Kontrak Cinta Tuan Ceo

Kontrak Cinta Tuan Ceo
menjadi gila


__ADS_3

'Terduga ada penyusup di kapal yang telah melukai Nona Fannya Max serta Vestia Cassandra, hampir membuat dua orang itu mati membeku di dalam ruangan pendingin, beruntung Tuan Axel max dan Tuan Raffan Xenthe berhasil menemukan mereka tepat waktu mencegah adanya korban.'


"Omong kosong!"


Raffan terlalu marah hingga dia membanting cangkir kopinya.


Jelas pria jahat itu yang merencanakan semua ini, tapi media membingkai dia sebagai pahlawan yang menyelamatkan seorang putri dari kejahatan.


"Aku! ingin sekali aku membunuhnya!"


Dia menggertakkan giginya, mengitari ruangan dengan perasan campur aduk dan terkadang menghancurkan beberapa barang yang dia anggap menganggu.


Dia ingin mengunjungi Fannya, menanyakan kabar gadis itu dan menjelaskan semuanya, tapi Axel menghalangi dia, dia tidak tau apakah Axel membingkai dia di depan gadis itu atau malah lebih buruk, langsung menuduhnya


Semakin dia berpikir semakin dia cemas.


Seno telah memperhatikan dari samping mengeluarkan sebuah botol obat dari meja depan ketika melihat tingkat kecemasan Raffan semakin kuat.


"Tuan, minumlah obat anda, jika tidak anda akan lepas kendali lagi."


Seno membawa obat itu ke arah Raffan dengan segelas air putih.


Raffan melirik obat di tangannya dengan jijik dan memalingkan wajahnya, jelas dia enggan untuk meminum obat itu.


"Aku tidak akan meminumnya lagi, obat itu hanya akan membuatku semakin gila."


Sekretaris Seno juga tidak memaksa, dia meletakan obat dan air di meja dekat Raffan.


"Tapi tuan besar berkata kepada saya untuk memastikan bahwa tuan muda meminum obat dengan teratur. Terutama ketika kecemasan tuan meningkat."


Raffan akan membantah, tapi karena dia tersulut amarah begitu lama, kepalanya sangat sakit, seolah-olah seseorang telah membenturkan kepalanya ke dinding, telinganya berdengung dan dia hampir jatuh jika dia tidak menopang dirinya di meja.


Saat berjuang, rasa sakit semakin parah, dia dengan gemetaran megambil obat dan meminum dua pil sekaligus, tanpa menggunakan air, dia langsung mengunyah pil itu seolah dia memiliki dendam, dia mengunyah dengan kuat bahkan bunyi berdecit gigi yang saling bergesekan terdengar.


Benar saja, kepalanya semakin pusing, untungnya Seno dengan sigap langsung membantunya berdiri dan membawanya ke kamar tidur.


Berbaring menatap langit-langit dengan mata kosong Raffan tertawa. Dia benar-benar gila.


Efek obat bekerja dengan cepat, tubuhnya mulai lemas dan dia kehilangan kekuatan berpikirnya dan tertidur seolah dia mati.


Seno memperhatikan dari samping, ketika dia yakin tuan muda telah tertidur, dia mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan.


"Tuan, dia kembali mengamuk, apa yang anda curigai semuanya benar."


Tidak ada jawaban dari telepon selama beberapa detik, sebelum suara berat yang serak terdengar.


"Lanjutkan."

__ADS_1


Secara otomatis sekretaris Seno melanjutkan penjelasannya. "Semua bukti telah dilenyapkan, dan tidak ada jejak yang tertinggal ."


Dia berhenti sesaat, dengan ragu kembali menambahkan sambil menatap Tuan Mudanya yang tertidur.


"Kejadian ini juga merangsang Tuan Muda, apakah itu tidak masalah Tuan?"


Orang di sebrang telpon terkekeh, dia yang sedang duduk di kursi kebesarannya menatap tajam ke arah musuh di bawah kakinya.


"Tidak masalah, jika tidak seperti itu, kedua orang itu tidak akan terangsang. Aku membutuhkan pewaris yang paling kompeten untuk mewarisi seluruh kekuasaan ku."


Dia berhenti, salah satu tangan yang bebas menyentuh sakunya dan mengambil sesuatu, ketika benda itu di keluarkan, itu adalah sebuah pistol. Orang di bawah kakinya bergerak panik, jelas dia takut.


Tuan yang duduk di kursi kebesarannya tersenyum lembut, mengarahkan moncongnya ke target dan berbisik.


"Tidak apa-apa, ini tidak akan sakit, karena ini bukan pisau kesayanganku."


Kemudian sebuah suara tembakan terdengar. Seno di sebrang telpon sedikit terkejut, dia merapatkan bibirnya, dengan ragu bertanya.


"Tuan tidak apa-apa."


Orang itu mendorong mayat di kakinya menjauh, sebelum berdiri dan pergi ke arah jandela besar di belakangnya. Pemandangan kota yang ramai di siang hari terlihat sangat indah. Tapi jelas orang itu tidak tertarik melihat pemandangan itu.


"Awasi gadis itu, rencana kita telah gagal sekali, jangan sampai gagal dua kali."


Suaranya dingin, seperti es yang tajam, "Aku telah merangsang gadis itu, tapi sangat sulit membangkitkan potensinya, kuharap rencana berikutnya akan merangsang dia lebih kuat."


Dia menundukkan kepalanya menatap gelang usang di tangannya, "Bagaimanapun, dia adalah putri satu-satunya yang dia sayangi."


Tidak terasa, hari ini adalah hari terakhir perjalanan kapal pesiar.


Setalah kejadian terakhir kali, Fannya sekarang sudah bisa bergerak dengan bebas dan memiliki senyumannya lagi.


"Angin laut sangat menyegarkan."


Di terkekeh, membentangkan tangannya dan menyambut angin di sekelilingnya.


Axel duduk di kursi santai memperhatikan gadis itu bersenang-senang. Vestia juga duduk di sebelahnya, bermain dengan ponselnya.


Dia membuka fitur kamera dan mengarahkan lensa ke arah Fannya, tersenyum dan memanggil gadis itu.


Ketika namanya dipanggil, Fannya menoleh, tepat ke arah lensa kamera, dengan sigap Vestia berhasil mendapatkan beberapa foto yang bagus.


"Vestia!"


Fannya berseru dengan protes, dia mendekati gadis nakal itu yang tertawa terbahak-bahak dan meminta ponsel yang dia pegang.


Vestia tidak menolak, dia menyerahkan ponselnya dan menunjukan gambar-gambar yang telah dia ambil dengan baik.

__ADS_1


"Kemarilah."


Melihat gadis begitu fokus memandangi semua gambar yang dia ambil Vestia tertawa kecil, kemudian menyeret gadis itu duduk di sebelahnya, di kursi santai yang sama.


Axel tidak memperhatikan kedua gadis itu, dia hanya memejamkan matanya dan berjemur. Menikmati hari santai yang langka.


Kali ini, dia tidak menggunakan baju mewah apapun, dia hanya menggunakan celana pendek dan kemeja lengan pendek untuk bersantai.


Vestia telah memperhatikan bahwa Axel tidak menanggapi apapun menyeret Fannya lebih dekat dengannya, berbisik perlahan sehingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar kata-katanya.


"Mari berfoto bertiga!"


Awalnya Fannya sedikit ragu, tapi dibawah bujukan Vestia, dia akhirnya mengangguk, dengan senang hati Vestia mengikat ponselnya dan menggunakan kamera depan, membidik tiga orang langsung di gambar.


Gambar pertama ketika Axel berbaring dan menutup matanya santai, sementara Fannya mengangkat tangannya dan menutupi mulutnya, seolah malu, Vestia sendiri mengerucutkan bibirnya, membuat mata juling dan mengangkat tangannya menjadi bentuk V.


Hanya satu foto tidak membuat Vestia puas, dia kemudian mengambil beberapa bidikan lagi, sampai salah satu foto memperlihatkan Axel membuka matanya dan mengangkat alisnya, melihat langsung ke arah kamera, dia bangun!


Baik Fannya dan Vestia menoleh secara serempak, yang langsung di sambut tatapan dingin Axel. Seolah memiliki kontak batin mereka saling melirik.


"Ah, bersantai lah kembali, kami tidak akan melakukannya lagi."


Vestia melambaikan bendera menyerahnya lebih dulu, tersenyum canggung dan menyeret Fannya untuk kembali melihat ponselnya, mengabaikan Axel secara langsung.


Di tegah panasnya sinar matahari, Fannya pergi untuk mencarikan mereka minuman, Vestia yang di tinggal berdua degan Axel memutar matanya jengah.


"Apakah dia tidak membuat masalah?" Dia bertanya.


Axel tidak membuka matanya, tetap dengan tenang menikmati angin laut di siang hari.


"Aku tidak tau, tapi ini di luar perkiraan ku."


Akhirnya Axel membuka matanya, bahkan tanpa mengatakan objek pembicaraan mereka, keduanya tau siapa yang mereka bicarakan.


"Ini terlalu tenang, tidak seperti sifat gegabah miliknya, ada yang aneh. Seharusnya dia sudah datang dan memulai pertempuran lainnya."


Vestia mengangguk tanpa mengatakan apapun, karena sudut matanya melihat Fannya telah datang dengan gerobak makanan. Dia senyuman ceria, bangun dan membantu Fannya.


"Es lemon, pasti sangat enak."


Vestia berseru bahagia, mengambil minumanya lebih dulu sebelum berbaik dan meminumnya sampai habis.


Ketiganya mengobrol dengan senyuman, terkadang Vestia akan tertawa keras ketika melihat Fannya digoda malu-malu kucing mengerucutkan bibirnya.


Tapi tidak ada yang tau di kejauhan, di tempat tertinggi, Raffan menatap mereka dengan tenang menggunakan teleskop jarak jauh.


Salah satu tangannya berada di saku celananya, matanya dingin dan dia sangat pendiam, tidak seperti dirinya sebelumnya.

__ADS_1


"Beritahu ayah, aku akan melakukan misinya."


Dia berkata dengan suara dingin, berbalik dan melangkah pergi. Setiap ketukan langkah kakinya begitu jelas tanpa goyah sedikitpun.


__ADS_2