
Ketika makan siang selesai, Natia dengan ragu bersuara.
"Fannya, bagaimana dengan Axel?"
Fannya tidak mengerti, dia menatap kakaknya dengan bingung, dan Natia juga menatap Fannya dengan sedikit gugup.
Dengan helaan nafas, dia berkata, "Apakah kalian sangat dekat?"
Kemudian dia terdiam dan mengatakan apa yang dia takutkan, "apakah kamu jatuh cinta dengannya?"
Seolah panah mengenai sasarannya, Fannya untuk sesaat tidak bisa bersuara.
"Jika iya?"
"Jangan!"
Mungkin karena cemas, bahkan Natia tampa sadar sedikit memukul meja, membuat suara dugk ringan di meja.
"Ah maaf."
Seolah terlalu kasar dia langsung meminta maaf.
Fannya mengangguk dan mengatakan tidak masalah, tapi hatinya merasa aneh, dia menatap kakaknya yang cemas dan gelisah, meminta kakaknya untuk menjelaskan lebih lanjut.
"Dia bukan orang baik."
Jika itu, Fannya juga tau. Sifat Axel sangat sulit untuk ditebak, terkadang dia akan kejam dan jahat, terkadang dia juga akan baik dan lembut, lelaki itu sangat berubah-ubah.
"Tidak masalah, aku tau."
Dia ingin menenangkan kakaknya, tapi sepertinya tidak akan berhasil.
"Bukan hanya itu saja."
Natia dengan gugup menggigit bibirnya, "Taukah kamu dia telah menekan ayah dan beberapa investor lainnya, menyebabkan banyak kerugian. Lebih gila dia sendiri juga mengalami kerugian tapi dia tidak peduli!"
Belum puas dia bahkan menambahkan banyak kata, "Dia juga menculik pacarku dan mengancam! dia bukan orang baik. Dia jahat!"
Hari ini, Fannya tidak tau apa yang terjadi dengan kakaknya, tapi sepertinya kakaknya sedikit cemas dan terus berkata bahwa Axel itu jahat.
Makin lama Fannya mendengarnya, semakin dia berpikir ada yang salah, tapi nada bicara kakaknya terdengar seperti sedang mengomeli dia, tampa sadar dia melupakan keganjilan itu, sama seperti biasanya.
"Baik, kakak, tidak apa-apa. Jika dia berani macam-macam denganku, aku akan langsung memukulnya, oke?"
Natia tersedak, menatap Fannya dengan menyedihkan, "Kapan kalian akan berpisah."
Untuk sesaat Fannya terdiam, tapi dia dengan cepat berkata "Dua tahun."
Meskipun sedikit tidak nyaman, dia masih tersenyum.
"Hanya dua tahun, kakak, jangan khawatir, ini bukan waktu yang lama."
Tapi Natia masih tidak terima, "Sebenarnya, untuk apa pernikahan kontrak ini? Apakah untuk kerja sama perusahaan? Tapi jelas dia tidak melakukannya! Dia bertunangan denganku dan malah menikahimu! Ini aneh!"
Kali ini Fannya benar-benar terdiam, tentu saja dia tahu betul apa tujuan dari kontrak pernikahan ini, tapi dia tidak bisa mengatakannya.
Tepat ketika dia bingung, dering telpon terdengar.
"Axel?"
Fannya dengan cepat mengangkat telpon itu.
"Dimana?"
Suara laki-laki itu terdengar jelas dan langsung, tampa sadar Fannya menatap kakaknya.
__ADS_1
"Di salah satu cafe di dekat rumah sakit, ada apa?"
Axel di depan rumah sakit mengerutkan keningnya, "Aku datang menjemputmu ketika aku tahu kamu masih di rumah sakit. Kirim alamat mu, aku akan menjemputmu."
Fannya tidak menunda waktu, dia mengatakan alamat lengkapnya, tempat dia dengan rumah sakit tidak jauh, seharusnya dalam beberapa menit Axel sudah harus sampai.
Fannya membayar tagihan makan, menatap Natia dengan ragu, "Dengan siapa kamu akan pulang?"
Natia menggelangkan kepalanya, "Aku akan tinggal di sini lebih lama, seseorang akan menjemput ku."
Dia dengan enggan menambahkan, "Sepertinya hubungan kalian berdua cukup dekat."
Fannya tersenyum canggung, tidak bisa mengatakan apapun dan hanya pamit permisi sebelum pergi.
Di pintu depan, untuk sementara waktu Fannya terdiam, berbalik dan melihat kakaknya untuk terakhir kali, melambaikan tangannya dan menutup pintu dengan cepat.
Natia duduk sendiri, di memegang ponselnya dan terdiam. Dia menggertakkan giginya sebelum dengan cepat menelpon seseorang dari ponselnya.
"Maaf, ini gagal."
Natia tersenyum pahit.
"Aku, aku, tidak bisa melakukan ini! Aku tidak bisa!"
Orang di balik telpon sangat tenang, orang itu hanya mengatakan apa yang perlu dia katakan.
"Kalau begitu, kami tidak bisa menyerahkan saham ini Nona."
Natia mengigit bibirnya, matanya merah dan dia hampir menangis lagi.
Dari kecil dia memang sudah sangat dimanjakan dan tumbuh menjadi gadis yang manja dan manis, jadi ini pertama kalinya dia harus menghadapi banyak pilihan sekaligus.
Ini bukan pilihan mudah, setiap pilihan memiliki konsekuensinya, dia takut untuk salah memilih.
Ini pilihan yang rumit karena ada banyak pihak terkait, dia tidak tega untuk menyakiti salah satu dari dua pihak itu.
Dia berkata dengan sedikit harapan, "Ayah akan membelinya dengan harga berapapun!"
"Sangat percaya diri."
Orang di telpon sedikit terkekeh.
"Tapi kamu tahu dengan jelas bukan, ayahmu sekarang juga sedang kekurangan dana."
Orang itu menyeringai, "Aku bisa memberikan saham ini padamu dengan gratis selama kamu bisa membuat adikmu menjauhi Axel sebanyak mungkin."
Natia terdiam, dia menggigit bibirnya terlalu keras hingga berdarah. Karena krisis, ayahnya diambang kebangkrutan dan mulai terlilit hutang, dia juga kehilangan banyak sahamnya dan perusahan mulai kacau.
Seseorang menjanjikan dia saham dari keluarga Clovis, orang itu mengatakan jika dia akan memberikan saham itu secara gratis selama dia mau membuat Fannya dan Axel berpisah.
Dia awalanya telah menjebak Axel, tapi gagal, tidak menyangka jika Fannya akan datang dan membawa Axel pulang di club waktu itu.
Kemudian dia mencoba untuk menjelekkan Axel di depan Fannya, tapi gagal.
Wuu~ dia bukan wanita ular yang bisa membuat banyak drama besar yang bisa membuat dua pihak langsung saling bermusuhan!
Dia hanyalah gadis imut yang manja!
Karena Natia tidak berbicara untuk sementara waktu, orang di telpon sediki tidak sabar, "Aku hanya akan memberikan kamu waktu 7 hari, jika kamu gagal, kamu hanya bisa bisa pasrah dengan keadaan keluargamu sendiri. Lihatlah dengan matamu sendiri bagaimana keluarga yang kamu sayangi hancur."
Natia sudah meneteskan air matanya ketika orang itu menambahkan syaratnya, dia sangat sedih.
"Aku akan mencobanya."
Tapi mungkin orang itu sudah tau dia tidak akan bisa melakukannya jadi dia berkata, "Aku juga akan mengirim seseorang untuk membantu."
__ADS_1
-
Fannya keluar dari cafe, menatap ke depan, kemudian dia mundur sedikit karena kaget.
Pasalnya, Axel mendadak muncul dengan mobil mewahnya dan langsung melaju ke dekatnya seolah dia akan menabraknya.
Axel membuka pintu, keluar dan tersenyum, mengeliling mobil dan membuka pintu samping, "Masuklah."
Fannya sedikit melotot, tapi tidak mengatakan apapun, dengan cepat naik ke dalam mobil.
Axel menutup pintu dan masuk ke dalam mobil jiga, ketika mesin mobil dinyalakan, dia mendadak bertanya.
"Dengan siapa?"
"Apa?"
"Di cafe."
Fannya terdiam untuk sementara waktu, mencoba untuk mengkoneksikan jaringannya dengan Axel sebelum memahaminya.
"Natia."
Ketika Axel di depan mendengar nama itu, dia sedikit mengerutkan keningnya, "Kalian masih terhubung?"
Fannya mengangguk, "Ya."
Sejauh menyangkut keluarga Clovis, Axel tidak terlalu menyukainya. Tentu saja dia masih sedikit menyukai Fannya karena dia dengan berani keluar dari keluarga itu.
"Apa yang kalian bicarakan?"
Untuk ini, Fannya tidak bisa berkata apapun. Karena semua yang dia bicarakan dengan Natia adalah hal-hal yang terhubung dengan Axel.
Dengan cepat Axel menemukan kejanggalan, "Ada apa?"
"Dia hanya curhat."
Otak Fannya sudah mogok, hanya bisa memikirkan hal itu dengan malu, sampai sadar dia ingin mengalihkan pandangannya ketika dia berbohong.
Tapi jelas dia tau jika dia melakukan hal itu pasti akan memunculkan kecurigaannya kepada Axel, jadi dia hanya berpura-pura melihat pemandangan sambil terus berbohong.
"Dia berkata dia sedikit kecewa dengan kekasihnya yang tega mengkhianati dia dan sedikit bersedih serta marah. Ini hanyalah obrolan antara wanita, tidak ada yang spesial."
Fannya menatap kaca mobil, "Dia juga berkata untuk tidak mempercayaimu."
Awalnya Axel memiliki sedikit kecurigaan, tapi ketika namanya disebut, dia langsung teralihkan.
"Mengapa?" Dia bertanya dengan penasaran.
Fannya melipat tangannya, menutup matanya dan berbicara ngawur.
"Kamu jahat, dingin, tak berperasaan dan sangat menyebalkan."
"Darimana dia tau?"
Axel mengerutkan keningnya, tidak terima, "Itu hanya pencitraan di depan media."
Secara mental Fannya tersenyum, "Jadi semua itu hanya kebohongan."
Axel diam, tapi pada akhirnya menjawab iya.
Fannya membuka matanya perlahan, menatap jalanan di depannya.
'Jika begitu, Apakah semua yang kamu tampilkan sekarang adalah kebohongan?'
Fannya mencela dirinya sendiri, 'Jadi pada akhirnya, bisakah aku membuatmu mencintaiku?'
__ADS_1
Dia menutup matanya lagi, tidak tau mengapa, dia selalu memiliki firasat aneh, tapi dia hanya berpikir mungkin karena kelelahan untuk sementara waktu, dia jadi sering melamun dan memikirkan banyak hal yang tidak-tidak.