
Masa lalu yang buruk, Fannya tidak ingin mengingat lebih jauh, jadi dia menolak untuk berbicara.
Dia hanya berkata jika dia diselamatkan seseorang dan bersembunyi di bawah perlindungan kakaknya.
Tapi Axel tidak percaya.
Natia memang anak kesayangan dari Clovis grup, dia sangat sering bertemu dengan gadis itu, dan dia telah mengamatinya dengan baik.
Gadis itu penakut dan pemalu, sangat mudah menangis ketika digertak, bukan tipe orang yang akan memberontak dan memiliki nyali besar.
Bagaimana mungkin dia berani untuk memalsukan sebuah identitas?
"Pernahkah kamu berpikir bagaimana kakakmu memalsukan identitasmu?"
Axel bertanya dengan aneh, menatap Fannya dengan ragu.
Fannya tertegun, dia tidak pernah memikirkan ini, waktu itu dia terlalu depresi dan hanya bersyukur kakaknya mau membantu dia, tidak pernah menaruh rasa curiga apapun
Dengan pertanyaan tiba-tiba Axel, sedikit keanehan mengenai hatinya, tapi Fannya dengan cepat menahannya, menatap Axel dengan bingung.
"Aku tidak tau, tapi yang jelas kakak melakukan itu untuk ku."
Axel tidak langsung memberikan pendapat, dia hanya bertanya dengan santai.
"Untuk alasan apa kakakmu membantumu?"
Fannya membeku, Axel benar, untuk apa kakak membantunya?
Mungkin untuk rasa kasihan?
Ketika dia kecil, dia sudah tidak disukai dan dia tidak memiliki teman, tapi kakaknya benar-benar aneh untuk tetap mau bermain dengannya walaupun dia dilarang dan dimarahi.
Tidak ada ikatan yang kuat untuk membuat kakaknya melakukan hal sebanyak ini hingga dia bahkan bisa memalsukan identitasnya.
"Apakah mungkin dia menginginkan kekuasaan yang mutlak?"
Suara Axel terdengar dari samping, dia memiliki beberapa tebakan dan ini yang paling mungkin.
"Dia ingin menghilangkan variabel yang mungkin akan menjadi masalah dimasa depannya, dia ingin memonopoli seluruh Clovis grup."
Semakin Axel berpikir, semakin dia yakin.
Tapi Fannya sendiri membeku dan berkedip, mengigit bibirnya dan menahan tawanya. Hanya saja dia tidak kuat dan beberapa tawa keluar dari sudut bibirnya.
"Apa yang kamu tertawakan?"
Kali ini Fannya tidak bisa menahannya karena Axel bertanya.
__ADS_1
Mengingat wajah serius laki-laki itu ketika dia membuat konspirasi, Fannya merasa sedikit lucu.
"Kakakku dari kecil tidak pernah ingin mewarisi perusahaan itu."
Fannya terkekeh dan mengusap ujung matanya, menatap Axel dengan sedikit godaan.
"Ternyata ada hal yang tidak kamu ketahui."
Mungkin karena kekagumannya dari dulu, Fannya selalu menganggap Axel mengetahui hampir semua hal, ternyata tidak.
Baik, ini salahnya karena terlalu kagum.
"Itulah sebabnya dia lebih memilih kabur dengan pacarnya daripada menantikan bisnis besar itu berada di bawah perintahnya dan memilki kekuasaan."
Dari kecil, kakaknya selalu berkata dia memiliki sebuah cita-cita kecil yang selalu dia impikan, tapi tidak direstui orang tuanya.
Gadis kecil itu ingin menjadi seorang guru, yang mengajari banyak anak-anak di daerah kecil yang kekurangan pendidikan, sungguh cita-cita yang manis.
Sayangnya, cita-cita itu sangat sulit untuk dia dapatkan, karena dari kecil dia sudah didik untuk menjadi pebisnis handal.
Fannya ingat dengan jelas kakaknya sering kabur dari pelajarannya dan menemuinya untuk bermain bersamanya, menyelinap di lubang anjing dan kabur bersama ke luar, bermain hingga mereka di temukan.
Meskipun menyenangkan, hukuman yang mereka dapatkan cukup pahit, terakhir kali, Fannya di hukum untuk tidak keluar kamar dan dia tidak diizinkan makan dari pagi ke pagi berikutnya, dia hanya di berikan air, lebih parah dia bahkan tidak di izin melihat matahari ataupun waktu selama 1 Minggu yang hampir membuat dia stres parah.
Sejak saat itu, kakaknya tidak pernah lagi mengajaknya untuk menyelinap pergi lagi, dia hanya akan menemukan Fannya dan mengobrol ringan, dia cukup was-was dan akan pergi segera ketika dia merasa seseorang akan datang atau mencarinya.
"Aku yakin 100% dia tidak akan melakukan itu hanya untuk kekuasaan."
Melihat kepercayaan diri Fannya, Axel tidak bisa berkomentar, pada akhirnya dia menarik kesimpulan, tidak ada informasi yang akan dia dapatkan berbicara dengan Fannya.
Dia akhirnya menyerah, lebih baik dia meminta Pram untuk mencari beberapa petunjuk daripada sakit kepala untuk mencari informasi dari gadis itu.
Axel mendesah, kemudian dia teringat sesuatu, "Apakah kamu tahu siapa yang menyelamatkanmu waktu itu?"
Ada sedikit hal ganjil, ketika Fannya tenggelam waktu itu ada badai, tapi mengapa ada kapal di dekat sana, di tegah badai bahkan bisa dengan cepat menyelamatkan Fannya.
Fannya sendiri tidak terlalu memikirkannya, dia menggelengkan kepalanya berkata "Aku tidak ingat dengan jelas, aku hanya ingat orang itu mengirim sekretaris untuk mengurusku sementara waktu, ketika aku lebih baik aku keluar dari rumah sakit."
Orang baik itu tidak menuntut biaya kembalian dari perawatannya, hanya berkata untuk lebih berhati-hati ke depannya dan seluruh kontak mereka berakhir di sana, tidak ada lagi kabar orang itu, tapi Fannya pasti akan selalu mengingat kebaikan ini.
Meskipun ini hanya sedikit petunjuk, Axel tidak ingin melepaskannya, dia meminta beberapa informasi dari Fannya tentang orang itu, mulai dari namanya serta ciri-cirinya.
Fannya tidak menolak dan mengatakan semua yang dia tahu.
Axel dengan puas mencatatnya, ketika dia akan bangun dari tempat tidur ketika Fannya menarik ujung bajunya.
"Ada apa?"
__ADS_1
Secara refleks Axel bertanya.
Fannya mengangkat matanya, diam-diam menatap Axel, "Minggu depan aku ingin menemui ayah, bisakah?"
Axel mengangkat alisnya tidak terlalu mengerti, "Tentu saja, dia adalah ayahmu, bahkan jika hubungan kalian berdua buruk, aku tidak akan keberatan jika kamu ingin menemuinya."
Dia mempertimbangkan kata-katanya, menambahkan, "Tapi berkati-hatilah, bawa pengawal bersamamu untuk berjaga-jaga juga."
Fannya tidak menolak dan mengangguk, menundukkan kepalanya dan berbisik dengan selembut.
"Terimakasih."
"Tidak masalah."
Axel melambai santai dan berjalan keluar kamar.
"Ingatlah untuk minum obat malam ini, aku akan pergi ke kantor sebentar dan kembali."
Kemudian dengan klik ringan, pintu tertutup.
Fannya duduk di tempat tidur dengan linglung, ketika waktu terus berjalan, cukup lama, barulah akhirnya Fannya bangun dan turun ke bawah untuk makan sebelum minum obat.
Fannya menatap obat di tangannya, tidak ada petunjuk penggunaan, Fannya berpikir ini seperti obat KB itu sama seperti obat pada umumnya, dia meminum satu dan menyimpan sisanya di lemari obat.
Ketika Fannya meminum obat, dia teringat adegan aneh itu, uhuk, ketika mereka melakukannya, mengingatkan dia benar-benar malu.
Bahkan masih ada rasa sakit tumpul di bagian bawahnya yang membuatnya semakin kaku karena malu sendiri. Dia juga mengingat dengan baik ketika dia menggigit bahu Axel ketika dia kehilangan kendali.
Malam ini, Fannya tidur dengan perasaan aneh yang membingungkan, tapi tidak lama dia tertidur dengan lelap.
Pada malam yang sama, seseorang juga memakan obatnya, dengan wajah pahit dia meletakan botol obat di sisi tempat tidur dan meringkuk, menunggu obat bekerja.
Tidak lama rasa kantuk datang, dia tertidur tampa memimpikan apapun.
"Tuan."
Sekretaris telah memperhatikan Tuannya dari tadi, sedikit sakit di hatinya juga, dia berjalan mendekati Tuannya dan menarik selimut menutupi tubuh Tuannya, mematikan lampu dan berjalan ke luar.
"Dia meminum obatnya?"
Seseorang bertanya di koridor yang gelap, sekretaris Seno dengan sedikit terkejut menoleh ke samping.
"Tuan Besar."
Dia dengan cepat mengenali Tuannya dan dengan hormat menyapa.
Tuan tidak berbicara dan hanya menatapnya, sebelum berkata, "Ikut aku."
__ADS_1
Seno melirik Tuan Besarnya yang berjalan pergi, mengikuti dalam diam di belakang, melewati koridor gelap di malam yang sunyi.