Kontrak Cinta Tuan Ceo

Kontrak Cinta Tuan Ceo
sesuatu yang ingin Anda katakan


__ADS_3

"Bangun?"


Ketika Axel membuka matanya, dia mendengar suara manis Fannya yang menyapanya.


Dia dengan pusing bangun dan duduk dengan bantuan Fannya, seluruh tubuhnya lamas, tangannya berkeringat dan kepalanya masih sama pusingnya seperti sebelumnya.


Lebih buruk, dia sangat kelaparan, seolah-olah dia tidak makan selama beberapa hari, terlalu lapar hingga dia tidak bisa berbicara.


Dia mengangkat kepalanya, melakukan kontak mata dengan Fannya, mengumpulkan kekuatannya untuk berbicara, ketika gadis itu lebih sigap mengambil sebuah gelas dengan air di atas meja dan menyerahkannya kepada Axel.


"Minumlah, ini air gula."


Ketika Axel mengambil alih gelas, Fannya bangkit dan berdiri, dengan bingung Axel menatapnya.


"Tunggu, aku akan mengambil makanan untukmu."


Kemudian dia berbalik dan pergi, dia sudah membaca beberapa artikel untuk merawat Axel, jadi dia bisa lebih siap, pagi-pagi sekali, dia bangun dan telah menyiapkan bubur untuk Axel, dia hampir tidak tidur selama semalaman.


Axel terdiam dia atas kasur, tidak bisa berbicara, dia meminum air gula itu dengan hati-hati dan mengernyit, terlalu manis.


Dia bahkan hampir memuntahkannya, sangat tidak enak, tapi dia dengan paksa meminumnya hingga habis.


Tapi tetap saja dia kelaparan, pada saat itu Fannya masuk membawakan bubur.


"Makanlah."


Ini bubur kurma manis yang sehat, dia belum pernah membuat bubur ini, hanya mengandalkan resep yang dia temukan internet, dan setalah beberapa kali gagal membuatnya, dia akhirnya berhasil membuat bubur itu dengan baik dan bisa dimakan.


"Makan, perlahan."


Axel benar-benar lapar, tapi karena dia lemas, dia hanya bisa memakannya perlahan, dia juga menderita karena harus minum air gula manis dengan rasa sedikit aneh.


Ketika Axel selesai makan, dia masih sedikit lemas, tapi dia lebih tenang dan lebih baik, tangannya yang gemetaran juga lebih baik, tapi panasnya belum turun.


"Minum obat."


Fannya mengeluarkan sebuah botol obat dan menyerahkannya kepada Axel.


Axel dengan patuh mengambil botol obat, mengambil satu kapsul obat dan menyerahkan botol obat itu kembali ke Fannya ketika dia meminum obatnya.


Fannya mengambil botol obat dengan sedikit aneh.


"Sekarang tidur lagi, istirahat."


Kemudian Axel benar-benar menurut, dia sediki meringkuk, menyembunyikan tubuh dan separuh wajahnya ke dalam selimut dan mulai tidur.


Fannya terdiam di tempat, dia belum pernah melihat Axel begitu patuh selama dia bersama Axel, jadi dia sedikit linglung.


Bahkan sedikit merinding menjalar di tulang punggungnya, dia buru-buru menggeleng dan berbalik, melarikan diri dengan cepat.


Axel sedikit membuka matanya, menatap pintu yang tertutup, sebelum berkedip dan menutup matanya, tidur tanpa penjagaan apapun.


Fannya di luar pintu menyandarkan dirinya di dinding, menyentuh ujung dadanya yang terus berdetak cepat.


Sebenarnya, melihat Axel patuh mendengarkan kata-katanya, dia sedikit merasa lucu dan manis.


Selama 3 hari penuh, Fannya mendedikasikan perhatiannya kepada Axel.


Pada hari ke 4, Axel baru merasa sedikit lebih baik, meskipun dia masih pucat.


"Dokter sialan itu berbohong."


Fannya mengeluh dalam hati, dia meletakan mangkuk bubur lainnya di atas meja makan dan menuangkan air.

__ADS_1


Dulu dokter berkata jika Axel hanya perlu istirahat sebentar untuk memulihkan kekuatannya dan makan banyak makanan manis, tapi sebentar sebentar apanya, ini lebih dari 3 hari, dia pikir dalam 2 hari Axel akan bisa sembuh.


Dia menggelengkan kepalanya tepat ketika Axel masuk.


"Ada apa?"


Axel bertanya dengan alis terangkat, berjalan perlahan dan duduk disalah satu kursi makan.


Fannya menyerahkan segelas air sambil menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa," dia berbisik perlahan sebelum duduk di kursinya.


"Masih sakit?"


Fannya menambahkan sambil mengamati wajah Axel yang masih pucat tapi jelas lebih baik, untungnya lelaki itu mengangguk.


"Ini lebih baik."


Setalah berbisik perlahan, Axel mulai makan.


Selama 4 hari ini, dia mengisolasi dirinya, tidak melakukan apapun dan hanya menenangkan diri di bawah perawatan Fannya.


Mengapa dia melakukannya? Tentu saja untuk mengistirahatkan tubuh dan jiwanya


Terakhir kali, ketika dia tahu jika adiknya mulai merespon dunia luar, dia terlalu bersemangat dan tidak bisa tidur hingga pagi.


Akibatnya, hal itu membuat daya tahan tubuhnya langsung menurun, terutama ketika ruangan rumah sakit sangat dingin.


Sepanjang malam tanpa tidur, di bawah udara dingin, dia demam.


Setalah menenangkan dirinya, dia sekarang mulai tenang dan bisa berpikir dengan lebih baik lagi.


Adiknya hanya baru merespon, tidak ada jaminan dia akan bangun, tapi setidaknya adiknya mulai membaik, tapi dokter terus memberikan dia peringatan untuk menemukan jantung yang cocok sesegera mungkin, jelas kondisi aslinya tidak baik sama sekali.


Lebih penting, bukan hal yang mudah menamukan donor jantung.


Semakin axel memikirkan hal itu, kepalanya mulai sakit lagi, dengan cepat dia mengosongkan kembali pikirannya dan menenangkan diri.


Pada saat itu, dering telpon terdengar.


Baik Fannya dan Axel langsung menatap sumber suara, yang berasal dari ponsel Fannya yang dia letakan dia atas meja.


Fannya menjangkau ponselnya, melirik nama orang yang mengirimkan dia pesan kemudian terdiam.


"Siapa?"


Melihat wajah serius Fannya, Axel menjadi sedikit penasaran.


"Nenek.'


Fannya bergumam, membaca pesan yang dikirim dengan serius.


"Katanya nenek dalam kondisi yang tidak terlalu baik."


Dia mematikan ponselnya.


"Aku akan menemui nenek siang ini."


Axel mengangguk, dia memahami perasaan Fannya, karena dia juga mengalami hal yang mirip


"Aku akan menemanimu."


Saat ini, Fannya yang sedang berpikir banyak hal terdiam.


Dia menatap lelaki itu dengan sedikit tidak percaya, "Benarkah?"

__ADS_1


Axel mengangguk, "Ya, lagi pula kita sudah menikah dan aku belum pernah melihat nenekmu secara langsung dan mengobrol, ada baiknya untuk menemui dia."


Meski ini hanya hal yang sederhana, Fannya masih merasa hangat di hatinya.


Ketika jam 11, mereka sudah berangkat, kali ini Axel mengemudi sendiri, Fannya duduk di kursi tengah dan menatap ke luar jandela dengan pandangan tertarik.


Di rumah sakit, Fannya memimpin jalan dengan bahagia.


Axel diam-diam menatap punggung Fannya.


Ada alasan untuk dia menemani gadis itu ke rumah sakit, mungkin ini sedikit hal baik yang bisa dia berikan...


Dia menundukan kepalanya, menenangkan pikiran gelapnya dan menguatkan dirinya.


Masih ada waktu, tenanglah...


"Nenek."


Fannya dengan penuh senyum membuka pintu kamar rumah sakit, di dalam dia melihat neneknya sedang duduk dengan seorang perawat menemaninya.


"Kamu datang?"


Bahkan umur tidak bisa menutupi kecantikan neneknya, terutama ketika neneknya tersenyum.


Melihat Fannya dan Axel, perawat mundur untuk memberikan ruang kepada keluarga itu saling menghabiskan waktu.


"Fannya, siapa dia?"


Fannya berjalan ke arah neneknya dan duduk di kursi yang tersedia, dia tersenyum dan memperkenalkan Axel di bawah tatapan penasaran neneknya.


"Ini axel..."


Baru setengah jalan dia tersedak, dia tidak tau harus memperkenalkan Axel sebagai apa.


Seolah memahami kebingungannya, Axel memperkenalkan dirinya sendiri.


"Axel, suami cucu Anda."


Suaranya dingin namun lembut, terdengar seperti ilusi.


Pipi Fannya memerah karenanya.


"Axel?"


Nenek bergumam, dia menatap Axel dengan seksama sambil mengerutkan keningnya.


"Sepertinya aku pernah melihatmu, tapi dimana?"


Ketika suara ragu nenek terdengar, suasana menjadi tegang.


Fannya yang tidak ingin suasana menjadi canggung terkekeh.


"Nenek mungkin salah mengenali! Terakhir kali nenek juga mengatakan hal yang sama kepada perawat yang menjaga nenek."


Fannya berbicara dengan lembut dan tulus, tapi nenek hanya tersenyum, dia sekali-kali akan memuji Fannya dan berbicara dengan lembut kepadanya, tapi dia masih akan mencuri pandang kepada Axel dalam diam.


Axel termasuk orang yang sensitif, jadi dia masih bisa merasakan tatap itu, dia mengerutkan keningnya.


"Fannya keluarlah dan beli minuman, aku sedikit haus."


Fannya tidak curiga, dia hanya mengambil uang yang diserahkan Axel dan berlari keluar ruangan dengan tenang.


Berpikir jika Axel mungkin ingin membicarakan sesuatu dengan neneknya.

__ADS_1


Sekarang hanya ada axel dengan nenek di dalam ruangan, kemudian Axel berbicara terlebih dahulu.


"Apakah ada sesuatu yang ingin Anda katakan?"


__ADS_2