Kontrak Cinta Tuan Ceo

Kontrak Cinta Tuan Ceo
tangisan yang manis


__ADS_3

Di tengah jalan kota yang ramai, Axel meringkuk di kursi belakang mobil, mendekatkan badannya ke arah Fannya dan sekali-sekali menggosokkan dirinya sendiri ke arah gadis itu.


Fannya yang di gosok memiliki wajah merah, tidak mengatakan apapun tapi gerakan tubuhnya menyatakan ketidaknyamanannya.


Pram telah memperhatikan, bertanya dengan ragu, "Tuan haruskan kita ke rumah sakit?"


Axel membuka matanya dengan susah payah, melihat ke arah belakang kursi orang dan bergumam dengan suara rendah, "Tidak usah."


Tidak peduli sebanyak apapun Fannya dan Pram membujuk Axel untuk pergi ke ruang sakit, dia akan menolak dan hanya berkata untuk membawanya pulang.


Ketika mereka sampai di rumah Axel, Pram berniat untuk menginap dan merawat Axel, takut sesuatu terjadi, tapi Axel dengan ganas mengusirnya.


Fannya sendiri yang hanya tinggal berduaan dengan Axel sangat gugup dan ragu, tidak tau harus melakukan apa sekarang.


Axel tidak berbicara, dia dengan terhuyung-huyung berjalan pergi ke arah kamar mandi, mungkin dia akan mandi dengan air dingin untuk menjernihkan pikirannya?


Dengan sabar Fannya menunggu, sebelum itu dia juga telah membuat sup anti mabuk, berniat untuk mengurangi rasa mabuk Axel.


Tapi bahkan ketika waktu telah berlalu dengan cepat, Axel masih belum keluar juga, tampa sadar Fannya mulai panik.


Dia dengan gelisah mencoba untuk mengetuk pintu kamar mandi, "Axel, apakah kamu baik-baik saja?"


Tidak ada jawaban, hanya ada suara air yang mengalir dan gumamam suara rendah. Fannya takut terjadi sesuatu, dia berbalik berlari mencari kunci pintu cadangan kamar mandi dan langsung membuka pintunya.


Kabut air yang tebal menutupi pandangannya, membuat Fannya menyipitkan matanya, meraba ke depan, "Axel?" Dia dengan ragu bertanya.


Tidak ada jawaban, tapi kemudian dia bisa merasakan tangannya diremas kuat dan dia ditarik ke dalam sebuah pelukan yang kuat.


Fannya membuka matanya lebar-lebar, kemudian dia bisa merasakan Axel menundukan kepalanya dan menempelkan hidungnya ke lehernya.


"Axel!" Kali ini dia dengan gemetaran bertanya.


"Maukah...."


Suara Axel terdengar, seperti suara teregah-egah singkat yang sangat seksi dan panas, memancing gairah seseorang untuk bangun.


Fannya tidak bisa melihat mata Axel, karena pria itu memeluknya dari belakang, jadi dia melewatkan momen dimana mata Axel sangat gelap terlihat ketika dia membuka matanya.

__ADS_1


"Maukah kamu menghabiskan malam denganku?" Dia langsung bertanya dengan vulgar.


Tubuh Fannya membeku, otaknya mendadak lemot dan dia terdiam seolah dia tidak mengerti artinya.


Karena dia tidak menjawab untuk waktu yang lama, Axel menggenggam dagu Fannya dan membuat gadis itu menoleh ke samping untuk mencium bibirnya lebih mudah.


Fannya tau apa yang akan terjadi di depan, tapi dia tidak menolak kelembutan itu.


Dia hanya mengikuti arus, di bawah kabut kamar mandi, suara air dan suara samar lainnya saling menyatu. Semakin lama, suhu kamar mandi selain panas, Fannya tidak tahan, dia terisak dan memohon dengan lembut.


Ini sakit untuk pertama kalinya ~


Suaranya semanis madu yang meleleh, dengan suara isak tangis yang manis, Axel tidak tahan dan memeluknya lebih erat, tidak mengatakan apapun, mengangkat Fannya dan membawa gadis itu ke kamar.


Dia atas kasur besar, keduanya menjalin hubungan panas. Sayangnya, ini hanya akan menjadi hubungan manis sebelum pahit.


Pagi datang seperti janjinya, dan bulan juga pergi sesuai janji, Axel membuka matanya perlahan, menatap kosong ke arah langit-langit kamar.


Otaknya kacau untuk sesaat sebelum dia terdiam kaku, menoleh ke samping dan menatap Fannya yang sedang tertidur lelap, menyembunyikan setegah dari wajahnya di balik selimut, mengerutkan bibinya dan mengendus.


Tadi malam, karena dia gagal untuk membeli saham keluarga Clovis dari lelang, dia sedikit marah, tapi dia mencoba untuk melupakannya karena meskipun begitu itu masih memiliki saham terbanyak.


Dan meskipun dia tidak tau niat patu Raffan, itu masih termasuk kedalam rencananya, karena dia hanya ingin keluarga itu hancur, tidak peduli siapa yang membuat keluarga itu hancur.


Tapi dia tetap tidak senang, pada akhirnya dia menyetujui salah satu permintaan dari pemegang saham lainnya dari keluarga Clovis untuk saling bertemu.


Untuk lokasi pertemuan, rubah tua itu memiliki tempat. Meskipun dia hanya memiliki sekitar 1,3% saham keluarga Clovis, Axel tetap menginginkannya dan setuju.


Mereka melakukan pertemuan di sebuah club yang sering Axel datangi, para rubah tua itu mencoba untuk membuatnya mabuk, tapi mereka salah, dia adalah peminum yang baik, jadi dia tidak mabuk, ketika kesepakatan tercapai,dan orang-orang akan pulang, Axel sengaja tidak pergi.


Dia hanya memesan minuman lainnya dan berniat untuk tidak pulang malam itu. Tapi dia tidak menyangka jika ada akan ada orang bodoh yang akan menjebaknya dan memberikan dia obat perangsang di gelasnya, karena marah dan kesal dia tidak berhati-hati dan meminumnya.


Awalnya dia hanya berpikir ini obat biasa, karena ini bukan pertama kalinya dia di jebak, jadi dia memesan kamar, berniat untuk mandi air dingin dan meminum obat untuk menekan efek obat perangsang.


Tapi tidak menyangka jika obat itu akan sangat kuat, bahkan obat yang bisanya dia minum tidak berfungsi, padahal itu obat penenang terbaik yang dia tahu.


Hanya dalam beberapa menit berikutnya, rangsangan semakin kuat yang membuat dia pusing dan mulai menginginkan hal-hal aneh, pada saat itu, pintunya di ketuk, dia pikir itu Pram, tapi tidak mengira itu seorang gadis muda yang mabuk.

__ADS_1


Melihat pakaiannya yang acak acakan, mata merah dengan air mata, sepertinya dia di putusin pacarnya.


Tapi ketika dia menangis dan mulai menerkam Axel, Axel tau ada yang tidak beres dengan gadis itu, jika bukan karena Fannya datang tepat waktu, sepertinya akan ada hal yang tidak di inginkan terjadi, terutama ketika dia sendiri telah dijebak.


Dia berniat untuk menekan panas ini sendiri, tapi dia tidak tahan dan tetap melakukannya, dengan istri sahnya, dan Axel tetap sakit kepala karenanya.


Masalah belum kelar satu dan masalah lainnya datang lagi. Axel mendesah tak berdaya dan duduk, hanya untuk menyadari jika dia tidak menggunakan pakaian apapun dan tubuhnya juga agak lengket dan tidak nyaman.


Dia melirik Fannya, menemukan jika gadis itu masih tertidur pulas setelah sepanjang malam menangis cantik, jadi dia dengan ragu bangun, tanpa menggunakan apapun pergi ke kamar mandi untuk mandi.


_


Fannya membuka matanya, menatap langsung ke arah kasur yang kosong, sesaat, dia kebingungan, kemudian dia membulatkan matanya.


Karena terlalu kaget dia refleks ingin duduk ketika dia menyadari jika seluruh tubuhnya sangat sakit, seolah dia telah melakukan pekerjaan sangat berat. Ah, dia lupa jika pekerjaan tadi malam sangat berat dan melelahkan.


Dia dengan gemetar akhir bisa duduk dan menyandarkan kepalanya di kepala ranjang. Dia bingung dan tidak bisa memikirkan apapun, tadi malam, dia terlalu terbawa suasana dan melupakan segalanya, mengikuti arus tanpa tau apa yang akan dia hadapi kemudian.


Saat itu, pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Axel hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya.


Fannya untuk sesaat terpesona, menatap perut delapan kotak itu dengan mata melotot, hampir lupa untuk berkedip.


"Untuk apa kamu melihatnya, bukankah kamu sudah menyentuhnya?"


Axel bertanya dengan santai, berjalan ke arah lemari pakaian dan mulai memilih baju yang akan dia gunakan.


Fannya jadi malu sendiri, dia menutupi wajahnya dengan selimut menolak untuk berbicara.


Axel juga tidak peduli, dia hanya mengganti bajunya dengan tenang, sebelum berbalik dan berkata, "Pergi mandi."


Kemudian di mengangkat alisnya dengan main-main, "Atau haruskah aku yang memandikan mu?"


Fannya di dalam selimut memerah malu, dengan cepat menolak permintaan Axel, langsung mengusir laki-laki itu keluar dari kamarnya.


Ketika Fannya yakin sudah tidak ada orang lagi, barulah dia dengan perlahan membuka selimutnya, melihat ke sana kemari dengan perasaan campur aduk.


Ketika dia akan berdiri, dia bisa merasakan seluruh tubuhnya sakit dan mati rasa, dengan gigi tertutup rapat, Fannya bangkit, berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2