Kontrak Cinta Tuan Ceo

Kontrak Cinta Tuan Ceo
semuanya memiliki alasan


__ADS_3

Hari ini bibi pembantu liburan, Fannya memasak makanannya sendiri.


Dia ragu-ragu untuk sesaat, apakah dia juga harus membuatkan sarapan pagi untuk Axel?


Lelaki itu berkata jika dia akan pulang secepatnya, tapi dia tidak pulang, mungkin pagi ini dia akan bergegas pulang dan merasa lapar?


Fannya memikirkannya beberapa kali, sebelum akhirnya menyerah dan memilih untuk membuatkan Axel sarapan.


Berpikir dengan manis jika Axel akan pulang cepat dan memakan masakannya dengan senyuman.


Khayalan yang indah memang, tapi kenyataan itu kejam.


Ketika Fannya meletakan sendok makannya setelah sarapan, Axel masih belum pulang.


Fannya mengangkat kepalanya menatap jam dinding dengan bingung.


"Kenapa dia tidak pulang?"


Dia bertanya-tanya sambil bangkit dan membereskan sisa makanannya, dia menyimpan makanan yang tidak dia makan ke dalam kulkas dan melirik pintu keluar.


Dia tidak memiliki kegiatan apapun yang benar-benar membuat dia bosan, setelah memikirkannya, dia keluar dan pergi ke rumah pohonnya.


Fannya duduk di sofa kecil, ketika sudut matanya melihat sebuah kotak, dia kemudian ingat jika dia dulu ingin membuat gelang kerajinan untuk Axel yang belum selesai karena bahannya kurang.


Setelah memikirkannya beberapa saat, dia memutuskan untuk melanjutkannya, walaupun bahannya kurang, dia bisa berlatih dulu.


Ketika ujung jarinya berhasil menggapai kotak di atas lemari, kakinya tergelincir karena kram otot, hampir seketika dia merosot jatuh ke bawah.


"Hais."


Fannya meringis pelan dan menyentuh pergelangan kakinya, dia terdiam untuk sementara waktu, memijat kakinya dan bangun perlahan, merapikan kotak kerajinan yang terhambur dan mengumpulkannya kembali menjadi satu.


Fannya menatap kotak kerajinan, sepertinya ada yang hilang, dia mengulurkan tangannya dan menyentuh bawah kasur singgel satu-satunya di ruangan mencari dengan penuh perhatian.


Dia tidak mendapatkan benda yang dia cari, tapi dia mendapatkan sebuah kotak, Fannya memperhatikan kotak itu sebentar dan membukanya perlahan, sebelum dia menjatuhkan kotak itu dengan ngeri.


Ini adalah kotak paket dari ayahnya, dia lupa jika dia menyembunyikannya dia bawah kasur rumah pohon.


Fannya sedikit gemetar takut.


Baru setelah dirinya tenang, dia mengambil pisau tua yang berkarat itu dengan noda kering tidak jelas, tapi Fannya tau betul jika noda kering itu merupakan noda dari darah beku yang telah terdiam sangat lama.

__ADS_1


Pisau ini adalah pisau yang membunuh ibunya di depan matanya sendiri.


Dia tau jika ayahnya tidak menyukai dia dan ibunya, tapi dia tetap tidak menyangka jika ayahnya Bahakan berani membunuh ibunya.


Tapi mungkin, untuk semua kejadian itu, pasti ada alasannya, hanya saja Fannya tidak tau banyak.


Dia hanya tau sedikit, dari cerita ibunya, ayahnya ataupun dari orang-orang, dengan sudut pandang yang berbeda dan versi yang berbeda juga.


Orang-orang berkata jika ibunya menikah untuk uang, dan ayahnya berkata bahwa ibunya adalah wanita ular, dan ibunya sendiri berkata bahwa ini semua hanyalah kejamnya dunia yang harus dia hadapi.


Fannya tidak tau mana yang benar dari semua itu, semuanya kabur dan penuh kebohongan.


Fannya menyentuh figura foto, menatapnya dengan bingung untuk sementara waktu dan membalik figura itu, dengan mengigit bibirnya kecil, dia membongkar figur itu berharap ada sesuatu yang istimewa ataupun spesial.


Ketika tutup belakang figura terbuka, dia tidak menemukan apapun, seperti ketika dia pertama kali mendapatkan foto itu.


Awalanya Fannya telah membongkar figura itu tapi dia tidak menemukan apapun, hanya saja dia merasa jika ada sesuatu yang penting tersembunyi di dalam figuran itu, makanya dia masih ingin membongkarnya, meskipun hasilnya tetap sama.


Pada akhirnya dia dengan kecewa menatap fotonya saja, tapi dia sangat tidak nyaman melihat bagian foto yang robek itu.


Tidak ada yang spesial, jadi dia mengembalikan figura itu kedalam kotak dan menatap pisau satu-satunya yang tersisa.


Kesedihan melintas sesaat di matanya, tapi dia dengan cepat bisa menenangkan dirinya.


Tepat di ujung gagang, dia menamukan sebuah tulisan kecil.


Dengan jari-jari manisnya, dia mencoba untuk membersihkan kotoran yang menutupi tulisan itu dengan hati-hati.


Kemudian, dia membaca tulisan itu secara perlahan, dengan aneh dan heran.


Bagaiman tidak, pisau itu bertuliskan nama ibunya.


Pada saat itu, terdengar suara sebuah kendaraan dari jauh.


Fannya terkejut, dia berpikir mungkin Axel sudah pulang, jadi dia meletakkan semuanya dengan cepat dan mendorongnya ke bawah ranjang secara sembarangan.


Ketika dia turun dari rumah pohon, dari kejauhan, dia bisa melihat wajah Axel yang pucat dan suram, sepertinya lelaki itu dalam mood buruk.


"Axel!"


Fannya berlari dan menyapa Axel dengan senyuman tapi lelaki itu hanya meliriknya dan melanjutkan perjalanannya ke dalam rumah.

__ADS_1


Fannya membeku sesaat, tapi dia dengan cepat tenang dan mengikuti dari belakang, dia berpikir mungkin Axel kelelahan jadi dia tidak sedang ingin berbicara untuk sementara waktu.


Dia berlari dan telah mengikuti di belakang dengan tenang, ketika lelaki di depannya mendadak berhenti di rumah tamu, Fannya yang mengikuti dengan semangat di belakang tidak sempat berhenti dan langsung menabrak Axel di belakang.


"Apa yang kamu lakukan."


Nada bicara Axel tidak seperti biasanya, itu terdengar kasar dan sedikit tidak sabar.


Tapi Fannya tidak menamukan masalah itu, dia menatap Axel dengan malu berkata.


"Apakah kamu ingin makan, aku telah menyiapkan makanan untukmu tadi."


Axel tidak langsung menjawab, kepalanya sakit dan dia pusing, sedang dalam mood yang buruk.


"Simpan itu, aku tidak butuh."


Dia berkata dengan dingin dan langsung pergi.


Fannya menatap Axel dengan bingung, ini pertama kalinya Axel seperti kehilangan kesabaran dengan dirinya setalah sekian lama mereka bersama.


Tapi dia bisa melihat wajah lelah Axel dan mata panda nya yang tercetak jelas. Hampir bisa dipastikan jika lelaki itu habis bergadang semalaman.


Dia ragu ragu dan masih ingin bertanya.


"Ada apa?"


Axel menggeleng, "Tidak apa-apa, ini bukan urusanmu."


Axel pergi ke kamar di lantai atas, dia dengan sedikit gemetaran memegang gagang pintu kamar, membukanya dan masuk, tapi sebelum dia menutup pintunya, dia menatap Fannya yang mengikuti, dengan tenang berkata.


"Jangan menggangguku untuk sementara waktu."


Karena moodnya buruk, dia bisa kehilangan kendali kapan saja, daripada membuat ribut dan masalah, lebih baik dia menyendiri dulu dan menenangkan pikirannya dengan istirahat.


Kemudian pintu tertutup


Fannya terdiam di depan pintu dengan linglung dan bodoh.


Dia menatap pintu untuk sementara waktu dan terdiam, bertanya-tanya apa yang terjadi dengan lelaki itu sehingga membuatnya dalam keadaan buruk seperti itu?


Ada rasa cemas merayap di hari Fannya, dia dengan cepat menekannya dan mengabaikannya, berpikir Axel benar-benar kelelahan dan butuh waktu untuk istirahat.

__ADS_1


Jadi dia berbalik dan turun ke bawah lagi, dia pergi ke ruangan dapur dan berniat untuk menyiapkan ulang makanan untuk axel.


Ketika makanan dipanaskan, dia menatap jandela di luar, ternyata hujan turun mendadak, jelas tadi pagi sangat cerah dan bersinar, tapi sekarang gelap dan air turun dengan cukup deras.


__ADS_2