
Setelah berita duka tentang kematian Ryu, suasana duka masih di rasakan oleh orang orang dekat Ryu termasuk Kristal.
Kristal dan Tuan Mano yang baru saja pulang dari rumah keluarga Ryu, kini masih duduk terpaku di ruang tamu.
Sesekali Tuan Mano menghapus air mata kristal yang di biarkannya mengalir, lalu kemudian memeluknya, membiarkannya merasa nyaman dalam pelukannya.
Hari ini harusnya Tuan Mano pergi ke kantor tapi entah kenapa ia enggan meninggalkan kristal dalam kondisi seperti ini.
Biarlah toh di kantor masih ada sekertaris Lee yang bisa ia andalkan.
Cukup lama Tuan Mano dan Kristal saling berpeluk, tanpa sepatah kata pun,
keduanya seolah tenggelam dalam bayangan masing masing.
Sepertinya mereka memang menghayati terlalu dalam perasaannya, sampai sampai tak menyadari bahwa sudah ada orang yang masuk dan sedang memperhatikan mereka.
"Ehem... "Ternyata Alena.
Tuan Mano dan Kristal Kaget, serta merta melepaskan pelukan mereka.
"Alena kau sudah kembali??
Siapa dia??"Tanya Tuan Mano seraya mengarahkan pandangannya pada Alena dan seorang wanita paruh baya yang berdiri di samping alena.
"Kakak lupa ya, hari ini pelayan rumah kita pulang kampung tadi pagi, karena akan menikahkan anaknya."
"Dia bilang dia sudah minta ijin jauh jauh hari dan saat aku konfirmasi pada Sekertaris Lee memang benar adanya, dan dia sudah melupakan hal tersebut, mungkin di anggap hal sepele sementara kakak tau sendiri Sekertaris Lee begitu banyak urusan."Katanya Nyerocos.
"Soal gaji pelayan lama sudah di bereskan Sekertaris Lee tapi Sekertaris Lee gak punya waktu untuk mencari pelayan baru,
untuk sementara kita pakai dia saja tadi aku ketemu dia di jalan saat aku menuju kantor."Alena mencoba menjelaskan kronologinya.
"Alena, tapi lihat dia buta, bagaimana bisa dia melayanimu dengan Kristal??"
Tanya Tuan Mano saat melihat penampilan Kristal.
"Kak, aku sudah mencari kesana kemari tapi tak dapat,
lagi pula aku dan Kristal tidak di layani seperti bayi,
kalau untuk sekedar mengurus Apartemen sebesar ini aku yakin dia sanggup."
"Benar tuan muda, biarpun mata saya buta tapi saya terbiasa bekerja.
Saya bisa menyapu, mencuci piring, memasak, saya sudah terbiasa melakukan semua itu."
"Karena profesi saya sebelumnya juga pelayan di sebuah warung nasi, kebetulan Tuan saya itu pindah ke kota lain jadi sekarang saya gak punya kerja,
dan panggil saja saya Rose."
__ADS_1
Wanita buta itu memperkenalkan dirinya.
"Tuan Mano, aku rasa gak masalah, kita coba saja beberapa waktu."
Kristal ikut menjawab.
"Baiklah anggap saja ini tes pertama,
buatkan kami bertiga makan siang.
Aku ingin Beef Noodle,
Aku dan Kristal dari pagi belum sarapan,
Alena kamu ikut makan juga kan??"
"Baiklah Kak, aku rasa aku juga akan ikut makan siang setelah itu baru kembali ke kantor."
Pelayan baru itu bernama Rose, kulitnya putih bersih meskipun usianya sudah tidak muda lagi, dia berperawakan gak jauh berbeda dengan Alena.
Dia menggunakan kaca mata hitam dan membawa sebuah tongkat,
katanya meskipun matanya buta dia terbiasa bekerja sebagai pelayan bahkan masih bisa berjalan meskipun gak pake tongkat tapi dia bilang tongkatnya sewaktu waktu tetap di butuhkannya.
Tepat jam 1 siang,
Makan siang sudah tersaji,
Sejenak kristal melupakan kesedihannya,
saat ini baik kristal, Tuan Mano, dan Alena sedang menikmati sajian Beef Noodle tersebut buatan Nyonya Rose tersebut.
"Bagaimana Tuan??"
Pelayan buta itu bertanya sambil membereskan mangkuk bekas mereka makan.
"Ummm.... lumayan enak, iya kan Kristal??"
Alena mengangguk bersemangat.
"Iya benar, serasa berada di Resto Taiwan."
Kristal tersenyum puas.
"Kebetulan waktu saya jadi pelayan boss saya orang Tiongkok, jadi banyak tau masakan chinese food". Rose pelayan buta itu menjelaskan
"Bagaimana Kak??Apa Nyonya Rose di terima??"
Alena penasaran karena Tuan Mano sang pemilik Apartemen belum memberikan komentar apapun.
__ADS_1
"Karena Alena dan Kristal suka masakan anda, anda saya terima."Jawab Tuan Mano.
"Terima kasih Tuan, tapi apa tuan sendiri tidak menyukainya??"
Mungkin bagi Rose kalimat tadi kurang memuaskan.
"Suka, Aku juga suka masakanmu Rose, masakanmu lumayan enak."
Akhirnya jawaban yang di tunggu Rose keluar, dan Rose si pelayan buta itu tersenyum puas karena usahanya untuk bisa bekerja di sana akan terwujud.
Selesai makan siang kristal merasa sudah lebih baik jadi memutuskan untuk ikut bersama Tuan Mano dan Alena bekerja di kantor, lagi pula berdiam diri di kamar sendirian bukan hal yang baik di lakukan dalam suasana duka.
"Aku mau ikut ke kantor aja!!" Seru Kristal, membuat Alena dan Tuan Mano balik badan.
"Apa kamu yakin??" Tanya Tuan Mano.
"Iya kristal, mending kamu istirahat aja, kamu terlihat sangat lelah." Tukas Alena.
"Nona kristal bisa minta saya temani jika nanti kesepian." Nyonya Rose yang sedang membukakan pintu pun ikut bicara.
"Aku mau ikut ke kantor aja, gak apa aku bisa kerja kok."
"Baiklah kalau begitu, ayok Kristal, Alena, kita berangkat sekarang!!"
Akhirnya Tuan Mano, Alena, dan Kristal mereka bergegas pergi menuju kantor.
Alena membawa mobil sendiri sementara Kristal ikut dengan Tuan Mano.
Di apartemen... Nyonya Rose sibuk sendiri.
Ia tak mau baru kerja sehari langsung di pecat, ia memang belum tau karakter Tuan Mudanya, tapi ia sangat tau karakter sekertarisnya yang bisa lebih galak dari tuannya kalau pekerjaan tak terselesaikan.
Saking terlalu panik dengan pekerjaannya Nyonya Rose sampe lupa bahwa sejak datang ia belum ganti baju, pantes saja merasa tak nyaman.
Nyonya Rose menuju kamarnya.
Meskipun belum ada orang yang menunjukan kamarnya, tapi karena kamar kristal dan Alena terkunci dia tau kamarnya yang mana.
Tiba tiba suara dering telpon terdengar kencang.
"Hallo, iya benar ini saya Nyonya Rose!!"
"Nyonya, saya lupa menunjukan kamar untuk anda!!" Ternyata Alena yang menelpon.
"Tak masalah nona, sekarang saya sudah berada di kamar saya, karena tadi Nona Nona mengunci kamar masing masing sedangkan ada satu kamar yang tak terkunci, saya rasa inilah kamar saya."
"Oh, baiklah kalau begitu, maafkan saya nyonya." Alena menutup telponnya, di sebrang sana alena merasa ada ganjalan, rasa rasanya ia kenal suara itu, meskipun mungkin tak sama persis rasa rasanya suara itu mirip suara seseorang, tapi yasudahlah Alena gak mau terlalu ambil pusing, siapapun dia pembantu barunya itu semoga dia orang baik, karena Alena takut ikut kena masalah kalau wanita itu berbuat macam macam.
Setelah telpon di tutup, nyonya Rose kembali pada rencananya yaitu mandi dan ganti baju.
__ADS_1
Tugas di hari pertama ia kerja membuat badannya bermandi keringat, terasa sangat lengket dan tidak nyaman.