
Fannya membawa nampan makanan ke arah kamar Axel, mengetuk pintu kamar itu beberapa kali tapi tidak ada tanggapan apapun.
Fannya mengerutkan keningnya merasa ada yang tidak beras, dia mengetuk lagi dan lagi hingga dia sedikit lebih cemas dan berniat untuk mengambil kunci cadangan ketika pintu kamar akhirnya terbuka.
Berdiri di depannya, Axel menundukan kepalanya, di belakangnya, kamar terlihat gelap karena lelaki itu tidak menyalakan lampu.
Tampa sadar Fannya sedikit gugup, Bahakan sebelum dia bisa mengatakan apapun lelaki itu langsung berkata dengan kasar.
"Ada apa?"
Fannya sedikit tersentak, berusaha menenangkan dirinya menjawab, "Aku membawakan kamu makanan, apakah kamu ingin memakannya?"
Dia berusaha keras untuk belajar memasak bubur ini, karena Axel sangat menyukainya dia bahkan tidak peduli jika tangannya sering tercipta air bubur yang sedang panas ketika dia belajar.
Semua itu, dia melakukannya hanya untuk menjadi istri yang baik.
Axel mengerutkan keningnya, dengan tegas menolaknya, "Aku tidak butuh."
Bahkan belum semenit, perutnya mengeluarkan suara protes.
Wajah Axel tetap tenang, tapi jantungannya berdebar malu.
"Lupakan karena kamu membuatnya aku akan memakannya."
Dia berkata dengan wajah datar dan mengambil nampan makanan yang di pegang Fannya untuk meletakan mangkuk bubur.
Ketika Axel mengambil nampan, tangan mereka saling tersentuh, Fannya bisa merasakan tangan Axel sedikit panas, baru kemudian dia menyadari sesuatu.
Nafas Axel sedikit salah, lelaki itu tetap tenang tapi pernapasannya sedikit lebih cepat dan Fannya juga baru menyadari jika wajah Axel pucat.
"Sakit?"
Dia bahkan tanpa berpikir menanyakan hal tersebut, kemudian dia terdiam.
Axel juga terdiam dan membeku, dia mengalihkan perhatiannya dan mendesah.
"Tidak masalah, hanya sedikit panas."
Sebenarnya dia sedikit pusing dan mual, tapi dia menahannya, tidak mengatakan lebih banyak, emosinya juga tidak terlalu baik sekarang.
Jadi dia membuat keputusan cepat, dia mengambil nampan, masuk ke dalam pintu dan dengan cepat menutup pintu di depannya, mencegah Fannya untuk bertanya lebih banyak.
Fannya yang hidungnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari pintu tertegun, jelas kaget, dia mengangkat kepalanya, menatap pintu kamar, Axel sakit tapi lelaki itu memilih diam.
Fannya juga terdiam, tapi dia tenang, dia berpikir dengan mungkin akan lebih baik membiarkan Axel sendirian terlebih dulu untuk menenangkan diri.
Dia tidak tau apa yang memicu emosi Axel, tapi itu bukan hal yang baik.
Waktu berlalu, ketika jam makan siang datang, Fannya datang dan mengetuk pintu Axel, tapi lelaki itu tidak membuka pintunya hanya berkata dengan suram dari balik pintu.
"Pergilah."
Suara Axel tidak setenang biasanya, tapi sedikit gemetaran, apakah dia sesakit itu?
Fannya cemas dan tidak dapat duduk diam, dia berputar-putar di sekitar ruang tamu.
Ketika malam tiba, Fannya memegang nampan makanan yang baru, kembali mengetuk pintu, jika Axel masih tidak membukakan dia pintu, dia akan membukanya dengan kunci cadangan.
__ADS_1
Untungnya dia cukup pintar untuk menyembunyikan kunci cadangan yang Axel berikan dulu di dalam pot bunga yang dia sayangi.
Di saat sepertinya ini, ini memang pilihan terbaik.
Dengan klik, pintu terbuka.
Sama seperti sebelumnya, kamar masihlah sangat gelap, bahkan lebih gelap karena ini sudah malah hari.
Fannya hampir tidak melihat apapun, dia meraba-raba dan menyalakan lampu.
"Apa yang terjadi?"
Fannya melihat kasur yang berantakan, kemudian dia tercengang melihat Axel sedang meringkuk di bawah kasur dengan selimut menggulung tubuhnya.
"Heh? Axel?"
Dia berseru kaget, bergegas menghampiri Axel, tapi bahkan ketika dia mengguncang tubuh lelaki itu, dia tidak bangun, jelas Axel pingsan.
"Hah?"
Fannya terkejut dia mengeluarkan ponselnya dengan cepat menelpon Pram, meminta sekretaris itu untuk datang secepat mungkin.
Pram yang selesai mandi bergegas memakai bajunya, dia berkendara dengan dapat di tegah malah dan langsung pergi ke rumah Fannya.
"Ada apa?"
Pram bertanya ketika dia melangkahkan kakinya di dalam kamar.
Lihat Fannya sedang duduk bersimpuh di samping Axel yang tidak tau tidur atau pingsan di lantai, bahkan tanpa penjelasan dia bergegas untuk membantu Fannya mengangkat Axel ke tempat tidur.
Fannya menenangkan dirinya dia menarik selimut di lantai, naik ke atas kasur dan menyelimuti Axel yang sedang berbaring dengan lembut.
"Apa yang terjadi?"
Pram menunduk dan memeriksa denyut nadi Axel ketika dia bertanya.
Tampa menyembunyikan apapun Fannya mengatakan semua yang terjadi.
Pram terdiam, tadi malam Axel tidak pergi ke kantor sama sekali, hanya ada satu kemungkinan, lelaki itu pergi menemui adiknya.
"Aku akan memanggil dokter."
Pram adalah seorang sekretaris, dia bukan dokter, jadi dia dengan cepat memanggil dokter keluarga Axel.
"Apa, apa yang terjadi dengan Axel?"
Fannya bertanya dengan linglung, dia menatap Pram dengan sedikit gelisah.
Pram menggelengkan kepalanya, "Saya juga tidak tau Nona. Kita harus menunggu dokter datang untuk lebih pastinya."
Dia memiliki beberapa tebakan, tapi dia tetap diam.
Dokter datang setelah beberapa saat, dia membawa perlengkapan medis darurat, berjalan mendekat ke arah Axel dan langsung mulai memeriksa.
Pram dan Fannya tidak menunggu dokter, mereka berdiri di samping kasur dan memperhatikan.
Setelah pemeriksaan ringan, dokter menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Gula darah serta tekanan darahnya rendah, menyebabkan dia kehilangan tenaga dan pingsan, mungkin ini yang membuatnya pingsan."
Dokter melirik Fannya, mulai menasehati.
"Sebagai istrinya, kamu seharunya lebih memperhatikan Axel, dia memiliki gula darah rendah dan darah rendah, kamu harus memberikan dia lebih banyak makanan manis dan lebih banyak zat besi untuk tetap menjaga kesehatannya."
Fannya tersenyum canggung, tapi tetap dengan pengertian mendengarkan dokter yang memberikan dia ceramah.
Axel tidak pernah menceritakan apapun tentang kesehatannya, mungkin ini adalah satu-satunya kesempatan untuk mengetahui kesehatan Axel.
Dokter mengeluarkan selembar kertas, menulis sesuatu di atasnya dan menyerahkan kepada Fannya.
"Ini beberapa saran yang bisa saya berikan, jaga bajingan itu dengan baik."
Fannya mengambil kerta itu, sambil berpikir sepertinya hubungan dokter dengan Axel cukup dekat, bahkan dokter berani berkata seperti itu.
"Yah, aku sudah menasehati anak itu beberapa kali, tapi dia tetap keras kepala dan tidak memperhatikan kesehatannya sendiri, bah, dia berniat untuk menyiksa dirinya sendiri."
Dokter melambaikan tangan, berbalik dan pergi, sebelum keluar pintu, dia berbalik sesaat menatap Axel yang tertidur.
"Bajingan."
Dokter mendesah tak berdaya.
Fannya membaca isi kertas, ada beberapa saran obat serta makanan yang bisa meningkatkan kadar gula darah rendah Axel, setelah membacanya, dia menyimpan kertas itu dengan hati-hati.
Ketika dia selesai menyimpan kertas itu, dia mendengar suara Pram.
"Haruskah aku menginap?"
Pram bisa saja menginap, tapi mungkin akan sedikit aneh ketika hanya Fannya yang sadar sedangkan Axel pingsan, jadi Fannya menggeleng.
"Pulanglah, aku bisa menjaga Axel."
Pram sedikit ragu, jadi Fannya menambahkan, "Kamu bisa datang pagi-pagi jika kamu ingin."
Memikirkannya, akhirnya Pram setuju.
Sekarang hanya ada Fannya dan Axel di dalam kamar.
Suasana hening.
Fannya ingat jika dokter juga berkata untuk memberikan Axel obat penurun demam dan air gula untuk memulihkan kekuatannya jika dia bangun, sebelum itu Fannya memilih untuk pergi dan megambil baskom air dingin, mengompres dahi panas Axel berharap suhu Axel bisa sedikit turun karenanya.
Ketika dia sedang sibuk bolak balik sambil mempelajari saran dokter, Axel membuka matanya diam-diam, kepalanya sakit dan nafasnya panas, sangat tidak nyaman.
Antara tidur dan terjaga, Axel bisa merasakan kelembutan Fannya yang merawatnya, dalam diam, dia merasa hatinya sedikit tenang, sebelum dia tertidur dengan lelap.
Ketika Fannya lelah, dia merangkak di atas kasur dan berbaring, kemudian dia menyadari jika kesehatan Axel sepertinya tidak baik.
Dulu lelaki itu juga pernah pingsan bukan?
Sepertinya dia tidak bisa terlalu kelelahan.
Fannya mendesah tak berdaya, mengulurkan tangannya dan dengan lembut memeluk lengan Axel.
Kemudian dia tidur.
__ADS_1