
"Sangat sensitif?"
Nenek tertawa kecil.
Ada yang tidak beres, Axel bisa merasakannya dengan baik.
Bukan hanya kecantikannya yang tidak hilang, tapi aura megah dan royalnya tidak sepenuhnya hilang, jelas dia dulu bukan orang biasa.
"Aku hanya akan bertanya."
Nenek mendesah, "Apakah kamu memiliki tanda lahir dua garis kembar di bahumu?"
Pertanyaan yang ringan, tapi daripada bertanya ini lebih seperti pernyataan, Axel membeku di tempat.
Memang benar, dia memiliki tanda dua garis kembar di bahunya, tapi tidak ada banyak yang tahu hal ini, orang-orang terdekatnya yang tahu.
Selain itu tandanya sangat tipis dan samar, setelah dia dewasa, tanda itu semakin pudar, tapi dia masih mengingatnya.
Jelas ini pertama kalinya mereka bertemu secara tatap mata, bagaimana nenek mengetahui hal ini?
"Siapa kamu?"
Nenek tersenyum, "Aku sudara ibumu, orang yang telah menyelamatkanku dan menyembunyikan mu."
Seluruh tubuh Axel seperti tersambar petir, dia kaku tak bisa bergerak.
Kebenaran apa ini?
Begitu tiba-tiba?
Heh?
"Omong kosong."
Mau tidak mau dia berbicara kasar, tapi kemudian dia tenang dengan cepat.
Nenek berkedip, berbicara dengan nada lembut, tapi di telinga Axel, ini terdengar seolah-olah dia sedang bermain dengan anak-anak.
"Kamu percaya?"
Axel dengan tegas menolak, "Tidak."
"Maka kamu harus mulai percaya."
Meskipun dia penasaran, tidak semua hal dapat Axel ketahui, terkadang, rasa ingin tahu akan membunuh seseorang.
"Bahkan Jika itu benar aku tidak peduli."
"Jangan keras kepalanya, tidak kah kamu ingin tau apa yang sebenarnya terjadi?"
"Tidak."
Axel mencoba untuk tenang walaupun dia gelisah.
Nenek ingin mengatakan banyak hal lagi, tapi melihat Axel menolak untuk tahu, dia diam.
"Kalau begitu bagaimana dengan kabar Nona Gisel? Terakhir kali aku melihatnya, dia masih seorang gadis yang manis."
Axel terdiam, dia memegang tangannya dengan kuat dan mengalihkan perhatiannya.
"Dia sekarang memiliki 2 anak, 3 denganku."
Ketika dia berkata, nenek terkejut.
"Sudah berapa tahun berlalu? Aku tidak menyangka dia akan memiliki 2 anak lainnya."
Nada suara nenek sangat akrab, tampa sadar Axel mengerutkan keningnya sedikit tidak nyaman.
"Apa hubungan anda dengan Nyonya Gisel?"
Baru saat itu nenek tertawa.
"Ah aku kakaknya, dan kamu adalah ponakannya."
Apa?
__ADS_1
Mata Axel melebar sedikit, jelas terkejut.
Apa, tunggu sebentar, dia tidak memahami silsilah ini.
Nenek berkata jika dia adalah saudara ibunya dan juga kakak dari ibu angkatnya, apakah mereka bertiga bersaudara?
Kemudian, dia dengan harmoni adalah sepupu?
Hah? Mengapa sangat rumit?
Untuk sementara waktu dia terdiam, dia ingin bertanya ketika pintu ruangan terbuka.
"Aku kembali."
Ada suara kelelahan dan nafas berat dalam suara Fannya, ketika dia membeli minuman, dia bergegas untuk pergi dan kembali, secepat mungkin, kemudian dia menyesal ketika dia sudah masuk ke dalam kamar.
Seharusnya dia memberikan waktu untuk Axel bersama nenek, agar hubungan mereka bisa lebih dekat dan lebih baik.
Ketika dia berjalan masuk barulah dia menyadari jika suasananya agak salah.
"Apa? Ada apa?"
Dia menatap ke antara mereka berdua dengan bingung.
Axel menggeleng, hanya tersenyum.
"Kemarilah, aku haus."
Fannya berjalan mendekat dengan patuh, menyerahkan minuman yang telah dia beli dengan uang kembaliannya.
"Kamu tidak membeli untuk dirimu sendiri?"
Axel mengambil minumannya dengan bingung, pasalnya Fannya hanya membeli satu minuman, capuccino dingin yang dia pesan.
"Aku tidak ingin."
Selain itu dia juga tidak nyaman makan atau minum ketika neneknya hanya bisa melihat mereka menikmati makanan mereka dengan senyuman.
"Aku akan mengupas buah saja."
Fannya kemudian mengambil keranjang buah, duduk dan mulai mengupas dengan tenang.
"Aku tidak tahu apakah kamu berkah atau bencana dengan menikahi cucuku, tapi aku harap kamu bisa menjaganya dengan baik. Jika kamu memiliki masalah, kamu bisa mencari ku atau ibu mu."
Setiap kata disusun dengan rapi dan dengan kasih sayang, tapi Axel menangkap petunjuknya.
'Jika kamu bingung kamu bisa bertanya kepadaku atau kepada ibumu.'
Axel menundukan kepalanya, mengeluarkan ponselnya dan melirik jam yang tertera.
Fannya selesai mengupas buah apel dengan cepat, dia memotong menjadi beberapa bagian kecil dan meletakkannya di atas piring.
"Nenek makanlah."
Nenek tersenyum dan mengambil buah dan memuji Fannya dengan mata tulus.
"Sangat baik, suamimu sangat beruntung memilikimu."
Fannya tidak mengatakan apapun, tapi telinganya sedikit memerah, jelas dia malu.
Ketika sore hari, dia dan Axel pamit pulang, di tengah jalan pulang, Axel memutar setir ke suatu tempat, ketika mereka sampai di tempat tujuan Fannya menatap gedung di depannya.
"Apakah kita juga akan mengunjungi adikmu juga?"
Benar ini adalah gadung rumah sakit tempat adik Axel dirawat.
Ketika Fannya bertanya lelaki itu tidak menjawab, dia mengalihkan pandangannya dan berjalan maju lebih dulu dengan Fannya mengikuti di belakang seperti anak ayam.
"Kita di sini untuk mencek kesehatan."
Fannya tidak terlalu peduli dengan kesehatannya, tapi sejak menikah dengan Axel, dia mulai memperhatikan kesehatannya, dia juga mulai melakukan cek kesehatan dengan rutin, dimulai dari hari dia akan menikah dengan Axel, seluruh kesehatannya telah diperiksa dan dinyatakan sehat.
Mungkin karena Axel sedikit trauma dengan kesehatan adiknya yang buruk, dia sering mengingatkan Fannya untuk cek kesehatan.
Axel mendatangi meja resepsionis, dia telah membuat janji, jadi dia bisa pergi ke ruang yang telah ditentukan.
__ADS_1
Ketika Fannya masuk, dia melihat dokter yang telah menangani Axel beberapa hari lalu.
"Sudah lebih baik? Aku pikir kamu akan berbaring sekitar 1 minggu."
Dokter dengan malas duduk di kursinya, melempar pena yang dia pegang ke atas meja, dan menatap Axel dengan malas.
"Jadi siapa diantara kalian berdua yang akan aku periksa lebih dulu?"
Axel mengangguk, dia menunjuk Fannya di sampingnya.
"Periksa dia dulu, aku ingin dia diperiksa dengan rinci."
Dokter menatap Axel dengan sedikit menyipitkan matanya, tapi tidak mengatakan apapun, dia bangkit dan tersenyum, dalam sekejap mata dia berubah menjadi dokter yang profesional dengan tempramen lembut.
"Halo, Nona Fannya, saya dokter yang akan memeriksa anda, tolong ikut saya untuk melakukan pemeriksaan."
Melihat sikap dokter yang berubah secepat membalik buku, Fannya sedikit merinding.
Dia dengan ragu maju dan mengikuti dokter ke ruang lain di belakang tirai.
Axel tidak mengikuti mereka, dia hanya duduk di kursi tunggu dan menunggu dengan tenang.
Butuh waktu, cukup lama, hal itu memberikan dia waktu untuk berpikir.
Kata-kata dari nenek Fannya terus terngiang-ngiang di kepalanya, dia mengerutkan bibirnya dan menundukkan kepalanya.
Dia tidak pernah ingin tau tentang masa lalunya dulu, tapi sekarang, sepertinya masa lalunya memiliki kaitan erat dengan adiknya, setidaknya dia harus mengetahui beberapa kebenaran.
Tapi kemana dia harus mencari?
Axel mendesah, dia memutuskan untuk menemui ibunya untuk meminta beberapa penjelasan.
Pada saat itu tirai terbuka.
Dokter masih memiliki senyuman khasnya, tersenyum kepada Axel dengan sopan.
"Tuan Axel, sekarang giliran anda."
Mendengar suara lembut dokter, Axel merinding.
Dia melirik dokter dengan dingin dan bangun dari duduknya.
"Tunggu di sini."
Axel menunjuk ke samping kursi yang dia duduki, berbicara dengan nada membujuk.
"Sabarlah, setelah ini, kita bisa pulang."
Fannya mengangguk dan duduk, sementara Axel masuk ke dalam ruangan.
Dokter menatap Axel dengan alis terangkat.
"Sangat jarang bagimu untuk memeriksa kondisi kesehatanmu sendiri, ini bukan kebetulan bukan?"
Dokter telah menjadi dokter pribadi Axel dari dulu, jadi dia samar-samar bisa mengerti pola pikir Axel.
"Dari data yang aku ambil, jantungnya dengan adikmu cocok."
Dokter terdiam sesaat sebelum menambahkan.
"Apakah kamu ingin mengambil jantungannya untuk adikmu? Sangat putus asa?"
Setiap kata seperti menusuk Axel, lelaki itu mengalihkan perhatiannya, tidak langsung menjawab.
"Kamu terlalu banyak berpikir."
Secara diam, dia menginformasi.
Dokter sedikit mendesah, masih sedikit tidak terima, "Ini sama artinya kamu akan membunuh gadis itu untuk adikmu sendiri, egois, mengapa kamu sangat kejam?"
Axel menunduk, "Karena aku tidak ingin kehilangan adikku."
"Akan bagus jika setalah semuanya siap operasi berjalan dengan baik, tapi jika gagal, kamu harus tahu kamu bisa saja membunuh dua orang sekaligus secara tidak langsung."
Dokter mengangkat bahunya, tidak peduli, "Kemarilah aku akan memeriksa mu sekarang."
__ADS_1
Axel terdiam, dengan patuh duduk dan memulai pemeriksaan.
Meskipun dia terlihat baik-baik saja, pikirannya sudah lama mengembara ke banyak hal.