Kontrak Cinta Tuan Ceo

Kontrak Cinta Tuan Ceo
Dua hati


__ADS_3

Axel tidak pergi ke kantor, dia berbohong, dia sebenarnya pergi ke rumah sakit tempat adiknya di rawat.


Para perawat dan petugas rumah sakit mengenali dia dengan jelas, tersenyum ramah dan menyapanya, mereka juga degan jelas tau kemana dia akan pergi dan hanya memberikan senyum pengertian.


Ketika dia berhenti di depan pintu sebuah ruangan, dia sedikit ragu, pada akhirnya dia tetap membuka pintu itu.


"Pink pai."


Ini sedikit lucu, tapi dulu, dia dan adiknya membuat nama panggilan yang manis untuk saling menyapa.


Hari ini dia cukup emosinya, jadi dia kembali menggunakan panggilan itu.


Adiknya sangat suka Pai apel, dan warna kesukaannya adalah pink, jadi Axel sering memanggilnya pink pai.


Sedangkan nama panggilan yang adiknya berikan kepadanya sedikit unik, sangat unik malah, dia dengan senyum tak berdaya duduk di samping adiknya.


"Masih belum ingin bangun?"


Nama panggilan yang dia miliki terlalu unik, hingga dia sendiri tidak ingin menyebutnya.


Dia kemudian teringat senyum adiknya ketika memanggil nama kode itu, tertegun.


"Heh, durian."


Itulah nama panggilannya, durian, yang jelas makanan yang dia benci, yang sayangannya adiknya sangat menyukainya, yang membuatnya memiliki ide untuk memberikan nama panggilan itu.


Meskipun nama itu menjengkelkan, tapi ketika orang yang terus menyebutkan nama itu sekarang berbaring tak berdaya, Axel merasa jika nama itu bukan nama yang buruk, dia bahkan merindukan seseorang memanggil nama itu.


"Hey, Pai, kapan kamu akan bangun?"


Axel mendekatkan kepalamu ke arah adiknya, menundukan dan mencium sudut bibir adiknya, sedikit sakit di hati.


Dia tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Dia masih bisa merasakan jika dia masih menyayangi dan mencintai adiknya, tapi pada saat yang sama, dia juga tidak menolak Fannya, meskipun belum mencintainya, tapi pemikiran untuk menjaga gadis itu tetap ada di sisinya mengusik pikirannya, hatinya gundah dan bingung.


Dia tidak ingin kehilangan adiknya, dan dia juga tidak ingin mengorbankan Fannya, dia antara ke duanya, dia tidak bisa memilih.


Axel menutupi kepalanya kesakitan, apa yang harus dia lakukan?


Satu satunya harapannya adalah mencari donor jantung secepat mungkin.


Pada saat itu, pintu ruangan terbuka. Axel mengangkat kepalanya dan menatap seorang pria paruh baya dengan pakaian dokter lengkap serta 1 perawat.


Perawat itu masuk, dengan lihai menatap Axel dan menyapa, sebelum dengan cepat meminta izin mencek kondisi adik Axel.


Dokter berjalan mendekati Axel, dengan ragu mengeluarkan sebuah kertas ditangannya.


"Ada apa?"


Axel bertanya dengan bingung ketika dia menerima surat itu, dengan cepat membacanya, meskipun dia bisa membaca tulisan tangan itu, dia bukan dokter, dia tetap tidak paham maksudnya.

__ADS_1


"Itu."


Dokter ragu sesaat, sebelum mengendalikan dirinya dan menyampaikan segala kemungkinan serta hipotesis yang telah dia ambil.


"Ada berita baik dan buruk, yang mana yang ingin Tuan ketahui lebih dulu?"


Axel bukan ahli dalam hal kesehatan atau urusan rumah sakit, dia tidak terlalu memahami apa arti dari surat itu, tapi melihat data dan beberapa simpulan singkat yang tertera, dia bisa memahaminya sedikit, dan firasat buruk mengenai hatinya.


Dia menggertakkan giginya, dengan cepat memilih, "Berita buruk."


Dia harus mengetahu berita buruk lebih dulu sehingga dia bisa mempersiapkan pencegahan lebih cepat, tapi dia tidak bisa berbohong jika dia sedikit takut.


Dokter menghembuskan nafasnya, menatap Axel dengan tenang.


"Kondisi jantung pasien memburuk, alat peraga buatan di sekitar jantung juga tidak berfungsi dengan baik."


Sudah dia duga.


Axel tertawa kecil, kesedihan yang komplek terlintas sesaat di sudut matanya.


Dokter telah berpengalaman luas, dia dengan cepat melihat kelainan itu dan berdehem sesaat, "Tapi berita baiknya, kesadaran pasien seperti mulai meningkat, ada kemungkinan besar tahun dia akan bangun."


Kesuraman di hati Axel sedikit terobati, dia menatap dokter dengan sedikit semangat, "Apakah benar?"


"Tentu."


Dokter mengangguk, pada saat itu perawat datang dan menyerahkan hasil laporan data mingguan yang di ambil.


"Dilihat dari data Minggu ini, ada kemungkinan pasien talah mencoba bangun beberapa kali, tapi otak gagal merespon kesadaran itu. Meskipun begitu, kabar baiknya adalah tingkat kesadaran perlahan lahan mulai kembali. Bahkan beberapa praktek ringan yang telah kami lakukan direspon oleh pasien."


Dokter tersenyum, dia memperhatikan wajah Axel yang sedikit kaku, menambahkan dengan tidak berdaya.


"Mungkin hubungan spritual anda dengan pasien bisa membangun kesadaran lebih cepat, disarankan untuk melakukan lebih banyak kontak spritual, anda bisa berbicara dengan pasien ataupun membacakan dia buku, seharunya suara anda bisa sedikit membimbing kesadaran pasien untuk bangun."


Setelah mengatakan semua yang perlu dia katakan, dokter keluar untuk memberikan Axel lebih banyak ruang merenung.


Untuk sementara waktu, Axel tidak bisa mengatakan apapun, dia hanya bisa terdiam dan mengamati wajah adiknya yang sangat pucat.


Waktu terus berjalan, Axel memperhatikan hingga dia lelah, ketika dia melihat jam, ini sudah cukup larut malam.


Dia akan bangkit dan pulang, ketika sudut matanya seperti melihat gerakan ringan dari buku mata adiknya, dia membeku, berbalik dengan cepat dan mengawasi dengan lebih teliti.


Dia sedikit tidak percaya, seolah seseorang memegang hatinya di tali tertinggi, dia terlalu gelisah untuk tenang.


Tapi seolah itu hanyalah halusinasi, tidak ada gerakan lainnya setalah itu.


Meskipun Axel telah mengharapkannya, dia masih sedikit kecewa, mengeluarkan tangannya dan menyentuh bulu mata lentik adiknya, pada saat itu, ekspresi tenang adiknya sedikit rusak, bulu mata itu benar-benar bergerak, seperti kupu-kupu manis yang mencoba untuk terbang.


"Harmoni?"

__ADS_1


Axel bergumam dengan kaget tak percaya, dia menunduk, menatap lebih jelas, dan itu benar-benar bergerak, tapi hanya sesaat belum tenang kembali.


Meskipun hanya sebentar, bahkan terlalu cepat, Axel masih bisa merasakan dia sengat bahagia dengan momen singkat ini


Setalah beberapa tahun, meskipun gerakan itu sangat ringan, ini lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali, seolah adiknya telah benar-benar akan mati.


Pada saat itu, dia teringat kata-kata dokter, dokter berkata jika konseling spiritual mungkin bisa merangsang kesadaran adiknya.


"Harmoni sayang, baby?"


Ketika Axel memanggil nama adiknya, dia hampir menangis, perasaanya terlalu bercampur aduk untuk dijelaskan.


Dia duduk kembali di kursinya sebelumnya, menggenggam tangan adiknya dan tersenyum.


"Apakah kamu akan bangun? Bangunlah, sudah sangat lama, aku merindukan senyumanmu."


Kata-kata Axel seperti mantra yang memikat, tapi Harmoni tidak merespon, masih berbaring, tidur dengan tenang.


Axel tidak menyerah, dia bahkan mengulurkan tangannya dan mengelus rambut halus adiknya.


"Kapan kamu akan bangun dan memberikan kakak coklat lagi seperti biasanya?"


Malam ini, dia tidak menepati kata-katanya, lagi.


Dia tidak pulang, tapi memilih untuk menginap di rumah sakit, hampir sepanjang malam, dia akan berbicara dengan adiknya dan bercerita banyak hal.


Semakin lama, kata-kata yang dia keluarkan semakin melantur dan aneh, dia bahkan membicarakan masa depan mereka berdua, mulai dari memiliki anak bahkan memilih tempat tua bersama.


Semakin lama, dia juga semakin bersemangat, seolah dia gila.


Ketika matahari pagi menyambut, Fannya membuka matanya, menatap tempat tidur yang kosong di sisinya dengan linglung dan menyentuh kasur kosong itu.


Dingin.


Malam ini Axel tidak pulang.


Sinar matahari cukup keras kepala, dia masih bisa memberikan cahayanya meskipun tirai bangsal rumah sakit itu tertutup rapat.


Cahaya hangat menyinari lantai rumah sakit yang dingin, Axel yang tertidur di kursinya masih menggenggam tangan adiknya, ketika dia membuka mata, dia melihat pemandangan biasanya pada tahun-tahun dulu.


Adiknya masih tidur tanpa ingin bangun.


Meskipun matahari bersinar sangat cerah, dia masih merasa dingin.


Hatinya juga sakit, dia nyentuh tangan dingin yang terlalu pucat itu, menggosoknya perlahan.


"Kapan kamu akan bangun?


Fannya memeluk bantal Axel, mengendus aroma lelaki yang mungkin tidak akan bisa dia miliki dan berbisik pelan.

__ADS_1


"Kapan kamu akan mencintai ku?"


Hidup itu rumit dan penuh misteri, tidak ada yang tahu apakah akan ada pelangi atau badai ketika pagi lain menyambut.


__ADS_2