Kontrak Cinta Tuan Ceo

Kontrak Cinta Tuan Ceo
bersiap


__ADS_3

"Lihat! Tuan Axel sedang bersama istrinya."


"Istrinya sangat kecil dan imut."


"Aku dengar dia adalah simpanan Tuan Axel."


Banyak gosip langsung menerpa telinga Fannya. Gadis itu merasa tidak nyaman sesaat, sebelum mengendalikan dirinya dengan baik, setidaknya, hinaan dan gosip yang dulu dia dapatkan lebih buruk daripada sekarang.


Lagi pula semua itu hanyalah gosip tanpa kepastian, dia tidak melakukan kesalahan apapun, jadi apa peduli dia?


Kali ini, baik dia dan Axel menggunakan jas kerja formal, Fannya menggunakan kemeja putih dengan jas hitam dan rok sepaha yang seksi, menggunakan stoking hitam dan sepatu hak tinggi kulit yang mewah. Rambut hitam sepinggangnya ditata dengan rapi dan terurai cantik.


Sementara Axel juga menggunakan potongan baju yang hampir sama persis, mengunakan kemeja putih dan celana hitam panjang serta sepatu bermerek terkenal.


Jelas menggunakan stelan baju pasangan, terutama, mereka juga menggunakan jepit dasi yang sama, bedanya Axel menggunakan di dasi dan Fannya menggunakannya di kepala karena stelen baju Fannya tidak mengunakan dasi.


Ketika Fannya melangkahkan kakinya ke dalam kantor, dia bisa merasa seluruh karyawan kantor menatap dia yang membuatnya gugup hampir seketika.


Untungnya Axel menggandeng lengannya, menandakan kepemilikan yang kuat, membuat orang-orang tidak berani terlalu melirik mereka apa lagi berbisik secara diam-diam.


Ketika dia akhirnya sampai di kantor utama Axel, barulah dia bisa bernafas lega.


"Sangat gugup?" Axel tersenyum dan menggoda gadis kecil yang terlalu penakut.


Fannya mencoba untuk tidak terlihat takut, dia dengan percaya diri tersenyum, tapi tidak tau harus melakukan apa lagi.


Axel menunjuk ke arah sisi kanan depan mejanya, berkata  "Duduklah di sana, mulai sekarang itu mejamu." Dengan tenang dia berjalan ke arah mejanya, mengambil beberapa kertas dan berbalik.


Fannya berjalan ke arah mejanya, menatap sebuah komputer, laptop dan telpon kantor. Ada juga tempat pensil dan beberapa tempat untuk meletakan berkas, sangat lengkap, ini benar-benar meja seorang sekretaris.


"Apakah kamu bisa melakukan proses data ringan, seperti menyalin data?"


Axel berjalan mendekat Fannya, dan bertanya, dia menatap gadis itu yang terdiam di depan mejanya seolah dia terpesona.


Fannya mendesah tak berdaya, dengan malu menggelengkan kepalanya, "Aku bahkan tidak tau cara menggunakan laptop atau komputer."


Baru kemudian axel sadar bahwa istri yang dia miliki hanyalah lulusan SMA biasa, pada akhirnya dia mengeluarkan telponnya dan melakukan panggilan.


"Datanglah ke kantor." Hanya kata itu dan dia langsung mematikan telepon.

__ADS_1


Fannya melirik Axel dengan mata penasaran, bertanya siapa yang langsung dijawab Axel.


"Tania, aku meminta untuk datang ke sini membantumu mempelajari proses dasar komputer dan sensor data dasar seorang pegawai biasa."


Dia meletakan kertas yang dia pegang ke atas meja, "Tidak perlu takut, kamu bisa belajar secara perlahan-lahan."


Fannya mendengarkan dengan serius, mengangguk dan tersenyum. Sangat manis. Axel mendesah, mengulurkan tangannya dan mengelus rambut gadis itu.


"Jadilah patuh, aku suka gadis yang patuh."


"Baik!"


Axel kembali ke mejanya, mengambil pena di bawah laci dan mulai membaca, suasana tenang untuk sementara waktu. Fannya berpikir seperti inilah suasana Axel bekerja, tenang dan damai, sangat nyaman.


Untuk sementara waktu, dia sendiri juga terlarut kedalam suasana, meskipun dia tidak mengetahui apapun, dia masih dengan penasaran membuka buka laci dan kertas yang ada.


Tapi tidak berselang lama pintu terdobrak terbuka, "Axel!"


Dobrakan yang keras membuat Fannya dan Axel sedikit kaget, keduanya sontak melihat ke pintu.


Mereka melihat Tania dengan wajah garang masuk, ketika dia menyadari jika ada Fannya di dalam ruangan yang sama, dia membeku sesaat.


Matanya cerah, dia mengabaikan Axel dan langsung meleset pergi ke arah Fannya, mengobrol dengan gadis itu. "Hah, apakah kamu ingin bekerja untuk Axel?" Dia bertanya.


Fannya tercengang untuk sementara waktu, sebelum mengangguk, "Yah, aku ingin membantu Axel sedikit."


"Kalau begitu kemari, aku akan membantumu dan mengajarimu!"


Bahkan Axel belum mengatakan tujuannya untuk memanggil Tania ke sini, gadis itu dengan bersemangat menyeret kursi lain di meja sebrang dan membawanya langsung ke arah Fannya, duduk dan membimbing gadis itu.


Axel diam-diam memperhatikan dua gadis itu bersenang-senang dan belajar, tidak menganggu mereka. Dia mengambil sebuah buku kosong dari laci, mengeluarkannya dan membuka halaman kosong.


Wajahnya serius dan tenang, seolah melakukan tugas penting, padahal dia hanya menulis 'ya' 'tidak' di buku kosong itu, tapi seolah terlalu sulit, dia bahkan mengerutkan keningnya.


Tapi ini memang keputusan sulit, untuk berbicara jujur, dibutuhkan banyak keberanian.


Fannya belajar banyak hal dari Tania, untung nya dia termasuk orang yang cerdas, jika tidak, bagaimana bisa dia mendapatkan beasiswa SMA terkenal waktu itu? Walaupun nilainya disemester akhir berantakan, dia dulu orang yang cerdas, meskipun sekarang sudah melambat, tapi dia masih bisa memahami dengan baik.


Tania melihat bahwa Fannya sudah bisa menguasai program data dasar dengan cepat, dia tersenyum bahagia, "Sangat baik! Fannya sangat pintar!" Kemudian dia tertawa.

__ADS_1


Fannya yang dipuji sedikit malu, dia menggelengkan kepalanya, "Bukan hal sulit, semua orang yang diajarkan oleh Nona Tania pasti akan sangat cepat belajar!"


"Anak yang manis.". Tania mengusap matanya, mengulurkan tangannya dan mencubit pipi Fannya.


Dia kemudian berbalik untuk melihat Axel yang masih tertekan dan kebingungan. Bertanya, "Kapan kalian akan ke rumah sakit? Aku akan segera pergi untuk melihat pasien baruku."


Axel mengangkat pandangannya, melihat ke arah Tania. Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangannya. "Fannya mengatakan jika kamu akan mengajaknya ke rumah sakit, aku pikir itu untuk menjenguk adikmu bukan?"


Dia berhenti, menambahkan. "Apakah kamu sudah siap membicarakannya?"


Axel tidak menjawab, dia menundukkan kepalanya lagi, dengan ragu-ragu sedikit mengangguk.


Fannya melihat bolak balik antara Axel dan Tania, dia ragu-ragu, memiliki sebuah tebakan kecil di hatinya, tapi dia tidak berani memikirkannya.


Melihat kecanggungan, Fannya milih untuk bertanya dengan suara rendah ke Tania.


"Bukankah Tania adalah sekretaris Axel, mengapa Tania memiliki pasien?"


Tania mengalihkan pandangannya dari Axel, melihat ke arah Fannya dengan senyum tak berdaya, "Apakah Axel tidak memberitahu kamu? Aku Sebelumnya adalah piskiater Axel dan memiliki kontrak kerjasama dengannya, sebelum tiba-tiba saja dia memintaku untuk menjadi sekretarisnya, karena gajinya tinggi, aku mengambilnya."


Tania tersenyum, mengingat masa lalu. Waktu itu, dia adalah piskiater baru, dan menerima Axel menjadi pasien pertamanya. Kondisi mental Axel tidak baik, emosinya naik turun dan lebih cendrung untuk menyakiti dirinya sendiri.


Setalah 2 tahun pengobatan, dia menjadi baik, tapi menjadi lebih pendiam dan tertutup, dia tidak terlalu dekat dengan siapapun, terutama perempuan, hanya Tania sebagai psikiaternya yang bisa sedikit dia terima dan mau berbicara.


Hingga Tania mendapatkan kabar bahwa Axel memintanya untuk menjadi sekretaris istrinya.


Ketika dia pertama kali mendengarnya, dia terkejut, tapi Axel menjelaskan bahwa dia tidak dekat dengan siapapun selain Tania, berharap dia mau membantu Fannya yang masih katagori kelinci kecil di dalam kandang singa menjadi lebih baik. Juga, karena tawaran gajinya yang tinggi, dia langsung mengambil pekerjaan ini.


Tapi beberapa hari yang lalu, dia mendapatkan pasien yang menawarinya gaji yang lebih tinggi, hehehe, lagi pula kontrak kerja sama dia dengan Axel akan berakhir bulan ini.


"Kamu menerima pasien baru?" Akhirnya Axel ikut bertanya, dia menatap gadis itu dengan sedikit dingin.


Tania tidak berdaya, mendesah, "Tentu saja, kontrak dokter pasien kita akan berakhir bulan ini, wajar aku akan mengambil pasien baru, tenang saja, aku tidak akan membocorkan privat pasienku karena ini adalah motto ku!"


Tania terkekeh, melihat jam kantor kemudian berdiri, "Aku akan pergi, jam janjiku hampir sampai. See you again~"


Dia berdiri dan berjalan ke pintu keluar, sebelum itu dia juga masih sempat untuk menepuk ujung rambut Fannya dengan sentuhan halus.


Fannya terdiam dan menyentuh rambutnya yang sedikit berantakan, menatap Axel dengan ragu. Axel juga menatapnya, mendesah dan bangun dari duduknya, "Mari pergi sekarang."

__ADS_1


Dia merapatkan bibirnya, tidak lagi berbicara dan keluar dari kantor dengan tenang.


__ADS_2