mengirim uangnya, uang itu telah di bekukan.


Dia tidak tau kapan uang itu telah berpindah nama kepada ayah Theo!


"Jadi semua ini hanyalah rencana?"


Natia mengangguk, "Ya."


Fannya terdiam, dia mengerutkan keningnya, dia tidak tau apakah Theo yang tertipu atau kakaknya sendiri yang tertipu.


Setelah memikirkannya, dia menyatakan kebingungan awalanya.


"Bukankah Theo hanyalah orang biasa?"


Jika tidak mengapa Natia bahkan kabur untuk bisa bersama Theo? Apakah Theo menipunya dari awal?


Seolah benar, Natia mengalihkan perhatiannya, berkata dengan suara semut.


"Dia baru mengatakannya ketika aku kabur dari rumah."


Jadi benar.


Fannya menggelangkan kepalanya, "Bagaimana bisa rekening itu di bekukan?"


"Aku tidak tau, Theo berkata seperti ada kesalahan dengan perusahaan luar negri yang telah kami sepakati untuk kerjasama, dia berkata sepertinya itu adalah bawahan ayahnya."


Natia menutup matanya dengan sedih, "Untuk menutupi kerugian, Theo talah mengirim banyak suntikan dana, tapi gagal dan dia sendiri sekarang harus berurusan dengan ayahnya. Jadi Fannya, bisakah kamu membujuk Axel untuk menjual saham yang dia miliki?"


Bukannya Fannya tidak ingin membantu, hanya saja, "Semua saham di pegang olah Axel, hubungan kami juga tidak terlalu dekat."


Terlebih lagi, dia hampir tidak memiliki kepentingan apapun dengan keluarga itu lagi. Hanya saja dia dan kakaknya masih berhubungan dengan baik.


Dulu ketika dia akan pergi dan mencoba untuk memulai hidup baru, kakaknya membantu dia untuk menyembunyikan identitasnya dan membantunya membuat identitas baru, sampai sekarang, dia belum diketahui keberadaannya oleh awak media karena kakaknya.


Sampai pernikahan itu terjadi, dia kembali ke depan publik.


Di bisa melakukan apapun untuk kakaknya, karena dia juga menyayangi dan menghargai kakaknya, tapi kali ini, dia benar-benar tidak bisa.


Tapi jika sesuatu terjadi, dia siap membantu kakaknya.


Dan memang dari dulu mereka juga sudah saling dekat dan mengenal.


Hanya untuk kakaknya dia masih mau memandang keluarga itu dengan baik.


"Jadi kamu benar-benar tidak bisa membujuknya?"


Natia mendesah kecewa, pipinya yang putih seperti salju sedikit di warnai merah muda yang manis, terlihat sedih, tapi dia mencoba untuk tidak terlalu kecewa.


"Kalau begitu tidak apa-apa!"


Inilah sikap kakaknya yang Fannya suka, kakaknya tidak akan memaksa jika itu menyulitkan orang yang dia minta tolong.


Natia tersenyum menyeringai, memperlihatkan lesung pipi kecilnya, "Sebaiknya kita makan, setelah sekian lama kita bisa bertemu lagi, tidak baik terus bersedih!"

__ADS_1


Dia dengan cepat mengambil tisu dan menyapu air matanya, mencoba menahan kesedihannya ketika dia mengambil sendok dan mulai makan dengan lahap.


Fannya melihat ke arah Natia sebelum ke arah makanannya, melakukannya beberapa kali sebelum meminum jusnya.


"Maaf, tapi aku tidak bisa membantu kakak, tapi mungkin ada hal lain yang bisa aku bantu?"


Fannya tidak nyaman menolak kakaknya setalah kakaknya membantu dia selama ini, jadi dia masih ingin mencoba membantu kakaknya dalam hal lain.


Selama dia bisa, dia akan membantu kakaknya.


Awalanya Natia akan menolak, tapi dia kemudian teringat sesuatu, "Kalau begitu bisakah kamu menemui ayah?"


"Ayah?"


Natia mengangguk, melihat kebingungan Fannya, dia berkata.


"Ayah berkata dia ingin bertemu denganmu."


Fannya membeku, tidak menyangka jika Natia akan meminta hal ini.


"Aku..."


Dia tidak tau apakah dia harus menolak atau menerimanya, pasalnya, dia sudah sangat amat lama tidak bertemu dengan ayahnya, dia tidak yakin apa yang akan terjadi jika dia bertemu dengan orang itu lagi.


Pasti akan sangat canggung, terutama hubungan mereka memang sudah canggung dari awal.


"Ayah berkata dia juga sudah mengirimkan kamu paket undangan, tapi kamu tidak menanggapinya."


Paket itu benar-benar dari ayah, bahkan ketika dia sudah mengetahuinya, dia masih berharap itu dari orang lain.


Fannya terdiam, waktu itu karena takut dia tidak mau menanggapi paket itu, tapi dia tidak menyala jika ayahnya bahkan bisa menghubungi kakak untuk membujuknya.


Apakah ini ancaman tersirat lainnya?


Apakah ayahnya akan melakukan sesuatu kepada kakaknya jika dia tidak mau datang?


"Aku akan pergi nanti." Pada akhirnya dia hanya menyetujuinya.


Tapi mungkin Natia tidak mengira dia akan langsung setuju, dengan canggung memberikan semangat.


"Jangan gugup! Kamu bisa berbicara seolah kalian adalah teman!"


Seolah dia yang akan bertemu dengan ayah, dia tampak sedikit gugup dan cemas.


Fannya tertawa.


Sifatnya dengan kakaknya sangat berbanding terbalik, kakaknya memiliki sikap yang sangat lembut dan mudah hancur seperti gelas kaca, atau mungkin lebih rapuh lagi?


Mungkin karena dia telah dimanjakan sejak kecil, dia tumbuh seperti ini.


"Tidak masalah."


Meskipun sudah lama dan juga memang dulu dia sangat jarang bisa bertemu dengan ayahnya, dia sudah terbiasa, tidak masalah sama sekali.

__ADS_1


Selain itu, dia juga sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan ayahnya.


Dia selalu merasa jika ayahnya menyimpan suatu rahasia darinya.


__ADS_2