Kontrak Cinta Tuan Ceo

Kontrak Cinta Tuan Ceo
Mabuk


__ADS_3

Fannya menyalakan lampu rumah, berjalan pergi ke kamar mandi kemudian dia mandi sebentar sebelum berjalan ke tempat tidur, duduk dan melamun. Tidak tau berapa lama dan berapa banyak lamunan yang dia pikirkan, dia terdiam.


Dia hanya berpikir, mengapa semakin ke sini semakin tidak menantu. Dia pikir ini hanya akan menjadi kontrak kerjasama untuk balas dendam biasa, tapi dia merasa itu tidak kan semudah yang dia bayangkan.


Buktinya, hari ini, jelas Raffan tidak memiliki kepentingan untuk membeli saham keluarga Clovis, tapi dia membelinya, yang membuat Axel kehilangan kesempatan untuk menambah nilai sahamnya.


Axel sudah menyiapkan banyak anggaran dana untuk lelang ini, tapi dia masih gagal, jelas anggaran dana Raffan untuk lelang lebih besar dari Axel.


Dia tidak tau apa yang Axel lakukan sekarang, tapi dia hanya merasa tidak nyaman untuk laki-laki itu, jadi dia berniat untuk menunggunya saja terlebih dahulu.


Semakin banyak dia berpikir, dia sedikit merasa ngantuk, dia tidak tau kapan, dia tertidur sedikit, tapi dia tidak benar-benar tidur, ketika ponselnya berdering.


Dia dengan mata mengantuk dan linglung mengangkat telpon.


Kemudian suara berat dan basah terdengar, seperti nafas lelah dan mabuk seseorang, sangat seksi dan panas. Suara ribut yang memusingkan juga terdengar samar-samar.


Hampir dalam sekejap Fannya mengambil nyawanya yang melayang, duduk tegak dan melihat siapa yang menelpon. Ini Axel.


"Pram."


Tapi pria itu malah memanggil nama sekretarisnya, jelas dia salah nomor.


Fannya menyentuh dadanya, bersikap tenang dan menyapa.


"Axel ada apa?"


Dia pikir Axel akan mengatakan maaf karena salah menghubungi nomor ketika mendengar suaranya, tapi dia tidak menyangka jika Axel tetap melanjutkan berbicara.


"Jemput aku, aku mabuk."


Baru saat itu Fannya menyadari jika suara berisik di latar belakang Axel sepertinya mirip suara musik dan teriakan orang-orang.


Apakah Axel mabuk di sebuah club?


"Dimana kamu?" Fannya bertanya dengan cemas, takut sesuatu terjadi yang mungkin akan mempengaruhi Axel.


Ada suara erangan samar dan panas, tampa sadar pipi Fannya juga mulai panas.


Tidak tau apa yang Axel lakukan, tapi ada suara kaca pecah, sebelum suara Axel terdengar "Di tempat biasa," kemudian telpon tertutup.


Fannya terdiam, dia tidak tau dimana Axel sekarang, tapi dia ingat jika Axel sepertinya salah memanggilnya, seharunya dia memanggil sekretarisnya.


Dia dengan cepat membuka nomor kontaknya dan memanggil Pram. Dia tidak mengatakan apapun dengan jelas dan hanya meminta lelaki itu untuk menjemputnya sesegera mungkin.


Fannya tidak mengganti baju malamnya, tapi dia langsung menggunakan jaket panjang yang menutupi tubuhnya, menunggu Pram langsung di depan gerbang.

__ADS_1


Ketika Pram sampai, dia dengan cepat masuk ke dalam mobil, "Pergi ke club yang biasanya di datangi Axel."


Pram untuk sementara waktu terdiam, mungkin dia sedikit kaget ketika Fannya mengatakan hal itu, tapi untungnya dia bisa mengendalikan dirinya dengan cepat. Ketika mobil berjalan, dia bertanya, "Apakah Tuan mabuk?"


Fannya mengangguk kepalanya, kemudian mobil itu hening.


Pram menyetir, cukup lama sebelum Fannya melihat sebuah gedung club yang cukup besar dan mewah.


Pram turun lebih dulu, memimpin Fannya untuk pergi ke depan pintu. Penjaga mungkin mengenal pram, jadi mereka tidak menghentikan langkah Fannya di belakang pram untuk masuk ke dalam.


Ketika Fannya masuk, dia sudah mulai merasakan sedikit mual, walaupun lantai pertama hanyalah tempat penerimaan, tapi bau alkohol bisa tercium. Hampir seketika wajah Fannya sedikit merah, dia lemah dengan alkohol.


Pram bahkan tidak bertanya kepada staf, dia dengan lancar berjalan ke arah lift, naik ke lantai 4 dan bergegas ke sebuah ruangan.


Fannya sedikit kelelahan untuk mengikuti langkah kaki lebar Pram, terutama ketika tingginya hanyalah 160, dia sedikit tertinggal di belakang.


Setelah beberapa saat, Pram berhenti di sebuah pintu dan mengetuknya dengan ringan. Tapi tidak ada jawaban, Fannya jadi sedikit cemas.


"Ada apa?"


Pram menggelengkan kepalanya, mengeluarkan ponselnya dan memindai sesuatu seperti kode QR di gagang pintu.


Fannya mengintip sedikit dengan penasaran, kemudian dengan klik, pintu terbuka.


Secara refleks Fannya mengangkat kepalanya menatap ke dalam, dan langsung dibuat kaget. Mulutnya sedikit terbuka, dan matanya melebar, menatap Axel yang hampir tidak menggunakan apapun dengan seorang wanita cantik mengekangnya tepat di depan pintu.


Fannya tersulut amarah, dia langsung bergegas masuk dan mendorong wanita itu, mungkin karena mabuk wanita itu tidak berdaya dan terdampar begitu saja di samping Axel, bergumam sesaat sebelum tertidur.


Ketika Fannya mendekati Axel, dia bisa melihat mata laki-laki itu menyipit tajam, wajahnya memerah dia teregah-egah, bahkan sebelum Fannya sempat untuk bertanya, dia mengeluarkan tangannya dan langsung menarik Fannya ke dalam pelukannya. Bukan hanya itu, dia juga lengsung menjambak rambut Fannya dan memaksanya untuk berciuman.


Mata Fannya melebar kaget, untuk sementara waktu dia membeku, sampai tangan Axel mulai meraba-raba tubuhnya, dia baru tersadar. Kemudian tampa sadar dia langsung memukul wajah Axel.


Pukulannya cukup keras, membuat Axel melepaskan ciuman mereka berdua dan melihat ke samping, terdiam untuk sesaat sebelum melepaskannya Fannya dan bangun perlahan.


Dia terlihat linglung dan bingung.


Fannya sendiri juga kaget dengan pukulannya, terdiam membeku sampai Axel bersuara.


"Apa yang...?" Axel bergumam sambil teregah-egah, membuka matanya yang merah dan kabur menatap Fannya sebaik mungkin untuk mengenalinya.


Dia bahkan kembali berjongkok dan memegang wajah Fannya, menatapnya dari jarak yang sangat dekat.


"Mengapa kamu di sini?" Dia bergumam dengan gemetaran, melepaskan tangannya yang memegang Fannya


Dia bergumam dengan nada linglung yang aneh, "Dimana Pram?"

__ADS_1


"Tuan, saya di sini."


Pram melangkah maju setalah kejutan sesaat, membantu Tuannya bangun dan menggunakan pakaian dengan benar.


Ketika Axel bangun Pram bertanya dengan ragu, "Tuan apakah anda demam?"


Bukan hanya nafas Axel yang cepat, tapi tubuhnya juga panas dan dia berkeringat deras, tapi laki-laki itu tetap tutup mulut, tidak mengatakan apapun.


"Bawa aku pulang." Dia hanya mengatakan kalimat itu dengan tidak jelas.


Pram hanya berpikir jika Tuannya sedang mabuk berat, lagi pula dia adalah sekretaris dan bukan dokter, dia tidak bisa mendiagnosis apa yang terjadi dengan Tuannya, dengan memapah Axel, dia berjalan ke luar, memberikan isyarat agar Fannya mengikuti di belakang.


Fannya mengikuti di belakang seperti anak ayam yang tersesat, masih gemetar karena kaget, masih menolak kenyataan bahwa dia memukul Axel dengan begitu saja.


Ketika dia akan berbelok di sebuah sudut ruangan, dia berbalik dan menatap koridor di belakangnya, tidak tau mengapa, sepertinya dia melihat sesuatu bergerak dari sudut matanya tadi.


Tapi dia tidak bisa memperhatikan dengan jelas, dia hanya menganggap itu halusinasi dan berbalik mengikuti Pram dengan cepat.


Tapi dia tidak memperhatikan jika di sudut pintu kamar Axel yang sedikit terbuka, sebuah pakaian terlihat mencuat dari pintu. Dan orang yang bersandar di pintu menutup mulutnya erat-erat, tidak berani mengeluarkan suara apapun.


Ketika dia yakin tidak ada siapapun lagi, dia dengan perlahan menatap koridor yang kosong, sebelum menyentuh ujung dadanya dan berlari keluar secepat mungkin dan sepekan mungkin.


Dia tidak menggunakan lift karena lift telah digunakan oleh Fannya, tapi dia menggunakan tangga turun yang cukup panjang dan jauh.


Ketika dia sampai di lantai 3, dia keluar dengan teregah-egah, ketika dia akan pergi, sudut matanya melihat baju seseorang.


"Nona Natia, sangat kebetulan. Apa yang kamu lakukan di sini?"


Seseorang menyapa, orang itu, Natia berbalik dengan sedikit ketakutan dan terkejut. Dia memgigigit bibirnya dan mencoba menenangkan dirinya.


"Nona Alya, apa yang kamu lakukan di sini juga?"


Orang yang menyapa adalah Alya, dia memiringkan kepalanya dan menatap Natia dengan heran


"Ada klien yang memintaku untuk datang ke sini, Nona sendiri? Apa yang Nona lakukan? Nona terlihat seperti seseorang yang telah melakukan kejahatan, mengapa sangat gugup?"


Kata-kata itu seolah mengusik ketenangan Natia, dia seperti kucing yang ekornya terinjak, berkata dengan keras, "Ada, ada, ada pekerjaan di sini!"


Dia mengalihkan pandangannya, merasa bersalah, "Orang itu mungkin menungguku! Aku, aku sibuk, aku akan pergi!"


Bahkan tanpa menoleh lagi ke belakang, dia berbalik dan pergi, berlari seolah dia melarikan diri.


Alya terdiam di tempat, tapi dalam beberapa menit, langkah kaki terdengar di belakangnya. Bahkan tanpa menoleh, Alya tau siapa itu, dia tersenyum dengan malu-malu dan menunduk.


Orang itu tidak keberatan, dia memeluk Alya dari belakang dan meniup telinga gadis itu.

__ADS_1


"Seperti ini akan sulit." Bisik orang itu.


Alya terkekeh dan menyentuh lengan kekar orang di belakangnya, "Ini juga salahmu.". Dia menghembuskan nafas berat dan memberikan isyarat untuk melepaskan sebelum berbalik dan pergi.


__ADS_2