
"kamu orang gila, orang gila!"
Raffan mengamuk di tempat, tapi Axel sama sekali tidak peduli dengan dia. Para staf medis bergegas untuk melerai perkelahian itu, yang membuat Raffan semakin ganas.
"Kamu sialan! Kamu gila! Kamu bahkan tega melakukan ini!"
Raffan menggertakkan giginya, mengigit kalimat terakhir dengan kebencian.
"Dia istrimu!"
Para perawat dengan kewalahan mengirim Raffan ke tempat lain, menjauh dari Axel untuk memberikan ketenangan kepada dua pasien yang membutuhkan ketenangan.
Para perawat dan dokter tidak tertarik berlama-lama ditempat, mereka menyingkir membiarkan Axel sendirian bersama dua pasien setelah mengobati dua orang itu bersama wajah lebam Axel.
Untuk sementara waktu Axel terdiam ditempat, sebelum berbalik dan menatap pintu ruang perawatan dan membukanya.
Ketika pintu terbuka, aroma desinfektan khas ruang perawatan tercium, Axel tidak terlalu menyukainya tapi dia menahannya.
Di menatap ke arah Vestia secara singkat sebelum berjalan ke arah Fannya di sebelahnya.
Dia menatap wajah gadis itu yang pucat hampir tanpa warna kehidupan, tampa sadar dia membeku.
Meskipun dia tidak ingat kapan, dia tidak akan pernah melupakan hari di mana dia dengan gemetaran memegang tubuh sedingin es adiknya, wajahnya pucat seperti mayat, dan nafasnya bahkan tidak terasa, waktu itu dia sangat takut, sangat ketakutan hingga rasanya dia ingin menjadi gila.
Pada saat itu, ambisinya mulai terbangun, dia menjadi orang yang dingin dan terasing. Setiap keputusan yang di ambil tidak boleh ragu-ragu, semua baik buruk telah dia perhitungkan, bahkan ketika dia akan mengorbankan seseorang.
Seperti gadis ini, dia telah memperhitungkan semuanya, tapi ada yang tidak dia perhitungkan, perasaannya.
Pada akhirnya, dia bukan seseorang berdarah dingin sama seperti Raffan, dia masih tidak nyaman melihat gadis yang selalu malu-malu dan manis itu terbaring seperti adiknya, pucat tanpa nyawa dengan alat bantu kehidupan.
Malam ini, Axel tidak pernah keluar dari ruangan itu, dia duduk di kursi samping tempat tidur Fannya, menatap gadis itu sepanjang malam.
Sama seperti dulu, dia menatap seorang gadis kecil yang tak berdaya sepanjang malam, hingga pagi menyambut, dia tertidur di sampingnya.
_
'Dingin.'
'Dingin sekali.'
Seluruh tubuh Fannya terasa sangat dingin dan mati rasa, seolah-olah dia terjatuh ke dalam jurang es mematikan.
Terlalu dingin hingga dia tidak bisa lagi merasakan apapun, sampai sebuah kehangatan menyelimuti dia dengan lembut.
'Sangat nyaman.'
Fannya menggerutu dan meringkuk, tidak lama kehangatan itu pergi. Tapi kali ini dia tidak kedinginan seperti sebelumnya, ada perasaan hangat lainnya tapi tidak seperti sebelumnya.
Kemudian, secara perlahan kepalanya sedikit sakit dan matanya mulai terasa silau, tanpa sadar dia membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah warna putih bersih kemudian aroma disenfektan yang memusingkan.
__ADS_1
'Apa yang terjadi?'
Pikirannya kacau, dia dengan lemas mencoba bergerak, hanya untuk menyadari jika tangannya ditahan oleh seseorang.
Dia berbalik dan melihat bahwa Axel sedang tertidur, bertumpu di ranjangnya dengan tangan menggenggam tangannya.
Ketika merasakan gerakan dari tubuh Fannya, Axel membuka matanya sedikit, memperlihatkan mata coklat indah di bawah cahaya redup.
"Bangun."
Suara bangun tidur Axel sangat seksi dan panas, pipi Fannya hampir dalam hitungan detik langsung terasa hangat.
Dia dengan malu-malu menarik perlahan tangannya, Axel juga tidak menahannya dan membiarkan gadis itu menarik tangannya.
"Apakah ada yang tidak nyaman?" Axel bertanya.
Kemudian Fannya menggelengkan kepalanya, kemudian bertanya dengan khawatir.
"Ada apa dengan wajahmu?"
Ketika pertanyaan itu keluar, Axel dengan hati-hati menyentuh wajahnya, menggelengkan kepalanya.
"Hanya permainan anak laki-laki, tidak masalah, ini akan sembuh dengan cepat jika aku menggunakan obat dengan teratur. Apakah kamu haus?"
Meskipun Fannya penasaran dengan luka bengkak di wajah Axel, dia tidak lagi bertanya, karena jelas Axel tidak ingin dia mengetahu apapun, juga karena Axel berkata itu hanya luka ringan yang akan sembuh dengan cepat, dia tidak terlalu cemas lagi.
"Aku haus."
"Minumlah."
Axel megambil sebuah gelas dengan air di meja samping, membantu Fannya duduk, melepaskan masker oksigen dan meminum air.
Fannya sangat haus, dia dengan tergesa-gesa meminum air itu hingga air yang tidak bisa di minum meluncur di dagunya.
Tanpa mengucapkan kata apapun Axel menelan air liurnya, dengan hati-hati mengelus bibir Fannya ketika gadis itu selesai minum.
"Lebih baik?"
Fanny mengangguk, baru kemudian dia sadar jika Vestia di seberangnya juga telah terbangun dan duduk sendiri sambil meminum airnya dengan santai.
Ketika Vestia meliriknya, entah bagaimana Fannya sedikit malu. Mereka jelas pasien dengan keluhan yang sama, tapi satu lebih manja dan yang satunya lebih mendiri. Perbandingan yang jelas. Fannya mendesah tak berdaya, baru saat itu dia ingat apa yang terjadi.
"Bagaiman kami bisa terkunci?"
Dia bertanya dengan bingung, Axel sendiri juga mengerutkan keningnya. Dia berbalik dan menatap Vestia. Vestia yang ditatap menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tau. Aku mengambil kalungku dan kemudian kami akan pergi, semuanya berjalan lancar, tapi kemudian pintu itu terkunci.'
Dia terdiam sesaat, matanya sedikit gelap, dia dengan dingin melanjutkan.
__ADS_1
"Ruangan cukup dingin, kemudian semakin dingin, salah satu pipa pendingin kapal sepertinya bocor dan suhu menjadi lebih dingin dalam sekejap mata. Kami awalnya akan keluar melalui ventilasi, tapi terkunci, sinyal juga mendadak menghilang, kami tidak bisa menghubungi ke luar."
Dia menggelengkan kepalanya, "jika terlambat mungkin kami berdua akan mati."
-
Axel mengalihkan pandangannya. Ini di luar rencananya, dia sudah menyiapkan segalanya dengan baik, dia juga telah memastikan bahwa ventilasi udara di ruang itu terbuka hingga jika sesuatu terjadi mereka masih sempat untuk melarikan diri, tapi dia tidak menyangka semua akan seburuk ini.
Jika Raffan terlambat membuka pintu itu, apa yang akan terjadi?
Mungkin kedua gadis ini sudah tidak ada lagi. Axel menundukkan kepalanya, tidak ingin membayangkan hal yang seharusnya tidak terjadi.
"Aku akan menyelidikinya." Dia berkata dengan sangat dingin, kemudian dengan hati-hati menatap Fannya.
"Kamu istirahatlah dulu, karena kamu sudah bangun aku akan meminta staf kapal untuk mengirimkan makanan untukmu. Aku akan keluar untuk mengurus semuanya, istirahatlah."
Dia bangun dan mencium kening Fannya, sebelum berbalik dan pergi. Sebelum pintu tertutup sepenuhnya, dia melakukan kontak mata dengan Vestia, gadis itu menatapnya sekilas sebelum mengangkat bahunya, kemudian pintu tertutup sepenuhnya.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
Ketika hanya ada mereka berdua, Vestia bertanya lebih dulu, dia bangun dan melepaskan masker oksigen di lehernya, berjalan mendekati Fannya dan duduk di tempat Axel sebelumya.
Fannya mengangguk ragu-ragu, "Kamu sendiri? Apakah kamu baik-baik saja?"
Mereka hanya kedinginan, setalah tinggal di ruang hangat, mereka menjadi lebih baik. Paling parah mungkin mereka hanya akan terkena flu ringan.
Vestia mengangguk tanpa ragu, menyentuh perutnya dan mengeluh. "Tapi aku sedikit lapar."
Melalui hidup dan mati, gadis itu tidak mengeluh sama sekali, jelas dia adalah Nona kecil yang dimanja, tapi sepertinya dia terbiasa melalui semua bahaya seperti ini yang membuatnya selalu tenang dan menanggung semuanya sendirian.
"Aku juga lapar."
Fannya ikut mengeluh, tepat saat itu, bahkan tanpa sedetik, pintu kamar terbuka dan para perawat mendorong troli makanan yang penuh dengan berbagai makanan.
Menyajikannya dan membiarkan dua orang itu makan. Akhirnya, kedua gadis itu duduk dan makan bersama.
-
"Apakah tidak ada kejelasan tentang siapa pelakunya?"
Axel menggosok pelipisnya, menatap layar komputer dengan sedikit kerutan di keningnya.
Pram menggelengkan kepalanya, dia memeriksa beberapa data rekaman di tabletnya dan menjelaskan.
"Beberapa kamera cctv kunci mati ketika kejadian, beberapa kamera tersembunyi juga mati, orang itu jelas sudah merencanakannya dengan baik dan menyiapkan semuanya dengan teliti."
Pram mendesah tidak berdaya, kemudian tiba-tiba berkata, "Apakah rencananya bocor?"
Hati Axel dingin, jika bocor, siapa yang membocorkannya? Sementara hanya dia dan Pram yang tau rencana penuhnya.
__ADS_1
"Seseorang telah mengawasi kami, data semua orang yang ada di kapal pesiar, orang yang paling mencurigakan harus kita amati dengan baik-baik. Jangan sampai kejadian yang sama terulang lagi."
Entah bagaimana, Axel merasa hari ini adalah hari yang melelahkan, dia berbisik, "aku tidak tau apakah ini ada hubungannya dengan orang itu. Orang yang telah menyembunyikan gadis itu selama ini."