Kontrak Cinta Tuan Ceo

Kontrak Cinta Tuan Ceo
biarkan dia tidur


__ADS_3

"bagaimana kabarnya?"


Fannya memiringkan kepalanya dan menatap Axel yang tertidur lelap.


Dokter meletakkan stetoskop, menatap Fannya dengan mata lelah.


"Tidak apa-apa, dia sakit karena terlalu lelah, kadar darahnya juga rendah karena terlalu bergadang. Ketika dia bangun ingatkan dia untuk makan dan minum obat tablet tambah darah, seharunya besok dia akan menjadi lebih baik."


Dokter kemudian pergi bersama para pelayan. Fannya yang ditinggal sendiri menggaruk kepalanya bingung.


Apa yang harus dia lakukan?


Haruskan dia mengambil kesempatan dalam kesempitan?


Fannya memikirkannya, semakin dia berpikir, itu ide yang bagus.


Pada akhirnya dia merentangkan tangannya, menjatuhkan dirinya tepat di samping tubuh Axel. Dia tersenyum puas dan memeluk laki-laki itu.


'Hati seseorang bisa berubah, termasuk hati laki-laki.'


Ibunya pernah berkata seperti itu.


Apakah, dia juga bisa mengubah hati batu Axel menjadi hello Kitty?


Apakah akan tiba saat di mana keduanya saling mencintai?


Fannya menyipitkan matanya dan tertidur di samping Axel.


'Bahkan jika tidak, aku harap hubungan kami tidak terlalu renggang, biarkan saja aku yang mencintaimu dari jauh.'


-


Pagi menyambut, bahkan ketika matahari telah berada di puncak tertingginya, Axel masih belum bangun.


Bayangan ketika Axel membuka matanya dan terkejut dengan keberadaan Fannya buyar begitu saja. Jadi, pagi ini Fannya sarapan dengan wajah asam.


Pada akhirnya, ketika sore tiba barulah Axel terbangun. Seluruh tirai di dalam ruangan di tutup, tapi masih ada beberapa cahaya matahari yang berhasil masuk.


Matanya berkedip dan dia meringis kesakitan, kepalanya masih pusing, baru beberapa saat kemudian dia akhirnya tenang.


Dia memikirkan apa yang terjadi kemudian mengingatnya, seperti dia pingsan lagi.


Haaaaa~


Axel bangun dan meregangkan tubuhnya, membuka tirai sambil menyadari jika dia masih berada di kamar Fannya.


Gadis itu sepertinya tidur di ruang tamu.


Itu yang dia pikir, tapi nyatanya Fannya tidur di sampingnya dan menjadikan dirinya guling, itulah sebabnya pagi berikutnya Axel merasa seluruh tubuhnya pegal dan keram.


Tapi laki-laki itu hanya berpikir jika gadis itu sangat baik membiarkan dia tidur sendirian.


Jadi dia keluar kamar dengan sedikit senyuman, berjalan kembali ke kamarnya dan mandi sebelum turun untuk makan, dia kelaparan setelah tidur lama.


Ketika dia tiba di ruang makan, dia tampa sengaja melihat Fannya yang sedang asik sendiri menghiasi sebuah kue kecil. Gadis itu tersenyum puas memandangi hiasan yang dia buat di atas kue.


Melihat bentuknya yang begitu jelek dia ragu kue itu bisa di makan.

__ADS_1


Tapi melihat gadis itu sangat bahagia bahkan tidak menyadari jika wajah dan rambutnya berantakan karena ternoda mentega kue, Axel memiliki pikiran kosong.


Tanpa sadar dia berjalan ke arah gadis mungil yang sibuk sendiri itu, para pelayan menyadari kehadiran Axel menjauh dan memberikan ruang untuk ke dua pasangan itu.


Tapi sayangannya Fannya tidak tau jika Axel mendekati dia, ketika sebuah tangan menyentuh bahunya, dia secara refleks mengulurkan tangannya dan menepis tangan orang yang menyentuhnya, sebelum akhirnya menariknya mendekat.


"Datang dan ajari aku lagi untuk menghias kue-kue ini! Aku ingin membuat beberapa untuk Axel nanti."


Tangannya yang penuh mentega tampa dosa langsung mengotori kemeja lengan panjang Axel, tanpa sadar Axel mengerutkan keningnya. Saat Fannya menoleh dan menatap tangan yang dia tarik kemudian membeku sesaat.


'Mengapa tangan pelayan bisa sebesar dan memiliki beberapa urat yang menonjol?'


Dia berpikir kemudian seolah menyadari sesuatu dia menoleh secepat kilat.


"Axel!"


Dia terkejut dan melepaskan genggaman tangannya, Baru saat itu dia menyadari jika tangannya yang kotor telah mengotori pakaian sultan orang itu.


Ahhhh!


Dia dengan refleks panik mencoba untuk membersihkan kotoran yang menempel di lengan baju, yang sialnya malah menambah kotor.


Dia membeku di tempat.


Hehehe, mampus.


Axel menatap lengan bajunya yang kotor dan ke arah ayam kecil Fannya yang telah menundukkan kepalanya.


Sangat beruntung dia bukan pecinta kebersihan yang berlebihan, jadi dia tidak terlalu keberatan dengan noda kue di tangannya. Dia hanya menggulung lengan bajunya dan duduk di kursi samping.


"Apa yang kamu lakukan."


"Buat kue untuk dimakan."


Dia lupa mengganti kalimat itu menjadi, 'membuat kue untukmu', agar terlihat romantis dan manis.


Kegagalan otak karena terpana oleh ketampanan adalah hal buruk, Fannya meringis, sebaliknya, Axel berpikir gadis itu terlalu jujur.


Jadi dia mengambil kue itu dan memakannya tampa izin.


"Bersiaplah, besok kita akan menemui keluargaku sebelum berbulan madu bersama."


Keluarga besar Max, terdiri dari 2 putra dan 1 putri.


Pemegang saham tertinggi masih milik Tuan TeonĀ  Max, ayah dari Axel, bahkan jika Axel talah mewarisi 50% kepemimpinannya. Keluarga itu semuanya adalah predator kelas atas


Fannya mendengar jika adik perempuan Max adalah jenius elektronik yang berhasil merancang banyak perangkat lunak untuk mengamankan data perusahaan.


Sedangkan untuk anak laki-laki ke 2, dia merupakan juru bicara terbaik di perusahaan, dulu sebuah artikel menyatakan jika dia yang akan mewarisi perusahaan, Axel juga dulu mengakui, tapi sayangnya dia menolaknya, juga, sekarang dia bisa setidaknya menguasai 13 bahasa negara yang berbeda.


Untuk orang tuanya?


Ayah Axel jangan dipertanyakan, tapi nyonya dari keluarga Max?


Dia adalah kupu-kupu sosial yang juga merupakan tokoh terbesar di kalangan atas. Memiliki banyak cabang jual beli dan memiliki jaringan sosial yang luas dari berbagai negara.


Seluruh keluarga Max seperti monster.

__ADS_1


Jika Fannya pergi ke keluarga itu, dia mirip seperti domba kecil di kandang serigala langsung, dia tanpa sadar membeku di tempat.


"Apakah harus?"


Bahkan jika Fannya memiliki kulit setebal badak, dia masih merasa sedikit malu untuk melihat langsung keluarga besar itu. Sebenarnya jika bisa, dia tidak ingin bertemu.


"Ya."


Axel menjawab singkat, di mengulurkan tangannya dan mengambil makan siang miliknya yang sudah dia pinta tadi, baru kemudian berbalik dan menatap Fannya.


"Sebenarnya keluargaku bahkan tidak tau jika kamu yang akan menikah denganku."


"Ada baiknya untuk bertemu sekali agar lebih saling mengenal dan membangun hubungan."


Dia mengambil garpu dengan ringan mengetuk ujung piring.


"Tenanglah, mereka tidak akan memakan kamu."


Kemudian dia tertawa.


"Karena mereka lebih suka membuat mangsa mereka tersiksa daripada memakannya."


Haha.


Sangat lucu.


Diam-diam Fannya menelan ludahnya.


_


Pagi ini, seperti saat mereka datang, ketika mereka pulang mereka juga menggunakan jet pribadi, terbang tinggi dan melintasi lautan luas.


Melihat pemandangan indah di depannya, Fannya tidak bisa menahan diri untuk tidak menempelkan wajahnya ke kaca dan menatap lebih jelas.


Dia bertanya tanya-tanya berapa banyak pajak yang harus dibayar Axel untuk semua barang mewahnya juga untuk pulau pribadinya.


Pajak itu mungkin lebih mahal daripada kehidupannya sendiri selama ini. Tidak apa-apa, orang kaya tidak akan keberatan dengan pajak kecil itu.


Karena pendapatan mereka perdetik lebih besar daripada pengeluarannya yang terbanting terbalik dengan dirinya sendiri.


"Apa yang kamu lihat?"


Axel sedang menatap layar laptop ketika sudut matanya tampa sengaja melihat kelakuan rendah diri Fannya dan bertanya.


Dia mengulurkan tangannya dan menarik gadis itu ke sisinya lagi.


"Duduklah dan bermain, jangan terlalu dekat jendela."


Dia kemudian mengeluarkan sebuah tablet dan menyerahkannya ke Fannya. Dia mengambil tablet dengan hati-hati, takut untuk merusak barang berharga itu. Kemudian dia tidak sopan dan langsung memainkannya seolah milik sendiri.


Melihat Fannya tenggelam dalam kesenangan kecilnya, Axel mengangkat matanya, menatap gadis itu dengan sedikit bingung. Tapi dia dengan cepat menunduk dan menyelesaikan pekerjaannya sendiri.


Tidak tau berlama-lama, jet mendarat. Fannya menguap dan turun dengan elegan.


Tapi ketika dia memasuki mobil dan perjalanan lainnya berlangsung, dia terlalu ngantuk dan akhirnya tertidur.


Axel sendiri merasakan berat menimpa bahunya, dia menoleh dan menatap gadis malang itu yang kelelahan, tidak mengganggunya atau mengusirnya dengan kejam.

__ADS_1


Tepuk saja pipinya dan biarkan dia tidur.


__ADS_2