Kontrak Cinta Tuan Ceo

Kontrak Cinta Tuan Ceo
kelembutan


__ADS_3

Axel tidak bisa santai sampai hampir jam 9 malam, karena berlibur begitu lama, banyak berkas yang harus dia selesaikan lagi. Dia tidak bisa asal untuk menandatangani berkas ini, dia harus menyortir dan membacanya dengan teliti untuk menghindari dijebak oleh perusahaan lainnya.


Ketika dia selesai dia menghembuskan nafas kelelahan, bersandar di kursinya sambil memejamkan matanya.


"Apakah ada perkembangan?"


Dia bertanya, memutar kursinya tepat menghadap ke arah meja sekretarisnya.


Sekretaris Pram menatap Tuannya sesaat, menunduk dan mengambil sebuah kertas di dalam laci meja.


"Hampi tidak ada yang mencurigakan, selain itu, kapal pesiar itu bukan ranah Tuan, sangat sulit untuk mencari data dari para awak kapal, pencarian terlalu luas dan tidak dapat diperkecil. Tuan maaf, kamu tidak dapat menemukan apapun."


Axel tidak mengatakan apapun, dia hanya bisa bernafas gusar. "Kalau begitu berhenti mencari, lebih fokus untuk memperhatikan pergerakan dunia bawah."


Dia menyentuh ujung alisnya, menekankan, "Terutama Vestia, perhatikan gerakannya."


Ketika dia pulang ke rumah, ini sudah cukup larut malam.


Ketika biasanya dia akan pulang dengan suasana rumah kosong, kali ini, dis dikejutkan dengan suasana rumah yang cukup berisik.


Suara keras dari televisi bahkan bisa terdengar dari luar, terutama lagu DJ yang diputar membuat kepala Axel yang pusing bertambah pusing.


Dia mencoba untuk bersabar, pergi ke ruang tamu dan melihat Fannya yang sedang berbaring dengan ponselnya, tertidur.


Axel heran sendiri, rumah sangat berisik, bagaimana cara gadis itu tidur?


Dia tidak bisa berkata-kata, pertama dia pergi untuk mematikan televisi, musik dan berbalik untuk pergi mandi.


Ketika air dingin membasuh tubuhnya, barulah rasa lelah bekerja seharian bisa menghilang, setelah ganti baju, dia pergi ke sofa dan mengangkat gadis yang tertidur di sofa ke kamar.


Ketika gadis itu berbaring di kasur, Axel menyadari jika gadis itu ternyata sedang sakit, tubuhnya panas dan dia berkeringat. Dengan sakit kepala Axel memijit pangkal hidungnya.


Bibi pelayan pasti sudah pulang, dan tidak ada dokter pribadi di dekatnya, dia hanya bisa melakukannya manual, pergi ambil baskom air dingin dia dengan perlahan namun lembut mengusap kain basah yang telah dia basahi tadi ke dahi Fannya, menghapus semua keringat gadis itu sebelum meletakan kompres dingin.


Ketika larut malam, demam Fannya semakin kuat, gadis itu bergerak tidak nyaman dan membuka matanya, merengek pelan.


Axel terbangun, dia dengan mengantuk mengelus pucuk kepala Fannya, menghiburnya dan membujuknya untuk tidur.


"Tidak apa-apa, tidurlah, aku di sini."


Karena pusing, otak Fannya sedikit lambat, dia berkedip dan menangis, "Ibu." Dia berbisik lembut, mencari kehangatan dengan langsung memeluk tubuh Axel dan menggosokkan tubuhnya sendiri ke Axel.

__ADS_1


Axel membeku, rasa ngantuk nya menghilang seketika, secara tak sadar dia ingin mendorong gadis itu menjauh, tapi ketika tangannya menyentuh bahu Fannya, dia menyadari jika panas tubuhnya semakin parah, sepertinya ini adalah puncak demamnya.


Dengan ragu-ragu, Axel merangkul bahu Fannya, memeluknya dan membiarkan dia masuk ke dalam pelukannya sendiri.


Sejak adiknya jatuh koma, dia mengasingkan dirinya, tidak pernah dekat dengan siapapun apa lagi seorang perempuan, tapi Fannya adalah pengecualian. Awalnya dia berencana untuk mendekati gadis itu, jadi dia sedikit membuka dirinya, tapi lama kelamaan, dia seperti terbiasa.


Meskipun paras Fannya dan adiknya berbeda, sifat mereka hampir sama, bedanya, adiknya lebih keras kepala dan Fannya sendiri lebih sering mengalah.


Mungkin karena inilah dia tampa sadar tidak menolak Fannya, bahkan ketika dia sadar, dia tidak keberatan, kerena bukan hanya untuk balas dendam, dia ingin menjadikan fannya adalah wanita terakhir di hatinya.


Perlahan-lahan, dia ingin melupakan adiknya sendiri, ini adalah cara dia mencoba menghapus dosanya. Tapi, dengan syarat gadis itu berhasil menghapus perasaanya kepada adiknya, jika tidak bisa...


Axel mendesah, hati seseorang sangat sulit dimengerti dan dirubah, bahkan seperti sekarang, jika dia melakukan banyak kontak dengan Fannya, dia masih belum bisa sepenuhnya menerimanya, masih ada celah.


"Sttt, tidurlah." Daripada banyak berpikir, lebih baik tidur saja dan biarkan hari esok datang dan menyambut.


_


Paginya, fannya bangun kesiangan, ketika dia bangun, hal pertama yang dia rasakan adalah lemas, kemudian, ketika dia duduk, sebuah kain basah jatuh ke atas perutnya. Baru saat itu sepertinya dia ingat sesuatu, tadi malam sepertinya dia demam.


Karena sedikit terkejut dan takut menerima paket misterius itu, dia menjadi depresi, dia tidak membuang paket itu, tapi menyembunyikannya di dalam rumah pohon. Tapi ketika dia kembali ke rumah, dia terus kepikiran. Ketika bibi pulang, untuk meredam rasa takut dia menyalakan semua lampu dan membuka televisi serta musik dengan suara penuh.


Pada akhirnya dia kelelahan dan tidur di sofa, tapi sepertinya Axel telah memindahkan dia ke kamar.


Fannya cukup bahagia, dia bangun dan meregangkan tubuhnya sebelum mandi dan turun kebawah.


Ketika mandi, dia berpikir, apa yang harus dia lakukan dengan ancaman itu?


Fannya memikirkannya selama setengah jam, memutuskan untuk mengabaikannya saja, lagi pula Axel bukan orang yang mudah untuk dihadapi. Ayahnya tidak mungkin untuk membunuh Axel semudah membunuh ibunya.


Ketika dia keluar dari kamar mandi, Menganti baju dan turun ke bawah. Sampai di dapur, dia melihat bibi pelayan sedang melakukan sesuatu dengan sekeranjang benang, jadi dia datang dan menyapa.


"Nona, bibi sedang belajar membuat gelang, jika Nona mau belajar juga, Nona bisa ikut belajar, tapi Nona sarapan dulu."


Bibi berhenti menganyam benang, dia berdiri dan mengambil sarapan untuk Fannya.


"Bibi membuat sup ikan, semua Nona suka."


Bibi meletakan mangkuk sup di atas meja, tepat di depan Fannya. Sup masih terbilang panas karena masih mengeluarkan asap. Fannya memakannya dalam tenang, sambil mendengarkan penjelasan dari bibi cara membuat gelang.


Ketika bibi pelayan pulang, Fannya membawa keranjang benang yang diberikan bibi ke rumah pohon, duduk dan menganyam gelang dengan penuh perhatian.

__ADS_1


Fannya menatap gelang acak-acakan di tangannya, sedikit malu dan tak berdaya, dia turun dari rumah pohon dan berlari ke gerbang depan. Berniat untuk keluar dan membeli lebih banyak benang dan penak pernik.


Ada penjaga di depan gerbang depan, ketika mereka melihat Nona kecil berlari ke arah mereka, mereka bertanya dengan sabar.


"Bisakah kamu membawa aku ke luar? Aku ingin membeli sesuatu untuk Axel."


Untungnya Axel adalah CEO muda dengan banyak yang, jadi ketika berbelanja Fannya tidak harus memperhatikan pengeluarannya.  Axel bahkan memberikan dia 2 kartu hitam.


Para pengawal mengangguk, salah satu dari mereka berlari kecil masuk ke dalam area parkir dan mengambil sebuah mobil.


Fannya duduk di kursi penumpang, berkata, "Bawa aku tempat orang menjual pernak pernik untuk gelang atau kalung!"


Karena dia tidak tau nama tempat untuk menjual hal-hal itu, dia hanya bisa mengatakannya seperti itu, dua pengawal di depan saling tatap dan berkedip, sebelum mengangguk, "Mengerti nona."


Ketika para pengawal itu membawanya dalam diam, Fannya bermain dengan ponselnya. Ini ponsel yang baru dibelikan oleh Axel, berwarna emas cantik keluaran terbaru.


Ketika para pengawal mengatakan bahwa mereka sudah sampai, dia terkejut karena mereka membawa dia langsung ke mall terbesar di kota.


"Wah~" Fannya terpesona dengan indahnya kekayaan.


Para pengawal tertawa kecil, kemudian membantu Nona kecil mereka turun dan masuk ke dalam mall.


Mall sangat besar dengan banyak orang, membuat Fannya pusing dan terkagum-kagum.


Dia mengikuti pengawalnya untuk pergi ke salah satu toko terbesar, ini merupakan toko suvenir yang paling lengkap di kota.


Ketika Fannya masuk dia disuguhkan pemandangan banyak suvenir imut dan lucu, sangat kebetulan dia juga sangat menyukai hal-hal estetik seperti ini, dia tidak sabar untuk datang dan membeli semua barang, jika bisa dia ingin memborong semunya


Kemudian dia menatap para pengawal dengan penuh harap, "Bisakah aku membeli banyak barang?"


Pengawal mengangguk, dan membiarkan Fannya berkeliling sendiri. Semua barang sangat cantik, hanya saja harganya juga cantik, melihat harga-harga barang, Fannya sedikit ragu untuk membelinya.


Fannya berkeliling beberapa kali, sampai dia melihat sebuah kotak musik kaca cantik di rak paling atas, dia terpesona, langsung saja dia memutuskan untuk membeli benda itu!


Dengan berjinjit Fannya mencoba mengambil kotak musik, ketika dia akan mengambilnya, sebuah tangan lain mengambilnya lebih dulu, dia terkejut dan berbalik sebelum membuka matanya lebar-lebar terkejut.


"Raffan!" Dia memanggil secara refleks, mundur dan merapatkan tubuhnya ke dinding rak.


Raffan tersenyum, menyentuh kotak musik dengan jari jari putih pucat nya.


"Lama tak bertemu." Raffan tersenyum ringan, "Ingin membeli hadiah untuk kekasihmu?"

__ADS_1


Dia berhenti dan tertawa, "Bukan, sekarang dia adalah suamimu...."


__ADS_2