
Jam sudah menunjukan pukul 22:00 tapi Inspektur Kenzu masih berkutat dengan buku, balpoin dan laptop di ruang kerjanya.
Kasus yang sedang di tanganinya sangat memeras otak membuatnya malas untuk beranjak.
Pasalnya pada sidang ke tiga Kristal dan Nyonya Rose di naikan statusnya jadi Tersangka, karena berdasarkan fakta keduanya merupakan orang yang pertama kali menemukan korban.
Meskipun bukti yang ada belum cukup, tapi Teori skandal cinta atas pembunuhan Sekertaris Lee yang menyeret nama Kristal di anggap sudah pas dan akan memberatkan kristal.
"Ini gak mungkin...."
Katanya sambil kemudian terus berjalan mondar mandir.
"Aku sangat mengenal Kristal,
biarpun benar adanya tentang skandal cinta antara kristal dan Mr Lee rasanya gak mungkin kristal sampai membunuh Mr Lee...."
Gumamnya lagi.
"Nyonya Rose, buta tapi bisa berjalan tanpa tongkat, bisa dengan normal bekerja sebagai Asisten Rumah tangga, aneh sekali.
Ini bener bener kasus yang rumit."
Pikirannya menerawang jauh entah kemana, ia mencoba berandai andai, andai Ryu masih hidup mungkin ia bisa sharing dengannya dalam memecahkan kasus ini,
dulu bahkan saat Ryu masih SMA, anak itu sering membantunya menemukan fakta fakta baru yang mempermudah penyelesaian suatu kasus.
"Oo ow,, rupanya sudah larut aku harus pulang." Tukasnya tersadar dari lamunannya.
Kemudian ia bersiap dan bergegas pergi meninggalkan kantor polisi untuk pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah....
"Maaf pak, ada tamu yg memaksa masuk katanya mau ketemu bapa." Ujar seorang pelayan yang sudah berdiri di depan pintu dan membukakannya pintu.
"Dimana dia??apa kamu tidak mengenalinya??"
"Saya gak kenal pak, dia lelaki tua sekarang dia ada di dalam di ruang tamu."
"Lelaki tua??" Kenzu mengernyitkan dahi mencoba mengingat ingat lelaki tua yang mungkin ia kenal tapi tak berhasil ia ingat.
Kemudian karena di landa rasa penasaran, Kenzu memilih masuk dan menemui pak tua.
Kenzu berkali kali menatap tamunya dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, benar benar asing baginya, pria tua berjenggot dan berambut putih menggunakan baju serba putih dan sudah bungkuk.
"Hei inspektur kenzu apa kabar??"
Pria itu memeluk kenzu dengan erat,
__ADS_1
kenzu segera melepaskan pelukan tersebut.
"Anda siapa??kenapa malam malam begini bertamu ke rumah saya??"
"Kamar anda dimana??saya ada oleh oleh buat anda Pak inspektur,
lihat banyak sekali kan??buku buku ini buat koleksi anda karena anda telah berjasa pada saya." Lelaki tua itu seolah tak peduli dengan pertanyaan inspektur kenzu.
Meskipun tidak mengerti apa yang di inginkan tamunya, Kenzu mau menunjukan kamarnya, ia berjalan di depan dengan sangat hati hati dan di ikuti lelaki tua itu dari belakang.
Sesampai di kamar kenzu,
Pak Tua menutup pintu kamar dan mengunci dari dalam.
Kenzu tetap santai tapi cukup siaga,
senjata pistol sudah ada di tangannya untuk berjaga jaga jika pak tua berniat jahat.
Tapi lihat apa yg terjadi??
"Apa?? Kamu Ryu???
apa ini benar benar kau??
kau benar benar masih hidup??"
Mata kenzu terbelalak kaget,
"Pegel banget om, aku setinggi ini harus jongkok untuk pura pura jadi Pak Tua yang sudah bungkuk,Hihihi."
"Kau benar benar keterlaluan Ryu,
kau mengerjai semua orang termasuk aku dan orang tuamu.
Betapa terpukulnya ibumu, aku dan Kristal waktu mendengar kabar kau sudah tiada." Rasa kesal bercambur bahagia di rasakan kenzu saat membayangkan semua orang yang telah menangisi kepergian Ryu tempo lalu, tapi ternyata ia masih hidup sekarang bahkan berdrama menjadi laki laki tua.
"Maafkan aku om...
aku memang bersalah telah membuat berita hoak tentang kematianku, tapi aku terpaksa melakukan semua itu untuk mengecoh kejahatan seseorang yang memiliki jaringan mafia yang kuat."
"Mereka mengincarku dan aku kalah jumlah, jadi aku harus lari dan sembunyi.
Tak ada cara lain, aku harus pura pura mati agar aku tidak lagi menjadi ancaman bagi mereka." Ryu mencoba menjelaskan duduk permasalahannya yang membuat ia tega membohongi orang orang yang mencintainya.
"Oya gimana kabar kristal??"
"Kristal jadi tersangka kasus pembunuhan Sekertaris Dirgantara group." Kenzu tertunduk lesu.
__ADS_1
"Mr.Lee??Hahaha kok bisa kristal??"
Inspektur kenzu menyelidik Ryu karena heran ko bisa tetap santai mendengar kabar semengejutkan ini.
"Iya karena Kristal yang pertama kali melihat korban dan Kristal pula orang terakhir yang pergi bersama korban saat korban menjemput ke apartemen untuk pergi ke kantor tempat ia kerja.
Aku yakin pelakunya bukan kristal,
tapi dakwaan mengenai Skandal cinta antara Kristal dan Mr,Lee malah memperkuat dugaan Kristal sebagai pelakunya."
"Kalau begitu kau ikut aku!!" Ajak Ryu
"Kemana??"
"Ke kantor Asuransi."
"Sekarang??"
"Tidak, sekarang aku kecapean mau tidur, lagipula kantor Asuransi udah keburu tutup.
Oya malam ini, ijinkan aku menginap di sini, sampai aku menemukan fakta fakta pembunuhan Mr Lee , jangan beri tau siapapun tentang kedatanganku."
"Baiklah." Kenzu tak mau menolak karena ia cukup mengerti saat Ryu menceritakan kondisi yang sebenarnya, hal itu tidaklah mudah baginya.
"Ya sudah kita istirahat, aku cape!!" Ajak Ryu lagi.
Tak butuh waktu lama Ryu langsung tertidur pulas, sementara kenzu ke kamar mandi dulu membersihkan badan dan ganti baju baru setelah itu ikut tertidur pulas.
Keesokan harinya seperti yang telah di rencanakan Inspektur Kenzu dan Ryu bergegas pergi ke kantor Asuransi, mengumpulkan beberapa bukti yang akan di gunakan di persidangan untuk membuktikan kalau kristal tak bersalah.
"Benang merahnya sudah ada di sini!!"
teriak Ryu girang.
"Benang merah??"
"Yupz."
"Apa kamu yakin bisa menyelamatkan kristal di persidangan minggu depan??"
"Tentu saja!!" Ujarnya sambil meneguk susu coklat yang di siapkan oleh pelayan rumah Ryu.
Ryu tersenyum simpul, wajahnya begitu cerah, membuat kenzu yakin Ryu memang sudah mendapatkan benang merah dari kasus ini.
Pagi ini inspektur kenzu tak masuk kantor, sengaja karena sudah janji mau menemani Ryu ke kantor Asuransi, selain itu kenzu juga masih sangat rindu dengan ponakan kesayangannya itu, ia ingin menemaninya dan berbincang lebih banyak.
Baru setelah selesai makan siang kenzu pergi ke kantor polisi, mengerjakan pekerjaan yang memang harus di kerjakaannya, sementara Ryu tetap berada di rumah Kenzu.
__ADS_1
Sesekali keluar kamar dan menyapa para pelayan dan meminta di sediakan makanan pada mereka dengan tetap menggunakan setelah tuanya, jika ia merasa mulai lelah ia akan masuk kamar Kenzu dan membuka penyamarannya lalu tertidur atau sekedar menghisap rokok.
Para pelayan sangat menghormati Ryu, meskipun tak di kenali sebagai Ryu ponakan yang punya rumah, tapi kenzu sudah memberi tau dan berpesan agar mereka menghormati dan melayani kebutuhan tamu agungnya saat ia di luar rumah.