
Pada pagi hari ke empat, kapal mulai menepi ke pelabuhan terdekat, para sosial kalangan atas di kapal mulai berkumpul di dekat pintu masuk utama kapal untuk turun bersama sambil mengobrol.
Axel berjalan dengan menggandeng Fannya, terdengar suara kamera reporter di mana-mana serta bisikan orang-orang.
Sepanjang jalan turun di tangga, Fannya terus tersenyum, mengabaikan para reporter yang mengerumuni dia dan Axel, yang menanyakan banyak hal termasuk kejadian 2 hari lalu.
Untuk kejadian sebelumnya, Axel belum memberikan dia penjelasan pasti, dia hanya berkata jika itu merupakan serangan musuhnya, jadi dia meminta Fannya untuk lebih berhati-hati.
Setalah hari itu dia sangat berhati-hati, ketika orang yang tidak dia kenal menyapa, dia akan menyapa balik dengan sopan dan berbicara, tapi menjaga jarak sebaik mungkin, dia tidak ingin merasakan pengalaman membeku part 2.
Ketika mereka sampai di pelabuhan, semakin banyak reporter, untungnya Axel telah menyewa beberapa pengawal untuk mengawal mereka.
Ketika mereka berjalan, sudut matanya menangkap sosok seseorang, itu Tuan Raffan. Raffan juga menoleh ke arahnya seolah merasakan tatapannya.
Ketika mereka melakukan kontak mata, Raffan sedikit berkedip, dia tersenyum lembut dan membuat isyarat diam sambil tersenyum dengan mata menyipit.
'Ada yang aneh.'
Ketika dia pertama kali melihat Raffan, meskipun dia mengubah banyak temperamennya, dia masih memiliki tempramen awal dimana dia sangat gegabah, dan memiliki senyum mendominasinya.
Tapi kali ini dia terlalu tenang dan terkendali, aura yang dia pancarkan juga berbeda, sangat aneh.
Fannya dengan buru-buru menoleh ke samping, memutuskan kontak mata mereka. Ketika Raffan melihat pergerakan itu dia tersenyum semakin dalam.
Axel merasakan pergerakan Fannya yang sedikit berbeda, dia mengelus pucuk kepala gadis itu sambil hertanya, "Ada apa?"
Fannya menggelengkan kepalanya, menyandarkan kepalanya ke dada bidang Axel dan memgeluh, "aku lelah, kapan kita akan pulang?"
Manja dan manis, Axel tak berdaya, "Kami akan pulang secepatnya."
Ketika mereka sampai ke pekarangan rumah, Fannya di kejutkan dengan sebuah pohon besar di depan rumah, yang lebih mengejutkan, itu adalah rumah pohon!
Waa~
Fannya membuka matanya lebar-lebar masih tidak percaya dengan penglihatannya.
Ketika mobil berhenti, dia tidak sabar untuk berlari pergi melihat rumah pohon besar itu.
"Bagaimana mungkin!"
Dia sangat takjub, dia ingat dengan jelas tidak ada pohon di pekarangan rumah mereka, tapi sekarang ada?
Dia berbalik dan melihat Axel dengan mata cerah, "Kamu membuatnya untukku?"
Axel mengangguk, dia berjalan ke samping gadis itu dan mengeluarkan sebuah kalung dengan kunci.
__ADS_1
"Untukmu sebagai hadiah."
Fannya mengambil kalung itu dengan bahagia, "Bisakah aku masuk?"
"Tentu saja."
Dia bergegas naik menggunakan tangga di samping pohon.
Ketika pintu rumah pohon terbuka, Fannya tercengang, ini melebihi harapannya.
Ruang ini sederhana dengan pola kayu yang rapi. Perabotan yang ada di dalam adalah sofa kecil dan 2 bangku mini, kemudian ada rak buku, kulkas kecil serta tv dan konsol bermain game. Ada juga meja bundar dan bahkan tempat tidur single!
Sangat indah.
Fannya sedikit terharu, dia bergegas turun dan memeluk Axel dengan nafas terengah-engah.
"Terimakasih." Dia dengan tulus berkata.
Axel mengangguk, ini bukan masalah besar, rumah pohon ini adalah kompensasinya untuk Fannya.
Dia memanggil bawahannya untuk mencabut pohon apel yang dia pilih sendiri di salah satu kebun rekan bisnisnya dan menanamnya di pekarangan rumah yang masih kosong. Dia bahkan menyewa banyak teknik sipil dan arsitektur ternama untuk membangun rumah pohon ini dalam waktu 3 hari, dan itu berhasil.
Melihat gadis itu cukup menyukai rumah pohonnya, dia cukup puas, tanpa sadar dia tersenyum.
"Masuk dulu dan makan, aku sudah meminta bibi membuatkan kita makan siang, setelah selesai kamu bisa pergi dan bermain di rumah pohon sepuas mu."
_
Sore hari, Axel harus pergi ke kantor, karena dia sudah tiga hari tidak masuk ke dalam kantor, ada banyak berkas yang harus dia urus terlebih dahulu.
"Jangan nakal si rumah, jadilah patuh"
Axel menggosok kepala Fannya sesaat, berbalik dan pergi ke mobilnya, hingga mobil Axel menghilang, barulah Fannya berbalik dan menatap rumah pohon dengan pandangan terpesona.
Dia berkata dia tidak menginginkan rumah pohon lagi karena dia sudah besar. Dia mengatakan yang sebenarnya, tapi tidak menyangkan jika Axel tetap tampa sepengetahuannya membuat rumah pohon.
Dia bukan hanya menyabut pohon apel yang asri dan indah secara langsung dan menanamnya di depan rumah, dia bahkan membangun rumah pohon dalam tiga hari, hanya untuknya.
Seluruh perut Fannya seperti ada ribuan kupu-kupu terbang, sangat bahagia!
Dia dengan senang hati berlari ke rumah pohonnya, membuka pintu dan duduk di sofa dengan nyaman. Dia hampir tertidur ketika suara bibi pelayan memanggil dia dari bawah.
"Ada apa?"
Fannya enggan untuk turun, jadi dia melihat ke bawah, di sana bibi pembantu mengangkat sebuah kotak polos ke atas.
__ADS_1
"Ada paket untukmu!"
Fannya tidak pernah memesan apapun, darimana paket itu? Dari Axel? Dia tidak tau, jadi dia dengan cepat turun ke bawah lagi.
"Siapa yang mengirimnya bibi?"
Fannya mengambil alih paket dan bertanya dengan penasaran, kemudian membawa paket itu ke teras rumah, duduk dan mulai membukanya.
Bibi mengikuti dan melihat dari samping, "Saya tidak tau Nona, tidak ada nama pengirim."
"Tampan nama pengirim?" Fannya bergumam, tidak tau mengapa dia merasa ini bukan hal yang bagus.
Ketika lapisan pertama paket terbuka, di atas kotak terdapat sebuah surat yang ditulis dengan tulisan tangan. Fannya mengambil dan membaca tulisan itu.
"Pulanglah kembali ke keluargamu, ada hal penting yang harus kamu ketahui."
Tubuh Fannya membeku, dia secara refleks membalik surat itu, dengan tajam menatap paket. Kali ini dia bahkan dengan lebih buru-buru dan kejam membuka paket kotak itu.
Ketika kotak sesungguhnya terlihat, dia langsung merobeknya memperlihatkan isinya. Ada sebuah figura terbalik dan lebih parah, ada sebuah pisau dengan darah kering.
Pisau itu, dia tidak akan pernah lupa. Di tegah hujan deras, dia ingat pisau itu mengenai jantung ibunya secara langsung, membunuh ibunya di tempat.
Wajah Fannya berubah pucat, dia dengan mata gemetaran takut dan mundur sedikit.
Bibi pelayan sudah memperhatikan dari tadi, dia juga melihat sebuah pisau berdarah itu di dalam kotak, menutup mulutnya dengan tidak percaya.
"Nona, apa ini!"
Seruan bibi pelayan membuat Fannya kembali tersadar. Dia menutup kotak itu dengan wajah masih sedikit takut, "Bibi, jangan katakan pada siapapun!"
Fannya menutup matanya menggertakkan giginya, sebelum dengan paksa menguatkan dirinya untuk kembali membuka kotak.
"Bahkan kepada Axel, jangan katakan!" Dia membalik foto figuran itu, menatap ke arah gambar di dalamnya, "Hanya kita berdua yang bisa tau hal ini."
Ketika dia melihat foto, dia membeku, ini foto lama dia dengan ibunya.
Gambar di dalam figuran tidak lengkap, foto terpotong dengan hanya ada gambar ibunya disamping bersama dia yang masih kecil, mungkin baru berumur 1 atau 2 tahun.
Ibunya duduk di sebuah sofa, dengan dia duduk dipangkuan ibunya, bermain dengan jari-jari ibunya.
Ada robekan besar di samping ibunya, seharusnya ada orang lain yang berfoto bersama ibunya di samping, ada juga tangan seorang pria bersandar malas dibelakang leher ibunya, dengan cincin indah besar di jari jempolnya.
Apa? Apa maksud dari gambar ini? Tidak! Apa maksud semua ini?
"Bibi, pokoknya jangan katakan kepada siapapun, aku akan mengurusnya."
__ADS_1
Dia menggertakkan giginya dan berlari ke arah rumah pohon, menutup pintu dan tirai, dia menyalakan lampu, menganalisis seluruh kotak paket itu. Pada akhirnya dia mengambil kesimpulan.
Ayahnya mengancam dia untuk kembali!