Kontrak Cinta Tuan Ceo

Kontrak Cinta Tuan Ceo
jangan pulang larut malam


__ADS_3

Seluruh lelang terdiam, tapi mereka jelas kaget di dalam hati mereka, tidak menyangka jika mereka akan bertemu dengan dua tiran sekaligus.


Raffan mengendus, dia memegang papan di satu tangan dan menyentuh earphone di telinganya.


"90M, kamu bisa menawarnya hingga batas itu." Suara di earphone terdengar.


Raffan hanya bisa menggertakkan giginya, anggaran dana mereka cukup banyak, tapi dia tidak tau berapa banyak anggaran dana yang dimiliki Axel.


Ayahnya mungkin akan tidak senang jika dia tidak berhasil mendapatkan saham ini.


Raffan menghembuskan nafas, mengangkat papan nomornya berkata dengan keras, "75M, naikkan."


Fannya ditempat sudah berkeringat dingin, harga terus melambung tinggi, tapi Axel masih tetap tenang.


"Katakan."


Fannya gemetaran, menelan ludahnya sebelum berkata dengan gemetaran, "75,1M naikkan."


Tidak berselang lama, Raffan juga menawar, langsung ke "78M."


"Naikkan, lebih tinggi." Axel bergumam rendah, masih ingin membimbing Fannya untuk terus menawar.


Dengan gigi tertutup rapat, akhirnya Fannya menaikkan harga lebih tinggi. "78,9. Naik."


Harga terus meninggi, membuat orang-orang bertanya tanya siapa dua tiran gila itu.


Pembawa acara tersenyum semakin dalam, "78,9M. Apakah ada penawar lainnnya?"


Raffan hampir memuntahkan darah marah, hatinya panas dan dia langsung menawar harga tertinggi, "85M! Sialan, cepat naikkan!"


Dia tidak peduli dengan urusan ayahnya yang menginginkan saham ini, dia lebih peduli pada suara Fannya dan Axel yang saling berganti untuk menawar.


Amarah dan rasa kesal hampir membuat dia gila. Dia bahkan hampir dengan gelap mata menawar langsung dengan harga tertinggi.


Kali ini Axel juga menggertakkan giginya, menawar lebih tinggi, "85,1M. Naik."


Ini adalah batas anggarannya, jika dia terus menawar, ini akan mempengaruhi dana perusahaan, ini akan sangat berbahaya, selain itu, di juga masih membutuhkan dana untuk projek penting lainnya.


Axel tak berdaya hanya bisa menggertakkan giginya.


Dia sudah mengeluarkan terlalu banyak dana untuk membeli saham Clovis grup sebelumnya, dan dia tahu dia kekurangan dana sekarang, tapi seandainya orang lain yang membeli saham itu, dia tidak keberatan, tapi, jika Raffan yang membelinya, dia tidak suka itu.


Untuk apa orang gila itu menawar saham keluarga Clovis? Apa yang dia rencanakan?


Amarah Axel masih kalah ganasnya dengan Raffan, dia bahkan bisa merasakan bau darah dan rasa karat besi di bibirnya, dia mengigit bibirnya terlalu keras hingga berdarah.

__ADS_1


Sepertinya, kali ini dia hanya bisa mengalah dengan musuhnya.


"88M. Naik!"


Amarah membuat kepalanya sakit lagi, Raffan menggertakkan giginya dan langsung menaikan harganya tanpa banyak berpikir.


Juru bicara lelang tersenyum, "Apakah ada penawar lainnya?" Dia bertanya.


Axel tutup mulut, dana yang dia pegang tidak cukup untuk menawar lagi, hingga juru bicara bertanya untuk ke-3 kalinya, dia hanya bisa diam, kemudian suara ketukan palu terdengar keras.


"Terjual, saham keluarga Clovis sebesar 8% dengan harga 88M. Kemudian kita akan memasuki sesi lelang lainnya."


"Kali ini, kami akan melelang..."


Mood Axel sangat buruk. Tapi dia tau jika dia tidak bisa menawar melebihi anggaran dananya, jika tidak perusahannya akan terpengaruh parah.


Dia tau itu, itu sebabnya dia tidak menawar saham itu lebih jauh lagi. Tapi tetap saja dia sedikit marah dan kesal, hatinya campur aduk dan dia berkata dengan dingin, "Ayo pergi."


Fannya berkeringat dingin, dia memperhatikan secara diam-diam ketika Axel yang berdiri dibelakangnya pergi menuju pintu secara langsung.


Jelas pria itu marah dan kesal, seluruh tubuh memancarkan aura dingin.


Fannya juga tidak berani berlama-lama, dia mengikuti dalam diam, Pram terakhir mengikuti, dia berhenti di sudut koridor sesaat dan menoleh ke belakang dengan ragu, tapi tidak ada apapun.


Pram mendesah lelah, mungkin dia hanya kelelahan dan berhalusinasi sesaat.


Fannya yang menunggu di samping jalan diam dengan sedikit linglung.


Ketika dia merasa lelah, dia berniat untuk duduk ke bangku taman ketika seseorang berlari dengan cepat dan menabraknya, Alhasil keduanya jatuh terduduk.


"Hais."


Fannya meringis pelan, dia secara refleks menyentuh kakinya yang sedikit terkilir.


"Apakah Nona tidak apa-apa?"


Orang yang menabraknya juga jatuh, tapi dia dengan cepat bangkit dan membantu Fannya.


Fannya dengan sopan menerima bantuan itu, ketika dia merasakan kepalanya sedikit sakit, dia diam sesaat sebelum mengabaikannya.


"Tuan tidak apa-apa?" Ketika dia bangun, dia bertanya kepada orang yang menabraknya.


Orang itu adalah seorang pria, tinggi dengan rambut di cat biru malam. Dia juga menggunakan topeng berwarna biru malam yang serasi dengan bajunya.


Fannya melihat bibir orang itu tersenyum sebelum berkata, "Tidak apa-apa." Kemudian dia permisi dan langsung pergi.

__ADS_1


Fannya menggosok tengkuknya, tidak mengerti apapun, jika dia membawa dompet, dia mungkin akan mengira dia telah di jambret karena tingkah mencurigakan orang itu.


Pada saat itu, Axel datang dengan wajah gelap.


"Pulanglah dulu, aku akan menyusul nanti."


Axel kemudian meminta Pram untuk mengantar Fannya pulang dengan selamat.


Sebelum masuk kedalam mobil, Fannya meraih ujung baju Axel, menatap laki-laki itu dengan ragu, "Jangan pulang larut malam." Pada akhirnya dia hanya bisa membisikan kata-kata itu.


Axel tidak mengatakan apapun, tapi dia mengulurkan tangannya dan mengelus rambut Fannya, menuntun gadis itu memasuki mobil.


Fannya duduk di dalam mobil, menatap ke belakang.


Angin malam menerbangkan rambut Axel, cuaca sedikit mendung dan perlahan gerimis mulai terjadi. Ketika mobil berjalan pergi, dia bisa melihat Axel menundukkan kepalanya, dan ketika hujan terjadi, perlahan lahan bayangan Axel menghilang dari kaca belakang mobil.


"Mengapa Axel terlihat sangat membenci keluarga Clovis?"


Fannya bertanya dengan sedikit penasaran ketika dia duduk dengan tegak di dalam mobil, menatap ke arah kaca depan mobil, melihat separuh wajah Pram.


Dia tidak mengharapkan jawaban apapun, tapi dia tidak menyangka jika Pram akan menjawabnya dengan sedikit keraguan.


"Keluarga Max pernah di tipu dan ditekan oleh keluarga Clovis, waktu itu keluarga Clovis membatasi jangkauan perusahaan Max dan berencana untuk menguasai keluarga Max dengan memutus beberapa koneksi keluarga Max. Karena kurangnya sumberdaya, keluarga Max hampir bangkrut."


Pram terdiam sesat, "Karena itu, Axel tidak bisa menempatkan adiknya di rumah sakit yang lebih baik, yang membuat kesehatan Nona kecil memburuk."


Sekian itu, beberapa aset sempat disita pihak bank, tapi untungannya Axel berhasil menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan asing dan mengembangkan perusahannya kembali.


Sejak saat itu, Axel membenci keluarga Clovis, seandainya mereka tidak menekan keluarga Max, kondisi adiknya mungkin tidak akan seburuk ini.


Fannya terdiam.


Kemudian mengapa Axel ingin menikahi anak pertama dari keluarga Clovis? Apakah untuk balas dendam juga?


Saat itu Fannya teringat suatu hal, keluarga Clovis dijebak oleh pacar kakaknya, setalah pernikahan Natia dengan Axel gagal.


Sangat kebetulan, tidak mungkin, apakah semua ini telah direncanakan?


Semakin Fannya memikirkannya, semakin dia gelisah, pada akhirnya dia hanya memilih untuk mengabaikannya.


Mobil melaju dengan ringan, seolah tidak terjadi apapun, tapi, di suatu tempat, seseorang melangkahkan kakinya ke dalam rumah sakit.


Orang itu menggunakan jas yang menutupi dirinya dengan topi dan masker, terlihat sangat mencurigakan.


Dia pergi untuk menemui seseorang, ketika dia melihat orang yang dia kenal sedang berdiri di sebuah rak buku.

__ADS_1


Dia menyapa temannya kemudian mengeluarkan sesuatu, "Teman bisakah kamu memeriksa ini?"


__ADS_2