
Ketika pulang, Fannya benar-benar tidak mood. Dia berlari ke kamar dan berbaring, mengangkat selimut dan menutupi dirinya.
Axel mengikuti di belakang, menatap gadis itu di depan pintu dengan bingung, "Ada apa?"
"Tidak ada."
Fannya mengeluarkan suara kecil dari balik selimut, dia masih menolak untuk berbicara lebih banyak.
"Jangan berbohong."
"Tidak."
"Fannya."
Ketika Axel memanggil namannya, jelas dia tidak ingin main-main lagi, dia mendekati Fannya dan mencoba untuk menarik selimut itu turun.
"Ada apa," dia bertanya lagi.
Akhirnya Fannya menyerah, dia bangun, duduk dan menatap Axel.
"Aku hanya berpikir bisakah aku menemui ayah?"
Sudah sangat lama, jika bukan karena ancaman, tidak mungkin baginya untuk berpikir menemui ayahnya.
Lebih baik dia menggunakan waktunya untuk belajar banyak hal, lagi pula, dia tidak tau apa yang akan terjadi ketika mereka bertemu.
Apakah ayahnya hanya meminta dia untuk menemuinya hanya untuk dipermalukan atau memang ada sesuatu yang harus mereka bicarakan, dia sebenarnya tidak ingin saling bertemu.
Fannya rasa tidak ada yang harus dibicarakan lagi, sejak dia keluar dari keluarganya, dia tidak ingin lagi terlibat.
Hanya saja hatinya tidak tenang, seolah memberitahukan dia bahwa dia harus menamukan ayahnya untuk mengetahui sesuatu.
"Begitu tiba-tiba?"
Axel mengangkat alisnya, menatap Fannya dengan sedikit aneh.
"Apakah terjadi sesuatu?"
Fannya menggelangkan kepalanya dia menggigit bibirnya untuk mencegah dirinya sendiri mengalihkan pandangannya dari mata Axel.
"Aku hanya berpikir untuk menanyakan sesuatu kepadanya."
Dia diam sebentar, menambahkan, "Selain itu aku juga ingin memperjelas batasan dan hubungan kami."
Setelah keluar dari keluarga itu artinya dia hanyalah orang asing.
"Apakah ayahmu pernah datang dan menemuimu sebelumnya?"
Axel sedikit sensitif, dia menemukan sesuatu yang sedikit ganjil.
__ADS_1
"Atau apakah dia mengirim sesuatu yang membuat mu harus menemui dia? Sebelumnya, kamu tidak pernah mengatakan apapun tentang keluargamu, apa lagi ingin menemui mereka."
Fannya membeku sesaat, jelas Axel dapat melihat gerakan kecilnya, dia mengerutkan kening, mengulurkan tangannya dan menggenggam bahu Fannya.
"Apakah dia mengancam mu?"
"Tidak."
Fannya secara refleks berbohong, kemudian menahan sedikit nafasnya untuk mengurangi rasa gugup dan menatap mata Axel secara langsung tanpa takut.
"Aku hanya berpikir, sudah sangat lama sejak aku menghilang, apakah ayah pernah mencari ku? Aku penasaran bagaimana reaksinya setelah lama sejak aku menghilang dan muncul di hadapannya."
Fannya terdiam dan menunduk.
"Selain itu, aku juga ingin mengambil beberapa barang milik ibuku."
Ada kotak musik kesayangan ibunya yang dia sembunyikan di suatu tempat di rumah besar itu.
Jika tidak hilang, dia ingin mengambilnya kembali.
Ketika berbicara, Fannya mengatakannya seolah dia mengatakan kebenarannya, meskipun terlihat gugup dan cemas, itu masih terlihat wajar karena mungkin dia gugup dan sedikit takut menemui ayahnya.
Axel tidak menemukan kejanggalan apapun lagi, tapi dia tetap mengerutkan keningnya.
Dia dengan ragu melepaskan genggamannya di pundak Fannya dan menatap gadis itu bertanya dengan ragu.
"Bagaimana caramu menghilang, aku telah mencari sejak lama tapi tidak menemukan petunjuk keberadaanmu, jika aku tidak sengaja melihat foto mu dengan kakak mu aku tidak akan pernah mengetahui keberadaanmu."
Dia sudah mengunakan banyak cara untuk menemukan keberadaan Fannya, tapi seseorang menutupi keberadaannya, jelas bukan orang biasa.
Dia tidak tau apakah jika dia menanyakannya secara langsung, dia akan mendapatkan informasi atau tidak, tapi setidaknya beberapa keraguan harus di konfirmasi.
Sayangnya Fannya tidak terlalu fokus ke arah pertanyaan, menatap Axel dengan bingung dan berkata seolah dia bingung.
"Apakah kamu mencoba melacak ku?"
Dulu, ketika SMA, dia jelas menyukai Axel, tapi laki-laki itu hampir secara langsung menolaknya, lelaki itu lebih suka menemani adiknya hampir setiap saat.
Dia hanya berpikir jika laki-laki itu terlalu fokus untuk menjaga adiknya dan menghindar dari hal yang merepotkan seperti cinta.
Sejak saat itu, dia tidak pernah menaruh harapannya terlalu tinggi lagi dan mulai menjalankan hidup barunya dengan tenang dan damai.
Tapi tidak menyangkan jika Axel akan mencarinya ketika dia hilang, apakah lelaki itu telah mengawasinya selama ini?
Fannya tertawa dalam hati.
Mungkin saja, karena dia adalah cinta dari musuhnya? Jelas dia harus memperhatikan titik lemah ini dengan baik.
"Mungkin?"
__ADS_1
Atas pernyataan ragu Axel, Fannya sedikit terkejut, tidak mengira jika lelaki itu akan mengakuinya dengan mudah meskipun ragu.
Axel sendirian juga tidak tau mengapa, dia mengalihkan tatapan matanya, berbicara dengan tenang.
"Kamu harus tau mengapa aku mengawasi mu bukan? Sebenarnya aku tidak terlalu mengawasi mu, hanya saja setalah adikku masuk rumah sakit, aku mulai mengawasi mu lebih jauh tapi ketika kamu jatuh dari tebing waktu itu, apa yang terjadi?"
Ada alasan mengapa menghilangnya Fannya menjadi lebih misteri, karena gadis itu nekat jatuh dari tebing di pesisir pantai.
Karena waktu itu ada badai dan gelap di malam hari, sulit untuk menemukan keberadaannya.
Semua orang hampir mengira dia mati, tapi kakaknya sangat ngotot jika adiknya masih hidup, dari petunjuk terakhir inilah akhir Axel berhasil menemukan Fannya.
Fannya terdiam, tidak tau harus mengatakan apapun untuk masa lalu buruknya.
Dia masih ingat dinginnya air laut yang hampir membekukan setiap darahnya dan rasa sakit luar biasa ketika dia menghirup air laut ke dalam paru-parunya, sangat sulit untuk bernafas di tegah terjangan angin laut, dia tidak ingin mengingat rasa sakit itu lagi.
"Aku hanya beruntung."
Fannya memegang tangannya, semua ini hanyalah keberuntungan.
Ketika dia akan mati tenggelam, dia tidak melawan, dia pasrah dan menunggu ajalnya tiba, tapi ternyata tuhan masih membencinya untuk membiarkan dia tetap hidup di dunia yang kejam ini.
Ada sebuah perahu kecil yang terseret badai di laut waktu itu, pemilik kapal mungkin telah memperhatikan dia yang ingin tenggelam dan menyelamatkannya.
Beberapa saat ketika dia akan pingsan dia secara samar melihat wajah orang itu.
Seperti seorang pria paruh baya, tapi umurnya yang telah dia lalui tidak bisa menyembunyikan ketampanannya.
Dia memiliki mata tajam, hidung mancung dan bibir penuh. Rambutnya yang basah menempel di pipinya, wajahnya yang dingin terlihat seperti seorang malaikat.
Orang itu basah kuyup karena menyelamatkan dia. Fannya bisa merasakan tubuh yang dingin sedikit hangat di dalam pelukan pria itu, sebelum dia akhirnya pingsan sepenuhnya.
Samar-samar dia ingat pria itu berkata kepadanya untuk istirahat, ketika dia bangun, dia sudah berada di rumah sakit.
Hal yang pertama dia lakukan adalah ingin menemui penyelamatnya, tapi orang itu sibuk dan hanya mengirimkan asistennya untuk sementara waktu merawatnya.
Ketika dia sembuh, Fannya dengan bersungguh-sungguh ingin membayar kebaikan itu, tapi orang itu menolaknya dengan sangat tegas tampa ada negosiasi
Fannya tidak berdaya dan menemui kakaknya, dengan tekat bulat, dia ingin menghilangkan jejaknya dan memulai jalan barunya.
Kakaknya mendukungnya, dia dengan baik hati secara diam-diam membelikan dia tiket pesawat untuk ke luar negri dan biaya hidup sederhana.
Dia hanya menggunakan tiket pesawat itu dan sedikit uang untuk sementara mencari tempat tinggal, dia ingin bekerja tapi dia tidak memiliki apapun untuk bukti identitas, akhirnya hampir semua uang kakaknya dia gunakan untuk membeli identitas palsu dengan nama yang sama.
Untuk mencegah ditemukan, kakaknya tidak bisa mengirimkan dia uang lagi untuk sementara waktu, ketika rumah sewaannya disita, dia bertemu dengan neneknya sekarang dan memulai hidup sederhananya.
Dia tidak ingin tergantung dengan kakaknya dan tidak pernah lagi ingin mengambil uang transfer yang kakaknya kirimkan, dia membuka akun bank baru dan tidak memberitahukan kakaknya, dan dia juga mulai tertutup, tapi mereka masih terhubung melalui telpon terkadang.
Masa-masa itu sangat sulit, penuh dengan derita dan kepahitan hidup.
__ADS_1
Tapi dia berhasil bertahan dengan rasa sakit ini.