
Fannya turun ke lantai bawah, ketika dia sampai di pintu masuk ruang makan, dia melihat Axel sedang membantu bibi pembantu untuk menata makanan di atas meja makan.
Cahaya matahari merembes masuk dari jandela, mengenai wajah halus dan indah Axel, menambahkan efek kelembutan yang langka dan menenangkan.
Tapi sayangnya itu tidak bertahan lama, Axel mengangkat kepalannya dan menatap Fannya dengan bingung.
"Mengapa diam di pintu, datang dan mari makan bersama."
Fannya mendesah dan berjalan mendekat, duduk di salah satu kursi secara perlahan dan membiarkan bibi pembantu meletakan piring di depannya. Ketika mereka mulai makan, bibi pembantu izin untuk pulang, menyisakan keheningan yang canggung untuk Fannya dan Axel.
Untungnya Axel berbicara lebih dulu.
"Untuk tadi malam, maaf, itu kecelakaan, sepertinya aku dijebak."
Dia menghembuskan nafas lelah, "Aku tidak memakai pengaman, sebaiknya kamu meminum obat KB untuk sementara waktu."
Dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, meletakkannya di atas meja dan mendorongnya ke arah Fannya.
Fannya mengambil mengambil obat itu, meletakkannya di samping meja dan mengabaikannya.
Perasaan aneh yang sempat bergejolak di hati Fannya ditekan dengan tenang. Axel dijebak, itulah alasan dia untuk melakukannya, jika hanya mabuk, seberat apapun, mungkin Axel bisa menahannya, tapi, dengan obat perangsang, dia tidak tahan.
Dia tersenyum tipis, "Aku akan meminumnya nanti," gumamnya.
Axel mengangguk, kemudian tiba-tiba bertanya, "Apakah kamu ingin mengunjungi nenekmu? Sekarang kamu sudah bisa berkunjung."
Fannya dia sesaat, sebelum mengangkat matanya dengan binar harapan. "Bisakah?" Dia bertanya dengan penuh semangat.
Axel mengangguk.
Tatapan tenang dari Axel membuat Fannya menenangkan kegembiraannya.
Sebelum pernikahan, neneknya di rawat di ruang gawat darurat dan tidak ada yang di izinkan masuk selain dokter, dokter berkata itu untuk mencegah respon stres pasien, jadi dia meminta Fannya untuk tidak menemui neneknya sementara waktu sampai dokter merasa tidak apa-apa untuk bertemu.
Axel melirik jam tangannya, berkata "Kamu bisa pergi nanti siang."
Fannya tidak keberatan dengan pengaturan Axel, jadi dia mengangguk dengan cepat.
Axel tersenyum tipis, mengalihkan pandangannya ke arah piring makan dan terus makan dengan tenang.
_
Fannya melangkahkan kakinya ke dalam rumah sakit. Setalah bertanya kepada resepsionis dimana kamar neneknya, dia dengan cepat masuk kedalam lift dan pergi ke kamar yang tepat.
Sebelum membuka pintu, Fannya menarik nafas dalam-dalam, menenangkan jantungnya yang sedikit berdebar, menguatkan dirinya dan membuka pintu.
"Nenek."
Dia bergumam, melangkah masuk dan menatap seorang wanita tua yang berbaring tak berdaya.
Untuk sementara waktu, dia terdiam di depan pintu, sebelum dengan perlahan menutup pintu, berjalan mendekat dan duduk di kursi samping tempat tidur.
Fannya menarik nafasnya, tersenyum cerah seperti biasanya.
__ADS_1
"Nenek, ataukah kamu, aku telah menikahi orang yang aku cintai dari dulu, atau tepatnya cinta pertamaku."
Fannya tersenyum, bercerita seolah neneknya mendengarkan dia sambil berbaring.
"Meskipun hanya pernikahan kontrak, aku cukup senang, terutama dia bersikap cukup baik denganku."
Dia dengan malu-malu berkata, "Dia juga berkata ingin mencoba mencintaiku apa adanya."
Meskipun kecil kemungkinan untuk Axel benar-benar mencintainya, tapi, selagi masih ada kemungkinan, mengapa tidak?
Fannya menyentuh tangan neneknya yang keriput. Meskipun terlihat sedikit menakutkan seperti batang tua yang kering dan kasar, Fannya tidak keberatan, karena tangan inilah yang telah merawatnya selama beberapa tahun terakhir.
"Kapan nenek akan bangun? Aku rindu suara nenek, terutama ketika nenek bernyanyi. Meskipun terdengar seperti ayam berkokok, tapi aku masih menyukainya."
Fannya terkekah mengenang masa lalu yang tidak akan pernah lagi kembali. Masa-masa di hidup dengan tenang meskipun dia kesusahan.
Ketika dia menundukan kepalanya, dia bisa merasakan jika tangan neneknya bergerak, kemudian dia dengan penuh kejutan menatap wajah neneknya.
"Nenek?"
Karena syok dia terdiam dengan bodoh. Hanya berkedip dan menatap wajah neneknya yang juga sedang melihatnya
Nenek tersenyum, menyentuh tangan Fannya dan mencoba untuk bangun, Fannya dengan segara membantu neneknya duduk.
"Aku baru bangun dan kamu sudah memberikan nenekmu sebuah kejutan besar?"
Nenek bertanya dengan tenang, dia duduk dan menatap wajah Fannya, "kamu sudah besar ternyata, tidak perlu lagi bagi nenek untuk membantumu membuat keputusan."
"Nenek."
Fannya berseru, dia memeluk neneknya dan nangis tanpa sadar.
Nenek tidak keberatan ketika dia menangis seperti anak kecil, dia membiarkan Fannya memeluknya dan mengelus rambut halus dari gadis itu.
"Sudah besar, mengapa menangis?"
Bukannya menjawab Fannya malah menangis lebih banyak lagi, dia bahkan terisak sampai dia tenang.
"Sejak kapan nenek bangun?"
Fannya melepaskan pelukannya, menyapu ujung mata, dengan cepat menghilangkan sisa-sisa air matanya dengan rasa malu.
"Sebelum kamu datang nenek sudah bangun."
Nenek tersenyum lagi, melihat ke arah luar jandela, "Tidak menyangka jika kamu akan menikah secepat ini. Pasti karena nenek."
Fannya menggelangkan kepalanya, mengigit bibirnya, mencoba untuk menjelaskan semuanya, "Tidak apa apa, ini juga atas keinginan Fannya sendiri, tidak ada yang memaksa Fannya."
"Jangan berbohong."
Sayangnya nenek jelas mengerti dia.
"Jika tidak, bagaiman caramu untuk menempatkan nenek di ruangan VVIP seperti ini?"
__ADS_1
Nenek menggelengkan kepalanya, "ini pernikahan kontrak bukan?"
Fannya terdiam, tidak lagi bisa mengatakan apapun sekarang. Dia mengalihkan pandangannya, tetap ingin bersikeras.
"Tidak masalah, hanya 2 tahun, yang penting nenek bisa dirawat dengan baik."
Nenek terdiam, sebelum berkata "Kalau begitu semoga pernikahan kalian bisa bertahan lebih lama."
Ada keheningan singkat, sebelum dengan ragu Fannya mengonfirmasi.
"Nenek tidak marah?"
Nenek menggeleng, "Bahkan jika aku marah hingga sekarat, apakah semuanya bisa berubah? Tidak bukan, maka lebih baik menerima dengan cepat dan memikirkan masa depan."
Semudah ini?
Fannya terharu, dia bahkan menetaskan air matanya lagi, tidak menyangka jika neneknya akan sebaik ini, dia pikir neneknya akan kecewa dengannya tapi ternyata tidak.
Fannya menggosok hidungnya dan cegukan.
"Terimakasih nenek, aku sangat menyayangimu!"
Dia memeluk neneknya lagi, penuh dengan rasa kasih sayang.
"Padahal dulu nenek mau bilang carilah seseorang yang mau menerimamu dengan apa adanya, begitu pula kamu, kamu harus menerima suamimu apa adanya. Tapi sekarang tidak apa-apa, fokus saja ke masa depanmu."
Fannya mengangguk, terus mendengarkan ceramah neneknya, tidak peduli apakah dia paham ataupun tidak.
Nenek berhenti berbicara untuk sesaat, dia melihat wajah Fannya, seolah dia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia menahannya dan hanya tersenyum. Menyentuh pucuk kepala Fannya.
"Nenek rasa umur nenek tidak akan lama lagi."
Fannya tau itu, neneknya sudah sangat tua dan kondisi kesehatannya sudah mulai menurun. Cepat atau lambat, dia tau hal ini akan terjadi.
Mata Fannya sedikit panas, ketika hari itu tiba, dia harus bisa merelakan kepergian neneknya.
Tidak terasa, waktu berlalu, sampai salah satu perawat datang, memeriksa nenek dan memintanya untuk istirahat.
Fannya berdiri di samping, memperhatikan para perawat yang memeriksa neneknya dengan ramah dan menyuntikkan beberapa cairan ke tabung infus.
Dia tidak tahan melihat dan berbalik ke samping, ketika neneknya istirahat, dia keluar dari ruangan hanya untuk menemukan sosok yang dia kenal berdiri di ujung koridor.
"Kakak?"
Natia berdiri di ujung koridor dengan menggenggam ujung bajunya. Dia menatap Fannya sesaat sebelum menunduk dan mendekat.
"Adik, bisakah kita berbicara?"
Fannya menatap kakaknya yang linglung dan menyedihkan, dia tiba-tiba teringat jika kakaknya telah dijebak oleh pacarnya sendiri.
Kakaknya pasti tidak bisa melampiaskan perasaannya pada seseorang yang membuat dia sedikit depresi dan linglung seperti sekarang, jadi dia tidak menolak.
"Mari pergi."
__ADS_1